Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 34


__ADS_3

Masih menatap kosong kearah luar jendela ruangan kerjanya. Edgar masih merasa bingung atas kejadian yang mengejutkan beberapa hari yang lalu.


Bagaimana bisa queen mengetahui semuanya ? Sangat mustahil.


Edgar masih mengumpulkan jawaban atas pertanyaannya. Namun, tetap saja dia tidak menemukan jawabannya.


Bahkan, saat dipemakaman itu, roy menemukan peralatan canggih untuk merakit bom di dalam tas. Bahkan mereka menemukan tas itu dibalik pohon besar yang queen katakan.


Siapa orang yang sedang mengikuti ku ?


Edgar pun kembali memutar otaknya. Kembali berfikir keras. Mencoba memecahkan misteri dari balik peristiwa yang mustahil itu.


Astaga aku melupakan alex. Dimana dia sekarang ? Aku harus lebih waspada lagi agar tidak kecolongan.


Edgar mengernyitkan keningnya.


Bukannya dia sekarang berada di mexico, dia telah menikah dengan kekasihnya yang ada disana, apa mungkin dia sudah tahu semuanya ?


Ceklek.


Edgar segera mengalihkan pandangannya. Tersenyum tipis melihat sosok wanita cantik yang telah menyelamatkan hidupnya beberapa hari yang lalu.


Queen tersenyum lembut dan melangkah semakin mendekat kearah suaminya. Berhati-hati dengan gerakan tangannya, karena dia sedang membawa secangkir kopi.


" Pesanan sudah datang. " Ucap queen sembari meletakkan cangkir tersebut diatas meja kerja suaminya.


Edgar semakin melebarkan senyumnya. Menampilkan deretan gigi putihnya, hingga semakin menambah kadar ketampanannya.


Lelaki itu tak segan menarik tangan istrinya dan membawanya duduk diatas pangkuannya. Sosok wanita cantik yang selalu membuatnya bergairah. Selalu bisa membuat moodnya menjadi bagus.


" Kenapa kamu terlihat sangat cantik sekali, hem ? " tanya edgar pada istrinya.


" hihihi.. Kamu semakin pandai merangkai kata-kata. Tapi aku suka. " balas queen.


Edgar tersenyum dan tanpa ragu segera menarik tengkuk wanita itu. Menyatukan bibir mereka. Dia sungguh tidak bisa menahan diri ketika berada dekat dengannya.


Edgar semakin memperdalam ciumannya. Salah satu tangannya merengkuh pinggang istrinya. Semakin mengeratkan pelukannya hingga tak menyisakan jarak diantara mereka.


Queen segera menarik kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Mereka saling berebut udara.


" Kenapa ? Kita bisa bermain sebentar disini, bagaimana menurutmu ? " ucap edgar sembari tersenyum penuh arti.


Queen menggeleng cepat.


" Astaga, ed. Kita sudah melakukannya tadi, dan sekarang kamu menginginkannya lagi. " ucap queen dengan kesal.


" Big no. " lanjutnya dengan segera beranjak dari duduknya.


" Hei, hanya sebentar saja. Kita belum pernah melakukannya disini. " ucap edgar sembari menahan tangan istrinya.


Queen pun tak segan melototkan matanya.


" Jaga bicaramu, ed. ! Aku sungguh malu mendengarnya. " balas queen dengan kesal.


" Sebaiknya, lanjutkan pekerjaanmu ! " tutur queen dengan melepaskan genggaman tangan suaminya.


" Oyah, satu lagi. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk tetap tinggal disini. Lusa aku akan meminta pada pelayan untuk segera mengemasi barang-barang. Aku tidak tenang jika tetap berada disini. " tutur queen pada Edgar.


Heeeemm..

__ADS_1


Edgar hanya mengangguk kecil. Kini kedua matanya masih setia menatap kearah istrinya yang sedang melangkah pergi.


Empat hari sudah berlalu setelah kejadian tempo hari yang menewaskan papanya. Kini edgar bpun merasa bersyukur karena pada saat yang tepat roy dan eric segera datang.


Kembali bersyukur karena istrinya lah yang membuat mereka berdua datang menghampiri dirinya. Jika saja, roy dan eric tidak datang diwaktu yang tepat, entah apa yang akan terjadi. Mungkin bukan hanya papanya saja yang dimakamkan, bisa jadi diapun juga.


Masih dia dalam keheningan, sosok cantik wanitanya kembali masuk kedalam sana. Melangkah semakin mendekati suaminya.


" Daddy.. Gerard datang. " ucap queen pada suaminya.


Edgar pun segera mengakhiri lamunannya. Menatap kearah istrinya yang saat ini melangkah mendekat dengan menggendong baby gerard.


Melihat sosok bayi gembul yang berada digendongan istrinya, membuat sosok lelaki itu ingin segera menggendongnya.


