Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 59


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu.


Edgar tampak sibuk merawat tanaman di kebunnya. Rutinitas yang setiap hari dia lakukan. Masih bergelut dengan aktivitasnya di sana.


Sudah satu bulan ini, Edgar melarang istrinya untuk ikut menemaninya berkebun. Wanita cantik itu kini sedang menunggu harinya saja sebelum dia berangkat untuk melakukan operasi di sebuah rumah sakit swasta yang terdekat dari rumahnya.


Sejak kejadian berdarah beberapa tahun yang lalu. Beberapa organ dalam milik queen mengalami kerusakan sehingga mau tidak mau dia harus melahirkan anak ketiganya melalui jalur operasi. Sama halnya seperti saat ini. Wanita itu harus rela membiarkan perutnya yang akan kembali dibedah.


Beberapa kali edgar menyeka keringatnya. Walaupun kini dia bukan lagi seorang Billionare, namun kecekatannya dalam bekerja masih tetap sama. Tidak bisa diragukan lagi.


Dengan sangat cekatan Edgar mulai menabur benih tanaman sebelum dia memberikan air. Tak lupa juga dia memberikan pupuk organik yang dibuatnya sendiri.


Namun, aktivitasnya harus berhenti mendadak. Suara berisik dari teriakkan gerard mengalihkan perhatiannya. Bocah berusia 8 tahun itu menghentikan kayuhan sepedanya. Tergeletak begitu saja. Dia berlari dengan degup jantungnya yang terpompa cepat.


"Daddy...."


"Daddy... Mommy...."


Edgar pun masih tertegun melihat putranya yang berlari sambil terus memanggilnya. Dia belum terlalu jelas mendengar penuturan dari bocah itu.


"Daddy...."


"Mommy dan bibi sedang menuju rumah sakit."


Matanya terbuka semakin lebar. Seketika itu edgar beranjak berdiri. Dia menatap putranya agar lebih yakin.


"Katakan perlahan, nak. Daddy bingung." pintanya.


Ngos-ngosan. Gerard membuang nafasnya cepat. Bocah berusia 8 tahun itu sedang merasakan takut dan panik. Tidak bisa mengontrol diri.


"Mommy keluar air, bibi rere panik dan segera membawa mommy ke rumah sakit. Kakek pet dan xavier juga ikut bersamanya." cerita gerard dengan gemetaran.


Seketika itu tubuh edgar menegang. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berfikir panjang, lelaki itu segera melepaskan celemek dan sarung tangan yang khusus dia gunakan ketika sedang berkebun.


"Baiklah, ayo kita susul."


Dengan cepat edgar berlari sembari menarik tangan gerard menghampiri motor miliknya. Keduanya segera naik di atas motor tersebut. Dengan penampilan yang tampak acak-acakan edgar membawa motornya cukup kencang.


Bahkan, gerard tampak memeluk dengan erat perut daddy nya. Bocah itu sedikit ketakutan, namun juga senang karena merasa seru.

__ADS_1


Beberapa menit perjalanan. Akhirnya keduanya pun sampai di rumah sakit. Memarkirkan motornya asal. Edgar buru-buru turun. Membimbing putranya untuk turun kemudian menariknya menuju ruangan Operasi.


Keringatnya bercucuran. Bukan karena olah rasa seperti kebanyakan orang yang ingin membakar lemak. Namun, edgar sedang merasakan kekhawatiran.


Kedua matanya menatap ke arah beberapa orang yang sangat dikenal. Tak menunggu lagi edgar pun segera melangkah menghampiri mereka yang tampak tegang.


"Paman, rere. Bagaimana keadaan queen?"


Merasa namanya mengudara. Keduanya pun menoleh. Melihat edgar yang datang dengan penuh rasa khawatirnya. Xavier yang melihat kedatangannya segera merentangkan kedua tangannya.


Edgar mengambil alih Xavier dari gendongan rere. Masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. Edgar terus menatap mereka.


"Ehmmm.. Tiba-tiba saja dia berteriak kencang. Air ketuban queen pecah ed. Aku tidak tahu jika tadi dia ingin mengangkat mainan Xavier yang baru saja dia bereskan." rere tampak menyesal saat mengungkapkan Cerita.


