
"Apa tidak bisa kamu pikirkan lagi, Nia?" Meta kembali bertanya untuk ke sekian lagi, mengenai keputusan menantunya itu untuk berpindah dengan Dimas putranya.
Ya, akhirnya Meta bisa menerima alasan Tsania, walaupun dia tahu kesalahan wanita itu cukup besar. Namun mengingat kalau manusia itu tempatnya salah, dan juga melihat keinginan menantunya itu untuk berubah, membuat hati Meta melunak dan tidak bisa membenci wanita yang mungkin sebentar lagi tidak akan menjadi menantunya lagi.
"Sekali lagi aku minta maaf, Ma. Keputusanku sudah bulat, karena aku merasa tidak akan ada gunanya mempertahankan pernikahan yang awalnya sudah tidak memiliki pondasi yang kokoh. Sekeras apapun kita bertahan, bila tertiup angin sekali saja, dipastikan akan runtuh juga," tutur Tsania dengan tangan yang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam kopernya.
Meta terdiam, tidak bisa berkata-kata lagi karena memang yang dikatakan oleh menantunya itu benar adanya. Dia sudah berusaha untuk menahan menantunya itu, tapi sepertinya tidak ada gunanya lagi karena keputusan menantunya itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Ma, aku sudah selesai mengemasi semua pakaian yang aku butuhkan. Yang tersisa bisa mama kasih ke pembantu kita. Aku boleh pergi sekarang ya, Ma? Sekali lagi, aku mau mengucapkan terima kasih karena sudah memaafkan apa yang sudah aku lakukan dan tidak membenciku sama sekali," selama berbicara terlihat jelas kalau Tsania berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Meta menghela napasnya dengan sekali hentakan. Wanita paruh baya itupun meraih tubuh Tsania ke dalam pelukannya, memeluk menantunya itu.
"Sebenarnya Mama sangat berat melepasmu, dan masih berharap kamu tetap menjadi menantu Mama. Tapi, mama tidak bisa memaksamu untuk tetap bertahan karena kamu pantas mengejar kebahagiaanmu. Pergilah, Nak. Mama ikhlas melepaskanmu. Mama hanya bisa berdoa dan berharap kamu bisa mendapatkan pria yang bisa mencintaimu dengan tulus dan kamu bisa bahagia," tutur Meta panjang lebar seraya mengelus-elus lembut punggung menantunya itu.
"Terima kasih, Ma!" Pertahanan Tsania akhirnya jebol. Tsania sudah tidak bisa menahan lagi air matanya untuk tidak keluar. Pipi wanita itu kini sudah mulai basah dibanjiri oleh air mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo, Ma!" terdengar suara Dimas dari ujung sana.
"Hari ini mama tidak mau tahu, kamu harus pulang cepat dan tidak ada yang namanya lembur!" tegas Meta tanpa basa-basi.
"Tapi, Ma, aku__"
"Tidak ada tapi-tapi! Kamu harus pulang cepat, karena mama sudah tahu kalau lembur itu hanya akal-akalanmu Saja. Kamu tidak pulang ke rumah tapi pergi ke tempat wanita murahan itu. Dan kamu bahkan sampai menyewa apartemen di dekatnya apartemen selingkuhanmu. Mama sudah tahu semuanya, Dimas!"
__ADS_1
Tidak terdengar tanggapan dari Dimas. Namun Meta bisa memastikan kalau putranya itu di ujung sana tengah panik. Karena dia tahu, kalau Dimas sangat menyayanginya dan selalu takut kalau dirinya marah.
"Dimas, kamu dengar mama tidak? Pokoknya kamu harus pulang cepat! Kalau tidak, mama akan ke apartemen wanita murahan itu dan mempermalukannya!" Meta kembali buka suara.
