
"Apa maksudmu, Mas? Kakakku ada di sini? Siapa?" cecar Aozora seraya mengitari segala penjuru ruangan dan entah kenapa tatapannya berakhir tepat pada Samudra, yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan yang dia sendiri tidak tahu apa maknanya. Kemudian ia kembali menatap ke arah Arsen suaminya, meminta jawaban.
"Iya, Nak Arsen. Yang mana putraku?" Aditya buka suara menimpali ucapan Aozora.
Arsen tersenyum kembali dan mengangkat tangannya. Jari telunjuk pria itu, mengarah ke seseorang. Mata Aozora dan Aditya bersamaan mengikuti ke arah mana jari Arsen menunjuk. Kedua sudut alis Aozora maupun Aditya tertarik ke atas dan rahang bawah mereka juga tertarik ke bawah. Mereka berdua sangat kaget ketika melihat sosok pria yang ditunjuk oleh Arsen. Bukan hanya dua orang itu yang kaget, Dona juga tidak kalau kagetnya. Di antara semua orang yang berada di tempat itu hanya Amber dan Niko yang bersikap biasa saja.
"K-Kak Samudra?" gumam Aozora menyebutkan nama pria yang sekarang dipercaya mengelola perusahaan almarhum mamanya. Wanita berusia 24 tahun itu memang tidak bisa memungkiri kalau pertama kali melihat Samudra, ia seperti merasa ada keterikatan dengan pria tampan itu.
"Samudra," Aditya juga menyebut nama pria itu dengan lirih.
"Ya, Samudra. Dia adalah kakak yang kamu kira sudah meninggal itu, Sayang. Dia masih hidup," ucap Arsen, dengan mimik meyakinkan.
"Bohong! Ini pasti akal-akalanmu kan? Kamu sengaja mengatakan itu agar perusahaan jatuh ke tangan pria itu, dan setelah itu kamu dengan mudah menguasainya juga. Dia pasti orang suruhanmu yang kamu minta mengaku-ngaku!" pekik Dona, mencoba mengganggu pikiran Aditya dan Aozora.
Arsen kembali menyunggingkan senyum khasnya, yakin tersenyum smirk. Pria itu sama sekali tidak memperlihatkan kemarahannya atas tuduhan wanita paruh baya yang tentu saja tidak benar adanya.
"Untuk apa aku merebut perusahaan itu dengan licik Nyonya Dona. Kalau aku mau, aku cukup memanfaatkan utang kalian yang besar saat itu tanpa perlu menikah dengan Aozora. Samudra memang bayi yang kamu tinggalkan di panti asuhan ...." Arsen menyebutkan nama panti asuhan tempat Dona meninggalkan Samudra dulu.
Dona bergeming. Wanita itu sama sekali tidak bisa berkutik lagi, mengingat nama panti asuhan yang disebutkan oleh Arsen itu benar adanya.
"Kenapa anda diam? Apa nama panti asuhan itu membuat anda ingat akan sesuatu?" sindir Arsen dengan sudut bibir yang tersenyum meledek.
Dona semakin terdiam, tidak berani untuk buka suara lagi.
"Ta-tapi, bagaimana Kak Samudera itu memang benar kakakku? Bukannya dia kakaknya Bella?" walaupun dirinya merasakan keterikatan dengan pria mantan bodyguardnya itu, tetap saja kenyataan kalau pria itu adalah kakak kandungnya, membuat wanita itu bingung.
Arsen menghela napasnya dengan sekali hentakan, kemudian menoleh ke arah Amber, mamanya.
"Ma, tolong bantu aku menjelaskan!" ucapnya.
__ADS_1
Tatapan Aozora dan Aditya secara bersamaan menatap ke arah Amber. Mereka semakin bingung, mendengar Arsen malah meminta wanita paruh baya yang masih cantik itu, untuk menjelaskan.
"Jadi, mama juga tahu?" tanya Aozora memastikan.
Amber tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, mama akan menjelaskan," sahut Amber.
Flashback On
Amber dengan raut wajah panik, dengan sedikit berlari masuk ke dalam rumah sakit Permata. Wanita itu tampak sedang mengendong bayi laki-laki yang tidak lain adalah Arsen, putranya. Saat itu baby Arsen sedang mengalami demam, membuat Amber panik. Bersama dengan wanita itu ada seorang perempuan berseragam baby sitter.
"Aku mau bertemu dengan dokter anak terbagus di rumah sakit ini," ucap Amber pada resepsionis di sela-sela kepanikannya.
"Sabar ya, Bu. Dokternya masih ada ada dua pasien lagi, sahut resepsionis itu dengan sopan.
Resepsionis itu kemudian menunjukkan arah kemana Aozora harus lalui, untuk bisa sampai di poli dokter anak.