Menyayangkan sikap queen yang merasa kuat dengan keadaannya yang rapuh. Edgar mengusap wajahnya dengan salah satu tangannya. Kini dua menoleh ke arah Xavier. memeluk tubuh mungil putra ketiganya itu dengan erat.


"Apa aku bisa ikut masuk kedalam sana?" tanya wdgar pada rere.


Menggeleng.


"Operasinya sudah dilakukan 10 menit yang lalu. Sebaiknya kamu menunggu saja disini. Xavier juga tampak kebingungan sejak tadi." tutur rere.


Edgar hanya bisa menatap wajah rere dengan perasaan kacau. Ingin sekali dia mendobrak pintu operasi itu dan segera masuk kedalam sana. Namun, apa daya. Kedua putranya juga membutuhkan dirinya saat ini.


"Dad, apakah mommy akan tidur lama lagi?" tanya gerard polos.


Rere dan paman petter yang duduk bersebelahan, seketika itu mengalihkan pandangannya. Keduanya tampak semakin tegang. Jangankan keduanya. Edgar pun kini sudah gemetaran saat memory itu kembali datang.


Kehilangan queen sudah pasti akan mengakibatkan dirinya yang kembali terpuruk. Sama halnya beberapa tahun silam. Memaksa diri untuk menggeleng.


"Tidak sayang. Mommy tidak akan lagi membiarkan kita sendirian lagi." jelasnya.


Walaupun hati sudah merasa sesak. Dengan kuat edgar menahan diri untuk tetap tegar di depan kedua putranya. Dia harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya.


Mencoba untuk bersahabat dengan detak jantungnya sendiri. Seakan ingin copot rasanya. Kedua putranya tidak henti untuk mengucap doa untuk keselamatan maminya.


Tanpa sadar edgar menangis. Dia sungguh tersentuh saat ini. Bagaimana bisa bocah kecilnya sudah memahami arti kehidupan. Dia sungguh bersyukur karena tuhan telah memberiku teman yang cukup baik untuk saat ini.


Semoga operasinya berjalan dengan lancar. Aku menunggu kelahirannya di dunia ini.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu. Edgar mulai merasakan kegelisahan. ketika operasi kelahiran Xavier. Sanga dokter membutuhkan maksimal 2 jam dan sekarang. Edgar dan keluarga kecilnya sudah menunggu hingga 3 jam lebih.


Perlahan dia mulai bangkit dengan masih menggendong putranya. Edgar menghampiri pintu ruangan yang masih tertutup. Memberanikan diri untuk mengetuk pintu.


"Ed, apa yang kamu lakukan? Jangan mengganggu proses operasi.!" tutur rere.


Keduanya pun ikut beranjak berdiri menghampiri edgar. Menahan tangan edgar yang ingin kembali mengetuk pintunya.


"Semuanya pasti baik-baik saja ed. Tenangkan dirimu!" tutur paman petter.


"Tenang, ed!" sahut rere.


Perlahan wanita itu menyodorkan tangannya. Ingin mengambil alih Xavier kecil dari gendongan sepupunya itu. Namun ternyata Xavier memilih menggeleng sambil bergelayut dileher daddy nya.


Perlahan edgar mulai tenang. Baru saja semuanya ingin kembali duduk. Namun, suara pintu terbuka membuat semuanya berbalik badan untuk melihatnya.


Buru-buru edgar menghampiri sang dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"


"Tenang, ed!" sahut rere.


Sang dokter mengangguk. Tersenyum tipis.


"Syukurlah, kondisi pasien kembali stabil setelah tadi sempat turun selesai kami melakukan operasi. Sekarang pasien sedang dalam pengaruh obat. Untuk bayinya, tunggu saja seorang perawat sedang membersihkannya." jelas dokter tersebut.


"Terimakasih, banyak dokter."


"Baik, saya permisi dulu."


Edgar mengangguk mantap. Lega. Dia merasa sangat lega saat ini. Oooooowwwwwhh... Teriaknya kegirangan.


"Putriku sudah lahir re."


"Paman, princess ku sudah lahir."


"Sayang, boneka kalian sudah lahir, sayang."


Edgar tampak kegirangan. Rere dan paman petter menggeleng melihatnya. Paman petter terlihat merangkul bahu putrinya. Berbisik lirih.

__ADS_1


"Lalu, kamu kapan menikah dan punya anak sendiri?"


Tbc


__ADS_2