
" Astaga, ed. Lepaskan tanganmu ! Aku sungguh tidak bisa bergerak. " ucap queen dengan kesal.
Bukannya melepaskan rangkulannya pada pinggang istrinya, namun edgar semakin mengeratkannya.
" Aku tidak bisa membiarkan mereka berkesempatan untuk mendekatimu, sayang. Mengertilah jika ditempat rami seperti ini pasti banyak orang yang memiliki niat buruk. " tutur edgar.
Queen menggeleng lemas. Mereka saat ini sedang menikmati waktu bersama untuk mengelilingi salah satu mall di paris.
Terlihat baby gerard yang semakin aktif dan terus berceloteh riang. Tersenyum lebar saat melihat benda-benda yang menurutnya lucu.
" Kamu benar-benar keterlaluan. " Balas queen.
" Bagaimana jika kita mampir ke restoran di depan sana. " Ajak edgar tanpa menghiraukan perkataan istrinya.
Queen menatap sebal pada suaminya. Namun, sang suami hanya tersenyum tipis saat mendapati sang istri yang menatapnya demikian.
" Aku sungguh sangat kenyang. Kakiku pun juga sangat capek. Sebaiknya kita segera pulang, ed. Gerard sudah mendapatkan banyak mainan. " tutur queen.
Pasalnya, mereka sudah berjalan mengelilingi mall tersebut sudah 5 jam lamanya. Tanpa membawa baby sister, queen dan edgar saling bergantian untuk menggendong putranya.
Hanya saja, dua bodyguard edgar terus membuntuti mereka karena untuk membawa barang-barang belanjaan yang baru saja dibelinya.
Edgar mengangguk kecil. Masih dengan merangkul pinggang istrinya. Kini lelaki itu menggiring wanitanya untuk segera keluar dari mall tersebut.
Begitu bahagia saat ini, edgar bahkan tidak menyangka jika meluangkan sedikit waktu untuk bersama dengan sang istri dan putranya telah membuatnya merasa sangat bahagia.
Tidak pernah dia rasakan kebahagian yang sempurna seperti sekarang ini. Bahkan sebelum dia terdesak untuk segera menikah, hidupnya yang penuh dengan kemewahan tidak pernah membawanya pada kebahagiaan seperti yang dia rasakan saat ini.
" Besok rencananya kita akan kemana ? " tanya edgar setelah mereka berdua kini telah sampai di luar mall. Menunggu mobilnya yang menjemputnya datang.
" Hah.. Libur dulu. Dua hari kita mengelilingi mall, rasanya kakiku mau copot, ed. Kurasa kita bersantai saja dirumah. Bermain air atau bermain di kamar. Itu juga tidak kalah seru. " jelas queen.
Edgar tersenyum lebar. Mendengar kata bermain di kamar, seakan telah mengingatkan dirinya akan kegiatannya di atas ranjang.
" Kurasa, bermain di kamar akan sangat menyenangkan. Apa kamu akan sanggup jika kita bermain di kamar seharian. " edgar menanggapi.
Seketika itu queen menoleh. Melototkan matanya ke arah sang suami yang kini sedang tersenyum manis padanya.
" Jaga bicaramu, ed ! " tuturnya.
Edgar terkekeh kecil.
" Kenapa sayang ? Bukannya kamu yang menawarkannya. Karwna memang aku sangat menyukai bermain di kamar. " ucap edgar yang kini ditanggapi dengan pukulan kecil oleh queen.
Edgar kembali terkekeh.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah telah berhenti tepat didepan mereka. Tak ingin menunggu lama, edgar segera membuka pintu mobilnya agar sang istri lebih dulu masuk kedalam mobil. Setelah queen masuk kedalam, edgar pun tampak berjalan memutar dan segera masuk kedalam mobil juga.
Semua barang-barang yang telah mereka beli telah diangkut oleh mobil lain yang dibawah oleh anak buah Edgar.
Setelah semuanya telah masuk kedalam mobil, mobilnya pun segera melaju meninggalkan halaman mall.
Kini kehidupan mereka berdua begitu romantis. Edgar pun kini telah mengurangi aktivitas kerjanya ataupun aktivitas bersama rekan dimarkasnya karena dia tidak ingin melewatkan hari bersama sang istri dan juga putranya.
Lelaki itu kini telah membagi waktunya dengan cukup baik. Pulang sore setiap harinya tanpa terkendala dengan alasan meeting mendadak. Karena Roy, Louis dan Erick sudah bisa diandalkan ketika dirinya ingin cepat pulang.
Waktu bersama keluarga adalah yang nomor satu baginya untuk saat ini.
****
2 tahun kemudian.