"Oke, terima kasih, Mbak!" ucap Amber seraya berlalu pergi dari hadapan resepsionis itu.
Ketika dirinya hendak berbelok, tiba-tiba ada beberapa perawat sedang mendorong brankar yang membawa seorang wanita hamil yang sedang merintih kesakitan.
"Lho, itu kan Sekar sahabatku?" tanpa sengaja Amber melihat ke arah wanita di atas brankar. Sahabatnya ketika SMA dan sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.
"Ya, aku yakin itu Sekar, dan sepertinya dia mau melahirkan," ucap Amber pelan. Tepatnya dia berbicara pada dirinya sendiri.
"Eh, eh, tunggu Dokter!" tiba-tiba seorang dokter lewat dan sepertinya dokter itu adalah dokter yang akan menangani Sekar.
"Iya, ada apa, Bu?" tanya dokter itu yang walaupun terburu-buru tapi tetap profesional di depan orang lain.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, yang akan melahirkan tadi namanya Sekar kan? Dia mau melahirkan ya?" tanya Amber.
"Iya, dia Ibu Sekar. Bayinya terlilit tali pusat di dalam dan harus secepatnya dioperasi. Maaf ya, Bu, saya permisi dulu, karena aku buru-buru,"
"Oh, i-iya, Dok. Silakan. Tolong usahakan yang terbaik!" dokter itu menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dengan sedikit berlari.
Sementara Amber memilih untuk tetap pada tujuan awalnya yaitu ke ruangan dokter anak. Namun, dia berniat setelah selesai memeriksakan putranya, dia akan menemui Sekar, sahabat yang sangat dia rindukan.
Waktu sudah berlalu lebih dari satu jam dan Amber sudah selesai memeriksakan putranya. Beruntungnya baby Arsen hanya mengalami demam biasa jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti niatnya di awal, wanita itu pun beranjak menuju ruangan operasi setelah bertanya lebih dulu pada seorang perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
Baru saja hendak sampai di ruangan operasi, tanpa sengaja Amber mendengar pembicaraan dua orang wanita. Awalnya wanita itu tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan, namun ketika mendengar menyebut nama Sekar dan tentang anak yang akan dilahirkan sahabatnya itu, mau tidak mau akhirnya Amber memutuskan untuk bersembunyi dan mencuri dengar pembicaraan mereka.
Alangkah kagetnya, wanita itu begitu mendengar pembicaraan mereka yang ternyata sedang merencanakan rencana jahat.
"Kamu bisa kan melakukannya? Kamu tenang saja, aku akan memberikan uang yang sangat besar. Tapi, dengan syarat, setelah kamu menukarkan bayi Sekar dengan bayi pasangan suami istri yang sudah meninggal itu, kamu langsung meninggalkan rumah sakit ini, dan pergi jauh. Dengan uang itu kamu bisa membuka tempat praktek," ucap seorang wanita cantik yang sama sekali tidak Amber kenal.
"Tapi, Mbak Dona, bagaimana nanti bayi Bu Sekar itu?" tanya wanita yang masih muda dan dilihat dari seragamnya menunjukkan kalau wanita itu adalah seorang bidan.
"Kamu tenang saja, untuk masalah itu, aku akan urus sendiri nantinya. Yang penting kamu lakukan saja yang aku minta,"
"Tapi, masalahnya anak ibu Sekar kata Dokter kemungkinan masih bisa diselamatkan kan? Walaupun sedikit kemungkinan karena terlalu lama terlilit tali pusar. Kalau tiba-tiba dikatakan mati, dokter kan bisa curiga?" bidan yang bernama Desi, dilihat dari nama yang tertempel di dadanya itu terlihat ragu.
"Kan masih kemungkinan. Itu berarti ada dua hal yang bisa terjadi. Kemungkinan selamat dan kemungkinan mati. Jadi, kamu bisa diam-diam merekayasa kalau bayi itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dokter juga tidak akan curiga. Kamu letakkan bayi yang sudah mati itu di tempat bayi si Sekar. Sementara bayi si Sekar Kamu ambil dan berikan padaku. Untuk masalah CCTV, aku sudah membayar IT nya untuk menghapus rekamannya nanti. Jadi, semuanya aman. Kamu mau kan?" bidan Desi itu menggaruk-garuk dagunya, terlihat masih dilema.
"Cepat katakan, mau atau tidak!" desak Dona, tidak sabar.
Bidan itu terlihat menggigit bibirnya seakan sedang berpikir. Detik berikutnya bidan itupun menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Sepertinya, bidan itu sulit untuk menolak tawaran uang yang jumlahnya sangat banyak itu.
tbc
__ADS_1