
Mata Aozora membesar, rahang bawahnya juga tertarik ke bawah. Wanita itu benar-benar kaget mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Arsen barusan.
"Kenapa? Kamu kaget? Kamu mau dengar penjelasan kenapa kamu wanita di masa kecilku dan kamu mau tahu bagaimana aku bisa tahu itu kamu?" tanya Arsen yang bisa melihat ekspresi wajah Aozora yang kebingungan.
Aozora tidak menjawab sama sekali. Namun, dari ekspresi wajahnya sudah cukup menjelaskan kalau dia memang ingin tahu.
"Kalau kamu ingin tahu, kita pulang dulu ya! nanti aku jelaskan di rumah," Arsen meraih tangan Aozora, yang kali ini tidak ada penolakan sama sekali dari wanita itu.
Ketika keluar dari dalam kamar, tampak Bella sedang mengunyah makanan yang dia ambil dari rantang bawaan Aozora, sementara Tsania sedang menerima panggilan, yang entah dari siapa. Tapi, yang jelas wajah wanita hamil itu terlihat sangat serius.
"Kak, maaf ya, makanannya aku makan. Aku sangat lapar," ucap Bella seraya mengunyah makanannya.
"Udah kamu makan, buat apa lagi izin?" ledek Arsen.
Bella cengengesan dengan mulut yang penuh makanan.
"Oh ya, kalian sudah akur? Kak Aozora tidak ngambek lagi?" sambung Bella seraya mengunyah makanannya.
"Emangnya siapa yang ngambek? Aku tidak ngambek," sangkal Aozora dengan bibir mengerucut.
"Tidak ngambek tapi wajah kusut dan ngomong ketus. Kalau nggak ngambek namanya apa?" ledek Bella.
"Sudah-sudah, jangan dibahas lagi!" potong Arsen dengan segera. "Kami mau pulang sekarang. Tapi, sepertinya Tsania masih sibuk nelpon. Sampaikan ke dia nanti, kalau kami sudah pulang," lanjut Arsen lagi dengan mata yang menatap ke arah adik dari istrinya itu.
"Emm," Bella menganggukkan kepalanya, karena dirinya baru saja menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kak Arsen, apa benar Kak Dimas dan Papa Damian, Kakak laporkan ke polisi?" Arsen dan Aozora yang nyaris mencapai pintu, sontak menghentikan langkah mereka karena mendengar pertanyaan Tsania yang tiba-tiba. Bahkan Bella yang tadinya asik mengunyah, sontak berhenti mengunyah dan berdiri dari tempat duduknya.
"Dimas dan Om Damian di penjara?" gumam Aozora, yang juga sama seperti Tsania yang tidak tahu.
"Kak kenapa, Kakak diam? Tadi Mama Meta baru saja menghubungiku. Mama bilang Kakak sudah menjebloskan Kaka Dimas dan Papa Damian. Itu benar kan?" Tsania mengulangi pertanyaannya.
Arsen menghela napasnya dan menganggukkan kepala, membenarkan. Kemudian pria itu menoleh ke arah Bella yang tampak berdiri terpaku di tempatnya.
"Kamu belum memberitahukan dia?" tanya Arsen dan Bella menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu juga tahu, Bel?" mata Tsania memicing, memastikan dan lagi-lagi Bella hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu tahu ...tapi kenapa kamu tidak ngomong padaku?" nada bicara Tsania terdengar lirih. Terselip kekecewaan pada pertanyaan Tsania.
Bella mengembuskan napas dengan berat, lalu melangkah mendekati Tsania.
"Bukan aku mau menutupi. Tapi, aku tahu kalau kamu lagi hamil, jadi aku tidak mau kamu banyak pikiran. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan ke kamu. Maaf ya!" ucap Bella, dengan wajah serius dan teduh.
"Aku tidak apa-apa, Bel. Tapi aku bingung kenapa Kak Arsen sampai melaporkan Kak Dimas dan Papa Damian?" tatapan Tsania kini kembali ke arah Arsen.
"Iya, apa alasannya? Aku juga ingin tahu," Aozora juga buka suara, menimpali ucapan adiknya.
Akhirnya mau tidak mau, Arsen pun menceritakan semua yang terjadi tanpa menambah dan tanpa mengurangi. Sesekali, Bella pun ikut menimpali, terlebih di bagian dia yang meminta Arsen untuk membantu Hanum.
Tsania pun kembali menghela napasnya, setelah Arsen menyelesaikan penjelasannya.
"Oh ternyata seperti itu. Kalau memang seperti itu, Kak Dimas dan Papa Damian memang pantas untuk mendapatkan ganjaran seperti itu. Sekarang aku mau ke kantor polisi untuk menemui mereka. Tadi Mama Meta memintaku ke sana," Tsania berbicara panjang lebar. Wanita itu sama sekali tidak terlihat marah atau kesal pada Arsen.
"Tapi, Nia ...." Bella terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Bel. Bagaimanapun, Kak Dimas masih suamiku. Jadi, aku harus tetap menjenguknya," ucap Tsania, disertai dengan senyum tipis.
"Aku ikut!" sambung Aozora dengan cepat.
"Tidak usah! Kita pulang saja!" Arsen terlihat keberatan.
