Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Terpaksa melaporkan


__ADS_3

"Brengsek! Kamu benar-benar licik Arsen!" maki Damian. Kemudian, pria paruh baya itu menoleh ke arah Hanum. Dia menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat tajam, bak sebilah belati yang siap menghujam jantung.


"Benar-benar penghianat kamu, Hanum! Dasar wanita tidak tahu diri!" kembali pria paruh baya itu mengeluarkan kata makian yang kali ini dialamatkan pada Hanum, wanita yang sebelumnya dia tahu ada di pihaknya.


"Maaf, Om. Dari awal aku memang tidak ada di pihaknya, Om kan? Aku mau bekerja sama karena di bawah tekanan. Om dan Dimas selalu mengancamku. Aku muak, Om, benar-benar muak. Sekarang, aku sudah merasa tenang, karena sekarang aku dan papaku sudah terbebas dari ancaman, kalian berdua," sahut Hanum, seraya tersenyum sinis.


Damian dan Dimas mengepalkan tangan mereka dengan kencang. Napas mereka terlihat memburu. Kalau seandainya kondisi mereka tidak terdesak sekarang, bisa dipastikan dua pria berbeda usia itu akan menghampiri Hanum dan kemungkinan tidak akan segan memberikan pelajaran pada wanita itu.


Setelah menyelesaikan ucapannya, Hanum kemudian menoleh ke arah Arsen dan tersenyum pada pria itu.


"Sen, sekali lagi aku mau berterima kasih padamu, karena kamu sudah mau membantuku, dan memberikan saran yang sama sekali tidak terpikirkan olehku. Terima kasih, karena masih peduli padaku," ucap Hanum, dengan memberikan senyuman terbaiknya.


"Hmm," sahut Arsen, singkat.


"Aku sangat bahagia, Sen. Aku tidak bisa mendeskripsikan sebahagia apa aku sekarang, begitu mengetahui kalau ternyata kamu masih peduli denganku. Apa ini berarti aku masih punya kesempatan untuk kembali denganmu lagi?" batin Hanum seraya menatap Arsen dengan tatapan dan senyuman penuh makna.


Di lain sisi, Bella yang melihat tatapan dan senyuman Hanum, seketika langsung dapat membaca apa yang sekarang ada di pikiran wanita itu. Ia pun mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Hanum.


"Jangan berharap lebih dan jangan pernah ada niat untuk menjadi orang ketiga di dalam pernikahan Kak Arsen dan Kak Aozora," bisik Bella, tepat di telinga Hanum.


"Kamu bicara apa sih?" protes Hanum, kesal.

__ADS_1


Bella tidak langsung menjawab. Wanita itu, justru tersenyum smirk dan kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Hanum.


"Nona Hanum yang cantik, jangan pikir aku ini orang bodoh. Aku bisa membaca jelas apa yang kamu pikirkan dari raut wajahmu. Tapi, aku mau menegaskan padamu, Kak Arsen menolongmu, bukan karena masih peduli padamu, tapi karena kasihan. Lagian, kalau bukan aku yang memberitahukan pada Kak Arsen tentang semua yang terjadi padamu, dan aku tidak minta kak Arsen untuk menolongmu lepas dari dua orang itu, belum tentu Kak Arsen menolongmu. Jadi, stop untuk berharap lebih!" ucap Bella dengan sangat perlahan, seraya menepuk-nepuk lembut pundak Hanum.


Hanum terdiam seribu bahasa, tidak berani menanggapi peringatan yang baru saja dilontarkan oleh Bella. Wanita itu hanya berani menggerutu dalam hati, mengumpati adik sepupu dari pria yang dicintainya itu.


"Oh ya, asal kamu tahu, kemarin-kemarin yang selalu menggagalkan rencanamu untuk bisa menemui Kak Arsen di ruangannya, itu aku. Aku yang selalu menginformasikan ke Kak Arsen tentang rencanamu, yang akan mendatangi Kak Arsen, jadi sebelum kamu datang, Kak Arsen sudah lebih dulu menghindar," bisik Bella lagi, seraya menyunggingkan senyum meledeknya.


"Brengsek! Ternyata dia biang keroknya," umpat Hanum dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sekarang, mau kamu apa, Arsen? Apa kamu mau menjebloskan kami ke penjara? Kamu pikir bisa semudah itu?" sudut bibir Damian melengkung membentuk senyuman sinis dan dalam senyumnya terselip makna meremehkan.


"Kenapa tidak mudah, Paman? Bukan hanya tidak mudah tapi sebenarnya sangat-sangat mudah, karena aku punya bukti semua kejahatan Paman dan Dimas." ujar Arsen, tersenyum tipis.


"Aku tahu sekarang apa yang ada di pikiranmu, Paman. Pemikiran yang membuat paman meremehkanku dan menganggap kalau aku tidak akan berani melaporkan kalian berdua ke polisi." Arsen berhenti bicara untuk sejenak, untuk mengambil jeda. Sementara Damian dan Dimas menautkan alis, menunggu Arsen kembali buka suara.


