Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bab 121


__ADS_3

Arsen duduk di sebuah kursi besi, tepat di depan ruangan di mana Aozora yang sampai sekarang belum juga siuman. Pria itu diam menunduk dengan kedua tangan berada di atas kepala. Kondisi rambut dan penampilan pria itu kini jauh dari kata rapi. Ia benar-benar frustasi, karena dirinya baru mendapatkan kabar dari Niko, kalau golongan darah yang dibutuhkan belum juga didapatkan.


"Arghhh, brengsek!" tiba-tiba Arsen berdiri dan meninju tembok dengan keras hingga membuat punggung tangan pria itu mengeluarkan darah.


"Arsen, kamu yang tenang, Nak! Jangan sampai melukai dirimu sendiri!" pekik Amber sembari memeluknya putranya itu. Kali ini Amber benar-benar sangat khawatir. Wanita paruh baya itu tidak bisa membayangkan, bagaimana kondisi putranya itu nanti kalau seandainya Aozora sampai kenapa-napa.


"Aku benar-benar suami tidak berguna, Ma! Aku bahkan tidak bisa menolong istriku yang kritis di dalam sana!" Arsen menggusak rambutnya dengan kasar disertai dengan cairan bening yang keluar dari matanya. Pria itu benar-benar sudah tidak mengenal kata malu lagi, untuk menangis.


"Sen, kamu tidak boleh bicara seperti itu, Nak! Kamu bukan tidak berguna. Hanya saja sebagai manusia kita punya keterbatasan untuk bisa menolong seseorang. Seperti yang terjadi sekarang. Tapi, mama mohon jangan putus asa. Tetaplah yakin, kalau Aozora akan baik-baik saja," ucap Amber dengan lembut, berusaha untuk menahan air matanya. Wanita itu benar-benar berjuang untuk tetap terlihat tidak rapuh di depan putranya itu. Ia sadar kalau dirinya juga tampak sedih, itu pasti akan memperkeruh kondisi kejiwaan putra satu-satunya itu.


Arsen tidak menjawab sama sekali. Pria itu kembali duduk dan menyenderkan tubuhnya di tembok dengan tatapan kosong.


"Pak Arsen, transfusi darah sudah biasa dilakukan. Seseorang sudah bersedia mendonorkan darahnya," bak tanah yang sudah lama mengering, tiba-tiba ditimpa hujan, begitulah perasaan Arsen sekarang begitu mendengar kabar yang benar-benar sangat ingin dia dengar dari tadi.


"Be-benarkan, Dok? Ini tidak bercanda?" tanya Arsen seraya mencengkram erat pundak sang dokter yang baru saja memberikan kabar.


"Benar, Pak Arsen. Kami tidak mungkin melakukan kebohongan dalam hal ini. Mudah-mudahan dengan mendapatkan donor darah ini, masa kritis Ibu Aozora akan lewat. Aku permisi dulu, Pak!" Dokter itu berlalu pergi, setelah Arsen dan yang lainnya menganggukkan kepala.


"Ma ...." Arsen menoleh ke arah mamanya. Pria itu kini tidak sanggup berkata-kata lagi saking terharunya.


Amber tersenyum dan mengusap-usap punggung putranya itu. "Iya, Nak. Sekarang kamu doakan saja, setelah selesai transfusi darah, istrimu akan baik-baik saja," ucap Amber dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi, siapa ya yang sudah berbaik hati mau mendonorkan darahnya untuk Aozora? Aku ingin secara langsung berterima kasih padanya, dan memberikan apa yang dia minta, sebagai reward," ucap Arsen.


"Papa. Papa yang sudah mendonorkan darahnya," jawab Samudra yang muncul tiba-tiba.


"Papa? Papa mana yang kamu maksud?" Alis Arsen bertaut tajam, menyelidik.


"Siapa lagi papa kami kalau bukan papa Aditya?" Arsen dan yang lainnya, membesarkan mata, terkesiap kaget mendengar ucapan Samudra.


