
Braaakk
Edgar membanting pintu. Masih menarik tangan queen dengan cukup kuat. Menghempaskan tubuh wanita itu di atas tempat tidurnya.
" Kau.. "
Queen menatap penuh amarah pada suaminya. Tidak menyangka dan tidak menduga jika suaminya akan berubah menjadi seperti ini dalam sekejap.
Edgar membuka jas kerjanya. Menatap queen dengan datar. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, namun siapa yang tahu hatinya.
" Mulai sekarang, kau akan tinggal disini. " ucap edgar.
Lelaki itu kini telah membawa istrinya kembali ke rumah yang dulu. Dimana sejak kemarin queen sudah menginginkan untuk segera kembali ke rumah itu. Tapi bukan kembali dengan keadaan yang seperti ini.
" Sebenarnya ada apa, ed ? Apa yang terjadi ? Katanya saja jika semua ini hanyalah sandiwaramu ! Katakan, ed ! "
" Apa yang harus kukatakan lagi, queen. ? Rebecca memanglah tunanganku. Hubungan kita sudah berakhir. "
" Lalu, bagaimana bisa kamu bersandiwara dengan begitu baik, jika kamu tidak benar-benar memiliki perasaan apapun padaku ? " cercanya.
Edgar menelan ludahnya sedikit berat. Namun masih bisa menjaga image di depan istrinya.
Queen kini telah beranjak dari posisinya. Berdiri dengan menatap kearah suaminya. Begitu tajam tanpa ada rasa takut sedikitpun.
" Jika memang semuanya adalah benar, maka aku ingin kamu menceraikanku. Biarkan aku pergi dari hidupmu, bukan membawaku kemari. " teriaknya.
Edgar mengepalkan tangannya. Mendadak emosinya terlusut. Dengan masih meredam amarahnya edgar berusaha untuk mengatur ekspresi wajahnya agar tetap terlihat santai.
" Aku masih membutuhkanmu untuk merawat putraku, queen. "
Edgar maju satu langkah sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
" Kau sangat pandai dalam urusan ranjang, sayang. Jika kau ingin aku membebaskan mu, kau bisa memuaskan aku selama aku menginginkannya. " ucap edgar sembari tersenyum penuh maksud.
" Kau benar-benar sudah gila. Jika aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini, aku tidak akan mau untuk hamil waktu itu. Sungguh bodoh aku karena telah percaya padamu, ed. " teriak queen.
Rasanya dia ingin meledak saat ini. Ingin meluapkan segala emosinya.
Edgar tertawa kecil.
" Sssst.. Jangan berteriak, sayang ! Baby edgar bisa terbangun nanti. "ucapnya dengan suara lembut yang terdengar dibuat-buat.
Edgar melangkah mendekati istrinya. Walaupun hatinya sedang bergemuruh hebat, namun edgar begitu pandai dalam menyembunyikan perasaannya.
Meraih pinggang wanita itu dan merengkuhnya dengan erat. Walau queen terus memberontak ingin dilepaskan, tetap saja hal itu tidak membuatnya terlepas dari rengkuhan tangan suaminya.
" Aku tidak menyangka jika kamu terlihat begitu cantik saat marah, queen. " bisiknya.
" Breng**k. " ucap queen sembari memberontak, tanpa diduga-duga sebuah gerakan yang begitu kuat telah membuat edgar berteriak kencang.
Oooouuuuuuhhhhhhhggg...
__ADS_1
Queen mengarahkan lututnya diantara paha suaminya. Saat ini dia begitu marah. Merasa telah dibohongi oleh suaminya sendiri. Tidak terima dengan hidupnya yang sedang dipermainkan.
" Rasakan itu. " ucap queen sembari melangkah menuju pintu.
Wanita itu segera membuka pintunya. Melihat ke kanan dan kekiri.
Sepi. Aku harus memastikan jika memang putraku sudah berada disini. Gumam queen sembari menuju ke kamar putranya.
Ceklek.
Kedua mata queen menatap lurus.
" Elia. "
Elia yang merasa namanya mengudara seketika itu menoleh. Tersenyum dan segera berdiri.
" Nyonya. Anda baik-baik saja. " tanya elia sembari melangkah mendekati queen.
Mengangguk dan tersenyum. Manik matanya menatap kearah bayi yang sedang digendong oleh elia.
" Syukurlah, dia tidak kenapa-kenapa. " gumam queen.
" Nyonya sebenarnya apa yang telah terjadi. ? " tanya elia.
Queen menggeleng cepat.
" Aku juga masih bingung, elia. Ntah ini sungguhan atau hanya akal-akalan edgar saja, tapi aku sama sekali tidak ingin terjebak disini. Aku akan pergi membawa putraku. Tolong bantu aku, elia ! " ucap queen dengan cepat dan terkesan takut.
Elia mengangguk.
" Kau bisa berteriak kencang di halaman depan untuk mengalihkan perhatian mereka, ketika para penjaga menghampirimu, aku akan berlari melewati halaman belakang. " jelas queen.
