
"Masuk!" titah Aozora ketika terdengar ketukan dari pintu.
Suara decitan dari pintu yang dibuka oleh seseorang tidak serta merta membuat Aozora mengalihkan tatapannya dari layar laptop di depannya, karena dia sudah tahu siap yang datang.
"Nak, kami sudah datang!" ya, yang baru saja datang adalah Aditya bersama dengan Tsania.
"Tidak perlu basa-basi, langsung duduk saja!" cetus Aozora masih tidak melihat dua orang itu.
Terdengar embusan napas berat dari mulut Aditya, melihat sikap apatis putri yang disia-siakannya itu. Pria itu pun melangkah ke arah sofa dan mendarat tubuhnya duduk di atasnya.
Berbeda dengan Aditya, Tsania justru mendengus dan menghampiri meja Aozora.
"Hei, sombong sekali kamu!" Tsania menggebrak meja kerja Aozora.
"Jangan mentang-mentang sekarang kamu lagi di atas, kamu bisa bersikap seperti ini ya! Lihat saja nanti, kalau wanita yang dicintai Arsen kembali, kamu pasti akan langsung dibuang," cibir wanita itu lagi dengan sudut bibir melengkung membentuk senyum sinis.
"Tsania, yang sopan!" bentak Aditya
"Apaan sih, Pah? Yang aku katakan benar kan?" Tsania mengerucutkan bibirnya.
"Apanya yang benar? kamu__"
"Sudah-sudah! tidak perlu mempertontonkan drama keluarga kalian di sini!" celetuk Aozora dengan sinis.
"Dan anda Tuan Aditya, tidak perlu membela saya, karena aku tidak butuh pembelaan anda!" sambungnya.
__ADS_1
Aditya kembali menghela napasnya, tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena ia merasa kalau kebencian putrinya itu sudah sangat dalam.
"Dan kamu, Tsania ... terserah kamu mau bilang apa, kau tidak peduli. Intinya untuk sekarang sebelum wanita yang dicintai suamiku kembali, seperti yang kamu katakan, aku akan memanfaatkannya dengan baik. Tidak seperti kamu yang seketika langsung hanyut dan terbuai oleh sesuatu yang sekarang kamu miliki tanpa mau berusaha untuk memanfaatkan kesempatan untuk mengembangkannya," ucapan Aozora benar-benar mengandung ambiguitas di telinga Tsania.
"Maksud kamu apa, hah? Kamu mau bilang kalau aku tidak secerdas kamu, begitu?"
Aozora lagi-lagi tersenyum smirk dan berdiri dari tempat dia duduk. Lalu ia meraih map berisi berkas-berkas penting, kemudian berjalan menghampiri dua orang itu.
"OK, aku tidak mau berbasa-basi lagi. Aku yakin kalian pasti sudah bisa menebak, tujuanku memanggil kalian berdua ke sini. Aku hanya mau menginformasikan kalau aku berubah pikiran, dan bersedia mengembalikan investasi yang sudah aku tarik," tutur Aozora panjang lebar tanpa jeda.
"Terima kasih banyak,Nak! Papa hampir saja putus asa memikirkannya semalaman," Wajah Aditya berbinar bahagia. Jangan lupakan Tsania yang tetap memasang wajah tidak bersahabat.
"Tidak perlu berterima kasih, karena aku melakukan ini semua semua agar perusahaan mamaku tidak tinggal nama. Sekarang, aku meminta, agar kalian berdua menandatangani surat kerja sama. Isinya tidak jauh beda dari isi surat perjanjian yang dulu! Aozora meletakkan map berisi berkas-berkas penting itu ke atas meja, tepat di depan Aditya.
"Aku ada hal yang sangat penting untuk aku urus keluar, jadi akau tidak punya banyak waktu untuk meladeni kalian . Sekarang tanda tangan di sini!" Aozora menunjuk tempat di mana Aditya harus membubuhkan tanda tangannya. Aozora sengaja mensiasati dengan menimpa berkas yang harus ditandatangani papanya itu dengan berkas yang berisi hal lain.
