Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 13


__ADS_3

Edgar merengkuh pinggang istrinya dan Menggiringnya untuk menaiki anak tangga. Mereka berdua baru saja selesai melakukan sarapan bersama.


Lelaki sungguh tidak ingin terlalu lama bergabung bersama dengan keluarganya yang lain, terutama kedua saudara tirinya. Sejak papanya menikah lagi lima tahun yang lalu, Lelaki itu lebih memilih untuk membatasi dunianya dari keluarga barunya.


" Kak Ed, papa memanggilmu " Panggil Alex ketika Edgar telah sampai didepan pintu kamarnya


Sejenak dia berbalik dan menatap Alex dengan malas.


" Masuklah dulu !! " titahnya pada queen. Wanita itu tak menunggu lagi untuk segera masuk kedalam kamarnya.


Hhuuuhhhft..


" Aku hampir pingsan jika terus berada dekat dengannya. " ucap queen dengan memegangi dadanya.


" Dia begitu angkuh terhadap keluarganya. Sebenarnya, bagaimana hubungan diantara keluarga ini ?? Aku sungguh bingung, bahkan Edgar tak memperbolehkan aku untuk bergabung bersama dengan keluarganya yang lain " gumamnya sendiri sembari mengingat kejadian yang telah terjadi.


Kini queen telah melangkah menuju sofa yang berada dekat dengan jendela. Wanita itu tampak murung dengan keadaannya yang telah dibatasi oleh sang suami. Sekedar untuk ikut membereskan peralatan makan saja tidak boleh apalagi untuk bergabung bersama dengan yang lainnya..


Tak lama kemudian, queen segera mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Menyandarkan kepalanya hingga kini dia dapat melihat langit-langit kamarnya.


Wanita itu tampak sedang berfikir. Pikirannya kini telah melalang buana mendapati keadaan keluarga suaminya yang tampak tak harmonis. Begitu banyak pertanyaan yang kini bersarang dikepalanya. Bahkan hingga saat ini pun queen belum tahu apa yang menjadi alasan sebenarnya lelaki itu menikahinya.


Jelas-jelas mereka tidak saling kenal, namun kenapa Edgar begitu sangat memaksanya untuk mau menikah dengannya.


" Entah apa yang akan terjadi padaku nanti. Kuharap Edgar bisa melepaskan aku dari pernikahan ini. Jelas-jelas dia sedang tidak ingin menjalin hubungan denganku, lantas apa alasannya dia menikahi ku ?? " gumamnya. Tak terasa kini matanya tiba-tiba saja berair. Queen dengan cepat mengusap ujung matanya.


Queen kembali mengingat setiap kejadian yang telah menimpanya sehingga saat ini dia bisa berada di sini dengan status barunya.


" Sebaiknya aku membaca majalah saja. Mungkin bisa mengalihkan pikiranku yang sedang kacau ini " gumamnya sendiri. Kemudian dia mulai menegakkan badannya dan meraih majalah yang ada di sampingnya.


Queen mulai memilih majalah yang ingin dibacanya. Menyamankan posisinya dan mulai membacanya. Sesaat kemudian di tampak murung kembali. Merasakan kesepian dan juga kerinduan pada keluarganya.


Apa sebaiknya aku meminta ponsel saja padanya agar aku bisa menghubungi kakak. Aku sungguh sangat merindukan sosok mereka yang selalu menemani kesendirianku.


Tak berselang lama queen telah mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka. Sosok suaminya kini telah melangkah masuk dengan angkuhnya.



" Kamu sudah kembali ?? " tanya queen sembari melebarkan senyumnya.


Namun, Edgar sama sekali tak menanggapi ucapannya. Queen kembali menyimpan senyumnya. Mengulum bibirnya seiring dengan suasana hatinya yang telah berubah.


Dia sungguh tak punya hati. Lihat saja wajahnya itu. !! Hhaaah.. Sungguh menyebalkan. Ingin sekali kujambak rambutnya yang panjang itu.. Hhhhhfff...


Queen mengumpat kasar didalam hati ketika mendapati suaminya yang tampak acuh. Kini wanita itu pun kembali pada aktivitasnya. Mencoba untuk fokus pada majalah yang dibacanya, namun keinginannya untuk memiliki ponsel terus bergentayangan di pikirannya.


Baiklah, aku harus berbicara padanya. Uang dan ponselku sudah hilang, bahkan seluruh kartu yang ada didalamnya pun juga raip dibawa oleh pencuri itu.


Queen menghela nafasnya sedikit berat. Ingatannya akan tasnya yang dicuri kini kembali terlintas. Kartu ATM dan kartu kredit beserta kartu yang lainnya termasuk juga ponselnya telah hilang bersamaan dengan tasnya yang dicuri.


Sekali lagi queen menghembuskan nafasnya. Melirik kearah suaminya yang saat ini sedang sibuk menelvon seseorang sembari menatap kearah luar jendela kamarnya.


__ADS_1


" Ekhemmm... " Queen berdehem pelan. Dia sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tetap duduk tenang Sebelum dia mengutarakan keinginannya.


Kini setelah melihat Edgar mengakhiri panggilannya, dia segera melangkahkan kakinya untuk mendekati lelaki itu.


Edgar berbalik dan menatapnya. Sungguh tatapan matanya begitu dingin. Tak ada kelembutan diwajahnya. Sehingga membuat nyali queen menciut seketika itu.


" Ada apa ?? " tanya edgar


" Ehmm.... Itu.. Ehh.. "


" Ada apa, katakan ?? " tukas Edgar


Lelaki itu tampak tak ingin berbelit. Dia sudah mengetahui jika istrinya itu sedang ingin mengatakan sesuatu. Namun, dia tidak bisa menebak apa yang ingin dikatakan olehnya.


