Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku hamil.


__ADS_3

Damian dan Dimas kini sudah bisa dibawa keluar untuk bertemu keluarga, setelah melakukan beberapa penyelidikan dari penyidik.


Kedua pria yang merupakan ayah dan anak itu, menunduk saat sudah bertatapan dengan Meta dan Tsania. Wajah mereka terlihat penuh penyesalan.


"Kalian datang?" suara Damian terdengar sangat lirih, seraya mendaratkan tubuhnya duduk di depan istri dan menantunya.


"Bagaimana kabarmu, Nia?" Dimas juga buka suara. Kali ini suara pria itu terdengar lembut, tidak seperti biasa yang selalunya ketus dan penuh amarah.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja," sahut Tsania, dengan raut wajah datar.


"Tapi, kenapa wajahmu terlihat pucat?" Dimas mencoba untuk perhatian.


Meta dan Damian sontak menoleh ke arah Tsania. Benar saja, wajah wanita itu memang terlihat pucat, dan Meta menyesal baru menyadarinya. Ia terlalu fokus melampiaskan kekesalannya pada Bella, sehingga tanpa sadar tidak memperhatikan kondisi menantunya.


"Ya ampun. Benar kata Dimas, Nia, wajahmu pucat. Kamu sakit ya, Nak?" Meta terlihat khawatir.


Tsania mencoba untuk tersenyum, dan menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak apa-apa, Ma. Mama tenang saja!" ucap Tsania seraya mengelus-elus punggung tangan mertuanya.


Dimas seketika terpaku melihat sisi lain Tsania yang lembut. Dia baru menyadari kalau wanita yang masih istrinya itu, bukan Tsania yang dulu lagi. Fisiknya masih lama tapi, sikapnya dan tutur katanya, ia melihat Tsania versi baru.


"Mama benar-benar merasa bersalah, Nak. Saking fokus meluapkan kekesalan mama pada wanita bernama Bella itu, membuat Mama tidak memperhatikan kondisimu," Sepertinya Meta masih merasa bersalah, walaupun menantunya itu mengatakan tidak apa-apa.


"Emm, Bella tadi ke sini?" tanpa sadar Dimas berdiri dan mengedarkan tatapannya untuk mencari keberadaan Bella.


Tsania merasakan sakit di hatinya bak ditusuk sebuah belati, melihat pria yang masih bertahta di hatinya itu, begitu antusias untuk mencari Bella. Namun, wanita itu tetap berusaha untuk tetap bersikap biasa. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, berusaha untuk meredam rasa sakit yang dia rasakan.

__ADS_1


"Dimas, duduk! Apa kamu tidak tahu malu? Istri kamu masih di sini, tapi bisa-bisanya kamu malah mencari wanita lain. Dia sudah pergi dengan Zora dan Arsen. Kamu benar-benar tidak punya hati ya!" bentak Meta seraya memaksa putranya itu untuk duduk kembali.


Dimas sontak tersadar dan langsung menoleh ke arah Tsania. "Ma-maaf. Aku __"


"Tidak perlu minta maaf, Kak. Aku baik-baik saja kok. Aku sudah belajar untuk menerima kenyataan kalau memang hati kamu sudah bukan untukku. Eh ... Memang dari awal hati kamu tidak pernah untukku kan?" Tsania tertawa renyah, menertawakan dirinya sendiri. Walaupun mulutnya tertawa, tapi manik mata wanita itu tidak bisa berbohong, Karena tatapan wanita itu sekarang terlihat sendu dan menyimpan luka.


"Emm, bu-bukan seperti itu. Aku__"


"Sudahlah, kita tidak perlu bahas tentang kita lagi, di sini, Kak. Sekarang, sebaiknya kita bahas tentang kakak dan Papa," Tsania kembali menyela, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Dimas terdiam dan hanya bisa mengembuskan napasnya yang terasa sangat berat.


"Kenapa kalian berdua melakukan hal bodoh dan memalukan ini?" kini Meta kembali buka suara. Nada bicara wanita paruh baya itu terdengar sangat menuntut.


"Kenapa diam, Pa? Dimas?" desak Meta.


"Maaf, Ma!" hanya kata itu yang bisa terlontar dari mulut Damian dan Dimas.


"Aku benar-benar tidak habis pikir, dengan apa yang kalian lakukan. Padahal aku kira kalau kalian sama sepertiku, belajar dari apa yang sudah terjadi, yang membuat perusahaan hancur," Meta mengembuskan napasnya. Bayangan tentang saat perusahaan suaminya bangkrut, akibat dari perbuatan mereka sendiri yang suka berfoya-foya tanpa memikirkan apa yang terjadi ke depannya, kembali berkelebat di kepalanya. Wanita itu mengira kalau suami dan putranya sama seperti dirinya yang menyadari kesalahan, tapi ternyata tidak.


"Seharusnya kalian berdua harus berterima kasih pada Arsen yang masih mau membiarkan papa dan Kamu Dimas untuk bekerja di perusahaannya, sehingga kita masih tetap bisa menikmati kemewahan. Seandainya Arsen tidak memberikan kalian kesempatan, bisa jadi kita akan hidup sengsara di jalanan. Kenapa sih kalian tidak belajar dari apa yang sudah terjadi?" lanjut Meta lagi. Wanita paruh baya itu terlihat sudah mulai emosional.


