Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 47


__ADS_3

Mobil mewah beriring-iringan memasuki halaman rumah keluarga Baldwin. Setelah mobil itu terparkir rapi, edgar segera turun dari mobilnya kemudian berlari kecil memutari mobil tersebut. Segera membukakan pintunya untuk sang istri.


Queen pun segera turun. Raut wajahnya tampak murung. Berharap jika sang suami menuruti keinginannya semalam, tapi nyatanya tidak.


Mengharapkan kehidupan yang nyaman dan damai. Tinggal dosebuah desa kecil yang jauh dari kerumitan hidup sang suami. Nyatanya, semua itu hanya janji palsu.


" Jadi, semalam kamu hanya menghiburku, ed. " ucap queen yang saat ini sedang menatap suaminya.


Edgar hanya sekilas melihat kearah istrinya. Tanpa ingin berkomentar lelaki itu segera manarik tangan istrinya. Bahkan Rebecca dan petter sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.


Kali ini, edgar bukan membawa queen kerumahnya. Melainkan kerumah Keluarganya. Tidak ada lagi yang menempatinya jika dia memilih untuk pergi. Bahkan kini rumahnya sendiri sudah dijual olehnya. Mana mungkin dia juga menjual rumah keluarganya.


" Ed, aku tidak ingin tinggal disini. " ucap queen untuk kesekian kalinya.


Edgar pun kini semakin tersulut emosinya. Lebih cepat dia melangkahkan kakinya agar segera sampai dikamarnya.


Bbbbbrrraaakkk..


Edgar membanting pintu cukup keras. Hingga queen pun tersentak kaget. Lelaki itu menghempaskan tangan istrinya. Menatap penuh amarah pada wanita itu.


" Apa yang kamu inginkan ? Ini adalah rumahku. Papa telah menitipkan semuanya padaku. Lalu bagaimana bisa kamu memintaku untuk meninggalkan semuanya, queen. Mengertilah. " ucapnya dengan penuh amarah.


" Aku sudah tidak bisa lagi menahan emosiku. Sejak tadi kamu merengek, tidak ingin tinggal disini. Lalu bagaimana dengan tanggung jawabku pada papa untuk menjaganya. " lanjutnya.


Cairan bening pun meleleh dwngan sendirinya. Qieen merasa takut, tapi juga merasa iba saat melihat suaminya.


Dia hanya takut. Takut jika sesuatu hal buruk akan terjadi lagi. Dia sudah sangat cukup dengan setiap tragedi yang diterimanya.


" Sekarang katakan lagi, jika kamu tidak ingin tinggal disini. " bentak edgar.


Queen menggelengkan kepalanya, dia menangis. Dia takut, dia hanya takut. Bukan menginginkan kemarahan suaminya.


Dengan cepat edga pun menghampiri istrinya. Segera memeluk tubuhnya dengan erat. Berulangkali mendaratkan ciuman dipuncak kepalanya.


" Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini. Tolong mengertilah ! " bisiknya.


Lelaki itu begitu sangat mencintai istrinya. Waktu telah membawanya pada rasa kasih dan sayang yang tulus dari wanita itu. Dengan seiring berjalannya waktu, cintanya pun berlabuh.


Tidak ada wanita manapun yang dapat membuatnya ketakutan saat merasakan kehilangan. Dan queen telah berhasil membuat lelaki itu selalu merasa ketakutan saat dia sedang berada dalam bahaya.


" Aku hanya takut, ed. Bagaimana jika ses..... "


" Ssssstt... Tidak akan ada lagi yang akan mencelakaimu, sayang. Aku berjanji. " tukas edgar.


" Kamu selalu mengatakan itu padaku, ed. " ucap queen yang merasa ragu.


" Kali ini aku bersungguh-sungguh. " ucap edgar meyakinkan.


" Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah ! Tidak akan terjadi hal buruk lagi padamu. " ucapnya lagi.


Queen hanya bisa terisak. Bukannya tidak percaya. Tapi dia masih merasa ragu. Entah mengapa, hatinya merasa gelisah. Walaupun dia sudah berusaha untuk selalu menepis pikiran buruknya.

__ADS_1


Edgar meleraikan pelukannya.


" Sudah jangan menangis lagi ! " tuturnya sembari mengusap wajah istrinya yang telah basah.


" Jangan menangis lagi, atau gerard akan ikut menangis nanti. " tuturnya lagi.


Queen mengangguk.


tok tok tok


Baru saja edgar berbicara mengenai putranya. Dari balik pintu keduanya bisa mendengar suara tangisan cempreng dari bayinya.


