
Di sebuah gedung tua yang sudah lama diabaikan, tampak Aozora didudukan di sebuah kursi, lalu tangan dan kakinya diikat.
Dona kembali menyeringai sinis dan memberikan isyarat pada preman sewaannya untuk membuat Aozora siuman.
Salah satu dari dua preman itu, menghampiri Aozora, lalu menyiram wajah wanita itu dengan air, sementara Dona tertawa puas saat melihat air mengguyur wajah Wanita yang menurutnya mendatangkan kesialan baginya.
Suara lenguhan yang berasal dari mulut Aozora terdengar, pertanda wanita itu sudah siuman. Aozora memijat pelipisnya karena masih merasa pusing akibat pengaruh obat bius yang tadi dia hirup.
"Bangun juga kamu akhirnya," ucap Dona seraya mengangkat dagu Aozora dengan kasar.
"Ka-kamu! Lepaskan aku!" teriak Aozora dengan suara tinggi. "A ...." Aozora menggantung ucapannya, tidak jadi meneriakkan tentang kekhawatirannya atas kondisi anak yang ada di dalam kandungannya. Karena dia takut wanita culas dan tamak di depannya itu, mencelakai kandungannya. Aozora hanya merasa yakin kalau anak yang dia kandung adalah anak yang kuat dan masih baik-baik saja di dalam sana.
"Tidak semudah itu. Aku akan melepaskanmu, tapi setelah aku puas bermain-main lebih dulu dan tentu saja setelah aku mendapatkan uang dari suami kayamu itu. Salah sendiri sudah merebut yang aku punya," sahut Dona, seraya tersenyum miring.
"Cuih," Aozora meludah dan menatap Dona dengan tatapan jijik.
"Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan barusan? Atau perlu kepalaku aku benturkan ke tembok, agar kamu ingat kalau aku tidak pernah merebut apapun darimu. Aku hanya mengambil balik hak milikku," ucap Aozora dengan lantang.
"Berani kamu meludah di depanku ya!" Dona mencengkram kuat dagu Aozora.
Aozora merasakan sakit di dagunya, tapi wanita itu tetap berusaha untuk bersikap biasa, seakan cengkraman wanita paruh baya di depannya itu, tidak ada apa-apanya.
"Kenapa aku harus tidak berani?" tantang Aozora, semakin berani.
Sementara seorang wanita yang sedang mengintip di luar merasa semakin panik. Wanita itu tidak lain adalah Hanum.
__ADS_1
"Aduh, please Zora jangan membantah ucapan mama tirimu. Takut dia kalap dan mencelakai kamu dan bayimu. Ingat, kalau sekarang ada anak yang masih lemah di rahimmu," ucap Hanum dengan pelan. Tepatnya dia bicara pada dirinya sendiri karena tentu saja dirinya tidak cukup berani untuk berbicara secara langsung pada Aozora saat ini.
"Aduh, please cepat datang Sen. Entah siapapun lebih dulu, tolong cepat datang!" ucap Hanum seraya memejamkan matanya, penuh harap.
"Oh, kamu cukup berani ya! Rasakan ini!" sebuah pukulan keras mendarat di pipi putih milik Aozora, dan meninggalkan bekas lima jari di pipi itu.
"Ingat, kamu jangan coba-coba melawan, kalau kamu tidak mau aku kehilangan kesabaranku. Aku bisa saja kalap dan melenyapkanmu," ancam Dona seraya mencondongkan tubuhnya ke arah wajah Aozora.
Aozora hampir saja ingin kembali melawan. Namun, dia tiba-tiba mengurungkannya karena tiba-tiba tersadar kalau ada nyawa baru yang tumbuh di dalam rahimnya.
"Jangan membantah, Zora. Diam saja, berpura-pura kalau kamu tertekan. Ini semua demi anakmu. Jangan sampai dia tahu kalau kamu hamil. Kalau tidak, dia nanti akan mencelakai bayimu," batin Aozora, mengingatkan dirinya sendiri.
Melihat Aozora yang terdiam, mendatangkan kepuasan sendiri. Wanita itu begitu bahagia, merasa kalau ancamannya bisa membuat anak yang selalu membangkang di depannya itu bisa dia taklukkan.
Setelah puas tertawa, Dona kemudian mengambil photo Aozora yang terikat dan rambut yang sengaja wanita itu acak-acak
Baru saja photo itu dia kirim, ponsel wanita paruh baya itu sudah ada panggilan masuk dari nomor Arsen.
