
Seorang lelaki duduk di kursi dengan tubuh yang terikat. Darah bercucuran dari kepalanya. Terlihat ada luka dibeberapa bagian tubuhnya.
Dua orang bertubuh kekar ada disampingnya. Dengan satu orang lainnya yang sedang berhadapan dengannya. Menatap tajam kearahnya.
" Katakan, dimana dia berada ? " tanyanya.
Lelaki yang tampak tidak berdaya itu hanya menggeleng pelan. Rasanya dia sudah sangat lemah saat ini, pun dia tidak pernah berniat untuk menjawab.
Lelaki yang kini sedang bersendekap itu pun tanpa aba-aba segera menarik rambutnya. Tidak menghiraukan rintihannya. Lelaki itu kembali melayangkan pukulan diwajahnya tanpa merasa iba.
" Katakan dimana dia !! " bentaknya hingga menggetarkan telinga.
Lelaki penuh luka itu pun mengadahkan kepalanya. Menatap sosok lelaki yang telah membuat dirinya menjadi seperti itu.
Tersenyum tipis melihatnya. Tidak ada ketakutan dimatanya. Hal itu membuat lelaki yang ada didepannya semakin tersulut emosinya.
" Kau benar-benar telah menguji kesabaranku. " ucapnya dengan berat.
Lelaki yang berdiri itu pun segera mengeluarkan senjatanya dibalik baju. Mengarahkan senjata tersebut kearah pria yang terduduk itu.
" Katakan atau..... "
" Anda sedang mengancam saya yah, tuan edgar yang terhormat. " ucap lelaki itu sembari tersenyum mengejek.
" Sial. " umpat edgar sembari memukulnya menggunakan senjatanya.
Auuuuuhhhg
" Katakan dimana dia berada ! " bentaknya semakin meradang.
" Aku tidak tahu.. Yang pasti saat ini dia sedang mengincar istrimu. Kau tahu, dia menyukai istrimu yang cantik itu. "
Seketika itu juga edgar melototkan matanya. Merasakan emosinya semakin meningkat. Tanpa dia minta pun, bayangan sang istri yang ketakutan hadir dipelupuk matanya.
Merasa tidak rela jika sang istri akan menjadi incaran dari musuhnya. Takut, dia pun merasa takut jika nanti akan terjadi sesuatu pada istri dan putranya.
" Habisi dia ! " titahnya pada kedua anak buahnya.
Edgar pun kini telah berbalik dan melangkah keluar dari ruang temaram tersebut. Langkahnya tegas. Terkesan buru-buru. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk segera kembali pulang, menemui istri dan anaknya.
Memastikan sendiri jika keduanya baik-baik saja. Menahan diri dari perasaan takut dan khawatir setelah tadi mendengar perkataan lawannya.
***
Dengan kecepatan tinggi edgar mengemudikan mobilnya. Seakan tidak bisa dibendung lagi. Berulang kali mendesah kasar ketika mengingat penuturan dari musuhnya tadi.
" Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada mereka. " gumamnya sendiri.
Kedua matanya masih fokus pada kemudinya, namun perasaannya masih kacau. Pikiran buruknya berdatangan membuat dirinya semakin merasa ketakutan.
__ADS_1
Sudah tiga hari ini dia tidak mendatangi rumahnya. Untuk sekedar temu kangen atau memeriksa keadaan orang-orang yang dia cintai pun tidak dia lakukan, karena memang dalam tiga hari itu ada banyak urusan yang harus dia selesaikan seperti sesuatu hal yang barusaja terjadi.
Beberapa menit pun telah berlalu. Edgar mengernyitkan keningnya. Marasa aneh melihat gerbang rumahnya yang terbuka.
Dengan cepat dia segera berbelok arah. Memasuki halaman rumah mewah miliknya. Kedua matanya membola saat melihat para penjaga dirumahnya yang telah tewas.
Jantungnya berdegup semakin kencang. Berharap dalam hati jika istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja.
Dia segera turun dari mobilnya. Berjalan mengendap-endap untuk masuk kedalam rumahnya yang terlihat terbuka.
Dia tidak ingin gegabah untuk masuk kedalam. Perlahan dia mulai mengambil senjata ketika mendengar suara dari orang yang sedang berbincang.
