
"Selamat ya, Nak, sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu," Amber yang dari tadi sebenarnya sudah tidak tahan untuk menghampirinya menantunya, langsung memeluk Aozora dan mengelus-elus perut Aozora yang masih rata.
"Terima kasih, Ma. Terima kasih untuk segalanya. Semua kebaikan yang mama lakukan padaku, aku sama sekali tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Aku benar-benar bersyukur masuk dalam keluarga mama," ucap Aozora dengan sangat tulus dan mata yang sudah berembun.
Amber tersenyum seraya menangkup kedua pipi menantunya itu. "Kamu tidak perlu untuk membalasnya. Cukup kamu mencintai Arsen dengan tulus sudah lebih dari cukup untuk mama. Sekar pasti sudah bahagia di sana sekarang, melihat semua yang menyakitinya mendapatkan balasan. Sekarang, kamu jangan banyak pikiran ya, Sayang," ucap Amber dengan tatapan tulus.
Sementara itu, Hanum yang dari tadi sudah gelisah, berdeham hingga menarik perhatian semua orang yang ada di tempat itu.
"Maaf, aku izin untuk kembali bekerja ya? Mungkin dari tadi aku sudah dicariin," ucap Hanum, berusaha untuk tersenyum.
Aozora menyunggingkan senyum dan menghampiri Hanum. Istri Arsen itu tiba-tiba memeluk Hanum. Semenjak Hanum membantunya, perasaan takut kalau Hanum masih berniat untuk merebut Arsen darinya, sudah benar-benar menguap entah kemana.
"Num, terima kasih ya, sudah mau membantuku tadi. Seandainya kamu tidak cepat datang, dan berusaha mengulur waktu, mungkin Tante Dona akan berbuat sesuatu yang bisa membahayakan bayiku," ujar Aozora dengan tulus.
Hanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aku juga mau berterima kasih, sudah membantu istriku,"Arsen ikut buka suara menimpali ucapan Aozora, istrinya.
"Sudahlah, tidak perlu harus berterima kasih seperti itu. Kebetulan saja aku melihat kejadian itu. Anggap saja, aku menebus kesalahan yang sempat ingin merebut Arsen. Oh ya, sepertinya aku memang harus cepat-cepat pergi. Aku sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaanku. Bye semua!" Hanum kemudian berbalik hendak beranjak pergi.
"Tunggu dulu!" cegah Daren tiba-tiba.
Hanum yang nyaris melangkah mengurungkan niatnya dan kembali berbalik.
"Ada apa?" Hanum mengernyitkan keningnya.
"Aku seperti mengenali seragam yang kamu pakai. Itu sepertinya seragam cleaning service di rumah sakit keluargaku," ucap Daren, memicingkan matanya.
__ADS_1
"Astaga, kamu baru menyadarinya, Daren? Kamu kemana aja dari tadi, sampai baru sadar kalau seragam Hanum memang seragam cleaning service di rumah sakitmu?" bukan Hanum yang menjawab melainkan Aozora. Istri Arsen itu berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hanum memang jadi cleaning service di rumah sakitmu," imbuhnya.
Daren seketika terkesiap kaget karena dirinya memang tidak tahu sebelumnya.
"Sejak kapan?" tanya Daren.
"Sebulan yang lalu," sahut Hanum singkat.
"Sudah sebulan? Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu? Dan kenapa kamu tidak menemuiku?" tanya Daren beruntun. "Kalau kamu menemuiku, tidak mungkin kamu akan jadi cleaning service," imbuhnya.
"Aku tidak tahu kalaupun rumah sakit itu rumah sakir keluargamu. Aku justru baru tahu dari Aozora tadi. Tapi, masalah aku jadi cleaning service, aku sama sekali tidak keberatan. Toh, cleaning service itu pekerjaan halal kan? Lagian aku tidak ingin ada orang yang kehilangan pekerjaan gara-gara aku ambil posisinya." Hanum kembali tersenyum. "Sudah ya, aku pamit dulu!" Hanum kembali berbalik dan hendak melangkah.