Edgar mengambil alih baby gerard dari gendongan istrinya.


" Wah, putra daddy sudah tampan sekali. " ucap edgar.


Kini kedua matanya pun beralih menatap istrinya. Edgar mengernyitkan keningnya.


" Kenapa kamu mengganti pakaianmu, sayang ? " tanya edgar.


" Aku akan membantu elia dan nouri sebentar. Sudah lama aku tidak berkebun, bukan. "


" Hah.. " edgar mendesah kasar


" Titip baby gerard sebentar. Kurasa pekerjaanmu juga tidak terlalu banyak. " lanjutnya.


" Sayang, apa yang kamu katakan ? Aku tidak bisa mengurus bayi sekecil ini. " ucap edgar melas.


" Hanya sebentar saja. " ucap queen.


" Eh, eh, bagaimana jika dia pup ? "


" Tenang saja, dia kan pakai popok. " balas queen tanpa ingin mengurungkan niatnya.


Tertawa kecil sesaat ketika dia membayangkan sesuatu.


Edgar hanya bisa mematung ditempatnya. menatap bayi gembulnya yang berada di gendongannya.


" Lihat saja nanti, aku tidak akan mengampunimu, sayang. " ucapnya lirih.


Dengan gemas edgar pun memcium pipi gembul putranya. Berulang kali, hingga akhirnya si gembul pun menangis.


" Astaga, kenapa dia menangis ? " ucapnya bingung.


" Cup.. cup.. sayang.. cup.. cup.. Ini daddy sayang. " ucapnya sembari mengayun tubuh gembul putranya.


Beberapa menit berlalu, edgar sudah mencoba berbagai cara untuk menenangkan putranya, namun hasilnya nihil.


Kini langkahnya pun terburu-buru menuju pintu belakang.


" Rasanya telinga ku ingin pecah. " gumamnya.


Edga pun segera keluar dari rumahnya. Kini dia bisa melihat lahan luas dibelakang rumah keluarganya yang digunakan untuk berkebun.


" Sayang.. " Panggil edgar.


Lelaki itu melangkah semakin mendekat. Dia mengernyitkan keningnya. Menatap tajam kearah istrinya yang sedang asyik berbincang dengan seseorang.

__ADS_1


Siapa pemuda itu ? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini.


Queen segera mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara tangisan putranya. Bersamaan dengan itu, suaminya pun sedang memanggilnya.


" Sayang. "


" Astaga, kenapa dia bisa menangis, ed ? " tanya queen sembari melangkah mendekat.


Wanita itu segera melepaskan sarung tangannya dan membuangnya sembarangan. Mengambil alih baby gerard setelah dia melepaskan celemeknya.


" Cup.. cup.. sayang, kenapa menangis. " Ucap queen.


" Sebaiknya kita masuk kedalam, ed. Hari semakin sore. Nyamuk dan serangga akan segera hinggap di sekitar sini. " tutur queen dengan melangkah mendahului suaminya.


Edgar hanya mengangguk, namun masih tidak mengalihkan pandangannya kearah sosok pemuda yang sedang membantu elia dan nouri yang sibuk berkebun.


Karena merasakan penasaran yang semakin meningkat. Hingga perlahan edgar melangkah mendekati mereka.


Ekhemmm..


" Ada pekerja baru disini ? " tanya edgar


" Tuan, perkenalkan dia, Lian pegawai baru yang mengurus kebun ini menggantikan pak dory. " jawab nouri


Edgar masih menatap lekat sosok pemuda itu. Ada yang mengganjal dihatinya. Edgar menelisik setiap sudut bagian tubuh pemuda itu.


" Siapa yang mengijinkannya untuk bekerja disini tanpa persetujuan dari saya. " ucap edgar dengan berat. Begitu dingin seakan tidak terbantahkan.


" Ehmm.. Maaf, tuan. Tapi nyonya queen yang sudah memperkerjakan dia. "


" Oh.. " jawabnya singkat, namun masih tidak mengalihkan pandangannya. Hingga dia menemukan satu titik petunjuk.


" Baiklah kalau begitu. Ini adalah hari terakhir kamu bekerja disini lian. Kau tetap akan mendapatkan gaji utuh sesuai dengan perjanjian. " tutur edgar.


Tak ingin berlama-lama, akhirnya edgar pun segera berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka yang terlihat syok. Bingung dan tidak percaya.


Siapa orang yang telah berani bermain-main denganku ??


Tbc.


.


.


.


.


.


.


.


Ini adalah karya pertama author yang bertemakan action, mohon kritik dan saran yang membangun yah..


Author masih belajar, jadi jangan dibully..


Kasih like dan komen yah..

__ADS_1


Sangat berterima kasih jika ada yang memberikan vote..


__ADS_2