
Seorang wanita cantik sedang melakukan aktivitasnya selama beberapa bulan terakhir. Berkebun dihalaman belakang sesuai dengan permintaannya tempo lalu.
Yah.. Queen tidak diperbolehkan untuk pergi tanpa adanya Edgar disisinya. Sehingga, dia lebih memilih menghabiskan waktunya untuk berkebun ketika sang suami sedang pergi bekerja.
Dengan ditemani oleh dua pelayannya, queen tampak begitu bahagia dengan keadaannya sekarang. Setelah kembalinya dari new York tiga bulan yang lalu, Edgar sungguh bisa membuatnya merasa nyaman.
Bukannya kembali kerumah papa Dion, namun suaminya itu membawanya menuju ke sebuah rumah mewah yang tidak kalah mewahnya dari rumah papa Dion.
Queen sungguh merasa sangat bahagia ketika kini mendapati suaminya yang telah berubah. Setelah kejadian menegangkan waktu itu, kini keduanya semakin bertambah dekat dan juga semakin mesrah.
Bahkan perubahan Edgar yang bisa dibilang cukup cepat dan bahkan cukup mustahil itu, membuat beberapa anak buahnya merasa heran.
" Nyonya, hari semakin siang. Sebaiknya kita masuk kedalam " tutur salah satu pelayannya yang biasa menemani queen kemanapun dia melangkah
" Sebentar, Elia " balas queen yang saat ini masih asyik menanam tanaman
" Saya tidak ingin terjadi sesuatu pada nyonya, Jika nyonya masih ingin terus berada disini. " tutur pelayan yang satunya yang bernama nouri
" Astaga.. Kalian tenang saja, Aku tidak melakukan sesuatu hal yang berbahaya. Tunggu sebentar lagi ! Ini hampir selesai " balas queen yang masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya
Kedua pelayan itu tampak menghela nafasnya. Dia begitu merasa takut jika nanti akan terjadi sesuatu padanya. Karena mereka tahu apa akibatnya jika sampai istri dari tuannya tersebut sampai mengalami kejadian buruk.
Queen mulai beranjak dari tempatnya. Berbalik arah sehingga dia dapat melihat kedua wanita yang seusianya itu berdiri tepat didepannya. Melayangkan senyuman tipis pada mereka sebelum akhirnya dia merasakan sesuatu.
Eeeiiuuuuuuh
Keluh queen sembari menahan rasa sakit dikepalanya. Dengan cepat queen mengangkat kedua tangannya untuk mencoba menahan rasa sakit dengan menekan kuat sisi kepalanya.
" Nyonya, anda kenapa ? "
" Astaga nyonya "
Ucap kedua pelayan tersebut bersahutan sembari melangkah mendekati queen. Memegang kedua sisi lengannya dan tidak lama kemudian tubuh queen telah merosot.
Namun, hal itu tidak membuatnya terjatuh karena memang kedua pelayannya tersebut telah menahan tubuhnya.
" Nyonya.. Nyonya.. "
" Nyonya.. Nyonya.. "
" Sebaiknya, kita minta bantuan untuk mengangkat Nyonya " ucap Elia pada Nouri
" Iyah, biar aku yang pergi. Kau disini saja menemani nyonya " ucap Nouri yang diangguki kepala oleh Elia
" Cepatlah ! " teriak Elia pada Nouri yang baru saja berlari menuju kedalam rumah
**
Dor..
__ADS_1
Dor..
Dor..
Dua orang berlari kencang melewati jalan sepi dan segera menghampiri mobil berwarna hitam yang telah siap untuk segera melaju ketika keduanya masuk kedalam sana.
Sebuah gudang tua yang tidak terpakai telah menjadi tempat pertemuan antara mereka dengan anak buah Edgar yang berpura-pura untuk membeli senjata ilegal yang mereka jual.
Bukan karena ingin membeli senjata ilegal tersebut, namun memang Edgar ingin sekali menangkap mereka para komplotan geng bertato naga yang juga bekerjasama dengan adik tirinya untuk menghancurkan hidupnya.
Permusuhan telah dilayangkan oleh kedua belah pihak. Bahkan sering kali mereka saling membunuh untuk membalas dendam.
" Breng**k.. Mereka kabur. " ucap Edgar dengan kesal
" Kalian kejar mereka " titah edgar pada beberapa anak buahnya
" Tuan, heli nya sudah siap. Kita kejar mereka menggunakan heli saja. Roy dan Eric sudah menunggu kita " sahut Louis
" Baiklah " balas Edgar menanggapi perkataan Louis.
Mereka berdua dengan cepat berlari menuju pintu samping yang ada di gudang tua tersebut. Setelahnya mereka segera masuk kedalam mobil dan segera membawa mobil tersebut pada landasan yang ada di markas milik Edgar.