Elia mengangguk.
" Baik, nyonya. "
Setelahnya queen pun mengambil alih baby gerard dari gendongan elia. Saat ini dia masih terlalu awam untuk bisa memahami sikap suaminya. Entah kenapa, queen merasa sangat yakin jika semuanya yang terjadi hanyalah sandiwara.
Dengan buru-buru elia membuka pintunya. Sangat bersemangat untuk segera melakukan rencana yang diusulkan oleh queen.
Namun, yang terjadi saat ini adalah. Kedua wanita itu melototkan matanya. Queen segera mendekap erat putranya sembari melangkah mundur.
Edgar mengatupkan rahangnya.
" Jadi, kau akan membawa putraku untuk pergi dari sini. " ucap edgar sembari melangkah masuk.
" Tuan, tolong jangan sakiti nyonya ! " ucap elia memelas.
" Ambil gerard darinya, elia.. " bentaknya.
Queen menggeleng. Semakin mengeratkan pelukannya pada baby gerard.
__ADS_1
" Ambil elia !! " bentak edgar lagi.
Dengan gemetaran elia pun kini berbalik badan, melangkah mendekati queen dan mencoba untuk mengambil baby edgar dari gendongannya.
" Aku tidak akan pernah memberikan putraku padamu, ed. "
Dengan menahan rasa kesalnya, edgar mendorong elia yang ada di depan queen. Membiarkan wanita itu terjatuh ke lantai dan segera mengambil paksa baby gerard dari gendongan queen.
" Ed, apa yang kamu lakukan ? Biarkan aku bersama dengannya. Dia adalah putraku, kamu tidak berhak menjauhkan aku darinya. "
Edgar tidak menghiraukannya. Dia segera melangkah pergi setelah berhasil mengambil baby edgar dari gendongan istrinya.
" Ed, jangan bawa putraku ! Biarkan aku bersamanya. Aku hanya ingin bersamanya, ed. Tolong jangan bawa dia pergi ! " teriak queen saat ini mengikuti langkah kaki edgar.
Dua orang bertubuh tegap mendekati mereka.
" Bawa nyonya kembali ke kamarnya ! " titah edgar pada keduanya.
Queen hanya bisa memangis dan terus berteriak ketika dirinya telah dibawa kembali oleh dua orang tersebut. Kali ini dia tidak bisa melakukan apapun. Karena memang tenaganya tidak sebanding dengan dua orang berbadan tegap itu.
" Breng**k. Lepaskan aku ! Aku hanya ingin mengambil putraku. " queen terus berteriak dan memberontak walaupun sama sekali tidak memberikan efek apapun.
Queen hanya bisa menatap nanar dari kejauhan, sosok suaminya yang semakin melangkah pergi dengan membawa baby gerard bersamanya sebelum akhirnya dia dibawa masuk kedalam kamarnya.
" Nyonya, sebaiknya Anda tidak berbuat macam-macam agar tuan tidak marah. " tutur salah satu dari mereka.
" Bosmu sudah mempermainkan aku, bagaimana aku tidak marah, hah. "
" Sudahlah, kau tidak usah ikut campur urusan bos kita. " tutur temannya.
" Masuklah, nyonya ! "
" Tidak bisakah kalian melepaskan aku ? " pinta queen dengan melas.
" Maafkan kami, nyonya. " ucap keduanya.
Setelah queen sudah kembali ke kamarnya, pintu pun segera ditutup oleh mereka. Tal lupa juga menginci pintunya agar nyonya mereka tidak membuat ulah.
Queen masih mematung ditempatnya. Menatap kearah pintu kamarnya yang telah tertutup rapat. Rencananya lebih dulu gagal sebelum dia mencoba.
" Aku sungguh tidak mengerti, bagaimana bisa edgar melakukan ini padaku. Dia terlihat begitu tulus padaku. Selama beberapa bulan ini, dia sangat menyayangiku. Lalu bagaimana bisa semua itu adalah bagian dari sandiwaranya. Sungguh sangat mustahil. " gumamnya sembari menangis pilu.
" Bahkan dia begitu tega menjauhkan aku dari putraku sendiri. Ini sangat mustahil. Kurasa inilah sandiwara yang sedang dia lakukan. Tapi untuk apa ? "
Tubuh queen merosot kebawah. Tangisannya semakin pilu. Dia merasakan hatinya yang teramat sangat sakit melihat sikap suaminya padanya.
" Untuk apa dia melakukan semua ini ? "
Masih belum bisa percaya dengan sikap suaminya yang tiba-tiba saja berubah.
" Aku bisa melihatnya. Dia.. Dia sungguh tidak ingin menyakitiku. Aku bisa melihatnya, jika dia begitu sangat mencitaiku. Tapi bagaimana bisa dia melakukan semua ini ? "
__ADS_1
Queen masih menangisi keadaannya. Bagaimana bisa takdir dengan mudahnya memporak-porandakan hatinya dalam sekejap. Merasakan sakit yang luar biasa, seakan mampu menghancurkan seluruh hidupnya.
Tbc.