Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
bertemu Danuar


__ADS_3

"Maaf, Om, agak telat datangnya, tadi ada insiden kecil. Apa Om sudah lama menunggu?" sapa Aozora begitu bertemu dengan orang yang hendak ditemuinya di restoran jepang itu.


Seseorang itu adalah seorang pria yang kalau ditilik dari wajahnya memiliki usia yang tidak-tidak jauh dari mamanya. Pria itu tidak lain adalah Danuar, pengacara keluarga yang ditunjuk mendiang mamanya dulu.


"Tidak apa-apa, Zora! Om juga belum terlalu lama kok di sini. Ayo duduk!" Danuar menunjuk kursi persis di depannya.


"Kita makan dulu ya, Om!" Danuar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Aozora mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


Setelah pelayan datang, Aozora pun memesan makanan untuknya demikian juga dengan Danuar.


"Apa yang aku minta tadi malam semuanya sudah ada, Om?" tanya Aozora setelah pelayan tadi pergi untuk mengambilkan makanan untuk mereka


"Sudah, semuanya ada di dalam tas ini," Danuar menepuk-nepuk tas kerjanya.


"Kenapa Om tadi malam langsung mau menerima panggilanku? Biasanya Om selalu menolak," tanya Aozora lagi dengan sudut alis yang sedikit naik ke atas, menatap pria paruh baya di depannya dengan tatapan menyelidik.


"Itu karena ada seseorang yang sudah memberikan keselamatan padaku," sahut Danuar ambigu.


"Om tidak tahu, kalau ternyata kamu sudah menikah dan suami kamu adalah Arsenio Reymond Pratama. Om sangat bahagia, ketika mengetahui itu, padahal Om kira kalau kamu akan menikah dengan Dimas. Selamat ya, Nak Zora, walaupun memang sudah sedikit terlambat," lanjut Danuar masih dengan senyum yang tidak tanggal dari bibirnya.


"Om, maksud Om tentang jaminan keselamatan tadi apa? Siapa yang memberikan Om jaminan keselamatan? Dan kenapa keselamatan Om harus dijamin?"


Aozora sama sekali tidak tertarik dengan ucapan selamat dari pengacara keluarga mamanya itu, karena ia cukup penasaran dengan ucapan pria itu mengenai suaminya yang memberikan jaminan keselamatan.


"Em, Maaf Om tidak bisa kasih tahu kamu, siapa yang sudah memberikan jaminan keselamatan padaku. Tapi, tentang alasan kenapa Om butuh jaminan keselamatan, itu karena selama ini Om sebenarnya berada di bawah tekanan papa dan mama tiri kamu," sahut Danuar semakin membuat Aozora semakin bingung.


"Emm, aku semakin tidak mengerti, Om?"

__ADS_1


"Nanti saja kita bicarakan, sekarang kita makan saja dulu. Makanan kita sudah datang," ucap Danuar bertepatan di saat pelayan yang tadi datang membawakan makanan pesanan mereka.


Tidak menunggu lama, dua insan berbeda usia itu pun mulai serius menikmati makan siang mereka. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua saat menikmati makanan mereka, karena memang Aozora tahu kebiasaan pengacara itu, yang tidak suka mengobrol ketika sedang makan.


"Aku sudah selesai," ucap Aozora sembari mendorong bekas makannya yang masih ada tersisa sedikit.


"Itu masih ada sisanya, Zora. Tidak baik menyisakan makanan," tegur Danuar.


"Tapi, aku sudah kenyang Om. Kalaupun aku paksakan untuk tetap makan, yang ada nanti aku bisa muntah. Jadi semakin sia-siakan kan makanannya?" Aozora memberikan pembelaan.


Danuar menghela napasnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terserah kamu lah, Zora!" pungkas Danuar yang membuat Aozora terkekeh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini semua berkas-berkas yang kamu inginkan. Om sudah mengubah sertifikat perusahaan itu kembali atas namamu. Sekarang, kamu hanya butuh tanda tangan persetujuan Tsania dan papamu agar semakin sah," ucap Danuar sembari menyerahkan map yang berisi dokumen-dokumen penting.


"Dulu, kenapa mereka bisa mengalihkan nama hak milik perusahaan atas nama mereka tanpa tandatanganku? Sekarang, kenapa aku malah butuh tanda tangan mereka?" Aozora mengernyitkan keningnya, bingung.


"Kamu lupa, hari itu aku mendatangimu dan memintamu untuk menandatangani sebuah berkas. Saat itu, aku berpura-pura terburu-buru sehingga kamu langsung menandatangani dengan cepat, tanpa membaca isinya dengan jelas,"


Aozora mengernyitkan keningnya, berusaha untuk mengingat. Setelah mengingat untuk beberapa saat, detik berikutnya, wanita itu pun mengingat momen seperti yang diceritakan oleh pengacara kepercayaan mamanya itu.


