
"Kenapa, Mas?" tanya Aozora dengan kening berkerut.
"Mama tirimu membuat ulah lagi,"
"Dia bukan mamaku," Aozora dengan cepat mengoreksi ucapan Arsen. Wanita itu menunjukkan raut wajah tidak senang.
"Iya maaf," Sahut Arsen.
"Apalagi yang dilakukan wanita licik itu?" Aozora bertanya seraya menarik bantal dan meletakkannya di pangkuannya.
"Dia sudah menyebarkan rumah dengan mengunggah photo-photo Bella. Lalu membumbuinya dengan caption yang mengatakan kalau Bella adalah wanita ja*Lang, pelakor, dan menyebabkan perceraian Tsania dengan Dimas," terang Arsen dengan napas memburu dan tatapan yang berkilat-kilat penuh amarah.
Aozora menarik rahang bawahnya ke bawah, dan alisnya ke atas, kaget mendengar berita dari suaminya itu. Namun rasa kagetnya hanya bertahan sebentar. Detik berikutnya, raut wajah wanita itu kini berubah menjadi raut wajah yang penuh rasa bersalah.
"Aku jadi merasa bersalah sekarang. Seandainya aku tidak meminta Bella untuk mendekati Dimas, hal seperti ini tidak akan menimpa, Bella,"ujar Aozora, lirih.
Arsen menghela napas dan berjalan mendekati Aozora. Kemudian pria itu duduk di samping sang istri dan mengelus lembut surai panjang milik wanitanya itu. "Ini bukan kesalahanmu. Ingat, aku juga ada andil di sini dan aku lah penyebab utamanya. Aku yang meminta Bella untuk datang ke Indonesia. Seandainya aku tidak memintanya, tentu saja kamu tidak akan memintanya melakukan itu kan? Bahkan mengenal Bella saja tidak. Jadi, stop untuk menyalahkan dirimu sendiri!" ucap Arsen, mencoba menenangkan hati wanita bermata indah itu.
"Tapi, kamu tenang saja. Aku yakin, semuanya akan teratasi dengan cepat. Aku sudah meminta Niko untuk mentakedown postingan itu," imbuhnya.
Aozora mengembuskan napas, berusaha untuk tetap berpikiran positif dan percaya dengan ucapan sang suami. Namun, baru saja perasaannya lumayan lega, ponsel Arsen kembali berbunyi. Dan terlihat nama Niko di layar ponsel suaminya itu.
"Ada apa, Nik? Apa semuanya sudah beres?" cecar Arsen tanpa basa-basi.
"Aku sudah meminta untuk mentakedown postingan itu, tapi masalahnya postingan itu sudah telanjur menyebar.Bukan hanya ratusan, atu ribuan. Tapi sudan ratus ribuan bahkan jutaan yang re-post. Kita tidak mungkin bisa menuntut mereka satu-persatu,"
Arsen menggusak rambutnya, mendengar laporan yang sama sekali tidak menyenangkan dari asistennya itu.
__ADS_1
"Jadi bagaimana ini, Mas?" tanya Aozora yang juga mendengar laporan Niko. Karena kebetulan, Arsen sengaja menjawab panggilan Niko tadi dengan menyalakan speaker.
"Baiklah, Niko. Terima kasih! Nanti aku akan hubungi kamu lagi. Tolong pikirkan cara mengatasinya. Aku juga di sini akan memikirkannya," ucap Arsen, tidak menanggapi pertanyaan sang istri.
Panggilan pun akhirnya terputus, dan Arsen berjuang untuk terlihat tetap tenang di depan Aozora. Padahal, sebenarnya dia sudah sangat ingin melemparkan ponselnya untuk melampiaskan kemarahannya.
"Kamu tenang saja ya, Sayang. Aku akan berusaha mencari cara agar masalah ini tidak berlarut-larut," Arsen berusaha untuk tetap tersenyum di depan Aozora.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di perusahaan Aozora yang dikelola Samudera, tampak seorang wanita yang tidak lain adalah Dinda, sedang berdiri di depan ruangan atasannya yakni Samudra.
