
"Ja-jadi kamu itu benar-benar putraku?" tangan Aditya bergetar saat ingin menyentuh pipi Samudra, yang terlihat biasa saja. Tidak tampak wajah terharu atau kerinduan di mata pria itu saat mendapat sentuhan dari Aditya. Sebenarnya dirinya sudah cukup lama tahu, kalau pria itu papanya, tapi karena mendengar kalau pria itu selingkuh dari mamanya, Samudra jadinya kehilangan respect pada pria yang seharusnya bisa dia jadikan panutan itu.
"Iya. Kenapa? Anda kaget?" Samudra, tersenyum sinis. Kemudian pria itu menepis tangan Aditya dari pipinya.
"Karena aku anak anda lah, makanya ketika kalian meminta Tsania untuk menggodaku, aku berusaha untuk tidak tergoda. Karena aku tahu, walaupun dia lahir bukan dari rahim yang sama denganku, tapi bagaimanapun dia itu tetap punya pertalian darah denganku. Bagaimanapun dia itu tetap adikku, sama seperti Aozora," lanjut Samudra lagi.
"Itu pasti tidak benar! Kalian semua pasti merekayasa hasil test itu! Kamu jangan mudah percaya, Mas!" tuding Dona dengan suara yang meninggi.
Aditya sontak menoleh ke arah Dona dengan tatapan bengis penuh amarah.
Pria paruh baya itu mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Dona dengan napas memburu.
Tanpa disangka-sangka, Aditya tiba-tiba menarik rambut Dona ke belakang, hingga membuat istrinya itu meringis kesakitan.
"Sa-sakit, Sayang!" desis Dona.
"Jangan panggil aku sayang, Brengsek! Aku jijik mendengarnya. Aku tidak menyangka kalau kamu itu wanita ular yang liciknya melebihi iblis. Kenapa kamu melakukan ini semua hah? Kenapa kamu tega menyimpan kebohongan ini sampai bertahun-tahun? Hati kamu kamu taruh di mana, sampai tega memisahkan orang tua dari anaknya sendiri, hah!" suara Aditya menggelegar tepat di wajah Dona.
__ADS_1
Dona menggeram dan menyentak tangan Aditya dari rambutnya.
"Kamu masih bertanya alasannya kenapa? Itu karena aku sangat mencintaimu, Brengsek! Aku juga sangat membenci Sekar. Kenapa? Karena dia sudah setuju dengan perjodohan kalian. Coba saja dia tidak setuju, aku yakin hubungan kita dulu tidak akan hancur. Jadi, yang tega dan jahat itu, Sekar. Sedangkan aku ... aku hanya ingin mengambil balik sesuatu yang seharusnya milikku," suara Dona tidak kalah tinggi.
Aditya mengepalkan tangannya dengan kencang. Ingin rasanya pria itu melayangkan bogem mentah ke wanita yang masih jadi istrinya itu.
"Kamu memang benar-benar sudah gila. Aku benar-benar menyesal menikahi wanita licik seperti kamu. Asal kamu tahu, ini sama sekali bukan salah Sekar. Ini murni salahku yang berbohong kalau aku tidak punya kekasih. Itulah alasannya dia menerima perjodohan kami,"
Dona berdecih, lalu mendengkus. Sudut bibir wanita paruh baya itu, tersenyum sinis.
"Menyesal kamu bilang? Berani sekali kamu mengatakan kalau kamu menyesal menikah denganku? Bukannya kamu yang memberikan harapan padaku untuk tetap menunggumu, brengsek! karena harapan yang selalu kamu janjikanlah membuatku tidak bisa lepas darimu. Kamu membuatku merasa sangat dicintai olehmu. Kamu yang membuatku iri pada Sekar sehingga aku membencinya. Aku iri melihat dia bebas bersamamu kemana saja, sedangkan denganku, kita harus sembunyi-sembunyi. Aku juga membenci orang tuamu yang tidak merestui hubungan kita, bahkan sampai menghinaku karena aku bukan seperti Sekar yang kaya. Pokoknya, aku benci dengan apapun yang berhubungan dengan Sekar!" teriak Dona seraya dengan mata yang berapi-api, penuh kebencian.
"Tapi, apapun yang kamu katakan itu, kamu tidak sampai harus melakukan hal jahat seperti ini, Dona. Kamu sudah memisahkan anak dari orang tuanya," ucap Aditya dengan suara yang dia usahakan serendah mungkin.
" Itu aku lakukan karena aku tahu, kehadiran anak itu akan membuat hubungan kalian akan semakin terikat, dan aku tidak menginginkan itu terjadi. Makanya aku berpikir harus menyingkirkan penghalang yang akan membuat kalian sulit untuk bercerai,"sahut Dona dengan mata berapi-api.
