Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 56


__ADS_3

Pov Queen.


Melayang. Aku merasa terbang. Sakit disekujur tubuhku terasa melilit. Suaraku bahkan tak bisa keluar. Beberapa kali mataku mengerjap. Masih menahan rasa sakit.


"Ed... Aku mencintaimu...."


Lirih. Sangat lirih mungkin tidak ada yang bisa mendengarnya. Air mataku menetes. Harapanku untuk memeluk tubuh mungil bayiku sepertinya tidak akan pernah terwujud.


Semakin deras. Lelehan bening itu semakin merembes cukup deras. Pilu. Rasa sakit ini semakin membuatku mati rasa. Perlahan pandanganku menjadi buram sebelum akhirnya aku menutup mata.


Kulihat cahaya putih menyilaukan mata. Dua orang datang menghampiriku. Masih diselimuti oleh cahaya terang. Keduanya meraih tanganku, hingga kini aku pun terbangun.


Rasa sakit itu sudah tidak aku rasakan lagi. Kulihat kedua sosok bercahaya itu tersenyum lembut padaku. Aku tertegun. Mereka adalah....


"Mommy... Daddy...."


Keduanya memelukku. Kerinduan ini terasa menguap dihempaskan oleh sang waktu. Mereka adalah orang yang selama ini ku rindukan. Kasih sayang dan kehangatan yang selalu kuinginkan.


"Queen merindukan kalian." ucapku lirih.


Masih memeluk mereka. Mataku terpejam sesaat merasakan kerinduanku yang mendalam. Meluapkan berbagai macam perasaan yang menggelora. Perlahan aku pun membuka mataku kembali. Kini keduanya meleraikan pelukannya. Masih menatapku dengan senyuman manisnya.


"Akankah, queen ikut bersama kalian?"


Bukannya menjawab. Mommy dan daddy kini saling bergandengan tangan. Berbalik arah dan melangkah menjauh. Pergi meninggalkan aku yang kini berdiri sendiri diantara cahaya terang ini. Kebingungan mencari arah. Namun, semua ini hanyalah sesaat, hingga aku pun kembali menatap dalam gelap.


Merasakan seseorang yang kini sedang mendekat. Dia pun segera mengangkat dan membawaku. Ini sungguh terasa begitu nyata.


****


Mobil mewah memasuki halaman rumah keluarga baldwin. Disusul dengan mobil lainnya. Banyak, mungkin ada 10 mobil dengan lima orang di dalamnya. Mereka pun segera keluar dari mobil dan tergesa-gesa untuk masuk kedalam rumah. Bersenjata lengkap. Menggunakan pakaian anti peluru. Semuanya sudah siap untuk melakukan aksinya.


Edgar masuk terlebih dulu, disusul oleh roy dan Louis, kemudian yang lainnya. Mematung. Mata edgar melotot seakan ingin keluar dari tempatnya. Melihat seseorang yang terjatuh dari lantai atas.


Bayangan itu. Edgar menggeram marah.


"Mommy...."


Teriakkan gerard berhasil membuat edgar tersadar dan segera berlari menghampiri sosok yang baru saja terjatuh. Menoleh sekilas ke arah roy dan louis yang masih mematung.


"Cari gerard dan bawa dia pergi! Jangan sampai terjadi sesuatu padanya." titah edgar dengan penuh penekanan.


Setelahnya, lelaki itu pun menghampiri tubuh yang tergeletak itu. Penuh darah. Hidung, mulut dan....


Bayiku... Princessku...


Dengan pikiran kacau dan perasaan hancur. Tubuh edgar merosot. Lemas tidak berdaya. Perlahan tangannya terulur dan jari telunjuknya berhenti di bawah hidung.

__ADS_1


Ada setitik harapan. Hatinya kembali kuat. Dengan cepat edgar mengangkat tubuh berlumuran darah itu untuk segera dibawanya pergi.


Pov Edgar.


Tubuhku gemetaran menyaksikan istriku yang kini sudah lemas. Matanya tertutup dengan darah yang keluar dari tubuhnya. Aku menjerit dalam hati. Tidak terima dan marah.


Bodoh... Bagaimana bisa aku lalai. Bagaimana bisa aku kecolongan.


Waktu seakan melambat. Terdengar suara berisik yang saling beradu tembak. Namun aku tidak perduli.


Menetes, keringat dan air mata terus menetes. Jantungku berdegup kencang. Masih memikirkan keadaan wanitaku. Namun disisi lain aku juga mengkhawatirkan putraku.


Yah... Gerard masih berada di dalam rumahku. Namun, aku yakin jika anak buahku bisa melumpuhkan lawan dan dapat menyelamatkan putraku. Walaupun aku belum tahu dengan jelas bagaimana keadaannya sekarang.