"Jangan pergi dulu! Kita sama-sama ke sana. Takutnya kalau kamu sendiri, kamu akan diintimidasi karena meninggalkan pekerjaan tiba-tiba," pungkas Daren.
"Tapi__" Hanum hendak menolak, karena tidak ingin ada yang sampai salah paham, melihat dirinya bersama dengan anak pemilik rumah sakit. Dia tidak ingin menimbulkan rumor buruk tentang dirinya. Dia ingin bisa bekerja dengan tenang.
Daren kemudian meminta izin pada semua yang ada di tempat itu. "Ayo," tanpa sadar Daren meraih tangan Hanum dan menggenggam tangan mantan kekasih sahabatnya itu.
"Nona Hanum, kalau kamu mau, besok kamu bisa datang ke perusahaan kami. Aku akan menyiapkan posisi yang cocok untukmu," celetuk Samudra, sebelum Hanum dan Daren benar-benar pergi.
"Tidak usah! Nanti aku akan berikan dia posisi juga. Dia tidak akan jadi cleaning service. Terima kasih buat tawarannya," bukannya Hanum yang menjawab melainkan Daren.
"Ayo," ucap Daren lagi seraya kembali melangkah, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hanum.
Aozora dan Arsen sontak saling silang pandang dan tanpa ada yang meminta, pasangan suami-istri itu tersenyum penuh makna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Siang kini berganti senja. Langit sudah berubah berwarna jingga, pertanda sebentar lagi malam akan datang menyapa. Namun, entah kenapa Samudra tiba-tiba tidak ingin pulang ke apartemennya melainkan kembali ke kantor. Walaupun dia tahu, kantornya pasti sudah sepi. Bukan tanpa alasan pria itu ingin kembali ke kantor. Ia hanya ingin mengambil dokumen penting tentang kerja sama dengan perusahaan yang belum sepenuhnya dia selesaikan.
"Selamat malam, Pak!" kedatangan Samudra langsung disambut satpam yang kebetulan berjaga.
"Malam! Apa semuanya sudah pulang?" tanya Samudra dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Semuanya sudah pulang kecuali Ibu Dinda, Pak," sahut satpam itu dengan sopan.
"Hah, Dinda belum pulang?" tanya Samudra memastikan dan satpam itu mengangguk mengiyakan.
Samudra berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya udah, aku ke ruanganku dulu!" tanpa menunggu jawaban dari satpam itu, dengan sedikit berlari Samudra menuju lift.
Benar saja, begitu Samudra masuk ke ruangannya, pria itu melihat Dinda sekretarisnya sedang tertidur menyender di sofa. Di atas meja tergeletak beberapa dokumen yang sepertinya butuh tanda tangannya.
Samudra menghela napasnya dan berjalan menghampiri Dinda. Pria itu tidak langsung membangunkan sekretarisnya itu. Melainkan dia menyempatkan waktu untuk menatap wajah polos Dinda untuk beberapa saat.
"Din ... Dinda!" setelah puas menatap wajah wanita itu, Samudra akhirnya memberanikan diri untuk membangunkan Dinda dengan menepuk-nepuk pundak wanita itu dengan pelan.
Merasa ada yang menyentuh pundaknya, Dinda sontak membuka matanya dan langsung terkesiap kaget begitu melihat wajah Samudra tepat di depan matanya. Saking kagetnya, wanita itu tanpa sadar melompat hingga kepalanya membentur kepala atasannya itu.
"Aduh, ma-maaf, Pak!" Dinda sontak panik, merasa bersalah melihat Samudra yang meringis kesakitan. Saking paniknya, gadis manis itu tanpa sadar mengusap-usap jidat Samudra yang terkena sundulannya.
Mata mereka berdua tiba-tiba saling terkunci untuk beberapa saat. Detik berikutnya Dinda tersadar dan langsung menarik tangannya dari jidat Samudra.
"Ma-maaf, Pak. Aku tidak sengaja menyundul jidat, Bapak. Sumpah, aku benar-benar refleks tadi," ucap Dinda dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus.
Tbc
__ADS_1