Queenara In The Dark

Queenara In The Dark
Ep. 32


__ADS_3

Mencoba untuk tetap tenang sembari melangkah mundur. Jantungnya berdegup kencang ketika salah satu dari dua orang tadi yang kini telah menyalakan senter.


Mau tak mau, dia pun segera berjongkok. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Wanita itu sedang ketakutan.


Bodoh.. Bodoh.. Seharusnya tadi aku memberitahu edgar.. Lalu sekarang bagaimana ?


Masih mencoba menghindar dari sorotan cahaya senter. Merasakan degup jantungnya yang berdetak semakin kencang. Berharap jika seseorang akan menyelamatkan dirinya.


" Bagaimana ? Apa ada orang ? " tanya salah satu dari mereka.


" Sebentar, aku seperti mencium harum parfum. " jawabnya.


Perlahan pun queen melangkah sambil berjongkok. Namun, sayang sungguh sayang, gaun yang dipakainya terbelit dikakinya hingga membuatnya terjatuh. Keringatnya sudah bercucuran.


" Aku bisa mencium harum parfum yang sangat menyengat disini. " ucap orang itu.


Terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Tubuhnya gemetaran. Detak jantungnya pun berdegup semakin kencang.


Tanpa diduga, seseorang telah datang dari arah samping. Membungkam mulutnya dengan tangan besarnya.


" Jangan bersuara ! " bisiknya.


Queen bisa merasakan jika saat ini tubuhnya sedikit gemetar. Namun dia tidak menolak ataupun membantah kemana lelaki itu membawanya.


Aku seperti tidak asing dengan suaranya.


Masih dengan berjongkok, mereka berdua mencoba untuk menghindar dari dua orang yang sedang mencarinya.


" Bagaimana ? " tanya salah satu dari mereka.


" Hah, Kurasa kita hanya salah mendengar. " balas seseorang yang sedang membawa senter.


Suaranya pun kini tampak samar-samar. Hingga sosok lelaki yang sedang membekap mulut queen pun segera melepaskannya.


" Bagaimana bisa kamu berada disini, sayang ? "


Queen tersentak kecil. Segera memutar lehernya kebelakang. Tidak ragu dia segera memeluk tubuh suaminya.


" Syukurlah, kamu bisa menemukan ku, ed. " ucap queen.


Bahkan posisi mereka masih berjongkok di balik tanaman yang ada di kebun. Dengan cahaya yang cukup minim, queen bersyukur karena gaun yang dipakainya berwarna merah maroon. Hingga tak membuatnya ketahuan.


" Seharusnya kamu tidak perlu mengikuti mereka, sayang. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu padamu. Untung saja aku tadi melihatmu yang sedang berjalan mengendap-endap. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu saat ini. " ucap edgar dengan kesal.


" Mereka membawa papa. Aku takut jika mereka menyakiti papa, ed. Papa ada di dalam gudang. " jelas queen.


Edgar sejenak tertegun. Kini dia tahu apa yang sedang terjadi. Mudah saja baginya untuk tahu apa yang sedang terjadi saat ini.


" Pasti Chris lagi yang melakukan ini. "ucap edgar.

__ADS_1


" Selamatkan papa, ed. " pinta queen.


Edgar mengangguk. Mencium kening istrinya dengan penuh kasih.


" Kembalilah kedalam. Bawa gerard bersamamu dan masuk kedalam kamar. Jangan lupa untuk mengunci pintu dan jendela ! " tutur edgar pada istrinya.


" Jaga dirimu baik-baik, ed ! Kembalilah dengan selamat. " pinta queen


Edgar mengangguk.


Perlahan queen pun kembali melangkah dengan masih berjongkok. Terburu-buru untuk segera masuk kedalam rumah mewah tersebut. Dia berharap jika suaminya bisa mengatasi semuanya.


Edgar pun kini akan memulai aksinya. Segera mengambil senjata yang selalu siap dibalik jas yang dipakainya. Benda pipih yang sangat tajam kini sudah berada ditangannya.


Membiarkan senjata api miliknya yang masih tersimpan di kakinya. Edgar mulai mengendap-endap melangkah semakin mendekat.


