Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
bab 115


__ADS_3

"Berhenti di depan itu, Pak!" Dinda menunjuk ke arah sebuah rumah sederhana berpagar hijau.


"Oh kita sudah sampai ternyata. Kenapa bisa secepat ini?" ucap Samudra seraya menepikan mobilnya.


Sementara Dinda mengernyitkan keningnya, bingung dengan maksud perkataan Samudra barusan.


"Bagaimana dia bisa bilang secepat ini? Ini bahkan sudah memakan waktu dua jam. Padahal biasanya hanya setengah jam saja," batin Dinda.


"Jangan buka pintunya!" cegah Samudra, ketika tangan Dinda bersiap hendak membuka pintu.


"Kenapa? Kalau tidak dibuka, bagaimana aku bisa keluar?" tanya Dinda. Namun wanita itu tidak mendapatkan jawaban dari atasannya itu.


 Dinda akhirnya menemukan jawaban, ketika Samudra turun dari mobil dan langsung berjalan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu untuknya.


"Ayo, keluar!" Samudra mengulurkan tangannya, hendak membantu sekretarisnya itu keluar.


Dinda sama sekali tidak menyambut tangan pria berusia 27 tahun itu. Wanita itu malah memasang wajah yang terlihat bingung dengan perubahan sikap atasannya yang kini mencoba untuk bersikap romantis.


Karena tidak mendapat respon dari Dinda, Samudra akhirnya berinisiatif sendiri, meraih tangan Dinda dan menaruh di tangannya.


"Harusnya begini. Masa kamu harus diajari sih?" omel Samudra, membuat kernyitan di kening Dinda semakin terlihat nyata.


"Aku tahu, kalau aku harus menyambut uluran tanganmu. Namun, masalahnya untuk apa harus seperti itu? Kenapa harus seformal itu? Sikap Bapak yang seperti ini, justru membuatku risih, Pak," sahut Dinda sembari keluar dari mobil.


Samudra menghela napasnya, memilih untuk tidak menanggapi ucapan wanita yang sudah dia klaim secara sepihak, sebagai calon istrinya itu.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Pak," ucap Dinda. "Padahal aku bisa pulang sendiri dengan mobilku sih?" ucap Dinda lagi, dan kali ini tentu saja dia berani mengatakannya dalam hati.


"Hmm," sahut Samudera, singkat.


"Kalau begitu, aku masuk dulu ya, Pak." Dinda memutar tubuhnya dan mulai mengayunkan kakinya melangkah menuju rumah.

__ADS_1


Kening Dinda seketika berkerut, melihat ke sampingnya. Tampak Samudra ikut melangkah bersamanya.


"Eh, Pak ... Bapak mau kemana?" Dinda langsung menghentikan langkahnya.


"Ya, tentu saja ikut masuk ke dalam. Aku mau menemui calon mertuaku," sahut Samudra, santai.


"Heh, calon mertua? Ma-maksudnya?" Dinda mengernyitkan keningnya.


"Ya, kamu itu kan calon istriku. Jadi, berarti orang tuamu adalah calon mertuaku. Sebagai calon menantu yang baik, aku harus menemui calon mertuaku. Sekalian aku mau mengatakan kalau aku dan orang tuaku akan datang melamarmu secepatnya," ucap Samudra santai tanpa beban. Tangan pria itu dimasukkan ke dalam saku celananya dan bibir pria itu tersenyum kalem.


"Pak, jangan aneh-aneh deh. Aku bahkan belum mengiyakan," protes Dinda.


"Kamu sudah mengiyakan tadi. Ayo jalan lagi!" Samudra meraih tangan Dinda, menggandeng tangan wanita itu. "Oh ya, jangan panggil aku Pak. Panggil aku Sayang, Mas atau apa terserah kamu. Yang jelas jangan 'Pak'!" sambung Samudra lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Cukup lama Samudra berada di kediaman Dinda. Sepertinya pria itu mendapatkan respon dan sambutan baik dari kedua orang tua Dinda. Terbukti ketika pria maskulin itu hendak pulang, bibir pria itu full dengan senyuman. Bahkan binar di matanya lebih bersinar dari cahaya lampu yang menerangi jalan depan rumah sekretarisnya itu.


"Apa nggak terlalu cepat ya?" tanya Dinda yang sepertinya masih belum bisa lepas dari rasa kagetnya dengan kejadian yang menurutnya sangat tiba-tiba itu.


"Untuk sesuatu yang baik, tidak perlu dilama-lamakan lagi. Kamu sudah mengenalku dan aku juga sudah. Untuk lebih mengenal sampai bagian dalamnya, kita bisa lakukan di saat sudah menikah nanti. Intinya, kamu persiapkan dirimu saja!" sahut Samudra sembari mengedipkan sebelah matanya, menggoda.


"Iya," sahut Dinda tidak bersemangat.