"Astaga, aku tidak menyangka kalau ternyata kamu selicik ini Hanya karena ingin bisa bersamaku, sampai-sampai kamu mau menghalalkan segala cara. Aditya mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kamu sudah membuat aku dan Sekar terpukul dengan kabar kematian anak kami. Padahal Kamu sudah lihat sendirikan bagaimana sedihnya aku saat itu? Dan kamu juga tahu kalau Sekar berkali-kali menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi," sambung Aditya lagi.
"Justru itu yang aku inginkan. Sekar menyalahkan dirinya dan kamu juga menyalahkan wanita itu. Tapi, apa? kamu bukannya menyalahkan Sekar dengan kematian anak kalian, tapi justru kamu ikut-ikutan menguatkan wanita itu. Kamu benar-benar membuatku kecewa, Mas. Kamu membuat apa yang aku rencanakan gagal. Kamu tidak bisa melepaskannya karena tidak bisa meninggalkan kemewahan yang ditawarkan kan?" Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan. Aku tidak bisa meninggalkannya dan kembali padamu, bukan karena harta kekayaan Sekar, tapi itu karena aku sudah merasa terbiasa dengannya, sehingga aku merasakan kenyamanan. Aku merasa kalau aku mulai mencintainya.
"Jadi gara-gara itu kamu tidak mau menceraikannya? Kamu benar-benar bajingan mas. Apa kamu tahu, bagaimana kecewanya aku begitu mendengar kabar kalau Sekar hamil lagi? Rasanya duniaku semakin runtuh,Mas. Aku merasa kalau jalan untuk aku bisa bersamamu semakin tertutup. Aku hampir saja ingin mengakhiri hidupku, tapi apa? kamu datang lagi dan meyakinkanku, kalau cintamu hanya untukku. Lagi-lagi kamu memberikan harapan itu, Mas. Kamu membuat aku semangat untuk hidup lagi. Kamu benar-benar brengsek, mas!" Dona mulai memukul-mukul dada Aditya. Sementara Aditya tidak berusaha untuk menghindar. Pria paruh baya itu justru terkesan membiarkan pukulan demi pukulan yang mendarat di dadanya.
"Kamu tahu kenapa aku sampai bisa memutuskan untuk mengandung anakmu, walaupun kita belum terikat pernikahan, Mas? Itu karena aku merasa kalau hanya itu satu-satunya cara agar kamu dan aku bisa tetap punya hubungan dengan adanya Tsania di antara kita. Aku benar-benar takut kehadiran Aozora membuat hubunganmu dengan Sekar semakin sulit untuk dipisahkan," tanpa bisa dihindarkan, mata Dona kini sudah mulai mengeluarkan air mata.
Aditya berdecak, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Berarti semuanya sudah kamu rencanakan, Dona. Kamu yang sengaja menjebakku sehingga kita melakukan hal itu. Kamu juga membuatku merasa bersalah karena sudah mengambil sesuatu yang berharga milikmu, sehingga aku harus tetap bersamamu. Kamu juga yang memintaku untuk lebih memperhatikanmu, dengan alasan kamu hamil, padahal saat itu Aozora baru saja lahir. Karena kehamilanmu, dan kelahiran Tsania, membuat Aozora kekurangan kasih sayangku sebagai seorang ayah. Kamu memintaku untuk fokus pada Tsania saja. Kalau tidak, kamu akan menyebarkan perselingkuhan kita ke publik. Ini semua gara-gara kamu, Dona!" suara Aditya terdengar sangat lirih saat mengucapkan kata-katanya.
"Kamu juga kan yang sengaja mengirimkan photo-photo bukti perselingkuhan kita dan mengatakan kalau kita sudah punya anak pada Sekar, makanya sampai dia banyak pikiran dan depresi? Iya kan?" desak Aditya.
"Stop! Tolong hentikan drama kalian! Aku muak mendengarnya! Kalian berdua sama-sama menjijikkan!" pekik Aozora yang merasa geram, mendengar perdebatan dua orang penghianat itu. Bagaimana tidak, dari pembicaraan pasangan penghianat itu, Aozora merasa kalau Sekar mamanya terkesan jadi wanita ketiga dan posisinya sangat menyedihkan karena tidak mendapatkan cinta yang tulus dari pria yang dianggap suami olehnya. Aozora benar-benar kasian dan merasakan kesedihan mendalam membayangkan posisi wanita yang melahirkannya saat itu.
__ADS_1
"Dan kamu Tuan Aditya yang terhormat, jangan pasang wajah memelas seperti itu di depanku. Itu sama sekali tidak membuatku kasihan dan lantas langsung menganggapmu papaku lagi. Walaupun kamu mengatakan kalau ini semua karena ulah wanita selingkuhanmu itu, tetap saja tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Kalau seandainya dari awal kamu tegas pada wanita ular ini, semuanya tidak akan seperti ini. Mamaku pasti masih ada dan aku juga pasti banyak menghabiskan waktu dengan kakakku," sambung Aozora lagi dengan tatapan menyala-nyala dan napas memburu, penuh amarah.
Tbc