Bocah laki-laki berusia 3 tahun itu terlihat begitu riang saat bermain bola di halaman belakang rumah mewahnya. Bermain bersama dengan dua orang lelaki bertubuh kekar yang menjadi bodyguardnya.
" Berikan padaku bolanya. ! " teriak bocah itu.
" Awas, tuan. " ucap salah satu dari mereka.
Bola pun di tendang olehnya. Perlahan hingga mengenai tubuh bocah itu. Gerard terkekeh saat mendapati bolanya tidak kena ketika dia ingin kembali menendangnya.
" Bolanya tidak kena. " celotehnya.
Tidak disangka jika bola itu kini terjebur di kolam renang. Gerard pun terdiam. Menoleh kearah dua orang dewasa yang sedang tertawa melihatnya.
Bibirnya mencembik. Air matanya sudah mengumpul di pelupuk mata dan siap untuk terjun.
***
Queen sedang sibuk di dapur untuk membuatkan cemilan kesukaan putranya. Dengan dibantu oleh dua orang pelayannya, dia terlihat sedikit kepayahan.
" Nyonya, sebaiknya nyonya duduk dulu. Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada nyonya. " tutur salah satu pelayannya.
Queen menggeleng.
" Tidak, bi. Sebentar lagi juga sudah selesai. " ucapnya.
Ketiga wanita itu sedang sibuk menatap masakan yang mereka buat, sehingga tidak ada yang menyadari jika saat ini ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka.
Perlahan orang itu melangkah semakin mendekat. Tersenyum tipis saat ini sudah berada dibelakang istrinya.
" Kamu tidak lupa untuk tidak mengerjakan pekerjaan dapur kan, sayang. " bisik edgar.
__ADS_1
Sontak queen pun segera memutar sedikit lehernya kesamping dengan matanya yang melirik kebelakang dimana saat ini sang suami yang telah memeluknya dari belakang.
Dwngan paksa, edgar menggiring istrinya untuk menjauh dari sana.
" Lanjutkan pekerjaanmu ! Jika besok aku masih melihat nyonya berada di dapur, kalian akan tahu akibatnya. " pesan edgar sebelum dia melangkah pergi dari sana.
Queen memukul pelan lengan kekar suaminya. Menatap kesal, namun suaminya hanya tersenyum.
" Kamu berlebihan, ed. "
" Biarkan saja ! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada bayiku dan juga ibunya. Aku sudah mengatakannya berulangkali agar kamu tidak perlu repot-repot untuk urusan dapur. Tapi kenyataannya sekarang apa ? " omel edgar.
Masih merangkul bahu istrinya sembari melangkah menuju kamar.
" Yah.. yah.. Terserah saja. "
" Sayang, Gerard. Sepertinya dia sedang menangis. " ucap queen terkejut saat melintasi pintu belakang yang menghubungkan antara dapur dan halaman belakang rumah.
Tak menunggu lama, keduanya pun segera melangkah menuju halaman belakang.
" Aku sampai lupa jika dia sedang bermain bersama dengan morly dan juga tomy dibelakang. " ucap queen merutuki kebodohannya.
Kini edgar berlari kecil saat mereka sudah berada di ambang pintu. Melihat sosok putranya yang menangis di pinggir kolam renang dengan kedua bodyguardnya yang seakan kualahan membujuknya.
" Hey.. Apa yang terjadi ? " tanya edgar.
Dia berusaha terlihat santai di depan putranya walaupun saat ini dia begitu cemas.
" Daddyyyyy... " teriak gerard.
Bocah itu pun segera berlari melewati dua orang dewasa tersebut. Merentangkan kedua tangannya untuk mengharapkan gedongan dari ayahnya.
Edgar menggendong putranya dengan senang. Menatap tajam kearah anak buahnya.
" Ini bos. Bolanya masuk kedalam kolam. Kemudian tuan muda gerard menangis. " jelas morly.
Edgar mengalihkan pandangannya kearah sang putra saat bocah itu kini bergelayut manja pada lehernya. Hal itu membuat suasana hatinya seketika itu berubah menjadi tenang kembali.
" Benarkah begitu, sayang. ? " tanya edgar pada putranya.
Bocah itu mengangguk kecil dengan masih bergelayut manja. Sekilas edgar meyakinkan dirinya, melihat kearah kolam yang memang disana terdapat bola di kolam renang miliknya.
" Baiklah, kalau begitu. Biar mereka berdua yang mengambil bolanya. Sekarang jagoan daddy mandi dulu. "
Edgar pun segera berbalik arah. Tersenyum manis ke arah sang istri yang saat ini sedang tersenyum padanya. Masih berada di ambang pintu dengan menatap bahagia pada keduanya.
__ADS_1
Tbc.