Entah sejak kapan Edgar telah memperkerjakan beberapa orang untuk dijadikan anak buahnya. Yah, semuanya sudah berlalu beberapa tahun yang lalu setelah mendapati maminya yang meninggal dunia akibat sebuah tabrak lari.
Hingga setelahnya dia berniat untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Tidak hanya syok, edgar pun merasa sangat tidak percaya jika dalang dari tabrak lari tersebut adalah seseorang yang saat ini telah menjadi saudara tirinya.
Entah papanya tahu atau tidak, namun Edgar tetaplah Edgar yang menginginkan keadilan.
Ada dua heli tempur yang telah siap. Seketika itu Edgar dan Louis berlari kearah salah satunya. Tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar berulang kali.Namun, Edgar tidak menghiraukannya.
Baru saja dia terduduk dan mulai mencari posisi duduk yang benar. Namun, salah satu anak buahnya berlari kencang sembari terus berteriak keras memanggil namanya.
Edgar sejenak tertegun sembari mengernyitkan keningnya. Masih menatap kearah Sony yang saat ini sedang berlari menghampirinya.
" Tuan.. "
" Tuan, Edgar ... "
Panggilnya berulang kali dan sekarang tampak dia berhenti tepat tidak jauh dari helikopter yang akan siap untuk mengudara.
" Tuan.. Nyonya.. "
" Apa ?? Aku tidak dengar " balas edgar
" Nyonya pingsan "
" Apaa ?? " Edgar sama sekali tidak mendengar apapun.
wwweeeeeeewwwwwwwwssssss
__ADS_1
wwwwweeewwsssssswsssssss
wwwwwweeeeeeesssssssssswws
" Sebentar, aku akan turun menemuinya " ucap Edgar pada seseorang yang telah siap membawanya mengudara
Dengan cepat dia turun, sedikit membungkukkan tubuhnya, dia mulai berlari menghampiri Sony.
Kini keduanya saling berhadapan dan edgar telah melayangkan tatapan tajam karena Sony telah berhasil membuat dirinya menunda pekerjaannya.
" Ada apa ? Cepat katakan ! " ucap edgar dengan berat
Sony dengan gemetaran mencoba untuk tetap tenang.
" Tuan, Morly barusaja memberikan kabar. Jika nyonya pingsan dan sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat " jelasnya dengan cepat, walaupun nyalinya menciut, tapi dia tetap harus mengatakannya.
Morly adalah salah satu anak buah Edgar yang berjaga disekitar rumah barunya yang ditempati oleh istrinya saat ini.
Seketika itu raut wajah Edgar yang tadinya mengeras kini telah berubah melunak. Jantungnya berdegup dengan kencang seiring bayangan sosok wanitanya yang kemarin telah memintanya untuk tidak pergi. Namun, bukannya tetap tinggal dia lebih memilih untuk pergi dengan berjanji akan segera kembali.
" Apa yang sedang terjadi disana ? " tanyanya yang kini menjadi panik
" Saya tidak tahu tuan. Dia tidak menjelaskan secara detail " balas Sony yang hanya diangguki kepala oleh Edgar.
" Hem.. Baiklah.. Terimakasih " ucap Edgar
Sony mengangguk kaku, merasa sedikit ada perbedaan dengan bosnya itu.
Akhir-akhir ini, tuan Ed semakin lembut saja.
Kemudian Edgar menolehkan kepalanya kearah Louis yang saat ini telah menunggunya di dalam heli.
" Louis.. Louis.. Kemarilah ! " panggilnya dengan melambaikan tangan.
Tak menunggu lama, Louis yang mengerti akan panggilan dan isyarat dari bosnya itu segera turun dari heli. Berlari cepat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya menghampiri bosnya tersebut.
" Ada apa, tuan ? " tanya Louis setelah dirinya sudah sampai dihadapan edgar.
" Istriku masuk rumah sakit. Aku harus segera pergi. Ku percayakan mereka pada kalian. Jangan membuatku kecewa.! " ucap edgar dengan penuh penekanan
Tak berselang lama kemudian, Louis mengangguk kecil menanggapinya.
" Baik, tuan " balas Louis dengan mantap
Setelahnya, Edgar telah berlari kencang menuju garasi mobil yang disana juga terdapat beberapa kendaraan lainnya.
Edgar tampak berlari menuju laci yang ada di sudut garasi sembari menyambar jaket yang telah tersedia disana. Meraih salah satu kunci dari beberapa kunci diantaranya. Kemudian segera menghampiri sebuah motor yang biasa dia gunakan.
Tak lama setelahnya. Edgar segera membawa motor tersebut melaju kencang meninggalkan markasnya untuk menuju ke rumah sakit.
__ADS_1
Tbc