Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 57


__ADS_3

Pov Edgar


Aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku satu kali kesempatan. Berbaik hati padaku untuk menggantikan keterpurukanku dengan kebahagiaan yang tiada tara.


Memberikan kesembuhan pada istriku, membangunkan dia dari tidur panjangnya. Enam bulan setelah kejadian berdarah itu, aku terus mengharap keajaiban.


Hancur, hidupku seakan hancur. Duniaku menjadi kelam. Kini aku tersadar. Kekayaan yang kumiliki tidak ada artinya jika dia tidak berada disisiku. Menyesal. Aku sungguh menyesal. Bahkan gerard ku yang malang harus tinggal bersama dengan rere karena keterpurukanku.


Hari demi hari kulalui dengan berat. Kehilangan princessku yang bahkan belum terlahir di dunia, ditambah queen yang mengalami penurunan pada kesadarannya. Membuatku harus merasakan kesedihan yang mendalam. Menelan pil pahit setiap kali aku datang untuk menjenguknya.


Dia, wanitaku, istriku, belahan jiwaku. Tidak sadarkan diri. Enam bulan aku merasakan kesendirian. Kesepian. Hidupku seakan ikut berakhir bersama dengannya.


Kini, semuanya sudah berlalu. Dua tahun yang cukup berat sekarang sudah berganti. Aku mulai menikmati kehidupan yang lebih baik bersama dengan keluarga kecilku. Mulai membuka lembaran baru bersama dengan mereka. Aku memboyong mereka untuk pergi dan meninggalkan kota paris.


Memilih untuk tinggal di desa Mittelbergheim. Terletak di kaki gunung Saint Odile. Menginvestasikan saham pada pengusaha pembuat wine. Yah, inilah yang aku suka dari desa ini. Desa penghasil wine terbaik.


Aku sudah memutuskan. Menitipkan rumah dan semua perusahaanku pada ketiga orang kepercayaanku. Hanya tinggal memeriksa dari jauh dan dollar pun mengalir. Tidak jarang aku juga membagikan sebagian hartaku pada mereka yang membutuhkan. Bagiku saat ini kekayaan bukanlah segalanya.


Kini aku ingin fokus pada dunia kecilku. Membangun kebahagiaan yang dimulai dari kesederhanaan sesuai dengan permintaan queen, istriku.


Setiap hari aku merasakan kebahagian yang begitu nyata. Senyuman, kehangatan dan kesederhanaan. Kehidupanku berubah drastis sejak tiga tahun yang lalu. Tak ingin menunda lagi, setelah dia dinyatakan benar-benar sehat. Aku pun segera menanamkan benihku dirahimnya. Aku akan membuat duniaku sendiri sebentar lagi.


Perlahan aku menyudahi kegiatanku memetik sayur mayur. Sesekali aku menoleh ke arah samping dimana sosok wanitaku dengan perut buncitnya berada. Duduk santai di sebuah pondok kecil sebagai tempat berteduh saat kami merasa lelah. Beginilah keseharian kami tinggal disini.


"Daddy...."


Teriakkan itu membuatku mengalihkan pandangan. Menoleh pada jalanan kecil dimana saat ini sosok putraku yang sedang turun dari sepedanya. Dia dengan senangnya melangkah mendekatiku.


Astagaaaa.. Baru saja kemarin aku memarahinya karena datang menyusulku dan sekarang? Lagi? Bukannya apa-apa, aku hanya tidak ingin jika dia tersesat lagi seperti kemarin.


"Daddy sudah bilang, tunggu saja kami di rumah! Bermain bersama Xavier." tuturku.

__ADS_1


Dia hanya tersenyum tipis sambil menatap ke arah queen. Aku pun kini menoleh. Sosok wanitaku sedang berjalan mendekat.


"Sayang, sebaiknya kamu duduk saja." tuturku padanya sembari aku yang melangkah mendekatinya.


Yah, karena sebentar lagi aku akan memiliki bayi lagi darinya. Dari wanita yang telah membukakan pintu hatiku.


