Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Dipaksa untuk menikah


__ADS_3

"Aku tidak mau!" terdengar penolakan tegas dari mulut seorang wanita, yang kecantikannya tersembunyi di balik penampilannya yang sederhana.


Dia adalah Aozora Jelitha, gadis cantik yang memiliki rambut lurus, hitam legam dan panjang. Memiliki bentuk tubuh yang bisa dikatakan sangat diidam-idamkan oleh kebanyakan kaum wanita. Ia juga memiliki kulit yang putih, hidung mancung dan mata besar yang indah. Ia sekarang dipaksa untuk menikah dengan seorang pria bernama Arsenio Reymond, pewaris perusahaan besar yang sekarang sedang koma diakibatkan kecelakaan yang dia alami. Dan kalaupun bangun dari koma, disinyalir pria itu akan mengalami kelumpuhan.


"Kamu tidak bisa menolak. Bagaimanapun kamu harus membayar utang-utang papamu, kalau tidak perusahaan akan bangkrut," tegas Dona, seorang wanita paruh baya yang di usianya sudah hampir setengah abad, tapi masih berparas cantik. Wanita itu merupakan ibu tiri Aozora.


"Hei, kenapa harus aku Tante? kenapa bukan Tsania saja? Dia juga kan anaknya Papa," ya ... sudah 10 tahun papanya menikah dengan ibu tirinya itu, tapi sekalipun Aozora tidak pernah memanggil wanita itu dengan panggilan mama. Karena baginya wanita yang pantas dia panggil mama adalah almarhum wanita yang sudah melahirkannya dan juga mertuanya nanti.


"Kalian beda. Tsania itu memang anak papamu, tapi dia lahir dari rahimku. Sedangkan kamu ... Kamu itu lahir dari wanita yang sudah dimakan cacing itu," sahut Dona, dengan nada dan raut wajah sinis.


"Jaga ucapanmu, Tante! Jangan pernah bawa-bawa mamaku dalam hal apapun, karena mulutmu yang kotor itu sama sekali tidak pantas!" seperti biasa wajah Aozora akan berubah merah karena marah. Wanita berparas cantik itu tidak pernah suka kalau wanita paruh baya yang merupakan istri papanya itu, membawa-bawa almarhum mamanya.


"Kamu yang harus jaga ucapanmu, Zora!" seorang pria paruh baya yang dari tadi diam saja, buka suara membentak Auzora. "


"Kenapa? Papa mau membela wanita ini? Bukannya yang aku katakan tadi benar? Dia sama sekali tidak pantas__"


"Aozora! Yang sopan sama orang tua! Bagaimanapun dia itu istri papa, dan berarti mamamu juga. Kamu seperti tidak pernah diajari sopan santun saja!" belum selesai Aozora bicara, pria bernama Aditya yang tidak lain papanya Azora itu, langsung menyela ucapan putrinya itu.


Azora berdecih. Kedua sudut bibirnya melengkung, membentuk senyum sinis.


"Pertama ... wanita ini bukan mamaku. Dia itu hanya seorang pelakor yang sekarang sudah menjadi istri papa. Dari awal aku juga sudah dengan tegas mengatakan kalau sampai kapanpun aku tidak akan memanggil dia mama. Kedua ... tentu saja aku diajari mamaku sopan santun, hanya saja aku tahu siapa yang layak dan pantas mendapatkan sikap sopanku. Dan menurut papa, apa wanita ini pantas? wanita ini sama sekali tidak layak,Pa," tutur Aozora dengan mata yang melirik sinis ke arah Dona.


"Dan kamu ... kamu yang katanya papaku, apa emang pernah mengajarkan sesuatu padaku? tidak kan?" Sambungnya lagi.


Aditya terdiam seribu bahasa. Pria itu benar-benar terkesiap kaget, melihat putrinya yang selama ini diam dan patuh bisa melontarkan kata-kata pedas seperti itu.


"Sayang, kenapa kamu jadi diam? Harusnya kamu bertindak memarahi anak tidak tahu diri ini, Dia itu sudah menghinaku, Mas!" Dona memekik, seperti biasa meminta suaminya itu untuk memarahi Aozora.


"Tahu nih, Pa. Yang tegas dong sama Kak Zora! Masa diam saja mama dihina," kali ini Tsania yang merupakan adik dari Aozora, buka suara.


"Cih, drama terus, drama terus! Gak cape ya, akting terus!" sindir Aozora, dengan raut wajah sinis yang sama sekali tidak tanggal dari wajahnya.

__ADS_1


"Diam! kamu emang tidak tahu diri! aku tidak peduli kamu mau panggil mama ataupun tidak, aku sama sekali tidak berharap. Karena aku juga tidak sudi kamu panggil mama! Sekarang yang jelas kamu harus tetap mau menikah dengan Arsenio!"


"Aku tetap tidak mau!" tegas Aozora.


"Kamu harus tetap mau, Nak! Kalau tidak perusahaan mama kamu akan hancur. Kamu mau itu terjadi?" Aditya kembali buka suara. Dia berharap dengan membawa-bawa nama almarhum istrinya, sang anak mau berubah pikiran dan bersedia memenuhi permintaan mereka.


"Kenapa harus aku? Kalian yang berhutang banyak kan? Kalau demi kemajuan perusahaan mama, aku bisa maklum. Lah ini, semuanya hanya untuk foya-foya istri dan anak harammu ini!" Aozora mengangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah Tsania.


"AOZORA! stop mengatakan Tsania anak haram!" bentak Aditya dengan suara menggelegar.