"Om, bagaimana caranya Om mendapatkan dokumen penting perusahaan ini lagi? Bukannya ini semua sudah ada di tangan wanita licik itu?"


"Aku sudah menduga kalau kamu akan bertanya seperti ini, karena aku sudah tahu kamu yang selalu bertanya secara kritis. Om menghubungi Mama tirimu, dan mengatakan kalau ada kesalahan di dokumen yang bisa merugikan mereka. Kamu kan tahu sendiri bagaimana serakahnya mama tirimu itu. Jadi, karena dia tidak mau rugi, dia memberikan dokumen-dokumen ini dan memintaku untuk memperbaikinya," jelas Danuar, seraya tersenyum smirk.


"Sekarang, hak milik perusahaan sudah kembali ke tanganmu, begitu juga dengan rumah dan harta peninggalan mamamu yang lain. Sekarang, tinggal bagaimana cara kamu mendapatkan tanda tangan Tsania dan papamu," lanjut Danuar lagi.

__ADS_1


"Tenang saja, Om. Kalau untuk itu aku sudah memikirkan caranya. Sekarang, aku mau tanya, kenapa Om dulu mau bekerja sama dengan mereka? Aku sempat kecewa pada Om," sepertinya Aozora benar-benar belum puas sebelum tahu alasan pria paruh baya di depannya itu, bisa sempat mau bekerja sama dengan papa dan mama tirinya.


Danuar tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.


"Itu karena Aditya dan Dona, mengancam akan membekukan semua rekeningku, lalu memberhentikanku sebagai pengacara keluarga. Kamu tahu sendiri kan, putri Om sedang kuliah di luar negeri dan butuh biaya yang banyak. Sementara David putra Om juga lagi mengambil S2 di luar negeri. Belum lagi istri Om yang harus cuci darah rutin karena gagal ginjal. Semuanya butuh biaya yang banyak, Zora. Om mengakui kalau Om juga ada penghasilan kalau ada kasus yang Om tangani, tapi tetap saja kalau tidak dibarengi aliran dana dari perusahaan mamamu, Om tidak akan sanggup membiayai itu semua. Makanya Om, akhirnya mau tidak mau menyanggupi permintaan mereka, walaupun sebenarnya hati Om sangat berat melakukannya," tutur Danuar panjang lebar, tanpa jeda.


"Jadi seperti itu ya Om? tapi kenapa Om tidak kasih tahu aku masalah yang menimpa Om? Aku mungkin bisa bantu,"


"Tidak semudah itu, Zora. Kamu tahu, alasan lain kenapa aku terpaksa menerima permintaan mereka, itu karena Dona mengancam, akan melenyapkanmu, kalau aku tidak menuruti permintaan mereka. Karena Om tahu, kalau kamu belum punya seseorang yang bisa melindungimu. Tapi, sekarang Om sudah tenang, karena kamu sudah menikah dengan Arsen," Danuar kembali tersenyum, tulus.


"Terima kasih, Om sudah memikirkan keselamatanku," mata Aozora berkaca-kaca menahan air mata, karena merasa terharu mengetahui kenyataan yang terlontar dari mulut pria paruh baya di depannya itu.


"Sekarang, bagaimana caranya kamu mendapatkan tanda tangan persetujuan pengalihan nama dari mereka? Apa Om boleh tahu?"


Kedua sudut bibir Aozora melengkung membentuk senyuman misterius. "Mas Arsen, menarik investasi di perusahaan papa, Om. Papa mengira kalau aku yang melakukannya, dan kemarin, Papa datang memohon agar aku mengurungkan niat untuk membatalkan penarikan investasi itu. Jadi, aku akan memanfaatkan momen itu. Om pasti paham kan maksudku?" senyum misterius dari sudut bibir Aozora sama sekali tidak tertanggal.


"Wah, ternyata suamimu bertindak dengan cepat juga. Sampai suamimu itu mau menghubungiku dan mengatakan akan menjamin keselamatanku. Suami juga menjadikanku pengacara keluarganya, karena pengacaranya yang dulu baru saja meninggal," terang Danuar.


"Jadi, Mas Arsen yang memberikan jaminan keselamatan untuk Om?"


"Haish, kenapa aku bisa keceplosan sih?" Danuar merutuki mulutnya yang tidak bisa menjaga rahasia.


"Kenapa diam, Om?" alis Aozora bertaut.


"Iya. Dia yang menghubungi Om. Om juga bingung dari mana dia bisa tahu semua yang terjadi. Sepertinya suamimu itu terlihat diam, tapi dalam diamnya dia tetap bekerja," akhirnya Danuar tidak bisa menyangkal lagi.


"Apa itu berarti dia juga di balik penyelamatanku tadi?" gumam Aozora


Tbc

__ADS_1


__ADS_2