
Beberapa bulan telah berlalu.
Usia kandungan queen semakin bertambah besar. Sudah beberapa bulan terakhir ini, kandungannya tidak rewel seperti saat di trimester pertama.
Hanya menunggu beberapa hari saja wanita itu akan segera melahirkan anak pertamanya. Kini edgar pun lebih meningkatkan keamanan dirumahnya. Beberapa anak buahnya telah berjaga disekitar rumah bahkan juga di jalanan dekat rumahnya.
Kali ini edgar tidak ingin kecolongan lagi seperti kejadian tempo lalu. Lelaki itu sangat mengutamakan keselamatan dan kenyamanan wanitanya.
Perlahan queen melangkah menghampiri ruangan kerja suaminya. Sudah satu jam lebih mereka berada didalam sana.
Papa dion beberapa kali datang ke rumah mereka. Berkunjung dan menanyakan kabar kehamilan menantunya. Lelaki tua itu tampak begitu senang setiap kali mendengar kabar mengenai kehamilan queen.
Setelah tadi mereka berbincang bersama dengan papa dion hingga seseorang datang dan membuat kedua lelaki itu harus masuk kedalam ruangan kerja edgar untuk membicarakan sesuatu hal bersama dengan sosok lelaki yang baru saja datang tersebut.
Queen yang merasa penasaran, kini perempuan hamil itu telah berdiri tepat didepan pintu ruangan kerja suaminya. Masih mematung ditempatnya. Menimang keputusannya untuk masuk kedalam atau tetap menunggu.
Aku sungguh takut, jika mereka sedang membicarakan sesuatu yang nantinya dapat membahayakan edgar.
Dengan keberaniannya yang kuat queen sedikit membuka pintunya. Sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Seketika itu, wajah wanita cantik berperut buncit itu menegang. Merasakan dadanya yang tiba-tiba sesak.
" Terimakasih, pa. Aku sangat senang sekali " ucap edgar
" Yah.. Papa sudah mengalihkan semua harta papa padamu sebagai hadiah kelahiran cucuku nanti. " ucap papa dion
" Seharusnya, papa tidak perlu menunggu queen melahirkan untuk mengalihkan harta papa. Karena memang hanya ed, yang berhak mendapatkannya " ucap edgar diselingi dengan tawa renyah
" Jika papa tidak menunggu menantu papa hamil dan melahirkan, bisa saja kamu tidak sungguh-sungguh menjalin hubungan dengan menantu papa itu " ucap papa dion
" Baiklah, jika semuanya sudah selesai. Saya mohon undur diri tuan dian, tuan edgar " pamit lelaki yang juga sebagai pengacara pribadi keluarga Baldwin.
Nampak semuanya telah beranjak berdiri dari duduknya.
" Baiklah, terimakasih banyak tuan simon " ucap edgar
" Ku percayakan semuanya padamu, simon " ucap papa dion
Queen yang memang masih berdiri di depan pintu, seketika itu mengusap wajahnya dengan kasar dan perlahan melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
" Apa maksudnya ? Apa edgar tidak benar-benar menginginkan aku ? Apa mungkin dia hanya menginginkan kekayaan keluarganya beralih padanya dengan menggunakan aku sebagai kedok ? "
Langkah queen semakin bertambah besar dengan hatinya yang mulai terkoyak. Ucapan edgar tadi masih terngiang di telinganya. Wanita hamil yang memang perasaannya lebih sensitif, hingga membuat queen tidak bisa mengendalikan emosinya.
Wanita cantik itu masuk kedalam kamarnya. Mengambil koper miliknya. Tak ingin membuang waktunya, queen segera memasukkan beberapa pakaian dan juga kebutuhannya kedalam sana.
Queen pun juga mengambil uang cash yang ada di brankas milik edgar. Wanita itu saat ini sedang dalam keadaan emosi. Mengambil keputusan yang sangat tiba-tiba, tanpa memikirkan akibatnya.
Tak lupa dia memakai jaket sebelum akhirnya keluar dari kamarnya. Dengan cepat queen melangkah menuruni anak tangga. Setelahnya dia melangkah keluar dari rumah mewah tersebut.
Edgar hanya menginginkan harta keluarganya dengan menggunakan aku sebagai kedok untuk menutupi ambisinya.
Queen menelan ludahnya sedikit berat. Beberapa anak buah edgar sudah berlari menghampiri dirinya yang saat ini telah berada di luar.
Queen bisa melihat jika mobil mewah milik papa dion masih ada. Jadi sudah pasti suami dan mertuanya masih berada di dalam sana.
