Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 58


__ADS_3

"Mommy... Daddy...."


Edgar tersenyum saat kini maniknya menangkap sosok bocah kecil yang menggemaskan itu melompat kegirangan. Rere yang sedang menemaninya bermain hanya bisa tersenyum tipis. Kedatangan mereka memang sejak tadi sudah ditunggu olehnya.


"Lihatlah dia!" ucap edgar.


Queen yang duduk dibelakangnya sedikit melongokkan kepalanya. Kemudian dia terkekeh. Edgar pun juga ikut terkekeh.


"Sepertinya rere tidak bisa menidurkannya. Lihatlah wajahnya!" balas queen.


Keduanya kembali terkekeh. Perlahan edgar mengurangi laju motornya sebelum akhirnya berhenti. Dengan hati-hati queen turun dari atas motor tersebut.


"Hati-hati, sayang." ingat edgar.


Setelah berhasil turun, wanita cantik itu segera melangkah menghampiri bocah 2 tahun itu. Senyumannya tidak pernah luntur. Tangan mungil Xavier sudah siap untuk menerima pelukan dari queen, namun yang terjadi bukan pelukan yang dia dapat melainkan tangisan.


Gerard lebih dulu memeluk queen sehingga bocah itu tidak terima dan menangis.


"Astagaaaa... Gerard, kau membuat telinga bibi menjadi panas selama dua hari ini." omel rere.


Queen menggeleng.


"Jangan mengganggunya terus, sayang! Ayo minggir!"


"Mommy... dendong..." pinta xavier kecil.


"Gerard." bentak edgar yang baru saja datang dari dalam. Yah, dia masuk lewat pintu belakang untuk meletakkan buah dan sayur yang dipetiknya di dapur.


Mendengar itu, membuat gerard takut. Dia pun akhirnya meleraikan pelukannya. Kini bocah itu bersembunyi dibelakang queen untuk mencari perlindungan.


"Yah, marahi saja ed. Dia sungguh pandai membuat bocah menggemaskan itu menangis." rere memanas-manasi.


Queen pun segera menggendong Xavier kecil sembari Gerard yang terus mencengkram pakaian queen dari belakang.


"Sudahlah, kalian ini selalu memarahinya." tutur queen.


Edgar terkejut saat melihat istrinya yang kini sedang menggendong Xavier.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Turunkan dia! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kandunganmu." tutur edgar.


"Ed, kamu terlalu berlebihan." balas queen santai.


Queen masuk kedalam. Di ikuti oleh edgar dan juga rere yang juga masuk kedalam. Queen pun segera menuju ke kamar putranya. Mereka berdua memang tidur satu kamar dengan kasur yang berbeda.


"Sekarang xavier dan kakak tidur siang dulu yah." tuturnya.


"Mom, gerard belum mengantuk." bantah gerard.

__ADS_1


Queen menggeleng.


"Harus tetap tidur. Ayo cuci tangan dan kaki dulu!"


Kemudian wanita itu menggiring dua putranya menuju kamar mandi. Dia membimbing keduanya untuk segera mencuci tangan dan kakinya.


Setelah susah mencuci tangan dan kakinya, queen pun segera membimbing keduanya untuk segera tidur. Mereka memang sangat dekat dengan queen. Bahkan tidak jarang edgar harus mengalah ketika Xavier kecil yang ingin tidur dengannya.


"Selamat tidur sayang." ucap queen pada gerard sembari mencium keningnya.


"Mommy...." panggil Xavier kecil.


"Tidur cama mommy." pintanya.


Queen menoleh dan mengangguk. Gerard pun tampak beranjak dari tidurnya. Ikut melangkah di belakang queen menuju ke tempat tidur Xavier.


"Gerard, kenapa kamu tidak tidur, sayang."


"Gerard ingin tidur bersama dengan mommy juga." balasnya.


Dengan senang hati, queen mengangguk. Mereka pun kini tidur bersama di tempat tidur Xavier. Walaupun kasur itu tidak sebesar kasur di kamarnya, namun dengan postur tubuh Xavier yang kecil kasur itu masih muat untuk mereka.


"Selamat tidur sayang." ucap queen sembari mencium kedua kening putranya.