Anak keempat kami setelah dua tahun yang lalu dia telah melahirkan Xavier Baldwin. Kehamilan kali ini aku sangat berharap jika dia di dalam sana berjenis kelamin perempuan. Untuk menggantikan posisi princessku yang telah gugur lebih dulu akibat kelakianku kala itu.


Ku lihat queen menggeleng.


"Aku sudah tidak capek lagi. Kamu tenang saja." balasnya lembut.


Setelah dia menatapku, kini pandangannya beralih pada putraku.


"Sayang, kenapa kamu kemari?" tanya queen pada gerard.


"Hehehe... gerard hanya ingin membantu daddy dan juga menemani mommy." jelasnya santai.


Aku menggeleng. Merasa tidak suka dengan alasan yang dia berikan. Namun berbeda dengannya. Tertawa renyah seolah sedang mentertawakan diriku.


"Daddy sudah memetik banyak buah dan sayur di keranjang. Kita akan kembali setelah ini." sahutku.


Aku melihat putraku yang kini sedang menekuk wajahnya.


"Gerard baru saja datang, kenapa daddy sudah mau pulang?" keluhnya


"Yah, karena kamu tidak bisa menjaga Xavier dengan benar." balasku.


Queen hanya terkekeh kecil.


Aku mulai meraih keranjang yang sudah terisi penuh dengan buah dan sayur. Membawanya menuju motorku. Motor khusus yang biasa ku gunakan untuk pergi ke kebun.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita kembali! Kamu butuh istirahat." teriakku pada queen.


Wanita itu tampak mengangguk sambil melangkah mendekat. Masih dengan merangkul bahu gerard, dia terlihat begitu cantik. Bahkan memiliki putra sebesar gerard seakan tidak pantas.


Aku terkekeh geli saat memikirkannya. Jika mengingat awal pertemuan kami, sungguh takdir sangat baik karena telah mempertemukan aku dengannya. Wanita cantik yang kini sudah merubah hidupku. Wanita yang sangat polos yang kini mampu mengalihkan seluruh pandangan hidupku.


Bersyukur, sekali lagi aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk membangun keluarga kecil yang bahagia seperti saat ini. Mewujudkan impian queen yang sempat dia minta di hari ulang tahunnya.


Kami pun mulai bersiap untuk pulang. Membiarkan putraku yang lebih dulu mengayuh sepedanya. Kemudian aku menyusul dengan menggunakan motorku.


Bahagia itu sederhana. Bahagia itu mudah. Semuanya tergantung pada kita yang membawa arti bahagia itu seperti apa.


Bahkan aku tidak pernah menyangka jika saat ini aku melihat putraku yang mengayuh sepeda. Jika dibandingkan denganku. Gerard jauh lebih beruntung dimasa kecilnya. Hidup sederhana namun mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kami.


Meningkat akan cerita di masa lalu. Membuatku ingin menangis. Dituntut untuk bersikap baik. Bermain sendiri di kamar bahkan pergaulan pun dibatasi.


Yah... Kali ini aku setuju dengan pendapat istriku. Kekayaan tidak bisa menjamin selamanya akan memberikan kebahagiaan dan aku pun kini telah mengalaminya sendiri.


"Terimakasih, sayang." ucapku lirih.


Aku meraih tangan istriku yang saat ini melingkar di atas perutku. Menciumnya lembut. Merasakan kelegaan setiap kali teringat akan masa lalu yang kelam.


"Hhemm... Susah berulang kali kamu mengatakannya, ed. Sudahlah, semuanya sudah berlalu." balas queen.


"Ingatanku akan dirimu saat itu masih melekat pada otakku, sayang."


"Stop, ed! Jangan dibahas lagi! Biarkan cerita pahit itu menjadi sejarah." tuturnya.


"Baiklah."


Aku tersenyum. Merasakan kini wanitaku semakin mengeratkan pelukannya. Masih menatap ke depan sambil memperhatikan keselamatan gerard, putraku.

__ADS_1


Aku akan selalu melukis kebahagiaan untuk kalian.


Tbc.


__ADS_2