Kini queen sedang memutar otaknya. Memberikan alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan dari anak buah edgar. Memasang wajah semeyakinkan mungkin agar mereka bisa percaya.
" Nyonya, anda mau kemana ? " Tanya salah satu anak buah Edgar dari tiga yang menghampirinya
" Aku harus segera ke bandara. Edgar akan mengajakku pulang ke London. Tapi didalam masih ada papa dion. Tolong antarkan aku lebih dulu ! " ucap queen dengan jantungnya yang saat ini berdegup kencang.
" Tapi nyonya. Apa tidak sebaiknya kita tunggu tuan saja ? "
Queen menggeleng cepat.
" Aku juga ingin jalan-jalan sebentar. Kita bisa berputar-putar dulu keliling kota sembari menunggu edgar. " jelasnya
Ketiganya mulai merasa resah. Mereka tampak saling melemparkan pandangan.
" Sebentar, akan saya tanyakan pada tuan. "
Queen kembali menggeleng
" Eh.. Tidak perlu. Aku sudah meminta ijin padanya tadi dan dia sudah memberikan ijin. " ucap queen yang masih berusaha untuk tetap tenang dibalik kegugupannya.
" Yasudah, kalian ikut saja bersama nyonya. Biar aku nanti yang bilang padanya " ucap sala satu dari ketiganya
" Heeemmmm. Baiklah. "
Kini queen dapat sedikit bernafas lega. Kedua kakinya melangkah menuju mobil. Sang sopir yang memang telah siap, dengan cepat queen membawa tubuhnya untuk masuk kedalam benda beroda empat itu. Yang disusul dengan kedua anak buah edgar setelahnya.
__ADS_1
Tak menunggu lagi mobil tersebut telah melaju meninggalkan halaman rumah mewah tersebut. Queen merasakan ketakutan dan juga kekecewaan di dalam hatinya.
Benarkah yang kudengar tadi. Edgar sungguh senang karena papa telah mengalihkan hartanya pada edgar. Bahkan edgar pun mengatakan jika seharusnya tidak perlu menunggu aku untuk hamil bahkan melahirkan bayi ini untuk melakukan pengalihan kekayaan keluarganya. Sungguh licik sekali. Kenapa aku dengan mudahnya tertipu olehnya ?
Dengan mengeraskan hatinya, queen berusaha keras untuk tidak menangis. Kali ini dia harus pergi dari lelaki itu. Sejak awal pernikahan mereka, dia tidak benar-benar di inginkan suaminya. Lalu kenapa dengan mudahnya lelaki itu berubah menjadi lembut.
Kini queen telah mendapatkan jawabannya atas pertanyaannya beberapa bulan lalu yang merasa aneh dengan perubahan sikap suaminya yang begitu sangat tiba-tiba.
Beberapa menit telah berlalu. Mobil yang dinaiki oleh queen telah memasuki halaman bandara. Perlahan queen turun setelah kedua anak buah edgar turun terlebih dulu.
Sekali lagi queen harus mencari cara agar bisa pergi dari pantauan kedua lelaki bertubuh kekar itu.
" Kemarikan, biar aku yang bawah ! " pinta queen sembari menarik koper miliknya
" Tapi, nyonya.. "
" Sudahlah. "
Queen segera meraih koper tersebut dari tangan lelaki itu. Jantungnya kembali berdegup kencang ketika saat ini akan melancarkan aksinya untuk sekali lagi. Bahkan tangannya pun mengeluarkan keringat dingin.
Nampak ueen melangkah sedikit cepat. Hingga kedua anak buah Edgar merasa kebingungan.
" Ada apa nyonya ? " tanya keduanya
" Sebentar, aku akan ke toilet. Tunggu saja disini ! " ucap queen
" Tapi, nyonya "
" Tunggu nyonya ! "
Ucap keduanya yang merasa semakin binging melihat tingkah laku istri bosnya tersebut.
Queen melangkah semakin cepat kearah toilet dengan sesekali menolehkan kepalanya kearah belakang. Melihat kedua sosok lelaki bertubuh besar itu masih berada di tempatnya tadi membuat queen dengan mudah berbelok arah.
" Aku harus segera pergi sebelum mereka menyadari semuanya "
Namun, sesaat kemudian. Seseorang dengan cepat telah membekap hidungnya sembari merengkuh tubuhnya dari belakang. Seketika itu semuanya menjadi gelap.
Tbc
__ADS_1