"Di mana istri saya. Anda jangan macam-macam ya!" belum juga Dona mengeluarkan suara, pria di ujung sana sudah mencak-mencak lebih dulu.
Dona tertawa terbahak dan berjalan menghampiri Aozora.
"Nak Arsen, istri kamu untuk sekarang masih baik-baik saja. Tapi, aku tidak tahu kalau sebentar lagi," Dona menyeringai sinis, walaupun dia tahu kalau pria di ujung san tidak akan bisa melihat ekspresi wajahnya.
"Anda jangan macam-macam ya! Jangan pernah menyentuh istriku. Kalau sempat istri dan__"
__ADS_1
"Mas Arsen, aku hamil! Tolong jangan pernah menyinggung kalau ada anak kita di dalam rahimku. Aku tidak mau dia melakukan hal buruk pada anak kita," teriak Aozora lantang, menggunakan bahasa Prancis yang tentu saja tidak diketahui oleh Dona dan Dua preman itu. Aozora tahu betul kalau suaminya itu fasih menggunakan bahasa Prancis.
"Hei, siapa menyuruhmu buka mulut? Dan apa yang tadi kamu katakan, hah!" bentak Hanum seraya menarik rambut Aozora ke belakang.
Aozora merasakan sakit, namun dia berusaha untuk tidak berteriak, karena tidak ingin membuat suaminya di ujung sana khawatir sehingga jadi bertindak gegabah.
"Aku tahu apa artinya," tiba-tiba Hanum muncul.
"Hanum?" Gumam Dona dengan alis bertaut tajam, curiga. "Kenapa kamu bisa ada di sini?" imbuhnya, tanpa memutuskan panggilan.
"Tentu saja aku mengikutimu. Tadinya aku tidak mau berkerja sama karena aku takut rencanamu gagal dan aku jadi kena imbasnya. Tapi, setelah melihat kamu berhasil, akhirnya aku berubah pikiran aku mau bekerja sama," ucap Hanum seraya melirik ke arah Aozora.
Dona tertawa licik dan menghampiri Hanum. "Baguslah. Tapi, tujuan kita berbeda. Aku hanya ingin uang tebusan dan kamu ingin melenyapkannya bukan? Jadi uang tebusan yang nanti aku minta, itu hanu untukku, paham kamu!" ucap Dona tegas.
"Tidak masalah. Aku tidak butuh uang itu," sahut Hanum, seraya kembali melirik ke arah Hanum.
Aozora mengerti makna tatapan wanita mantan rivalnya itu. Wanita itu pun kemudian tersenyum samar karena dia tahu kalau Hanum sengaja muncul untuk mengelabui Dona.
"Jadi, apa arti yang tadi dia bilang?" tanya Dona, tidak sabar.
"Oh, dia hanya minta tolong pada Arsen dan mengatakan kalau dia ada di sebuah gedung tua, itu saja!" ucap Hanum, berbohong. Karena sebenarnya wanita itu juga bisa menggunakan bahasa Prancis. Apa saja yang disenangi dan dikuasai oleh Arsen, Hanum dulu belajar untuk bisa juga guna mengimbangi pria yang dia cintai itu. Hanum, memutuskan untuk masuk dan berpura-pura mau ikut bekerja sama guna mengelabui Dona dan mengulur waktu. Sementara Arsen yang masih bisa mendengar pembicaraan Dona dan Hanum, menghela napas lega.
Dona kemudian tertawa terbahak dan diikuti oleh dua preman itu. "Dasar wanita bodoh! Di kota ini banyak gedung tua.Kamu mau meminta suamimu itu mencari di semua gedung tua?" ucap Dona, kembali tertawa setelah selesai berbicara.
"Hei, Nyonya Dona kita belum selesai berbicara! Katakan apa yang kamu inginkan!" teriak Arsen dari ujung sana.
__ADS_1
"Oh, aku hampir melupakanmu. Baiklah, aku tidak mau berbasa-basi lagi. Aku mau kamu kasih uang ke saya sebesar 100 miliar, baru aku akan melepaskan istrimu," ucap Dona, menyebutkan jumlah tebusan yang sangat besar dan dia yakin kalau pria di ujung sana pasti mengabulkannya.
tbc