"Bella tidak wanita murahan, Ma! Dia itu __"
"Mana ada wanita baik-baik yang mau menerima pria beristri? coba kamu pikir, kalau tidak murahan wanita yang mau dengan pria beristri disebut apa? Wanita mulia, begitu? Kamu jangan membela wanita itu lagi. Pokoknya kamu sore ini pulang cepat! Satu lagi ... mama minta kamu meninggalkan wanita murahan itu, karena sampai kapanpun Mama tidak akan pernah mau menerima wanita itu jadi menantu Mama! Paham kamu!" tegas Meta lagi seraya memutuskan panggilan secara sepihak. Wanita itu tidak mau lagi mendengar bantahan putra itu lagi.
Sementara itu, di tempat lain tepatnya di ruangan Dimas, tampak pria itu menggeram dan melemparkan ponselnya begitu saja. Beruntungnya ponsel itu jatuh ke atas sofa.
"Arghhhh, ini pasti gara-gara wanita sialan itu! Semuanya jadi hancur begini! Dia pasti sudah mengadu ke mama dan menceritakan semuanya. Dasar wanita brengsek kamu, Tsania!" maki Dimas.
Pria itu pun kemudian melangkah ke arah sofa untuk mengambil ponselnya kembali. Pria itu berniat untuk menghubungi Tsania lalu memaki wanita itu. Namun, baru saja handphone di tangannya, tiba-tiba ponsel berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.
"Sial! Ternyata dia benar-benar serius dengan omongannya. Kalau begitu mama Sekarang pasti marah besar. Kalau begini, mama pasti akan membenci Bella. Arghhhhh, Tsania brengsek, sialan!" Dimas kembali melemparkan ponselnya dan kali ini mengenai tembok hingga ponsel itu hancur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tsania berjalan sembari menggeret kopernya menyebrang di zebra cross. Wanita itu baru saja menjual mobil yang sering dia pakai untuk kebutuhan hidupnya. Karena dia sudah memutuskan tidak akan memintaku sepeserpun dari Dimas.
Wajah wanita itu terlihat sangat pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
Di antara mobil-mobil yang berhenti, tenyata ada mobil yang dikemudikan oleh Arsen, yang hendak mengantarkan Aozora pulang, setelah mereka selesai dari makam.
"Mas, bukannya itu Tsania?" Aozora menunjuk ke arah adik perempuannya yang sepertinya sedikit kesulitan untuk menarik kopernya.
__ADS_1
"Iya itu dia. Ngapain dia di sini dan pakai-pakai bawa koper?" alis Arsen bertaut tajam.
"M-Mas, lihat! Sepertinya Tsania sedang tidak baik-baik saja. Mukanya pucat dan dia seperti ... Ahhh!" belum sempat Aozora menyelesaikan ucapannya, dia memekik karena melihat adik perempuannya itu limbung dan terjatuh pingsan. Beruntungnya ada seorang pria yang dengan sigap menahan tubuh wanita itu hingga tidak sampai terbentur ke aspal.
"Ayo kita turun, Mas!" teriak Aozora seraya membuka pintu mobil dengan cepat disusul oleh Arsen. Wanita itu pun dengan cepat berlari ke arah kerumunan orang yang mengelilingi Tsania.
"Minggir, dia adikku!" untuk pertama kalinya Aozora mengakui Tsania adiknya, walaupun tidak didengar oleh wanita yang pingsan itu.
"Bang, tolong bantu angkat ke dalam mobil! Kita harus bawa dia ke rumah sakit!" Aozora benar-benar terlihat sangat panik.
Pria yang tadi sempat menahan tubuh Tsania, dengan sigap langsung mengangkat tubuh wanita itu, dan membawanya ke mobil Arsen.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana kondisi adik saya, dok?" Aozora langsung menghambur ke arah dokter yang baru saja keluar dari dalam ruangan tempat Tsania mendapat penanganan.
Dokter itu tidak langsung mendapat. Namun kedua sudut bibir Dokter yang merupakan seorang wanita itu, melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Mbak tenang saja. Adik Mbak tidak tidak apa-apa. Dia hanya pusing dan ini biasa terjadi pada awal-awal kehamilan," terang dokter itu tanpa menanggalkan senyumnya.
"Ha-hamil? Di-dia hamil, Dok?" ulang Aozora, memastikan.
Dokter wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.
tbc
__ADS_1