
Beberapa jam telah berlalu. Kini queen tampak duduk bersandar pada pinggiran ranjang. Elia tampak duduk disampingnya dengan menggunakan kursi. Sedangkan Nouri masih berdiri di samping Elia.
Kedua wanita itu tampak bahagia menatap kearah queen yang saat ini sedang melahap buah yang baru saja dikupas oleh nouri dengan lahap.
" Minum dulu susunya, nyonya ! " tutur Nouri
Queen menggeleng pelan sembari mencembikkan bibirnya.
" Kalian sungguh akan membuatku semakin bertambah gemuk jika terus seperti ini. " cetus queen
" Aku sudah kenyang " lanjutnya
Tak lama kemudian keduanya terkekeh geli. Merasa lucu mendapati raut wajah queen yang terlihat menggemaskan.
" Nyonya. Kami hanya tidak ingin jika nona kekurangan nutrisi. " jelas Elia
" Iyah, nyonya. " sahut Nouri
" Astaga.. Kalian sungguh bisa membuatku menjadi kesal jika terus memperlakukan aku seperti ini " ucap queen lagi.
Bukannya merasa takut dan bersalah, namun keduanya semakin tertawa senang melihat ekspresi wajah queen.
" Maaf.. Maaf kami, nyonya. " ucap keduanya yang hampir bersamaan
" Kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada nyonya. " ucap elia
" Hemm... Apa aku tidak boleh pulang setelah ini ? Aku sungguh bosan berada disini. Siapa nanti yang akan menyiram tanamanku " ucap queen
Kedua wanita tersebut saling melemparkan pandangan sebelum mereka menatap kearah queen.
" Ehmmm.. Pasti bi Serly akan melakukanya. Nyonya tenang saja. " balas Nouri.
Queen menghela nafasnya sejenak.
" Tolong panggilkan dokternya, Elia. ! Aku sungguh ingin cepat pulang. Sekarang semuanya sudah lebih baik, aku tidak merasa pusing lagi " jelas queen
" Ehmm... Tapi nyonya... "
" Sudahlah ! Cepat panggil dokternya ! Aku lebih nyaman berada di rumah daripada disini " jelas queen lagi
Tak lama setelahnya, Elia mengangguk kecil dan mulai beranjak dari duduknya.
" Baiklah akan ku panggilkan ! Kau tetaplah disini dan jaga nyonya, Nouri " tutur Elia sebelum akhirnya dia melangkah pergi.
***
Seseorang baru saja turun dari motornya. Sangat terburu-buru hingga tak menghiraukan panggilan petugas keamanan. Yah.. Bagaimana tidak, Edgar memarkirkan kendaraannya di depan pintu rumah sakit bukannya di tempat parkir.
Lelaki itu berlari kencang melewati koridor rumah sakit. Langkahnya semakin besar seiring dengan hatinya yang merasa panik.
Dadanya naik turun, nafasnya terbuang cepat. Edgar merasakan kepanikan terhadap istrinya. Dia sungguh tidak ingin sesuatu hal buruk akan terjadi pada wanitanya itu.
" Tuan. "
__ADS_1
" Tuan "
Panggil Morly dan bolbe secara bergantian. Edgar menghentikan langkahnya sejenak. Nafasnya ngos-ngosan dengan kepalanya yang bergerak kekanan dan kekiri untuk mencari seseorang yang baru saja memanggilnya.
Kedua sosok lelaki bertubuh kekar kini telah melangkah besar menghampirinya. Edgar pun tampak berjalan mendekat.
" Apa yang sebenarnya terjadi ? " tanya edgar yang kini sedang tersulit emosi.
Lelaki itu tak segan mencengkram kuat Krah pakaian Morly yang bertugas untuk menjaga keamanan dirumahnya. Namun, mendengar istrinya yang berada dirumah sakit. Membuatnya menjadi kesal.
" Tidak tahu, tuan. Kata Elia tari, nyonya tiba-tiba jatuh pingsan " ucap Morly dengan ketakutan
" Dimana istriku sekarang ? "
" Dia ada disana, tuan. Elia dan Nouri juga ada di dalam. Baru saja seorang dokter selesai memeriksa keadaan nyonya, tuan " jelas bolbe
Seketika itu edgar menghempaskan kasar tangannya sehingga membuat tubuh Morly sedikit terhuyung kebelakang.
" Oyah.. Tolong kau urus motorku di depan ! " titah Edgar sebelum dia pergi
Edgar kembali berlari menuju kamar yang tadi ditunjuk oleh bolbe. Tak ingin menunggu lagi, membiarkan penampilannya yang berantakan Edgar segera meraih knop pintunya dan dengan kuat dia mendorong pintunya.
