Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Ke Makam


__ADS_3

Aozora berjalan di antara beberapa makam yang tidak lain adalah pemakaman milik keluarganya. Sementara Arsen mengekor dari belakang.


Setelah tiba di makam yang papan Nisannya bertuliskan nama Sekar yang tidak lain adalah wanita yang melahirkannya, Aozora langsung duduk bersimpuh.


"Hai, Ma. Apa kabar di sana? Mama sekarang pasti bahagia kan? Maaf aku baru sempat mengunjungi rumahmu ini lagi. Bukan karena aku tidak merindukan mama, tapi karena aku lumayan sibuk," ucap Aozora seraya mengelus-elus papan nisan sang mama.


"Oh ya, Ma. Kemarin-kemarin aku datang ke sini selalu sendiri. Sekarang aku datang berdua bersama menantumu namanya Arsenio," lanjut Aozora lagi, memperkenalkan Arsen.


Merasa namanya disebut, Arsen yang tadinya berdiri sekarang ikut berjongkok tepat di depan Aozora. Namun dia tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya diam, tapi tangannya terlihat mengelus-elus nisan Sekar.


"Kenapa dia tidak berbicara apa-apa? Apa dia tidak suka aku perkenalkan dia ke mama sebagai menantu? Pasti jawabannya iya. Kalau dia suka, dia pasti membenarkan ucapanku tadi ke mama," bisik Aozora pada dirinya sendiri.


"Kamu berharap apa sih, Zora? Kamu mengenalkan dia sebagai menantu mamamu untuk apa? Kenapa kamu tidak bertanya dulu, dia mau dikenalkan atau tidak. Kamu kira dia akan senang? Ingat ... perlakuan baik dia ke kamu selama ini bukan karena cinta, tapi karena kasihan,"Aozora kembali berbicara pada dirinya sendiri. Raut wajah wanita itu kini terlihat sendu. Setetes cairan bening berhasil lolos dari sudut matanya, namun dengan cepat dia langsung menyekanya.


"Hai, Ma. Lihat sekarang aku datang lagi. Mama masih ingat aku kan? Aku Arsen putra dari Amber yang dulu sering datang ke sini bersama mama. Dulu, kalau ke sini aku memanggilmu Tante tapi sekarang aku memanggilmu, Mama. Itu karena sekarang aku suami dari putrimu Aozora. Dulu, ketika aku menikah dengan putrimu, aku sama sekali tidak tahu kalau dia adalah putrimu dan aku juga sama sekali tidak menginginkannya. Maafkan aku untuk hal itu dan maaf juga kalau aku sudah lama tidak berkunjung ke sini. Sekarang aku harap Mama bahagia di sana karena sekarang aku akan menjaga Aozora," Namun tidak selamanya apa yang dipikirkan oleh Aozora itu benar adanya. Ternyata Arsen mengatakan sesuatu walaupun hanya dalam hatinya.


Kini Aozora terlihat mulai menabur bunga di atas makam, lalu menyiram makam dengan air yang dia bawa.


"Sini bunga dan airnya. Sekarang giliranku!" ucap Arsen.


"Emm, kamu juga mau melakukannya?" Aozora mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Jadi, menurutmu aku datang ke sini mau ngapain? Mau menontonmu saja?" Alis Arsen bertaut tajam.


Aozora pun memberikan bunga dan botol air yang ada di tangannya kepada Arsen. Setelah itu, Arsen pun melakukan hal yang sama.


"Jangan dihabiskan, Mas! Kita masih menggunakannya ke makam kakakku!" celetuk Aozora tiba-tiba.


Arsen sontak berhenti menyiramkan air di papan nisan mama mertuanya mendengar ucapan Aozora. Pria itupun meletakkan botol air itu kembali.


"Mas tidak bertanya apa aku memiliki Kakak laki-laki yang sudah meninggal?" tanya Aozora dengan mata memicing, melihat sang suami yang terlihat biasa saja, tidak terkejut sama sekali, mengetahui kalau dirinya mempunyai seorang kakak laki-laki.