Menatap tajam sembari otaknya yang terus berfikir. Kemudian edgar segera mengalihkan pandangannya kesamping. Menemukan benda yang sedang dicarinya, dia pun meraihnya.


Edgar pun segera melemparkan batu yang baru saja diambilnya kesamping, sedikit jauh dari gudang tersebut agar dia dengan mudah melakukan penyerangan terhadap salah satu dari mereka.


Karena batunya yang cukup besar, sontak suara yang ditimbulkannya pun sedikit keras dan dapat mengalihkan perhatian mereka.


" Siapa ? "


" Kurasa ada orang. "


Dengan cepat, sosok lelaki yang merasa hebat itu pun melangkah menghampiri asal suara tadi. Hingga edgar pun ikut melangkah mendekat dengan langkahnya yang sangat pelan.


Cahaya terang senter kini terlihat begitu terang. Hingga sangat mudah bagi Edgar untuk melakukan penyerangan dari belakang.


Dengan gerakan yang sangat cepat, edgar membekap mulutnya dan segera mengarahkan pisaunya.


Jlup..


Jlup..


Edgar pun menusuk leher lelaki itu dari belakang. Masih menahan tubuhnya agar tidak terjatuh mendadak dan bisa membuat kedua temannya menaruh curiga.


Perlahan edgar mengambil alih senter yang dibawa oleh lelaki itu dan segera meletakkan tubuh tak bernyawa itu di antara tanaman miliknya.


Dengan cepat edgar melepaskan mantel milik orang itu untuk dipakainya. Menyamar menjadi salah satu dari mereka.


" Bund, apa yang sedang terjadi ? Kenapa kau lama sekali ? " Tanya temannya yang kini sedang melangkah mendekat.


Edgar pun dengan cepat menghampirinya. Masih menggenggam pisau tajam ditangannya. Tidak menunggu lagi. Dia segera mengarahkan pisaunya pada perut lelaki itu.


Karena memang tidak siap dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, hingga membuat edgar dengan sangat mudah melumpuhkan lawannya.


Jlup..

__ADS_1


Jlup..


" Tolo..ng ! " teriaknya yang terbata karena edgar lebih dulu membunuhnya.


Kini kedua mata Edgar pun mengarah pada satu titik. Menatap tajam layaknya singa yang sedang mengincar mangsanya.


Dengan langkah besar edgar segera menghampiri lawannya yang masih terjaga. Masih menggenggam pisau ditangannya.


" Bund, bagaimana ? Kau sudah menemukan orangnya ? "


Edgar tidak menjawab tapi masih melangkah semakin mendekat.


" Dimana albert ? Kau meninggalkannya ? "


Kini kedua mata lelaki itu melotot ketika melihat edgar yang saat ini sedang mengarahkan sebilah pisau di perutnya.


Dengan cepat lelaki itu mengambil senjata api miliknya yang tergeletak. Karena kesiapan yang kurang matang, hingga akhirnya edgar pun menjadi pemenangnya kali ini.


Jlup..


Jlup..


" Tua..an.. Ad..aa.. oora..ang.. " ucapnya terbata


Kini tubuhnya pun lemas tak berdaya. Edgar segera menjatuhkannya ke bawah. Kini langkahnya semakin mendekati pintu gudang.


Mendekatkan indra pendengarannya disisi pintu. Mencoba untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam sana.


" Tidak seharusnya kau memberikan seluruh hartamu pada edgar, dion. Putraku juga berhak mendapatkan kekayaanmu. "


" Aku tidak akan membaginya pada siapa pun tanpa terkecuali. " ucap papa dion dengan penuh amarah


Hahahaha


" Tua bangka tidak tahu diuntung. "


Dor


" Aaarhg.. "


Untuk kedua kalinya papa dion merasakan timah panas itu telah menyakiti kakinya.


" Ma, stop ! Kita masih membutuhkannya untuk.. "


Bbbraaaaaakkk


Sontak kedua orang itu pun mengalihkan pandangannya. Melihat kearah pintu yang terbuka dengan tiba-tiba. Seketika itu kedua mata mereka melotot.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2