"Bukannya aku sudah katakan kalau aku tidak punya banyak waktu? Kalau anda masih membaca, itu sama saja membuat waktuku banyak terbuang," ucap Aozora masih berusaha untuk tetap tenang, agar dua orang yang ada di ruangannya itu tidak curiga. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, wanita itu Benar-benar was-was. Bahkan detak jantungnya kini juga sudah tidak teratur.
"Hei, kenapa kami tidak bisa baca? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu yang buruk untuk menjatuhkan kami?" Tsania buka suara dengan alis bertaut tajam, curiga.
Aozora kemudian meraih kembali map itu dengan gerakan cepat dan kasar. "Baiklah. Sepertinya kalian ingin aku berubah pikiran. Makanya kalian curiga. Sekarang kalian boleh keluar karena aku juga harus pergi menemui klienku. Oh ya, jangan pernah berharap lagi aku mau berinvestasi lagi di perusahaan kalian!" Aozora dengan sengaja melangkah kembali ke kursinya. Walaupun wanita itu terlihat tenang, namun sebenarnya wanita itu sekarang berharap kalau dua orang itu panik dan akhirnya mau menandatangani tanpa harus membaca isinya lebih dulu.
"N-Nak Zora, Jangan seperti itu! Papa percaya kamu! Kamu tidak mungkin melakukan hal licik, karena kamu bukan orang seperti itu. Sini Papa tanda tangan!" rencana Aozora untuk berpura-pura tidak peduli,berhasil. Pria paruh baya itu sudah berhasil dia buat panik dengan ucapannya yang tidak mau berinvestasi lagi.
"Papa!" pekik Tsania tidak terima.
__ADS_1
"Diam kamu! Jangan banyak protes lagi! Emangnya kamu punya cara lain lagi, untuk mempertahankan perusahaan, hah!" bentak Aditya, membuat Tsania terdiam.
Kedua sudut bibir Aozora melengkung membentuk senyuman smirk.
"Siapa bilang aku bukan orang yang bisa licik? Itu dulu. Sekarang semuanya sudah berubah. Cara licik kalian memang harus dibalas dengan cara yang licik juga," batin Aozora, masih dengan senyum samarnya.
Tidak perlu menunggu lama dan tidak banyak basa-basi lagi, Aditya dan Tsania pun membubuhkan tanda tangan di tempat yang ditunjukkan oleh Aozora.
"Sudah selesai, sekarang kalian berdua boleh keluar dari ruanganku!" titah Aozora masih dengan raut wajah datarnya. Padahal, sekarang dia ingin sekali tersenyum lebar, karena sekarang perusahaan dan aset-aset mamanya sudah kembali ke tangannya.
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih, Nak! Papa pergi dulu," Aditya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan sang putri.
"Aku rasa tidak perlu jabat tangan. Dan lagi, tolong jangan panggil dirimu lagi, papaku!" sahut Aozora dengan pedas, menolak uluran tangan Aditya.
Aditya kembali menghela napasnya dan menarik tangan Tsania agar keluar dari ruangan itu.
"Pa, kenapa sih Papa mau saja tanda tangan tanpa baca lebih dulu?" Tsania mulai bersungut-sungut ketika mereka berdua sudah ada di luar.
"Sudahlah, tidak penting sama sekali, karena Aozora tidak mungkin berbuat licik,"
"Apa sih yang tidak mungkin, Pa! bagaimanapun Aozora itu sudah berubah. Dia tidak seperti dulu lagi, Pa. Aku rasa Papa juga menyadarinya, kan?"
Aditya terdiam, tidak membantah ucapan putri keduanya itu.
"Ah, sudahlah. Jangan berpikir negatif. Papa tetap yakin kalau Aozora tidak mungkin merencanakan sesuatu yang buruk. Ayo pergi dari sini!" Aditya masih berusaha untuk berpikir positif.
__ADS_1
"Ah, terserah papa lah! Sekarang papa duluan saja. Aku mau ke ruangan Kak Dimas," Tanpa menunggu jawaban dari papanya, Tsania langsung melangkah menuju ruangan sang suami.
Tbc