"Oh, ka-kamu dulu punya Kakak?" Entah kenapa Arsen tiba-tiba merasa gugup.


Aozora mengembuskan napasnya dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


Arsen mengembuskan napasnya dan berjalan mengitari makam mama mertuanya, lalau duduk berjongkok tepat di samping sang istri. Kemudian ia mengelus-elus pundak Aozora untuk menenangkan wanita itu.


"Kamu yang sabar ya! Sekarang kamu sudah ada kami. Ada aku, mama, Samudra, Bella, Niko dan Daren. Kamu tidak sendiri lagi. Sekarang ayo kita ke makam kakakmu itu!" Arsen berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Aozora, untuk membantu istrinya itu berdiri.


Aozora tersenyum dan menyambut uluran tangan sang suami. Seraya menggenggam tangan Aozora, Arsen kembali mengitari makam mertua dan kembali ke tempat di mana tadi dia sebelumnya. Setelah itu dia kembali berjongkok, tapi kini hanya berbalik arah membelakangi makam mertuanya itu, karena makam yang katanya makan kakaknya Aozora itu ada tepat di samping makam Sekar mama mertuanya.


"Mas, kok kamu tahu kalau ini makam kakakku? Aku kan belum kasih tahu kamu," Aozora mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Ehh, a-aku hanya menebak saja, karena selain dekat dengan makam mama Sekar, ini juga makamnya kecil seukuran bayi," sahut Arsen, memberikan alasan yang masuk akal.


Aozora mengangguk-anggukkan kepalanya, bisa menerima alasan yang diberikan suaminya. Namun, wanita itu kemudian mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan kondisi makam kakaknya yang bertabur bunga dan sepertinya baru ada yang mengunjungi makam itu.


"Kenapa banyak bunga ya,Mas? Siap yang berkunjung ke sini? Kalau ke sini, kan berarti keluarga kan? Tapi kenapa tabur bunga hanya ke makam kakakku, sedangkan ke makam mama tidak sama sekali?" tanya Aozora, bingung.


"Emm, aku juga kurang tahu, Ra!" sahut Arsen.


"Apa mungkin itu Papa yang baru datang ke sini?" tebak Aozora lagi.


"Ya, mungkin saja itu Papamu," Arsen membenarkan.


"Tapi, kenapa dia hanya ke makam kakak? Kenapa tidak ke mama juga?" Aozora masiv terlihat bingung. Namun, detik berikutnya raut wajah wanita itu terlihat memerah karena marah. "Dasar pria brengsek! bisa-bisanya dia hanya ke makam kakak. Walaupun dia tidak mencintai mama, setidaknya dia harus ingat kalau mama ini pernah jadi Istrinya," napas Aozora terlihat sangat memburu saat mengucapkan ucapannya.


Arsen memilih untuk tidak menanggapi kemarahan Aozora. Pria itu cukup tersenyum dan menyentuh pundak istrinya itu.


"Sudahlah, tidak pantas marah-marah di depan makam. Sekarang sebaiknya kamu tabur bunga dan air itu!" ucap Arsen dengan lembut.


Aozora memejamkan matanya sekilas, mengembuskan napasnya untuk bisa meredam rasa kesal yang ada di hatinya. Setelah merasa tenang, Aozora pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya tadi di makam mamanya. Demikian juga dengan Arsen.


"Sekarang kita sudah bisa pergi dari sini kan? Lain kali kita ke sini lagi. Setelah dari sini, aku akan mengantarkan kamu pulang dulu, baru aku kembali ke kantor. Ayo!" Arsen kembali mengulurkan tangannya untuk membantu Aozora berdiri.

__ADS_1


"Maafkan aku Aozora! tapi aku yakin yang baru datang ke makam itu bukan papamu, tapi orang lain yang belum bisa aku kasih tahu ke kamu sekarang," bisik Arsen pada dirinya sendiri seraya menoleh sebentar ke makam.


Tbc


__ADS_2