Sekretaris berparas cantik itu, terlihat sedang dilema. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruangan Samudra sembari memegang ponsel dan menggigit bibir bawahnya. Sesekali wanita itu, melihat ke arah pintu yang menjadi penghalang dirinya dengan sang atasan.
"Ahh, gimana ini? Aku kasih tahu atau aku diamin aja ya? Ahh, aku pura-pura tidak tahu saja!" Dinda berbalik hendak kembali ke mejanya. Namun, dia kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah pintu ruangan Samudra.
"Tapi, aku melakukannya bukan karena aku ingin menghancurkan hubunganku mereka. Niatku murni hanya ingin membantu Pak Samudra saja. Iya, itu niatku, bukan yang lain-lain," sebelum mengetuk pintu, Dinda lebih dulu meyakinkan dirinya kalau yang dia lakukan sekarang, buka karena ingin memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Samudra.
Setelah merasa yakin, Dinda akhirnya mengetuk pintu. "Haish, aku sudah mengetuknya. Sudah tidak ada alasan lagi untuk mundur," batin Dinda yang sedikit menyesali kenekatannya.
"Masuk!" suara tegas di dalam sana, membuat perasaan Dinda semakin tidak karuan. Wanita itu ingin segera berlalu, tapi dia tidak punya alasan untuk mundur.
Dengan perlahan wanita itu membuka pintu dengan perlahan dan masuk ke dalam ruangan pria maskulin dan dingin itu.
"Siang, Pak!" sapa Dinda dengan suara bergetar.
"Siang! Ada apa?" Samudra bersikap tidak acuh. Pria itu fokus menatap ke arah layar laptop di depannya, serius melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Sikap tidak acuh pria di depannya itu, membuat Dinda semakin menyesali kenekatannya. "Haish, harusnya aku tidak perlu ikut campur dengan hubungan Pak Samudra dengan kekasihnya itu. Biarkan saja, Pak Samudra tahu sendiri," Dinda membatin merutuki kebodohannya.
"Ada apa, Dinda? Kenapa diam saja?" kali ini Samudra sudah menatap Dinda dengan mata memicing, seakan sedang menyelidiki wanita berambut coklat tua itu.
Suara dan tatapan pria di depannya itu, membuat Dinda kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri, karena tiba-tiba tenggorokannya seakan tercekat.
"Emm, P-Pak ... Aku cuma mau memberitahukan Bapak sesuatu tentang kekasih Bapak," suara Dinda terdengar bergetar, saking groginya.
"Kekasihku?" Samudra mengernyitkan keningnya, bingung.
"Iya, Pak. Itu kekasih Bapak yang pernah datang ke sini. Namanya kalau tidak salah Bella,"
"Bella? Kekasihku?" gumam pria itu yang tentu hanya bisa dia dengarkan sendiri.
"Kenapa dengan Bella?" tanya Samudra yang akhirnya memilih untuk tidak menyangkal hubungannya dengan adiknya itu.
Dinda memilih untuk tidak menjawab secara langsung. Namun, wanita itu mengayunkan kakinya melangkah menghampiri pria itu.
"Maaf, sebelumnya, Pak! Bukan bermaksud untuk menghancurkan hubungan Bapak dengan kekasih Bapak itu, tapi aku merasa Bapak berhak tahu tentang berita ini juga," dengan sangat hati-hati dan tangan bergetar, Dinda menunjukkan postingan tentang Bella yang sudah viral.
"Brengsek! Dasar wanita licik!"n Samudra berdiri seraya menggebrak meja, begitu melihat postingan pemberitaan tentang adiknya itu.
Sementara itu, Dinda merasa kalau makian yang baru saja terlontar dari mulut Samudra itu ditujukan pada wanita bernama Bella yang dia yakini kekasih atasannya itu.
"Ma-maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud untuk membuat Bapak marah. Hanya saja, aku merasa kalau Bapak berhak tahu. Sekarang aku pamit keluar ya, Pak!" pungkas Dinda yang akhirnya memutuskan untuk berlalu pergi.
Samudra tidak fokus dengan Dinda, sehingga dia tidak menyahut sedikit pun ketika sekretarisnya itu izin untuk pergi. Pria itu kemudian meraih ponselnya dan langsung menghubungi Arsen.
__ADS_1
Tbc