Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 55


__ADS_3

Edgar meremas kedua tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya kacau. Merasa bodoh karena bisa dengan mudahnya terkecoh oleh lawan.


Setelah tadi pagi dia datang ke Roma. Mengunjungi tempat dimana dia akan mendirikan perusahaan disalah satu kota pusat perindustrian yang ada di negara itu. Namun nyatanya gedung itu masih baik-baik saja.


Menggeram kesal. Sekali lagi dia telah masuk kedalam jebakan tikus. Marah. Lelaki itu sangat marah. Mengerahkan orang-orang profesional yang biasa menyelidiki kasus ini.


"Tuan, ada kabar buruk dari morly. Rumah di serang oleh sekelompok orang. Dia saat ini sudah berada di tempat aman bersama dengan Nyonya dan tuan muda gerard."


Edgar menatap tajam kearah roy yang sedang memberikan pesan dari morly dua menit yang lalu.


"Aaaarrhhhhhhgg...."


Semua barang yang ada di dalam pesawat jet pribadinya hancur berserakan. Edgar menggeram frustasi. Saat ini dia beserta dua orang kepercayaannya masih berada di dalam pesawat. Masih ada beberapa menit lagi mereka baru akan sampai pada landasan.


"Breng**k...."


Bayangkan buruk telah memenuhi isi kepalanya. Sosok wanita cantiknya dan juga bocah kesayangannya seakan berada di pelupuk mata.


Bayangkan mereka yang berteriak dan menangis seakan begitu nyata. Membuat lelaki itu semakin meradang. Melampiaskan amarahnya pada setiap benda yang ada didalam sana.


****


Baru saja queen kembali merebahkan tubuhnya disamping gerard. Memeluk tubuh mungil bocah berusia 3 tahun itu dengan penuh sayang. Sekilas mencium keningnya sebelum ikut terlelap.


Hanya beberapa jam saja. Mata yang tertutup rapat itubkembali terbuka. Kornea matanya melebar saat kini sudah gaduh dari luar terdengar menggelegar. Saling beradu senjata. Queen pun merasakan takut dengan tiba-tiba.


Bocah laki-laki yang berumur 3 tahun itu pun juga ikut terbangun. Menatap bingung padanya.


"Mommy, ada apa di luar sana? Kenapa berisik sekali?" tanyanya polos.


Masih terdiam. Queen memilih bungkam.


"Sssstttt.. Jangan berisik! Kita bersembunyi di dalam sana saja." ajak queen sam menunjuk ke arah walk in closet.


Bocah itu mengangguk dan segera mengikuti queen yang saat ini sudah beranjak berdiri lebih dulu. Segera masuk kedalam walk in closet.


Beberapa menit berlalu. Merasakan debaran jantungnya yang semakin cepat. Keringat dingin membasahi keningnya. Queen benar-benar merasa takut.


Mengusap pelan perut buncitnya. Seakan dia tahu apa yang terjadi setelah ini. Berbisik lirih pada bayi yang ada di dalam kandungannya.


Sayang, mommy dan daddy sangat menyayangimu. Kami mengharapkan kehadiranmu. Semoga Tuhan memberikan bantuan diwaktu yang tepat.


"Mommy, sebenarnya ada apa? Erard takut."


Tidak bersuara. Queen hanya mengangkat tangannya dan jari telunjuknya kini telah mendarat di atas bibir tipisnya. Mendekap erat tubuh mungil bocah itu. Masih bersembunyi di dalam walk in closet.


Keduanya saling berpelukan. Menahan diri dari rasa takut yang saat ini sedang mereka alami. Ciuman hangat beberapa kali mendarat di puncak kepala gerard.


Namun, siapa yang menduga jika saat ini seseorang telah membuka pintu ruangan tersebut. Sosok yang sangat ueen kenal masuk ke dalam dengan panik.


"Nyonya, ayo ikuti aku!" titahnya.


Merasa bersyukur karena ada morly yang datang. Semoga saja tidak akan terjadi sesuatu hal nantinya. Mengangguk mantap. Lelaki itu segera menggendong gerard kecil sambil menarik tangan queen untuk keluar dari sana.

__ADS_1


Morly melangkah besar dan terkesan buru-buru. Berulangkali queen menghela nafas panjang.


"Kita mau kemana? Perutku rasanya kram." ungkap queen.


"Sabar nyonya. Kita akan pergi ke tempat persembunyian, tuan."


Masih melangkah besar menuju pada sebuah ruangan. Namun, kenyataannya seseorang telah lebih dulu menghentikan niat mereka.


Dor....


"Berhenti!"


Seketika keduanya menghentikan langkahnya. Morly dengan cepat berbalik badan. Menurunkan gerard dari gendongan. Membawa dua orang itu agar berada di belakangnya.


"Mau kemana kalian?"