" Sepertinya dia bisa merasakan kesedihanmu. " ucap edgar sembari melangkah untuk membukakan pintunya.


Queen tersenyum malu mendengar penuturan dari suaminya.


Ceklek.


" Putramu menangis sejak tadi. Dia terus saja menggelitiki dengan mulut kecilnya. Lihat saja ! " Tutur rere dengan memasang wajah kesal.


Edgar terkekeh melihat putranya. Bayi itu sedang mencari asi.


" Yah, kurasa dia tidak suka dengan punyamu, re. " ucap edgar.


" Sial.. " umpat rere


" Kemarikan ! " ucap edgar sembari terkekeh dan mengambil alih bayinya dari gendongan sepupunya itu.


Rebecca hanya melototkan matanya. Dia bukanlah wanita sembarangan. Selalu bersikap garang saat melihat lelaki yang sedang menggodanya. Walaupun sebenarnya dia sangatlah lembut.


Patah hati karena dikhianati membuatnya harus bersikap seperti itu. Dia tidak ingin dipermainkan oleh seseorang untuk kesekian kalinya.


" Iisshh..issh.. isssh.. Hei, sayang kenapa menangis. " Ucap queen saat sang suami menyodorkan baby gerard padanya.


" Cepet banget ganti bajunya. " ucap edgar.


Queen mengambil baby gerard dari gendongan suaminya.


" Iyah, kalau gak cepet dia bakal semakin marah. Tu kan. " ucap queen saat sudah bersiap memberikan asi pada bayinya.


" Ssssssssshhhh.. "


Edgar mengernyitkan keningnya saat melihat sang istri.


" Kenapa ? Sakit ? Kan dia belum tumbuh gigi ? " tanyanya asal.


Sejenak queen menatap kearah suaminya.


" Iyah belum tumbuh gigi, Semakin besar gusinya juga semakin keras. Pastilah sakit. Apalagi minumnya kayak dia. " tutur queen.


Edgar hanya termangu menatap sang buah hati yang tampak sangat bersemangat saat menghisap pu**ng istrinya.

__ADS_1


" Ed. " panggil queen.


Hemmm..


" Sampai kapan rere menginap disini ? " tanya queen.


Kini edgar mengalihkan pandangannya.


" Kenapa ? "


" Gak papa, tanya aja. Aku seneng kalau ada temennya. "


Queen menghela nafasnya.


" Aku masih gak nyangka jika elia begitu tega melakukannya. "


" Sudah, jangan di bicarakan lagi ! Mengingatnya saja sudah tidak sanggup. Apalagi membicarakannya. " ucap edgar.


Edgar pun kini tampak sedang menciumi pipi gembul putranya. Dia sepertinya sangat gemas pada bayi itu.


" Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang seperti ini. Sejak mama meninggal. Aku selalu merasa kesepian. Sekarang sudah ada dia dan kamu yang melengkapi hidupku. " ucap edgar.


Queen tersenyum lebar mendengarnya. Kini edgar memandang kearah istrinya yang sedang tersenyum.


" Aku bersyukur karena Tuhan telah membawamu padaku, sayang. Menikahimu dan membawamu masuk kedalam duniaku. Semuanya berjalan sangat mulus. Apalagi papaku yang dengan mudahnya menerimamu tanpa bertanya banyak hal. "


Queen semakin melebarkan senyumnya. Tanpa diduga, sang suami pun kini menyerangnya dengan ciuman dipipinya. Berulang kali seperti yang dilakukannya pada sang buah hati.


" Ed, hentikan ! " tutur queen.


" Sekarang gantian. " ucapnya dengan senang.


" Nanti dia bangun. " tutur queen.


" Makanya jangan banyak gerak. " tutur edgar.


Merasa kesal pada sang suami yang tidak ingin memyudahi aksinya, queen pun tidak segan untuk memukul tubuh suaminya.


" Hei, kamu berani yah sekarang. " ucap edgar.


Dengan cepat edgar mengambil baby gerard dari gendongan istrinya. Bayi gembul itu terlihat mencari sesuatu yang terlepas dari mulutnya.


" Ed, apa yang kamu lakukan ? Nanti dia menangis. " tutur queen.


Edgar segera merebahkan putranya didalam box bayi. Dan kemudian segera berjalan kembali. Tersenyum lebar sembari mulai membuka pakaiannya.


" Sekarang gantian daddy nya. " ucapnya dengan santai.


Queen hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum. Memasrahkan diri pada sang pemimpin permainan mereka.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2