"Kalau bukan anak haram mau disebut apa? Anak hasil Zinah, bukannya itu sama saja ya!"


Plak


Tangan Aditya terayun dan mendarat keras di pipi mulus Aozora, membuat Dona dan Tsania tersenyum menyeringai.


"Papa! Papa memukulku?" mata Aozora membola, terkesiap kaget, karena baru kali ini pria yang dia panggil papa itu menamparnya.


"Maaf, papa refleks!" seketika Aditya merasa bersalah.


"Apanya yang pantas? aku sama sekali tidak bicara sembarangan kan? Apa yang aku katakan tadi benar. Kamu itu lahir atas perzinahan yang dilakukan papaku dan mamamu di belakang mamaku!" ucap Aozora dengan napas memburu.


"Aozora, berhenti papa bilang berhenti! Jangan buat papa melakukan hal yang lebih dari tamparan. Kamu selama ini papa diamkan semakin melunjak ya! Sekarang intinya kamu harus tetap mau menikah dengan Arsenio!" bentak Aditya, dengan tatapan yang sangat tajam bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.


"Aku tetap tidak mau! kalau ini demi mempertahankan perusahaan mama, kenapa harus aku yang berkorban? Tsania ada, dan dia juga anak Papa!" lagi-lagi Aozora menolak tegas.


"Hei, itu perusahaan mamamu, kenapa jadi anakku yang berkorban?" Dona kembali buka suara.


"Tante lupa, kalau perusahaan itu hampir bangkrut karena kalian selalu menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi kalian? Jadi setidaknya, kalian harus bertanggung jawab!" kali ini Aozora benar-benar tidak mau diintimidasi lagi, seperti yang dulu-dulu.


"Peduli apa dengan tanggung jawab? Yang jelas, aku tidak mau anakku menikah dengan pria yang kita tidak tahu kapan bisa bangun itu? Apalagi kalaupun dia bangun akan lumpuh. Enak saja, anakku yang berkorban demi mempertahankan perusahaan mamamu!" tegas Dona.

__ADS_1


"Jangan lupa Tante, kalian memang sepatutnya bertanggung jawab. Selain karena kalian menghabiskan uang perusahaan, kamu dan papa juga harus mempertanggung jawabkan kematian mamaku. Karena perselingkuhan kalian yang bahkan sampai mempunyai anak, mamaku jadi depresi dan sakit-sakitan. Ini semua salah kalian, jadi setidaknya Tante meminta anak Tante untuk menikah dengan pria itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban!" tatapan Aozora sangat tajam, menatap wanita paruh baya, wanita yang sangat dibencinya dari dulu.


"Aku bilang tidak ya tidak! Kalau kamu tidak mau, terserah! Tapi kamu harus siap perusahaan peninggalan mamamu itu akan hancur. Sedangkan aku ... Aku tidak akan peduli itu hancur atau tidak!" sudut bibir Dona naik sedikit ke atas membentuk senyuman sinis.


"Nak, tolong mau ya! Kamu harus tolong papamu ini, demi perusahaan mamamu!" kali ini Aditya berucap dengan suara yang rendah.


"Aku tidak mau, Pa!" Azora tetap bertahan untuk menolak. "Lagian, Papa tahu sendiri kan, pernikahanku dan Dimas tinggal menunggu hari. Tidak bisa dibatalkan begitu saja. Itu sama saja akan mempermalukan keluarga Dimas, Pa!"


Ya, selain karena merasa bukan dirinya yang harusnya bertanggung jawab, Aozora juga sudah punya kekasih dan dalam seminggu ini memang akan melangsungkan pernikahan.


"Tenang saja, aku akan menggantikan kamu, menikah dengan Dimas," celetuk Tsania, tersenyum menyeringai.


"Punya hak apa kamu berkata seperti itu! Apa kamu kira, Dimas akan mau menikah denganmu?" kemarahan Aozora mulai terpancing lagi.


"Siapa bilang, dia tidak mau? Aku dan dia itu sudah saling mencintai. Tanpa kamu ketahui, kami sudah menjalin hubungan di belakangmu,"


Mata Aozora membesar sempurna, terkesiap kaget. Namun, itu hanya sebentar, karena detik berikutnya ia berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak percaya.


"Kamu kira aku akan percaya? Itu sama sekali tidak mungkin, karena Dimas tidak mungkin bisa menyukai wanita murahan seperti kamu. Apalagi hubungan kami sudah sangat lama dan bahkan sudah akan menikah," ucap Aozora.


Tsania sontak tertawa, meremehkan.


"Kamu tidak percaya? Aku bisa buktikan, kakakku tersayang. Kalian memang sudah lama menjalin hubungan, tapi Dimas, bilang kalau kamu itu membosankan. Dia lebih nyaman denganku, yang bisa memberikan apa yang dia mau," senyum sinis sama sekali tidak pernah tanggal dari bibir Tsania.


"Jangan mengada-ngada! Aku tidak akan percaya!"


"Baiklah, aku akan buktikan!" Tsania meraih ponselnya, lalu menunjukkan layar ponselnya ke arah Aozora.


"Kamu lihat dengan jelas, ini nomor Dimas kan?" Aozora membaca nama 'Semestaku' yang tertera di layar ponsel dan ia melihat nomor itu memang benar nomor milik Dimas, calon suaminya.


"Aku akan hubungi dia, dan kamu dengar sendiri ya!" Tsania menekan tombol memanggil dan dengan sengaja dia juga menekan tombol speaker.

__ADS_1


"Iya, Sayang!" terdengar suara pria yang memang sangat familiar di telinga Aozora.


tbc


__ADS_2