"Maafkan kami, Ma. Kami memang bodoh. Rasa iri dan dengki pada kesuksesan Arsen membuat kami gelap mata, hingga kami berhasrat ingin menguasai perusahaannya. Sekarang, kami sadar kalau memang keserakahan itu justru membuat kita kehilangan segalanya," ucap Dimas dengan suara yang sangat lirih.


"Dimas benar, Sayang. Sekarang aku menyadari kalau kita tidak bisa memaksakan untuk memiliki sesuatu yang memang bukan milik kita. Karena sekeras apapun usaha kita untuk memilikinya, apalagi sampai menghalalkan segala cara, kita tetap tidak akan bisa memilikinya. Sekali lagi, kami benar-benar minta maaf, Sayang!" Damian menimpali ucapan Dimas putranya.

__ADS_1


Meta memejamkan matanya sekilas. Ingin sekali dia kembali meluapkan kemarahannya dengan mengutuki perbuatan suami dan putranya. Namun, ia menyadari kalau itu tidak akan ada gunanya lagi. Mau sampai mulutnya berbusa-busa saat meluapkan kemarahannya, tetap tidak bisa merubah keadaan. Suami dan anaknya tetap akan berada di penjara.


"Sudahlah, Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Untuk sekedar meminta kemurahan Arsen untuk menarik laporannya, Mama sudah malu, karena perbuatan kalian memang sudah tidak bisa ditolerir. Dengan dia yang menutupi tentang perbuatan kalian dan meminta agar kasus kalian tidak sampai beredar ke publik, mama sudah cukup berterima kasih, karena Arsen masih berusaha untuk tetap menjaga nama baik kalian berdua. Mama benar-benar malu sekarang! Mama rasanya tidak sanggup lagi untuk melihat wajah Arsen dan mamanya," Meta lagi-lagi menghela napas dengan cukup panjang dan berat. Sementara Tsania mengelus-elus pundak mama mertuanya sebagai bentuk dukungannya, karena wanita itu pun tidak tahu mau mengatakan apa lagi.


Meta menoleh ke arah Tsania, dan melihat wajah Tsania yang semakin pucat.


"Pa, Dimas, sebaiknya Mama dan Tsania pulang dulu. Sepertinya Tsania benar-benar tidak baik-baik saja. Mama akan berusaha untuk sering-sering menemui kalian di sini. Mama berjanji tidak akan meninggalkan kalian berdua. Mama akan tetap menunggu kalian sampai kalian menyelesaikan hukuman kalian. Selama di dalam penjara, Mama harap kalian berdua bisa instrospeksi diri," Meta kini berdiri dan tidak lupa membantu Tsania untuk berdiri juga. Di saat hendak berdiri, Tsania tiba-tiba limbung hampir jatuh. Beruntungnya tangan Meta berhasil menahannya. Dimas juga refleks dan dengan sigap beranjak dari tempat duduknya menghampiri istrinya.


"Haish, kenapa kepalaku bisa tiba-tiba pusing di saat begini sih? Apa karena dari tadi aku berusaha untuk menahan rasa ingin muntahku? Lagian kenapa sih dek, tiba-tiba membuat mama ingin muntah? Apa kamu sengaja mau menunjukkan pada papamu, kalau kamu sudah ada di rahim mama?" batin Tsania yang tanpa sadar mengelus perutnya yang terlihat masih rata


"Kamu kenapa, Nia? badan kamu tidak panas sama sekali. Ada apa dengan perutmu? Apa perutmu sakit?" Tampak rasa khawatir yang tidak dibuat-buat terlukis jelas di wajah Dimas.


"Aku tidak apa-apa, Kak!" Tsania mencoba untuk tersenyum. Wanita itu ingin menepis tangan Dimas yang ada di pundaknya, namun entah kenapa dia tidak melakukannya.


Dimas kemudian merogoh sakunya. Dia mengeluarkan sebuah kartu yang sempat dia keluarkan dari dompetnya sebelum disita polisi.


"Ini kartu ini, kamu pegang saja. Di dalamnya masih ada uang yang bisa kamu gunakan untuk kebutuhan hidupmu. Aku tahu, jumlah uang di dalam itu tidak bisa menebus kesalahanku, tapi aku harap dengan uang itu bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku," Dimas berhenti sejenak untuk mengambil jeda. Pria itu tersenyum simpul dan menatap Tsania dengan tatapan penuh rasa bersalah. Sementara Tsania bergeming diam seribu bahasa, bingung dengan sikap Dimas barusan.


"Kamu juga bisa menggunakan uang itu untuk mengajukan gugatan cerai karena aku mungkin sudah tidak bisa melakukannya. Sekali lagi, aku mau minta maaf karena sudah tidak bisa menjadi suami yang baik, padahal kamu sudah berusaha untuk berubah, untuk menjadi istri yang baik. Kamu pantas untuk bahagia, Nia. Dan mungkin bahagia kamu tidak denganku. Oh ya, apartmentku juga aku kasih ke kamu. Kamu bisa tinggal di situ," sambung Dimas lagi. Kemudian pria itu menyebutkan alamat dan pin apartemennya.


"Aku hamil!" celetuk Tsania, tiba-tiba.


Tbc


,

__ADS_1


__ADS_2