Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Kekesalan Arsen


__ADS_3

Bagaimana, apa kamu sudah ingat siapa aku?" tanya Arsen setelah mengakhiri ceritanya.


Iya, aku ingat sekarang. Jadi kamu anak laki-laki gendut itu?" tanya Aozora dengan alis yang terangkat ke atas.


"Tolong, jangan bawa-bawa postur tubuhku yang dulu! Sekarang aku sudah tidak gendut lagi," protes Arsen membuat Aozora terbahak.


"Jadi, saat itu kamu langsung jatuh cinta padaku?" tanya Aozora lagi di sela-sela tawanya.


Arsen menganggukkan kepalanya, mengiyakan. " Emm, boleh dikatakan seperti itu, karena aku juga tidak tahu pasti. Saat itu aku memang tidak tahu jelas, perasaan yang kupunya, karena saat itu kita masih kecil. Tapi, anehnya semenjak saat itu,aku selalu ingin melihatmu walaupun dari jarak jauh. Timbul juga perasaan ingin selalu bisa melindungimu. Aku bahkan berjanji pada diri sendiri, kalau sudah dewasa aku akan menikahimu. Tapi, tenyata tiba-tiba aku tidak pernah melihatmu lagi. Aku memberanikan diri untuk tanya teman satu kelasmu. Kami tahu, aku sangat sedih begitu tahu kalau kamu dipindahkan ke sekolah lain, yang aku sendiri tidak tahu di mana," jelas Arsen. "Namun yang pasti mulai saat itu aku berjanji akan tetap mencarimu," lanjut Arsen lagi.


"Jadi, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku adalah Rara yang kamu cari?" tanya Aozora penuh selidik.


Arsen lagi-lagi tersenyum. " Saat kamu pertama kali jadi istriku, sebenarnya aku sedang berpura-pura koma,"


"Apa? Kamu berpura-pura koma? Berarti saat itu kamu mendengar semua cerita-ceritaku. Dan saat aku membersihkan tubuhmu kamu juga tahu!" sambar Aozora dengan cepat.


Arsen tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Haish, malunya!" Aozora menutup wajahnya yang memerah. Bayangan di mana dia membersihkan tubuh Arsen sewaktu masih koma, berkelebat di pikirannya, membuat wajah wanita itu semakin memerah.


"Kenapa harus malu? Tapi tunggu dulu, aku belum selesai bicara. Tolong jangan potong dulu ya. Saat itu kamu pasti menyadari tanganku yang aku tahan untuk menolak membubuhkan cap jariku di surat nikah itu kan? Itu karena aku tidak ingin menikah dengan wanita lain selain wanita yang aku suka dari kecil. Namun, karena tidak ingin ketahuan aku berpura- pura, mau tidak mau aku terpaksa mau. Tapi, aku bersyukur kalau tenyata yang aku nikahi itu justru wanita di masa kecilku. Kalau saat itu aku bangun dan menolak mentah-mentah, mungkin aku akan menyesal seumur hidup,"


"Mas Arsen kamu belum memberikan jawaban yang aku inginkan. Aku ingin tahu, dari mana kamu tahu kalau aku ini Rara, bukan tentang kepura-puraanmu." Aozora mengulangi pertanyaannya.


" Emm, Saat kamu ke kamar mandi, setelah habis curhat, aku membuka mataku berniat untuk sedikit merenggangkan ototku. Aku tidak sengaja melihat ada dompet di atas nakas yang aku tahu kalau itu milikmu. Entah kenapa ada sesuatu yang menarikku untuk menyuruhku membuka dompet itu. Kamu tahu, aku kaget melihat ada photo anak kecil yang aku cari selama ini bersama dengan mamanya. Kamu tidak tahu, bagaimana bahagianya aku ketika mengetahui kalau ternyata wanita yang aku nikahi adalah anak perempuan kecil yang aku cari selama ini. Makanya aku tidak suka ketika Daren, memanggilmu, Ra. Hanya aku yang harus memanggilmu seperti itu," kemudian Arsen pun kembali menjelaskan tentang hubungannya dengan Hanum yang hanya karena rasa kasihan bukan karena dia mencintai wanita itu.


"Wah, kamu hebat juga ya, bisa tidak jatuh cinta Padahal sampai bertahun-tahun menjalin hubungan," Aozora berdecak, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi ada satu hal yang membuatku kesal dan bahkan sampai sekarang aku masih sangat kesal kalau mengingatnya," wajah Arsen tiba-tiba berubah tegang. Mata pria itu menyiratkan rasa kesal yang amat sangat.


"Apa itu?" Aozora mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Aku kesal, kalau mengingat kamu pernah menjalin hubungan dengan Dimas. Aku kesal begitu mengetahui, kalau kamu pernah mencintai pria lain, dan bahkan sampai hampir menikah. Aku tidak bisa membayangkan apa saja yang kalian lakukan selama menjalin hubungan,"


Aozora terkekeh, merasa lucu melihat ekspresi kekesalan yang terlukis di wajah suaminya itu.


"Emangnya apa yang bisa kami lakukan? Pastinya hanya nonton,makan malam, shoping dan yang biasa dilakukan saat berpacaran. Tidak lebih dari itu,"


"Tetap saja aku kesal. Aku benar-benar tidak terima kalau bukan aku yang cinta pertamamu. Aku benci mengingat itu?" di depan Aozora sekarang, wibawa Arsen seakan hilang entah kemana. Pria itu terlihat seperti anak-anak yang sedang merajuk, membuat Aozora kembali terkekeh.