"Paman pasti mengira kalau aku tidak mungkin berani melaporkan kalian berdua, karena aku takut dengan sanksi sosial dari masyarakat yang akan aku terima. Dimana orang-orang akan menghujatku, sebagai pria berhati dingin yang tega memenjarakan paman dan sepupu sendiri. Benar kan seperti itu Paman? Kalian sadar betul, kalau aku sudah dihujat, nilai saham perusahaanku akan turun dan pasti banyak yang akan menarik kerja sama mereka lagi dengan perusahaanku. Itu kan yang ada di dalam pikiran kalian berdua makanya sangat yakin kalau aku tidak akan berani?"


Damian dan Dimas lagi-lagi terdiam seribu bahasa, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Arsen itu sesuai dengan yang ada di pikiran mereka.

__ADS_1


"Sebenarnya dari awal, aku mudah saja memasukkan kalian ke penjara, tapi aku tidak melakukannya karena selama ini aku masih memikirkan hubungan kekeluargaan kita. Aku berusaha mengantisipasinya dengan diam-diam menggagalkan rencana kalian. Tapi ketika aku tahu kalau kalian berdua sama sekali tidak memikirkan hubungan keluarga kita dan bahkan sampai tega ingin menghilangkan nyawaku, pikiranku akhirnya terbuka, Paman. Ternyata keluarga sendiri bisa jadi musuh, kalau sudah dihadapkan dengan masalah harta. Harta kekayaan, gengsi dan rasa iri, dengan mudah membuat hubungan keluarga yang tadinya erat menjadi hancur. Itu karena kalian berdua sudah menempatkan harta kekayaan di atas hubungan keluarga,"tutur Arsen panjang lebar tanpa jeda.


Damian dan Dimas lagi-lagi terdiam, tapi tatapan mereka tetap menyorotkan kebencian yang mendalam pada Arsen.


"Jadi, sekarang aku berpikir, kalau kalian saja bisa untuk tidak memikirkan hubungan keluarga, untuk apa juga aku masih memikirkan hubungan Kita? Kalian sendiri tidak menganggapku kan? Harta benar-benar telah membuat kalian gelap mata. Kalian menempatkan harta di atas segala-galanya. Paman lupa, kalau aku ini anak dari kakak laki-laki paman satu-satunya. Seharusnya, paman lah yang melindungiku, ketika papaku sudah meninggal, tapi kenapa sebaliknya, Paman?" mata Arsen sudah mulai berkaca-kaca. Namun, pria itu berusaha untuk menahan agar air matanya tidak jatuh. Dia tidak mau terlihat lemah di depan adik papanya itu. Bagaimanapun dulu ketika papanya masih hidup, keluarga besar mereka masih sangat dekat dan bahkan Damian dulu sangat menyayanginya.


Sorot mata penuh kebencian yang tadi terlihat di manik mata Damian, kini tiba-tiba menyurut dan berubah sendu, begitu mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut keponakannya itu.


"Sebenarnya, aku juga bukan orang yang tega menjadikan kalian berdua sebagai karyawan di perusahaanku, Paman. Jauh sebelum aku tahu Paman ingin mengincar perusahaanku, awalnya aku juga sudah punya niat, untuk membangkitkan Perusahaan paman lagi, tapi aku tidak mau memberikan secara cuma-cuma. Aku menjadikan kalian karyawan di perusahaanku, untuk melihat sekaligus menempa mental Dimas, agar siap menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan dan bisa memajukan perusahaan. Tapi, ternyata kalian sama sekali tidak pernah berubah. Makanya aku menunda niatku untuk sementara. Kalau aku tetap membangkitkan Perusahaan paman dulu, dengan jiwa kalian yang hanya memikirkan keuntungan tanpa tahu bagaimana caranya keuntungan itu diperoleh, aku yakin perusahaan itu lambat laun akan bangkrut juga. Tapi, ternyata niat baikku untuk menempa mental Dimas kalian salah artikan. Kalian menganggap aku merendahkan kalian berdua,"


Damian dan Dimas semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kedua pria, ayah dan anak itu kini hanya bisa menunduk.


"Paman, Dimas, sekarang aku sangat minta maaf. Mau tidak mau, sekarang aku harus tega menjebloskan Paman dan Dimas ke polisi, Karena apa yang kalian lakukan sudah tidak bisa aku tolerir lagi. Mungkin, di penjara nanti, Paman dan kamu Dimas bisa merenung dan instrospeksi diri," pungkas Arsen dengan bijaksana.


Setelah selesai mengucapkan ucapannya, Tampak empat orang pria berseragam polisi muncul dan langsung memborgol tangan Damian dan Dimas.


"Arsen, kalau ini memang yang terbaik, sekarang Paman hanya bisa menerima. Kamu benar, aku memang tidak pantas disebut pamanmu. Paman minta maaf, walaupun memang kesalahan Paman tidak pantas untuk dimaafkan," ucap Damian dengan suara lirih.


"Tapi, Pa ... Aku ...." Dimas masih berniat untuk protes.


"Sudahlah, Dim, kita terima saja konsekuensi atas perbuatan kita," sambar Damian dengan cepat.

__ADS_1


Kedua pria itu terlihat tidak memberontak saat dibawa polisi keluar. Sementara Arsen sengaja berdiri membelakangi, karena tidak sanggup melihat paman yang dulu dia sayangi digelandang ke kantor polisi.


Tbc


__ADS_2