Xavier segera melingkarkan tangannya diperut buncit queen. Karena memang posisinya yang berada ditengah. Dengan yang lain tampak tertidur dengan memeluk tubuh mungil Xavier.


***


Edgar mulai beranjak dari duduknya. Membuat rere dan paman petter terkejut.


"Mau kemana, ed?" tanya paman petter.


Edgar menoleh sekilas.


"Mau melihat queen, paman."


Tidak menghiraukan lagi. Edgar pun segera melangkah masuk kedalam kamar putranya. Membuka pintunya. Senyumannya memgembang. Dengan langkah kaki yang sangat pelan, dia mulai masuk kedalam.


"Wanita itu benar-benar berhasil membuat edgar berubah." celetuk paman petter.


Rere mengangguk setuju..


"Iyah, pa. Kejadian itu sudah membukakan matanya. Lihatlah, sekarang apa yang dia lakukan. Berkebun." ucap rere.


Keduanya terkekeh.


"Keturunan keluarga Baldwin berkebun. Itu sungguh luar biasa." lanjutnya.

__ADS_1


Kembali terkekeh. Mereka masih sangat ingat ketika dulu semasa kecil edgar. Berkunjung ke rumahnya, yang saat itu mereka sedang menanam tanaman dibelakang rumah. Edgar kecil menangis kencang karena melihat tangannya kotor saat rere yang memaksanya untuk ikut menanam tanaman.


***


Senyuman lebar masih menghiasi wajahnya. Edgar kini lebih sering bersyukur ketika mendapati pemandangan yang menenangkan hati. Seperti saat ini. Melihat ketiga orang kesayangannya yang tidur bersama dan saling memeluk.


Bahkan dulu ketika mereka tinggal di rumah mewahnya. Sangat jarang sekali dia melihat gerard yang ingin tidur bersama karena alasan sempit. Namun semuanya kini telah berubah.


Kesederhanaan telah membuat hidupnya berubah. Tiada kebahagiaan lagi saat melihat keluarganya yang saling mengasihi. Edgar sungguh beruntung karena bisa menjalani kehidupan baru yang lebih baik.


"Aku beruntung memilikimu, sayang." gumam edgar lirih.


Suaranya begitu lirih. Terdengar begitu pilu. Siapa yang menyangka jika saat ini queen belum tidur. Kepalanya sedikit terangkat.


"Ed." panggilnya pelan.


"Hei, kamu belum tidur." balas edgar yang kini melangkah pelan menghampirinya.


"Hampir saja tertidur jika saja suara jelekmu tidak mengganggu pendengaranku." ledek queen.


Edgar tersenyum lebar mendengarnya.


"Ayo kita istirahat dikamar saja! " ajak edgar.


"Kita bisa istirahat di sini." ucap queen sembari melirik pada tempat tidur gerard.


Edgar mengangguk. Membimbing istrinya untuk naik keatas tempat tidur. Mereka pun segera merebahkan tubuhnya. Edgar dengan senangnya menyodorkan lengan untuk dipakai bantalan kepala queen.


"Kenapa menangis?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut queen.


Edgar yang tersadar jika saat ini diperhatikan. Secepat kilat mengusap wajahnya.


"Ini adalah tangisan bahagia, sayang. Ketika melihatmu yang tertidur tadi, ingatanku dimasa lalu kembali. Hatiku kembali merasakan ketakutan. Ketakutan akan kehilangan." jelasnya.


Pelukan edgar semakin erat. Ciuman di puncak kepala queen pun semakin banyak. Bahkan air matanya juga merembes semakin deras.


"Astagaaaa, ed." pekik queen saat dia mendongakkan kepalanya.


Queen pun perlahan mengangkat tangannya. Mengusap wajah suaminya yang telah basah.


"Kenapa jadi cengeng begini, sih? Kamu Sebentar lagi akan memiliki bayi lagi. Tapi kenapa menangis seperti gerard." ledek queen.


Tangisnya pun berhenti karena edgar kini sedang tertawa kecil saat mendengar ledekan dari istrinya. Mengusap wajahnya yang telah basah. Edgar mengangkat wajahnya untuk dapat mencium kening istrinya.


"Aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk membahagiakanmu."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2