Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?


__ADS_3

"Zora kamu menangis?" tanya Arsen dengan kening berkerut, melihat pundak istrinya yang turun naik dari belakang.


Zora tersentak kaget dan menoleh ke belakang.


"Mas, kamu ada di sini?" Aozora dengan cepat menyeka air matanya. Mata wanita itu kini sudah tampak sembab.


"Benar dugaanku, kamu menangis. Padahal, tadi aku dengar sendiri betapa tegasnya kamu berbicara di telepon. Tapi, sekarang kamu terlihat lemah?" Aozora semakin terkesiap kaget mendengar ucapan Arsenio.


"Kalau begitu, kamu tadi mendengar semua pembicaraanku di telepon?" Arsenio, menganggukkan kepala, mengiyakan.


Aozora terdiam dan kembali berbalik memunggungi suaminya, menatap ke arah hamparan tanaman hijau dan bunga-bunga berwarna dari balkon kamar mereka berdua.


Sementara, Arsen menggerakkan sendiri kursi rodanya, sampai sekarang dia berada di samping wanita itu.


"Mas, apa menurutmu apa yang aku lakukan tadi, kejam?" tanya Aozora tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Arsen.


Arsen tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu bertanya bagaimana pendapatku, aku akan jawab kalau apa yang kamu lakukan itu sama sekali tidak kejam. Karena mereka memang pantas mendapatkannya." sahut Arsen, yang sama seperti Aozora, tidak melihat ke lawan bicara.


"Tapi, aku sama sekali tidak menyangka,kalau aku bisa sampai bertindak sejauh ini, Mas. Entah kenapa, aku merasa jadi seorang monster sekarang,"


"Kamu jangan lupa siapa yang membuat kamu menjadi seorang monster? Itu mereka, Zora. Ada dua jenis orang jahat, ada yang memang jahat karena memang jahat, tapi ada orang jahat yang tercipta karena terlalu sering dijahati. Dan itulah kamu. Hal jahat yang kamu lakukan, terjadi karena akibat kejahatan orang lain padamu," tutur Arsen panjang lebar tanpa jeda.


Aozora tersenyum manis. Perasaannya yang tadinya mengganggap dirinya buruk, seketika menguap entah kemana, begitu mendengar ucapan bijak Arsenio.


"Kamu benar, Mas. Mereka memang pantas mendapatkannya. Perasaanku tidak boleh goyah dengan kasihan pada mereka lagi!" Aozora mengangguk-angguk kecil, penuh percaya diri.


"Kamu dari luar terlihat kuat Zora. Ternyata, jauh di dalam, kamu ternyata cukup rapuh. Aku harap kamu jangan perlihatkan sisi rapuhmu, karena sekali kamu perlihatkan, orang-orang licik di sekitarmu, akan mudah memanfaatkannya," lanjut Arsenio, setelah mereka terdiam untuk beberapa saat.


Aozora tercenung mendengar ucapan bijaksana yang terlontar dari mulut suaminya itulah. Tidak keluar kata bantahan dari mulut wanita itu, karena memang tidak ada yang patut untuk dibantah. Apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar.


Mereka berdua akhirnya kembali hening. Masing-masing sibuk dengan pemikiran sendiri.

__ADS_1


Mas, apa aku boleh nanya sesuatu?" Aozora kembali buka suara, memecah keheningan yang sempat tercipta.


Arsenio tidak langsung menjawab. Pria itu menoleh ke arah Aozora dengan kening berkerut.


"Tidak bisa ya?" di saat bersamaan Aozora juga menoleh ke arah Arsen.


"Hmm, boleh! Kamu mau tanya apa?" Arsen kembali mengalihkan tatapannya, menatap jauh ke depan.


Aozora kembali terdiam. Ada keraguan yang timbul di hatinya, hingga membuat dirinya bimbang.


"Kenapa diam?" Arsen buka suara membuat Aozora sedikit terjengkit, karena kaget.


"Emm, bagaimana ya? Aku __"


"Tanya sekarang, karena aku tidak punya banyak waktu!" sifat bossy Arsen kembali muncul, membuat Aozora jengah.


"Mulai lagi deh. Sok sibuk pakai tidak punya banyak waktu. Kesannya dia sibuk sekali, padahal di rumah aja, lihat-lihat layar handphone!" Ucap Aozora yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Sial! Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan? Apa dia cenayang?" bisik Aozora pada dirinya sendiri.


"Cepat katakan, Zora! Apa yang mau kamu tanyakan?" suara Arsen kali ini penuh penekanan, karena sesungguhnya pria itu benar-benar penasaran apa yang hendak ditanyakan oleh wanita itu.


