Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Sedikit kecewa


__ADS_3

Aozora kembali ke kursinya sembari mendekap erat dokumen-dokumen yang baru saja ditandatangani oleh Aditya dan Tsania.


Baru saja dia hendak mendaratkan Boko*ngnya ke kursinya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tampak nama Arsen, suaminya terpampang di layar ponselnya.


"Mas Arsen? Kenapa dia menghubungiku?" batin Aozora sembari meletakkan dokumen yang ada di tangannya, baru dia meraih ponselnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Aozora dengan suara lembut.


"Kapan kamu pulang? Ini sudah jam berapa?" terdengar suara penuh intimidasi dari ujung sana.


Aozora sontak melihat ke arah tembok tempat di mana ada jam dinding, tergantung.


"Baru jam setengah 4 sore, Mas," sahut Aozora dengan alis bertaut.


"Pulang!" titah pria di ujung sana dengan tegas.


"Kenapa aku harus pulang sekarang? Kan masih ada setengah jam lagi," protes Aozora.


"Pulang aku bilang ya pulang! lagian kamu di kantor mau ngapain lagi? Jadi, urusan kamu sudah selesai kan?"


Alis Aozora semakin bertaut tajam mendengar ucapan suaminya itu. "Heh, dari mana Mas Arsen tahu dua manusia tadi sudah pulang?" bisik Aozora pada dirinya sendiri.


"Hei, kenapa kamu diam? Pulang sekarang!" suara pria di ujung sana terdengar tidak sabaran.


"Mas, kamu kok tahu dua manusia alien tadi baru pulang? Kamu membuntutiku ya?" bukannya langsung mengiyakan perintah suaminya, seperti biasa Aozora tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, karena rasa penasarannya.


"Si-siapa yang membuntutimu? Kamu jangan terlalu percaya diri. Aku baru saja menghubungi Niko, untuk bertanya masalah kondisi perkembangan perusahaan. Eh tanpa aku tanya, dia langsung main kasih tahu aja," sangkal Arsenio dengan suara yang awalnya gugup, tapi berubah begitu meyakinkan di akhir. Entah yang dikatakan pria itu barusan jujur atau bohong hanya dialah yang tahu.


"Iya kah?" Aozora tampak belum sepenuhnya percaya.


"Apa? Kamu tidak percaya padaku? Terserah kamu mau percaya atau tidak! Sekarang kamu pulang!" belum sempat Aozora menjawab, Arsen sudah lebih dulu memutuskan panggilan secara sepihak.

__ADS_1


"Ih, dasar laki-laki aneh bin pemaksa!" umpat Aozora, menggerutu sembari membereskan mejanya untuk bersiap-siap untuk pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada yang mau kamu jelaskan, Zora?" tanya Arsen begitu Aozora duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya, setelah baru saja tiba di rumah.


"Apa yang harus aku jelaskan?" tanya Aozora balik, dengan kening berkerut, bingung dengan maksud pertanyaan suaminya.


"Oh, jadi tidak ada ya? Lupakan!" ucap Arsen sembari kembali fokus melihat ke layar ponselnya.


"Bisa-bisanya dia tidak menceritakan kalau dia hampir saja, dicelakai orang.Wanita macam apa dia? Biasanya wanita itu kalau ada sesuatu yang terjadi padanya, buru-buru menghubungi kekasih atau suaminya seperti Hanum dulu. Tapi, kenapa dia tidak sama sekali?" Arsenio mulai menggerutu dalam hati dengan ekor mata yang sesekali melirik ke arah Aozora.


"Mas __"


"Iya, apa kamu mau menjelaskan sesuatu?" masih dipanggil sekali saja, Arsen sudah langsung menyahut dengan cepat, membuat alis Aozora seketika bertaut, penuh tanda tanya.


"Apaan sih, Mas. Emangnya apa yang harus aku jelaskan? Justru kamu yang perlu menjelaskan sesuatu,"


"Masalah, kamu yang diam-diam menghubungi Om Danuar, pengacara keluarga almarhumah mamaku, lalu memberikan jaminan keselamatan untuknya. Kenapa kamu melakukannya?" Aozora menatap Arsen dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Siapa yang menghubungi pengacara itu? kurang kerjaan sekali, aku menghubunginya?" sangkal Arsenio.


Aozora mendengus, lalu mengembuskan napas dengan sekali hentakan, kesal melihat Arsen yang tetap tidak mau jujur.