"Jangan tertawa! Tidak ada yang lucu!" cetus Arsen seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Mas, jangan kesal-kesal lagi. Walaupun kamu bukan yang pertama, tapi yang jadi suamiku kan tetap kamu," Aozora menekan-nekan pundak Arsen yang masih menatap ke arah lain.


"Tapi tetap saja, aku kesal mengingatnya!" nada bicara Arsen masih terdengar ketus.


"Atau jangan-jangan, kamu masih mencintai ,Dimas?" Arsen kembali menatap Aozora dengan alis yang naik ke atas penuh selidik.


"Apaan sih? Nggaklah! Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Ya ... Karena yang aku dengar, cinta pertama akan sulit untuk dilupakan,"


"Lagian yang bilang kalau cinta pertamaku itu Dimas, siapa? Kan aku nggak ada bilang," imbuh Aozora lagi.


"Maksudmu, selain Dimas kamu pernah menjalin hubungan dengan pria lain lagi?" mata Arsen memerah, menatap Aozora dengan tatapan tajam.


" Ti-tidak sama sekali. Maksud aku, dulu sewaktu SMA aku menyukai ketua OSIS kami. Tapi, kami tidak pernah jadian. Kami hanya sekedar dekat saja. Setelah lulus kami sudah tidak pernah bertemu lagi karena kami kuliah di tempat yang berbeda," Aozora dengan segera langsung menjelaskan, takut suaminya itu salah paham.


"Arghhh, aku semakin kesal. Kenapa bukan aku laki-laki yang pertama kamu sukai? Kamu menyebalkan!" Arsen mulai menggerutu tidak jelas. Bahkan rambutnya sudah tidak terlihat rapi lagi, karena jadi korban keisengan tangannya yang tidak berhenti mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku, Mas?"


Arsen sontak menoleh ke Aozora, mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut istrinya itu.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu? Jadi ceritaku yang panjang lebar dari tadi kamu anggap apa? Dongeng sebelum tidur?"


"Bukan begitu? Maksudku, kamu kan tidak pernah sama sekali mengatakan kalau kamu mencintaiku,"


"Apa kamu tidak bisa menyimpulkan sendiri, hah! Semua perhatianku dan semua yang aku lakukan untuk melindungimu, kamu anggap itu apa? Aku melakukannya tentu saja karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu Zora, sangat- sangat mencintaimu. Bukan hanya sekarang tapi dari dulu! Makanya aku benci mengingat kamu yang pernah mencintai laki-laki lain!" Arsen terlihat berapi-api saat meluapkan perasaannya.


"Sekarang, bagaimana dengan kamu? Apa kamu sudah mencintaiku atau belum sama sekali. Kalau belum, tidak boleh! Kamu harus mencintaiku juga. Kalau tidak, aku akan memaksamu untuk mencintaiku. Pokoknya harus! titik tidak pakai koma!"


Aozora mendengkus lalu memutar bola matanya, merasa jengah dengan sikap suaminya. "Belum aku jawab, tapi kamu sudah kasih penekanan lebih dulu. Jadi apa perlu aku menjawab pertanyaanmu lagi? Toh aku harus tetap menjawab, kalau aku mencintaimu kan? Kamu tidak menerima jawaban lain selain itu kan?"


Arsen terkekeh dan menarik tubuh Aozora kembali ke pelukannya. "Mulai sekarang, kita menjalin hubungan kita layaknya pacaran. Kita pergi menonton, shopping, makan malam, pokoknya kita nikmati hubungan kita. Tapi, aku tidak mau kita menonton dan makan di tempat yang sama dengan Dimas dulu. Pokoknya kita cari tempat lain,"


"Tapi, sudah hampir semua tempat kami kunjungi, Mas,"


"Kalau begitu kita menonton di luar negri saja," Jawab Arsen dengan enteng.


"Apaan sih? Dasar laki-laki aneh! Masa Bioskop, restoran saja dicemburui?" protes Aozora.


Saat hendak mengeratkan pelukannya, tiba-tiba ponsel Arsen berbunyi. Arsen berdecak kesal, merasa terganggu dengan panggilan itu. Namun, dia tetap merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel.


Tampak di layar ada nama Niko, yang sedang menghubunginya. "Ada apa? Bukannya aku sudah bilang, kalau hari ini kamu yang mengurus semua urusan perusahaan? Kenapa masih menghubungiku?" bentak Arsen, tanpa bertanya lebih dulu.


"Emm aku tahu, Sen. Tapi ini bukan urusan perusahaan ini menyangkut nama baik Bella," terdengar suara Niko yang panik dari ujung sana.


"Nama baik, Bella? maksudmu?"


"Kamu buka media. Sosial sekarang! Tadi, ada seorang wanita yang bernama Dona, meng-up di media sosialnya, photo-photo Bella. Wanita itu menuliskan kalau Bella adalah wanita ja*Lang, liar dan perusak hubungan. Postingannya sudah banyak mendapatkan like dan bahkan sudah banyak dibagikan oleh pengguna internet. Bagaimana ini? Adik sepupumu itu sudah banyak mendapatkan hujatan Sen?"


"Dasar wanita brengsek. Sepertinya aku tidak bisa lagi membiarkan dia. Kejahatannya sudah waktunya dibongkar!" umpat Arsenio, dengan tangan terkepal kencang.


"Niko, untuk sementara minta media untuk men take down photo- photo Bella dan perintahkan juga melarang untuk membaginya. Kasih peringatan juga bagi siapa yang semakin menyebarkannya kembali, akan dilaporkan ke polisi!"

__ADS_1


Tbc


Terima kasih banyak ya, Guys bagi yang sudah bersedia merate kembali karya ini. Aku benar-benar terharu 🙏🙏🙏


__ADS_2