"Emm, baiklah. Tapi, kalau kamu tidak mau jawab juga tidak apa-apa. Tidak usah dipaksain untuk jawab ya!"


Arsenio kembali mengernyitkan keningnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu wanita teraneh yang pernah aku kenal. Orang kalau bertanya, menginginkan jawaban, kamu tidak." cetusnya.


"Siapa bilang aku tidak ingin jawaban? Hanya saja,aku tidak ingin memaksa kamu untuk menjawab, kalau kamu tidak ingin memberikan jawaban, itu saja," Aozora mengerucutkan bibirnya.


Arsenio menutup mulutnya lalu mengembuskan napasnya dengan berat. "Kamu belum bertanya, tapi kita sudah berdebat," Arsen berdecak, mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sekarang, aku mau kamu dengar apa yang ingin kamu tanyakan, cepat!" titah Arsen, tegas.


"Emm, aku rasa__"


"Tidak ada nanti-nanti! Harus sekarang, karena aku tidak ingin pikiranku terganggu karena penasaran!" sela Arsen, begitu melihat Aozora yang sepertinya berniat untuk mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Aozora menggigit bibirnya, kembali merasa bimbang. "Buruan Aozora!" suara Arsen, meninggi, membuat Aozora terjengkit kaget.


"Iya. Sabar, kenapa sih?" Aozora mengerucutkan bibirnya. "Benar-benar menyebalkan!" rutuknya dalam hati.


Aozora menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara, lalu menoleh ke arah Arsen yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam bak sebilah belati.


"Emm, aku mau tanya, bagaimana perasaanmu sekarang padaku?" akhirnya Aozora mengeluarkan hal yang mengganjal di dalam hatinya. Karena memang sesungguhnya dia sangat penasaran, mengingat sikap pria itu yang menurutnya sedikit posesif padanya.


Arsen bergeming, diam seribu bahasa. "Kenapa dia harus bertanya seperti ini sih? Seharusnya, tadi aku tidak perlu memaksanya untuk mengutarakan apa yang hendak dia tanya," untuk pertama kali Arsen menyesali sikap pemaksanya.


"Mas, kenapa kamu diam? Kamu tidak bisa jawab ya? Kalau tidak bisa, aku tidak masalah, seperti yang aku katakan tadi di awal. Lupakan saja! Anggap saja, aku tidak pernah menanyakan hal itu," ucap Aozora sembari kembali menggigit bibirnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Arsen balik bertanya.


"Emm, tidak ada apa-apa! Aku hanya ingin menyiapkan diriku saja. Dengan jawaban yang kamu kasih, aku bisa menempatkan posisiku di mana. Karena sikap kamu selama ini abu-abu. Kamu tidak suka aku dekat-dekat dengan Darren maupun Niko, seakan kamu itu cemburu. Kamu juga selalu membantuku, walaupun aku tahunya belakangan. Sikap kamu ini benar-benar, Ambigu,Mas." Aozora diam beberapa saat, untuk mengambil jeda.


"Tapi, dengan beratnya kamu menjawab, aku sudah bisa menebak jawabanmu. Kamu pasti selalu membantuku, hanya karena kasihan dengan kisah hidupku. Karena tidak mungkin kamu bisa secepat itu punya perasaan padaku, karena rasa cintamu sudah habis untuk Hanum. Iya kan?" lanjut Aozora lagi, dengan senyum mirisnya.


Arsenio tercenung, mendengar ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Aozora. Sumpah demi apapun, di hatinya timbul keinginan untuk membantah, tapi mulutnya sukar untuk melakukannya.


"Mas, kamu tidak perlu memikirkan apa yang aku katakan tadi ya! Jangan merasa terbebani. Sejujurnya, aku juga tidak terlalu berharap kamu akan bisa mencintaiku. Karena aku dari awal juga sudah berniat untuk membentengi diriku, agar tidak jatuh padamu, karena aku tahu kalau ada seseorang yang sudah menghuni hatimu. Aku sudah menyiapkan mentalku, seandainya nanti Hanum kembali," Aozora kembali buka suara, kali ini dengan senyuman yang tulus.


"Sudah bicaranya? Kalau sudah, kita turun ke bawah. Aku sudah lapar!" pungkas Arsenio sembari memutar kursi rodanya, lalu beranjak pergi. Dia sepertinya sengaja mengalihkan pembicaraan. Raut wajah Pria itu juga terlihat tampak kesal. Entah kenapa ada rasa tidak suka ketika dia mendengar ucapan Aozora yang mengatakan kalau dia sudah membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta padanya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2