Kini aku masuk kedalam mobilku. Merebahkan tubuh wanitaku di kursi penumpang. Masih gemetaran. Otakku buntu. Namun yang pasti saat ini tujuan utamaku adalah rumah sakit.


berharap jika istriku bisa selamat. Berharap jika aku diberikan kesempatan untuk mengukir kebahagiaan bersama dengannya. Aku belum siap untuk ditinggal olehnya.


Kencang. Mobilku melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak perduli lampu lalu lintas. Saat ini aku hanya ingin segera sampai di rumah sakit.


"Bertahanlah sayang!"


****


Lima tahun kemudian


Berlari kecil menuju bola yang baru saja di tendang oleh gerard. Rerumputan luas yang dikelilingi oleh kebun anggur. Hamparan luas berwarna hijau, pemandangan yang begitu indah bagi siapa saja yang melihatnya.


"Cepatlah!" teriak gerard.


Bocah itu berhasil mengambil bolanya. Namun dia tidak juga berhasil menendangnya. Mencembikkan bibirnya. Namun masih tetap berusaha untuk menendang.


"Idak ica...."


Gerard tertawa keras. Bocah kecil yang menggemaskan itu kini mulai terisak dengan masih mencoba untuk menendang bola itu.


Gerard pun tak sampai hati. Dengan tubuh yang besar dan tinggi, di usianya yang baru menginjak 8 tahun, seakan terlihat seperti bocah yang berusia 10 tahun. Edgar sungguh berhasil dalam menerapkan ilmu bela dirinya.


"Jangan menangis bocah, kecil! Lihatlah wajahmu itu... Sungguh menggemaskan."


Meraih tubuh mungil Xavier dan segera menggendongnya. Bocah itu menangis. Gerard segera menendang bolanya agar mengarah ke rumahnya. Melangkah pelan sambil masih menggendong bocah yang sedang menangis itu.


"Diamlah, Xavier! Atau aku akan membuangmu di tengah kebun anggur." ucap gerard menakut-nakuti.


Bukannya diam bocah itu tampak semakin mengencangkan isak tangisnya. Gerard tertawa renyah. Dia suka sekali menggoda bocah itu.


"Kau apakan dia, gerard?" tanya seorang wanita cantik yang ada di ambang pintu rumah sederhana itu.

__ADS_1


"Hehehehe... Hanya ingin membuangnya di tengah kebun, bibi." ucapnya santai.


Rebecca menggeleng. Dia sudah sangat hafal dengan kelakuan gerard. Keponakannya itu akan selalu menggoda xavier kecil dengan alasan karena dia sangat menggemaskan.


"Masuklah dan lekas tidur!" titahnya sambil mengambil Xavier dari gendongannya.


Gerard menggeleng.


"Aku ingin membantu daddy di kebun. Apa boleh?"


Rere pun juga ikut menggeleng.


"Tidak boleh, Daddy mu bisa marah seperti kemarin!" Rebecca mengingatkan.


Gerard menghela nafas panjang. panas sinar matahari tidak bisa membuat mereka terbakar. Suasana sejuk di pedesaan itu lebih mendominasi. Walaupun terik matahari begitu menyilaukan mata, namun siapapun yang tinggal di sana tidak bisa merasakan panas seperti ketika tinggal dikota.


Kemudian dengan cepat gerard masuk kedalam rumah itu. Begitu sederhana dan tidak ada barang mewah sama sekali. Suasana yang tenang dan juga sangat nyaman telah dirasakan oleh mereka.


"Kakek petter." panggil gerard.


Paman petter yang sedang asyik menikmati teh sembari menatap ke arah luar jendela. Perkebunan anggur terbentang luas di luar sana.


"Ada apa jagoan?" tanyanya sembari menoleh sekilas.


"Bibi melarangku untuk pergi ke kebun."


Terkekeh renyah.


"Lihatlah, pa! Dia membuat Xavier menangis lagi. Jangan terlalu memanjakannya!" tutur rere dengan masih menggendong Xavier kecil.


"Sudah, lekas tidur!" titahnya pada gerard.


"Paman...." gerard mencari perlindungan.


Paman petter tersenyum dan mengangguk.


"Biarkan dia pergi, re."


"Papa. Edgar pasti akan marah lagi seperti yang waktu itu." balas rere yang akan masuk kedalam kamarnya.


"Gerard pasti tidak akan salah jalan lagi. Sekarang gerard sudah hafal jalannya." jelas gerard.


"Hah... Terserahlah! Bibi tidak akan membantumu jika nanti daddy mu marah." ucap rere sebelum akhirnya dia masuk kedalam kamarnya dengan membawa xavier bersamanya.


Menoleh kearah paman petter. Melihat lelaki tua itu mengangguk. Gerard pun kegirangan. Bergegas untuk melangkah pergi. Dengan wajah berbinar bocah itu mengambil sepedanya yang ada di samping rumah.


"I'm coming...." teriaknya senang.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2