"Jujur aja kenapa sih, Mas? Om Danuar sendiri yang mengatakannya padaku. Dia tidak mungkin bohong,"


Arsenio sontak berdecak, kesal. "Sialan! Sudah aku katakan jangan dikasih tahu, tapi bisa-bisanya pria bodoh itu tidak bisa merahasiakannya," Arsenio membatin, merutuki pria bernama Danuar.


"Kenapa diam, Mas? Benar kan kamu yang menghubungi Om Danuar dan memintanya untuk membantuku?" ulang Aozora dengan tatapan penuh selidik.


"Iya, itu aku! Kenapa? Kamu mau berterima kasih? Ya udah, terima kasihmu aku terima. Itu hanya sedikit bantuan, sebagai ucapan terima kasihku karena sudah mau membantuku terapi, dan memasak makanan untukku. Dan itu juga aku lakukan karena kasihan padamu yang sudah ditipu orang yang kamu anggap keluarga," ucap Arsen yang akhirnya tidak ada cara lain lagi untuk menyangkal.

__ADS_1


"Oh, begitu?" suara Aozora terdengar lirih. Hati wanita itu sedikit kecewa mendengar alasan pria yang duduk di kursi roda itu, yang ternyata membantunya, hanya sebagai balasan atas apa yang dia lakukan pada pria itu, bukan karena pria itu memiliki rasa.


"Oh, hanya karena kasihan ternyata. Kenapa aku kecewa ya? Harusnya, aku tidak boleh berharap lebih. Lagian, kenapa aku berharap dia melakukannya karena sudah ada rasa padaku? Apa karena aku sudah mulai ada rasa juga padanya?" Aozora bertanya-tanya pada dirinya sendiri, yang dia sudah tahu, tidak akan mendapatkan jawaban apapun.


"Tidak, tidak! Aku tidak mungkin secepat ini ada rasa untuknya. Dan tentu saja dia juga tidak mungkin punya rasa padaku, karena aku tahu kalau dia sangat mencintai wanita bernama Hanum itu," saat memikirkan perasaan cinta Arsen pada Hanum, Aozora merasakan hatinya sedikit tercubit.


"Hei, kenapa kamu jadi diam?" Arsenio kembali bersuara, membuat Aozora sedikit terjengkit kaget, tersadar seketika dari alam bawah sadarnya.


"Oh, tidak apa-apa kok, Mas," sahut Aozora dengan bibir yang dipaksakan untuk tersenyum.


"Oh ya, Mas. Aku mau tanya satu lagi. Emm, tadi aku hampir saja, dicelakai orang yang tidak aku kenal, tapi tiba-tiba ada dua pria yang menyelamatkanku. Dan katanya mereka disuruh oleh seseorang untuk melindungiku. Apa seseorang itu, kamu?" tanya Aozora, dengan tatapan kembali menyelidik


"Akhirnya secara tidak sadar dia membicarakan hal yang tadi siang terjadi padanya," Arsen tersenyum samar.


"Oh, jadi tadi kamu hendak dicelakai? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Arsen justru balik bertanya.


"Jadi, Mas tidak tahu sama sekali?" Aozora, memicingkan matanya. "Kalau dia tidak tau sama sekali, itu berarti bukan dia orang yang meminta dua pria tadi, melindungiku. Jadi siapa dong? Apa itu mama Amber?" batin Aozora.


"Hei, kenapa kamu jadi diam? Apa tiba-tiba diam itu, hobby barumu?" sentak Arsen, membuat Aozora lagi-lagi terjengkit kaget.


" Emm, jadi bukan kamu ya yang meminta dua pria itu untuk melindungiku?" tanya Aozora memastikan.


"Kenapa? Apa kamu berharap aku yang memerintahkan mereka?" tanya Arsen dengan senyum smirknya.


"Emm, ten-tentu saja tidak. Karena tidak mungkin kan seorang seperti kamu mengurusi masalah seperti itu? Lagian dua orang itu jug pernah menyelamatkanku, waktu kamu masih belum bangun dari komamu, jadi tidak mungkin kamu yang meminta mereka. Iya kan?" ucap Aozora panjang lebar.


"Sudahlah, tidak usah dibahas. Sekarang sudah waktunya kamu masak. Sana masak!" titah Arsen yang entah kenapa tiba-tiba merasa kesal dengan ucapan Aozora.


"Cih, sikap bossy-nya kumat lagi!" Aozora berdecih sembari berlalu pergi.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2