"Ternyata selama ini dia selalu memantau kami dari jauh. Jadi, dia tahu apa yang terjadi pada Aozora sekarang. Papa mengatakan mau mendonorkan darah pada Aozora. Tapi ,dia minta syarat agar tidak memberitahukan masalah ini Pada Aozora. Karena ia takut Zora tidak mau terima donor papanya sendiri," terang Samudra dengan lugas dan mimik wajah sedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nak, kenapa hatimu bisa sekeras ini? hempaskan semua kebencian di hatimu, agar kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Tolong maafkan lah, papamu!" ucap seorang wanita paruh baya berparas cantik. Wanita itu mengenakan pakaian putih bersih, dan wajah wanita itu juga bersinar dibarengi dengan senyuman manis yang menenangkan bagi siapa yang memandangnya.


"Mama tahu, Nak. Tapi, bagaimanapun dia itu papa kamu. Dia sayang kamu, hanya tidak bisa mengekspresikannya. Semuanya tertutup ego, yang semakin tebal akibat pengaruh dari mama tirimu. Lagian, apa untungnya kamu menyimpan kebencian itu di dalam hatimu. Sampai kapan? Apa dengan tetap membencinya, mama akan bisa kembali hidup? Tidak kan? Semakin kamu mempertahankan kebencianmu, itu akan membuat kamu selalu terkungkung di dalam tembok kebencian yang kamu bangun sendiri. Mama mohon, robohkan tembok itu, agar kamu merasa damai. Percayalah, kamu akan merasa lebih lega kalau kamu melepaskannya. Setidaknya kamu lakukan itu demi mama, agar mama bisa tenang dan bahagia dari sini," tutur wanita berpakaian putih itu yang tidak lain adalah Sekar.


Aozora tampak bergeming diam seribu bahasa. Hanya Isak tangis yang terdengar sekarang.


"Sudahlah. Kamu tidak perlu memaksanya untuk memaafkanku. Aku sadar kalau semua yang aki lakukan memang sangat tidak pantas untuk mendapatkan maaf," Aozora menoleh ke belakang karena tiba-tiba muncul sosok Aditya papanya.


Aozora menatap pria itu dengan tatapan yang terlihat tidak seperti biasanya. Ada binar kerinduan yang terpancar di mata wanita itu, namun sulit untuk dia ungkapkan.

__ADS_1


"Nak, maafkan Papa ya! Papa berharap kamu selalu hidup bahagia. Papa janji tidak akan muncul lagi di depanmu. Namun, percayalah doa papa akan selalu bersamamu. Papa pamit!" ucap Aditya seraya beranjak pergi.


"Mama juga pamit," bersamaan dengan perginya Aditya, Sekar juga beranjak pergi ke arah yang berbeda.


Aozora mematung untuk beberapa saat melihat ke dua orang tuanya yang secara perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Aozora seakan berada di sebuah persimpangan, bingung mau memilih arah yang mana. Antara mengejar papanya, atau mengikuti mamanya.


"Papa, tunggu!" teriak Aozora yang entah kenapa lebih memilih berlari ke arah papanya pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa!" suara Aozora menggelegar memenuhi ruangan tempat dia dirawat, hingga membuat orang-orang yang berada di ruangan itu, kaget dan menghambur ke arah kasur tempat Aozora berbaring.


"Sayang, sayang, kamu sudah siuman!" seru Arsen dengan perasaan yang sangat lega. Dia berkali-kali mencium puncak kepala istrinya itu. Hatinya yang dari tadi masih merasa sesak bak dihimpit batu besar, kini terlihat sudah lega bersamaan dengan sadarnya sang istri.


"Papa, di mana papaku, Mas? Dia tadi pergi meninggalkanku, Mas!" racau Aozora dengan peluh yang menetes dari pelipisnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu tenang dulu! Kamu baru bangun. Kamu pasti bermimpi" Arsen berusaha menenangkan Aozora.


"Tidak, Mas. Kalau itu mimpi, kenapa seperti nyata? Papa memang pergi. Dia pergi dengan wajah sedih, karena aku belum memaafkannya. Padahal mama sudah memintaku untuk memaafkan papa. Di mana Papa, Mas?" Aozora mulai menangis seraya menguncang-guncang lengan Arsen. Wanita itu ingin duduk, tapi rasa perih di perutnya, membuat wanita itu merintih kesakitan.


"Pe-perutku? Di- di mana anakku?" wanita itu kembali histeris ketika mendapati perutnya yang sudah tidak terlalu membuncit lagi.

__ADS_1


Tbc


Ternyata tidak cukup satu bab lagi untuk tamat. 🤦


__ADS_2