Tiga orang melangkah besar mendekati mereka. Queen mencengkram kuat baju morly dengan memeluk tubuh kecil putranya yang kini sedang ketakutan.


"Nyonya larilah dan segera masuk kedalam pintu coklat itu." pinta morly.


Queen menggeleng.


"Aku takut, bagaimana jika mereka menembakku?"


"Jangan berfikir yang tidak-tidak! Nyonya pasti akan selamat sampai tuan datang." tutur morly.


"Larilah nyonya!"


Dengan gemetaran queen pun memberanikan diri. Menggenggam tangan putranya dengan erat. Yakin. Dia harus mencoba untuk kabur.


Wanita hamil itu pun segera berbalik dan berlari. Menggandeng tangan putranya begitu erat. Namun suara nyaring dari senjata api membuat queen menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang.


"Morly...."


Dengan masih terkejut, queen tidak menyadari jika dua orang tadi sudah berlari ke arahnya. kini keduanya telah berhasil mendapatkan dirinya.


"Ka-kau...."


Kedua mata queen sudah basah. Manatap tubuh morly yang kini sudah tergeletak tak bernyawa. Seseorang melangkah santai sambil tersenyum tipis ke arahnya.


"Masih mengingatku, nyonya baldwin?"


Queen tidak bergeming ditempatnya. Tubuhnya gemetaran. Kedua lengannya dicekal kuat oleh dua lelaki yang ada di sampingnya.


"Alex... Kau akan tahu akibatnya jika melukaiku dan putraku." tutur queen.


Hahahahahha


Alex tertawa keras. Seakan tidak memiliki ketakutan.


"Suamimu sedang pergi. Kurasa dia tidak akan datang untuk menyelamatkanmu, queen."


Alex mengangkat tangannya. Meraih rambut panjang queen dan menariknya.

__ADS_1


"Aaaarrhhhhhhgg...." pekik queen


"Mommy." panggil gerard ketakutan.


"Sayang, tutup mata!" titah queen pada gerard.


Ketiga lelaki itu hanya tertawa renyah melihat queen dan putranya yang seakan tidak berdaya.


"Tunjukkan padaku, di mana edgar menyembunyikan berkas-berkas pentingnya?"


Queen menggeleng.


"A-aku tidak tahu, lex."


Mendengar itu membuat alex merasa kesal. Lelaki itu seakan tidak memiliki rasa iba pada wanita hamil. Kembali menarik rambut queen dengan keras.


"Aaaarrhhhhhhgg...."


"Katakan, dimana dia menyembunyikannya?" bentak alex.


Queen kembali menggeleng. Merasakan kepalanya yang semakin sakit akibat cengkraman alex. Mengalir begitu saja. Air matanya menetes. Namun, alex dan yang lain tidak merasa kasihan sama sekali.


"Lex, apa yang kamu lakukan?"


Terdengar suara felix dari belakang. Lelaki itu menatap nanar ke arah queen. Dengan gaun tidurnya, queen masih terlihat begitu cantik dan seksi. Perutnya yang sedikit buncit seakan menambah keseksiannya. Felix pun mereasa begitu.


"Apa? Kau jangan ikut campur."


Kini alex pun menarik queen untuk melangkah mendekati pagar pembatas lantai atas. Tubuhnya gemetaran. Merasakan takut yang luar biasa. Perlahan ingatannya akan mimpi-mimpi itu mulai bermunculan. Setiap penggal dia mengingatnya dengan baik.


Pasrah. Wanita itu hanya bisa pasrah.


"Katakan, queen!"


Queen kembali menggeleng. Dia benar-benar tidak tahu apapun mengenai kekayaan suaminya. Apalagi mengenai tempat penyimpanan.


"Kau benar-benar tidak membantu."


Felix masih menatap ke arah queen dengan tatapan iba.


"Bos. Saya menemukan sesuatu di samping kamar mereka. Sepertinya itu ruangan kerja edgar. Banyak berkas-berkas dan dokumen penting lainnya." ucap dari seseorang yang baru saja datang.


Alex mendengarkan dengan seksama. Mengangguk kecil sebelum dia melepaskan cengkraman tangannya.


"Dia benar-benar cantik seperti yang kau bilang." ucap felix.


Senyuman miring.


"Aku tidak menyukai wanita hamil." balsa alex santai.


Namun, yang sangat membuat mereka terkejut adalah wanita cantik itu kini telah terdorong jatuh. Alex yang hendak melangkah pergi, dengan tanpa kasihan telah mendorong tubuh wanita hamil itu itu hingga terjatuh dari lantai atas.


"Mommy...."

__ADS_1


Yang lain hanya bisa melongo. Terkejut bahkan tidak percaya jika alex begitu tega melakukannya pada seorang wanita hamil.


Tbc.


__ADS_2