" Sepertinya ini hanya jebakan saja. Dia tidak ada disini. "
" Bos pasti akan marah karena kita tidak menemukan wanita cantik itu. "
" Sebaiknya kita segera kembali. "
Terdengar suara beberapa orang sedang berbincang. Edgar pun mengatupkan rahangnya. Merasa takut ketika memikirkan keadaan istrinya. Merasa marah pada dirinya sendiri karena telah membiarkan sang istri tanpa adanya pengawasan darinya.
Edgar sedikit melongokkan kepalanya. Mengintip keadaan yang ada didalam. Dia bisa melihat empat orang berpakaian hitam. Membawa senjata ditangan mereka masing-masing.
Tak menunggu lagi, edgar pun segera membidik salah satu dari mereka.
Dor.
Dor.
Masih menahan diri dari rasa penasarannya, edgar pun mencoba untuk melumpuhkan lawannya.
Sial. Isi pelurunya habis.
Tak ingin membuang waktu, edgar segera berlari menuju pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur. Salah satu dari mereka mengikuti langkah edgar. Dua orang lainnya hanya melihat dan mengangguk ketika diberi kode oleh temannya tersebut.
Dua orang tadi pun kembali melangkah masuk menuju dapur. Dan yang satu masuk kedalam pintu yang sama dengan edgar.
Beberapa kali mencoba menghindar dari tembakan musuh. Edgar segera membuka laci rahasia yang ada disana. Tampak peralatan lengkap miliknya berjejer rapi.
Dor.
Dor.
Dor.
Suara tembakan menggetarkan telinga. Edgar mengumpat kasar ketika tangannya yang terkena timah panas. Tanpa dia sadari seseorang tadi berada dibelakangnya, hingga dia pun harus tertembak.
Breng**k.
Dengan penuh amarah, dia pun segera melakukan penyerangan. Senjata canggih yang telah dirakit oleh salah satu perusahaan terbesar di dunia persenjataan membuat edgar dengan cepat melumpuhkan satu orang yang bersembunyi dibalik kulkas.
__ADS_1
Masih menahan rasa sakit ditangannya. Dia mencari dua lagi lawannya yang masih tersisa. berjalan maju dengan bersembunyi dibalik tembok atau perabotan dapur.
Suara tembakan kembali terdengar. Edgar bisa mendengar sesuatu. Tak lama baunya pun menyeruak memasuki Indra penciumannya. Seketika itu pula edgar mengarahkan senjatanya sembari terus membidik tanpa terarah.
Tak berselang lama dapur pun meledak.
Bbbbbbbnnnooooooommmmm
Edgar jatuh tersungkur karena merasakan getaran dari meledaknya dapur. Segera terbangun dari posisinya. Dia melirik kearah pantulan kaca lemari penyimpanan barang-barang koleksinya yang berada tepat tidak jauh didepannya. Dua orang sedang melangkah mendekat sembari mengarahkan senjatanya.
Dengan cepat pun edgar berbalik dengan posisinya masih masih tertidur dilantai.
Dor.
Dor.
Dor.
Dor.
Brruuukkkk
Keduanya pun ambruk. Edgar menghela nafasnya. Seketika itu dia kembali teringat akan sosok wanitanya.
" Queen.. " gumamnya.
Dengan cepat dia bangkit dari posisinya. Melangkah dengan berlari kecil menaiki tangga.
" Queeen.. "
" Eliaaa.... "
" Bellaa... "
" Pelayan... "
" Sial.. "
Edgar mengumpat kasar berulang kali. Menelusuri setiap ruangan yang ada dilantai atas. Kamarnya dan kamar putranya pun kosong bahkan terlihat masih rapi.
Dadanya naik turun. Edgar begitu marah saat ini. Merasa kehilangan sosok wanitanya dan juga putranya.
Edgar segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Menghubungi seseorang dengan cepat dan penuh amarah.
" Dimana mereka ? Jika dia tidak ada disini, mungkinkah mereka kabur saat terjadi penyerangan. " gumamnya sendiri.
Kemudian edgar teringat sesuatu.
" CCTV. Semoga saja aku bisa mendapatkan jawaban dengan melihat rekaman CCTV nanti. "
__ADS_1
Segera edgar melangkah pergi menuju ruangan CCTV. Dia sungguh tidak bisa berfikir jernih saat ini. Berharap jika istrinya segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Tbc.