"Aku tetap mau ikut, Mas. Aku juga ingin __"
"Kenapa kamu mau ikut? Apa karena kamu masih menyimpan perasaan cinta pada Dimas?" pertanyaan Arsen terdengar penuh penekanan. Raut wajah pria itu juga sudah terlihat tidak bersahabat.
"Bu-bukan seperti itu. Aku ke sana hanya mau memberikan dukungan pada Tante Meta. Tidak lebih!" sahut Aozora dengan cepat.
"Kamu bisa beri dukungan langsung ke rumah Tante Meta, tidak perlu harus ikut ke kantor polisi. Bilang saja, kalau kamu masih menyimpan perasaan pada Dimas. Bagaimanapun kalian lama menjalin hubungan." nada bicara Arsen terdengar sangat ketus. Pria itu benar-benar dikuasai rasa cemburu sekarang. "Arghhh, aku benci mengingat kamu pernah punya hubungan dengan laki-laki lain!" umpat Arsen, seraya berlalu pergi begitu saja.
"Mas, kamu mau kemana?" pekik Aozora, namun Arsen tetap melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"Kak, sudah! Kamu tidak perlu ikut kami. Sekarang, Kakak bujuk si singa itu saja!" ucap Bella seraya mendorong pelan Aozora.
"Ya udah, aku pergi dulu ya! Nih, kalian pakai mobilku saja!Salam sama Tante Meta!" Aozora melemparkan kunci mobilnya ke arah Bella, lalu dengan sedikit berlari mengejar Arsen suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma!" panggil Tsania begitu wanita itu menapakkan kakinya di kantor polisi. Dia melihat mama mertuanya itu sedang menundukkan kepala, dan wajahnya juga sangat muram.
Meta menoleh ke arah datangnya suara yang sangat dikenalnya. Ia pun langsung berdiri, dan memeluk menantunya itu.
"Akhirnya kamu datang juga, Nak. Ini siapa?" Meta memicingkan matanya menatap, ke arah Bella.
Bella tersenyum kikuk dan dengan sedikit takut-takut, ia pun mengulurkan tangannya ke arah Meta.
"Aku Bella, Tante!" suara Bella terdengar, bergetar, saking gugupnya. Dia takut kalau wanita paruh baya di depannya itu akan memakinya begitu tahu siapa dirinya.
"Oh, jadi kamu wanita tidak tahu diri yang menggoda anak saya itu?" apa yang ditakutkan Bella benar-benar terjadi. Wanita paruh baya di depannya itu, langsung melemparkan kalimat sinis dan tatapan bengis. Bahkan mama dari Dimas itu juga sama sekali tidak menyambut uluran tangannya.
"Ma, jangan keras-keras suaranya. Ini kantor polisi," Tsania berucap dengan sangat pelan, menenangkan mama mertuanya itu.
"Kamu juga, kenapa kamu bawa dia ke sini? Kamu tidak ingat kalau dia adalah orang yang sudah membuat hubunganmu sama Dimas hancur? atau jangan-jangan kamu mau merestui hubungan mereka? Tidak! Mama tidak sudi punya menantu yang tidak punya hati nurani seperti dia!" Meta mulai hilang kontrol. Keributan yang dia buat, membuat perhatian orang-orang yang ada di kantor polisi itu beralih kepadanya. Wajah Bella dari tadi sudah memerah, saking malunya melihat tatapan sinis orang-orang yang kini terarah padanya.
"Sial! Tahu akan dipermalukan seperti ini, aku tadi menunggu saja di mobil," batin Bella.
"Ma ... Mama tenang dulu! Aku sama sekali tidak mendukung hubungan mereka, karena memang mereka tidak punya hubungan apapun. Sekarang jangan hanya menyalahkan perempuan, karena seandainya benar mereka punya hubungan, ini murni bukan kesalahan perempuan saja, tapi juga laki-lakinya. Kalau Kak Dimas setia, dia pasti tidak akan tergoda dengan wanita manapun," Tsania mencoba menenangkan mama mertuanya.
"Tunggu! Tadi kamu bilang, mereka sama sekali tidak punya hubungan? Tapi bukannya kamu bilang kalau Dimas menjalin hubungan dengan wanita bernama Bella? Dia kan orangnya?" Meta melirik sinis ke arah Bella.
"Memang dia orangnya, tapi itu karena aku yang memintanya untuk menggoda Dimas, Tante!" tiba-tiba Arsen muncul, bersama dengan Aozora di sampingnya. Entah dengan cara apa, Aozora membujuk suaminya itu hingga akhirnya bersedia datang ke kantor polisi.
"Nak Arsen?" Meta mengernyitkan keningnya
"Bella ini sepupuku, anak dari Om Bramantyo, yang tinggal di Amerika. Aku memintanya, menggoda Dimas, agar aku bisa tahu, apa saja rencana busuk Dimas dan Paman. Itu saja, Tante." lanjut Arsen lagi. Pria itu tidak mengatakan kalau Aozora juga yang menyuruh Bella untuk mendekati Dimas. Pria itu tidak mau melibatkan Aozora dalam hal ini.
"Tapi, seperti yang dikatakan Tsania tadi ... Kalau memang Dimas setia, dia tidak akan mungkin mudah tergoda sekeras atau seseksi apapun wanita yang menggodanya, benar kan Tante?"
__ADS_1
Meta terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi, karena yang dikatakan oleh Arsen itu memang benar adanya.
Tbc