Tadinya gadis itu mau menolak lagi, ketika atasannya itu mengutarakan niat baiknya untuk menikahi Dinda pada kedua orangtuanya. Namun, melihat kedua orang tuanya yang begitu bahagia dan merasa antusias, Dinda akhirnya tidak tega untuk menolak dan mau tidak mau akhirnya ikut bersandiwara seakan-akan dia begitu bahagia. Sebenarnya, dirinya bukan tidak punya perasaan pada atasannya itu. Kalau boleh jujur, awal pertama melihat Samudra, dirinya sudah memiliki ketertarikan. Apalagi ketika beberapa bulan, bekerja dengan pria itu, mampu membuat dirinya semakin kagum dan memuja atasannya itu. Namun, hal yang membuat dirinya seakan berat untuk menerima lamaran pria berusia 27 tahun itu, yakni dia tidak tahu apa alasan pria itu ingin menikahinya, karena pria itu sama sekali tidak pernah mengatakan kalau dia mencintainya.


"Aku mau pulang nih. Senyum dong! Masa mau mengantarkan calon suaminya pulang, wajahmu kecut seperti itu? Kamu tidak rela aku pulang ya? Kamu sudah tidak sabar mau terus-terusan dekat denganku ya?" goda Samudra dengan penuh percaya diri.


"Heh?" wajah Dinda berubah bingung. Wanita itu juga menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, melihat sikap Samudra yang makin ke sini makin aneh menurutnya. "Pak Samudra kenapa sih? Apa kepalanya terbentur sesuatu, makanya bisa sepercaya diri itu? Kemana Pak Samudra yang dulu?" ucap Dinda pelan. Lebih tepatnya, dia berbicara pada dirinya sendiri.


"Hei, jangan bengong seperti itu! Aku tahu kalau aku tampan, tapi tidak perlu seterpesona itu. Kamu tenang saja, sebentar lagi, laki-laki tampan ini akan jadi suamimu. Kamu puas mau menatapnya sampai kapan saja," lagi-lagi ucapan penuh percaya diri dari mulut atasannya itu, membuat Dinda tercengang. Wanita itu seakan melihat sisi lain Samudra yang selama ini disembunyikan oleh pria itu.

__ADS_1


"Ya udah, Pak ... Eh, Mas, Kamu pulang saja. Dari tadi kamu sudah berkali-kali mengatakan mau pulang, tapi tidak jadi-jadi. Lagian ini sudah semakin larut," ucap Dinda akhirnya.


"Ya udah, aku pulang ya!" sebelum beranjak pergi,Samudra tiba-tiba meninggalkan kecupan singkat di kening Dinda, hingga membuat Dinda mematung saking kagetnya. Jantungnya pun tiba-tiba berdetak hebat, dan seperti sangat sulit untuk dia jinakkan.


"Udah, jangan salah tingkah seperti itu! Masa hanya dikecup sedikit saja, sudah membuatmu salah tingkah? Bagaimana kalau aku melakukan hal yang lebih dari situ?" goda Samudra melihat wajah Dinda yang sudah memerah bak kepiting rebus.


"Masss ... Sana pulang!" Dinda yang sudah tidak bisa menahan malunya lagi langsung mendorong tubuh Samudra. Sementara Pria itu tergelak sembari berjalan menuju mobilnya.


"Dasar laki-laki gila dan pemaksa!" umpat Dinda, sembari menatap mobil Samudra yang bergerak perlahan menjauh meninggalkan rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di lain tempat, tepatnya di kediaman keluarga Arsen, tampak pria itu masuk ke dalam kamar sembari membawa segelas susu di tangannya.


"Sayang, sebelum tidur, kamu minum susunya dulu!" Ucap Arsen sembari menyerahkan gelas berisi susu untuk wanita hamil ke tangan sang istri.


"Terima kasih, Mas!" Aozora tersenyum tipis dan menerima gelas berisi susu itu. Bibir wanita itu boleh tersenyum, tapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu kenapa? Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?" Arsen memicingkan matanya, menyelidik.


Aozora kembali memaksakan dirinya untuk tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan berbohong! Aku tahu kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu." ucap Arsen yang seperti cukup lihai mengendus keanehan yang diperlihatkan oleh ekspresi wajah istrinya itu.


"Emm, aku hanya khawatir dengan Tsania, Mas. Bagaimana nanti kalau dia tahu, mamanya sudah kita laporkan ke polisi? aku tahu kalau perbuatan Tante Dona sudah sangat keterlaluan, tapi bagaimanapun Tante Dona itu wanita yang melahirkan Tsania. Apalagi sekarang kondisi Tsania sedang hamil. Dia pasti akan merasa sedih, tahu mamanya di penjara. Aku takut kalau di stress yang ujung-ujungnya mempengaruhi kehamilannya," ungkap Aozora yang sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kegundahannya.


Arsen mengembuskan napasnya dengan berat, lalu tersenyum kalem.


"Untuk sementara sampai dia melahirkan, kita sembunyikan dulu fakta ini. Aku sudah mengkonfirmasikan ini pada Bella. Tapi, kalaupun pada akhirnya dia tahu, kita akan menjelaskan baik-baik. Aku yakin, Tsania akan bisa mengerti. Kamu jangan banyak berpikir dulu. Ingat, kamu juga sedang hamil!" ucap Arsen yang kemudian disusul dengan mengecup puncak kepala istrinya itu dengan lembut.


tbc

__ADS_1


__ADS_2