" Ehmm.. Aku.. Aku.. " ucap queen .


" Katakan saja apa yang ingin kau katakan !! " bentak Edgar yang membuat queen tersentak kecil. Kini mereka telah berdiri saling berhadapan.


" Ehmm.. Begini Ed, Aku.. Aku.. Ingin meminjam ponselmu untuk menghubungi seseorang " ucap queen dengan gugup


Edgar tertegun sesaat setelah mendengar penuturan dari istrinya. Tak berselang lama lelaki itu tampak berbalik dan berjalan mendekati nakas disamping tempat tidurnya. Segera membuka lacinya dan mengambil paperbag berukuran sedang.


Kemudian Edgar kembali melangkah mendekati queen yang masih mematung ditempatnya.


" Ambillah !! "


" Apa ini ?? " tanya queen dengan wajah yang tampak mengkerut


" Sudah, cepat ambil !! "


Edgar mengambil dompetnya dari saku celana. Mengeluarkan sebuah kartu berwarna gold.


" Ambil. !! Kurasa aku tak perlu menjelaskan lebih detail mengenai kegunaannya. Nomor pin ada dibalik kartu itu " Jelas Edgar.


Tanpa penolakan queen segera meraih kartu itu. Sesaat kemudian queen telah melebarkan senyumnya. Wajahnya yang tadi sempat mengkerut kini telah berubah menjadi senang.


" Ponsel.. Terimakasih, Ed.. Terimakasih.. " Ucap queen ketika dirinya telah melihat sebuah benda yang ada di dalam paperbag tersebut.


Wanita itu tampak begitu senang hingga hampir saja dia ingin memeluk lelaki yang ada didepannya itu. Namun, ketika melihat raut wajah Edgar yang tak berekspresi membuat queen tersadar jika lelaki itu bukanlah kedua kakaknya yang akan dengan senang hati menerima pelukan darinya.


" Besok pagi aku akan berangkat ke new York. Papa meminta ku untuk mengurusi proyek pembangunan hotel yang ada disana. Dia memintaku untuk mengajakmu. " ucap Edgar tiba-tiba


" Ehmm.. Aku tidak ingin merepotkanmu ketika disana, Ed. Sebaiknya aku disini saja. " tolak queen dengan lembut


Edgar menajamkan matanya.


" Aku tidak ingin mendengar pendapatmu. Papa sudah menyiapkan hotel terbaik untuk kita selama kita tinggal disana. "


Queen mengangguk kecil


" Baiklah, kita akan menginap berapa hari disana ? Aku akan menyiapkan beberapa pakaian yang akan kita bawa nanti "


" 4-5 hari. Bawa pakaian seperlunya saja. "

__ADS_1


" Baik, nanti akan aku siapkan "


Edgar mengangguk kecil


" Aku akan menyelesaikan pekerjaanku diruang kerja. Tolong buatkan aku kopi dan antar kesana !! " titahnya sebelum akhirnya dia beranjak pergi dari kamarnya menuju ruangan kerja miliknya yang ada disamping kamarnya.


Setelahnya, queen pun segera ikut melangkah pergi dari kamarnya menuju dapur. Membuatkan kopi untuk suaminya yang telah berbaik hati membelikan dirinya sebuah ponsel pengeluaran terbaru.


Wajahnya tampak berseri. Wanita itu sedang merasa senang sekarang.


" Non, biar saja yang buatkan kopi untuk tuan muda. " Tawar salah satu pelayan yang saat itu tidak sengaja melihat queen sedang meracik kopi.


Queen menggeleng.


" Tidak perlu. Sebentar lagi akan selesai " jawabnya sembari menuangkan air panas kedalam cangkir berisikan bubuk kopi yang sudah tercampur berbagai macam bahan lainnya.


Pelayan itu mengangguk sembari tersenyum tipis.


Beruntung sekali tuan muda Edgar menikahi wanita cantik dan baik seperti ini.


Queen mengaduk kopi beberapa kali sebelum akhirnya dia memutuskan untuk segera membawa cangkir tersebut pada seseorang yang tadi memesannya.


" Saya permisi " ucap queen dengan sopan.


Queen telah pergi dari dapur dan segera melangkah menuju ruangan tempat suaminya bekerja. Siapa yang sangka jika pelayan tadi masih mematung ditempatnya.


" Nona queen sungguh sangat sopan sekali. " gumamnya sembari maniknya yang terus mengikuti kemana sosok wanita cantik itu melangkah.


tok tok tok


Terdengar suara " Masuk " dari dalam hingga membuat queen tanpa ragu membuka pintunya.


" Maaf sedikit lama " Ucapnya sembari meletakkan cangkir kopinya datas meja.


" hemmmm " Edgar hanya berdehem pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.



" Apa kamu menginginkan sesuatu yang lain ?? " tanya queen dengan hati-hati


" Tidak.. " jawab Edgar singkat


" Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kamar "


" hemmm "


Queen menghela nafasnya. Namun sesaat kemudian dia kembali melebarkan senyumnya.


" Aku sudah tidak sabar untuk menghubungi Allan dan kakak " gumamnya sendiri dengan senang ketika dia telah melangkah pergi.


Edgar yang sekilas mendengarnya seketika itu menghentikan aktivitasnya, menoleh kearah queen yang baru saja membuka pintu dan menghilang dibalik pintu.


Edgar menggeleng pelan sembari tersenyum tipis melihat tingkah istrinya itu. Merasakan sesuatu yang terasa asing dihatinya.

__ADS_1


" Entah kenapa aku merasa begitu senang ketika berada dekat dengannya "


Tbc


__ADS_2