Ceklek
Seketika itu ketiga wanita yang ada didalam memutar lehernya untuk dapat melihat sosok lelaki yang saat ini berada diambang pintu. Seketika itu raut wajah ketiganya berubah menjadi tegang.
" Hei.. Ada apa ini ? " tanya edgar yang juga melangkah semakin mendekat
Wanita itu pun juga melangkah mendekati suaminya. Tanpa ragu queen segera memeluk tubuh kekar suaminya.
" Kapan kamu datang ? " tanya queen setelah dia meleraikan pelukannya.
" Baru saja. Morly menghubungiku jika kamu berada dirumah sakit. Lalu apa ini ? Kenapa kalian sudah bersiap ? " tanya edgar merasa kebingungan.
Kemudian pasangannya beralih pada kedua gadis yang ada di belakang queen.
" Apa yang terjadi pada istriku ? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit, hah ? " bentak Edgar pada kedua
Elia dan Nouri menjingkat kaget mendengar teriakkan edgar. Bukannya menjawab, keduanya tampak menahan takut sembari menundukkan kepalanya.
Sekilas queen melirik kearah pelayannya itu, Kemudian kembali menatap kearah suaminya.
" Hei.. Jangan marah begitu ! " ucap queen dengan lembut sembari menatap wajah suaminya yang tampak kacau.
Tangannya terulur keatas untuk membelai rahang suaminya yang mulai ditumbuhi oleh bulu-bulu. Tak lama pandangan mata queen menelisik setiap sudut penampilan suaminya yang tampak berantakan.
" Ed, kenapa penampilanmu berantakan seperti ini ? " tanya queen dengan wajahnya yang mengerut
" Aku.. Ehmmm... " raut wajah Edgar tampak ragu
" Setelah ini, aku mohon jangan lagi melakukan hal yang berbahaya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal padamu. Aku tidak ingin dia juga ikut merasa khawatir di dalam sini " ucap queen sembari mengusap perutnya yang tampak datar.
Edgar tertegun, keningnya mengerut merasa kebingungan. Namun, tak lama kemudian dia tersenyum.
__ADS_1
" Kamu sedang hamil ? " tanya edgar ragu
Queen melebarkan senyumnya sembari mengangguk mantap.
" Astaga.. "
Sejurus kemudian edgar menarik tubuh istrinya dan merengkuhnya dengan erat. Memberikan ciuman dipuncak kepalanya berulang kali. Sungguh dia merasa sangat bahagia saat ini. Bahkan masalahnya tadi, sudah terlupakan begitu saja.
" Aku senang sekali mendengarnya " ucap Edgar dengan masih memeluk tubuh istrinya.
" Ed.. Jangan terlalu erat ! " tutur queen yang merasakan tubuhnya semakin terhimpit.
" Astaga, maafkan aku, sayang. Apa perutmu sakit ? " tanya edgar setelah dia meleraikan pelukannya
Queen menggeleng pelan.
" Tidak ada yang sakit. Hanya saja aku takut dia sesak nafas " ucapnya sembari terkekeh kecil
" Kamu ini bisa saja " cetus Edgar
" Eh.. eh.. Tunggu ! Kalian akan segera pulang ? " tanyanya
Queen kembali mengangguk.
" Aku merasa bosan. Lebih baik aku pulang dan melihat tanamanku yang tadi baru saja aku tanam " ucap queen sembari bergelayut manja pada lengan suaminya itu
" Tapi, bagaimana dengan keadaanmu ? " tanya edgar.
" Semuanya sudah baik-baik saja. Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Dokter pun juga sudah memperbolehkan aku untuk pulang. " jelas queen
" Iyah kan, Elia, Nouri ? " lanjutnya
Kedua pelayan tersebut menganggukkan kepalanya.
" Iyah, tuan " jawab mereka bersamaan.
" Ehhmmm " edgar berdehem pelan dan sejenak berfikir
" Yah.. Baiklah. Kita pulang tapi dengan satu syarat " ucap edgar sembari menampilkan senyuman termanisnya kearah istrinya.
" Syarat apa ? " tanya queen
" Mulai hari ini, kamu tidak boleh lagi berkebun. Biarkan mereka berdua yang mengurus kebunmu "
" Hah.. " queen terperangah.
" Tapi.. " ucap queen
" Sudahlah, ayo kita pulang " tukas edgar sbari menarik tangan istrinya.
Astaga.. kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini.. ?
Tbc.
__ADS_1