Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
103


__ADS_3

"Lebih cepat lagi, Pak, nanti kita bisa ketinggalan!" desak Hanum, yang melihat mobil yang membawa Aozora semakin menjauh.


"Iya, Mbak, iya. Masalahnya kita tidak mungkin melewati mobil dan motor-motor yang di depan kita ini, begitu saja," ucap tukang ojek yang kalau dilihat-lihat sudah tidak muda lagi.


Hanum berdecak kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Siapa ya yang bisa aku hubungi? Kalau Arsen, nomorku sudah diblokir olehnya. Kalau Tsania maupun Bella, aku sama sekali tidak punya nomor dua wanita itu," Hanum memaksa otaknya untuk berpikir. "Oh iya, aku coba hubungi Niko. Dia pasti bersama Arsen sekarang. Kalaupun tidak, setidaknya dia bisa menghubungi Arsen," batin Hanum, seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


 Di tengah laju motor yang cepat dan hembusan angin yang menerpa wajahnya, Hanum tetap berusaha untuk menghubungi Niko. Panggilannya memang terhubung, tapi sahabat Arsen itu sama sekali tidak menjawab panggilannya. Hanum, sama sekali tidak putus asa, dia tetap saja mencoba menghubungi Niko, namun tetap saja tidak dijawab oleh pria itu.


"Aduh, bagaimana ini? panggilanku sama sekali tidak diangkat. Niko mungkin lagi sibuk dan handphonenya tidak ada dengannya. Jadi, siapa yang bisa aku hubungi sekarang?" batin Hanum, yang semakin panik.


"Oh iya Daren. Aku rasa aku masih menyimpan nomor Daren. Mudah-mudahan dia belum mengganti nomornya," Hanum kembali membatin penuh harap.


Sejurus kemudian, wanita itu terlihat mulai menggeser-geser layar ponselnya, untuk mencari nomor pria yang merupakan sahabat Arsen selain Niko.


"Nah, ini dia!" Hanum langsung melakukan panggilan begitu dia menemukan kontak Daren.


"Wah, masih terhubung. Mudah-mudahan dia tidak sibuk dan panggilanku dijawab," batin Hanum penuh harap.


Sementara itu, di tempat lain tepatnya di rumah sakit tempat Hanum bekerja, Daren baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada seorang pasien yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan. Baru saja pria itu duduk dan menyenderkan tubuhnya, dia mendengar ponselnya berbunyi. Ia pun meraih ponselnya untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya.


"Hanum?" gumam Daren seraya mengernyitkan dahinya, saat melihat nama Hanum yang masih tersimpan di kontaknya.


"Ada apa dia menghubungiku?" batin Daren.


Daren hampir saja meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja, tanpa menjawab panggilan itu. Namun, entah kenapa pemikirannya berubah dan memutuskan untuk menjawab.


"Halo," ucap Daren dengan pelan.


"Astaga, syukurlah kamu angkat, Daren. Aku Hanum, kamu masih simpan nomorku kan?" suara Hanum terdengar bersamaan dengan suara angin dan suara motor yang berpadu menjadi satu. Bersyukur kalau Daren masih bisa mendengar. Bisa dipastikan kalau wanita di ujung sana pasti berbicara dengan setengah berteriak.


"Iya, aku masih simpan. Ada apa, Num? Kamu di mana? Kenapa terdengar sangat berisik?" tanya Daren dengan wajah meringis, saking berisiknya suara yang terdengar telinganya.


"Aku di jalan, Daren. Aku lagi mengikuti mobil yang membawa Aozora. Tolong __"


"Apa? Tunggu, tunggu. Tolong yang jelas bicara! Aku tidak mengerti. Kamu mengikuti mobil yang membawa Aozora? Siapa yang bawa?" sambar Daren dengan cepat, memotong ucapan Hanum.


"Aozora diculik mama tirinya, Daren. Sekarang aku sedang mengikuti mobil yang membawanya. Tolong kabari Arsen, karena aku tidak bisa menghubunginya. Nomorku dia blokir," Ucap Hanum dengan suara yang terdengar sangat panik.


"Kamu jangan bercanda, Num! Ini sama sekali tidak lucu!"


"Yang bilang ini lucu siapa? Please kali ini percaya padaku. Aku sama sekali tidak berbohong. Aku berani bersumpah demi Tuhan, aku akan ditabrak mobil kalau aku bohong," Hanum berusaha meyakinkan Daren.

__ADS_1


"Aku juga tidak bawa uang saking terburu-burunya. Tas aku ada di loker," terdengar lagi suara Hanum.


"Apa? Mbak tidak bawa uang? Jadi bagaimana nanti Mbak membayar ongkos ojeknya?" Daren kali ini mendengar suara laki-laki yang dia yakini adalah tukang ojeknya yang membawa Hanum.


"Pak, tolong jangan berhenti! Nanti kita bisa kehilangan jejak mobil itu!" suara Hanum terdengar bergetar saking paniknya.


"Tapi, Mbak ...."


"Please, Pak. Teman saya itu diculik dan posisinya sedang hamil. Tolong bantu aku! Membantu sesama manusia, tidak salah kan Pak. Please Pak!" Daren mendengar Hanum memohon.


"Hah, Aozora hamil?" batin Daren. " Sepertinya Hanum tidak berbohong, kalau Aozora memang sedang diculik," Daren kembali membatin.


"Baiklah, Mbak! kita kejar kembali mobil itu. Mbak tidak usah bayar pun tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang menolong. Ayo naik lagi!" titah tukang ojek itu.


"Daren apa kamu masih di sana?" suara Hanum kembali terdengar bersamaan dengan suara angin yang berhembus kencang. Pertanda kalau tukang ojek itu sudah kembali melajukan motornya.


"Iya, aku masih di sini. Ya, udah. Aku percaya padamu. Sekarang kamu ikuti saja terus mobil itu. Aku akan menghubungi Arsen sekarang. Nanti tolong kasih tahu kita, kemana wanita licik itu membawa Aozora!" pungkas Daren.


"Oke," sahut Hanun singkat. Lalu memutuskan panggilan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di lain sisi tepatnya di sebuah gedung tinggi perusahaan besar yang tidak lain perusahaan milik Arsen, tampak seorang pria tampan yang tidak lain adalah Arsen sedang berkali-kali melihat ke arah ponselnya, menunggu kabar dari sang istri seperti yang dia pesankan tadi ketika akan berangkat ke kantor.


Pria itu meraih ponselnya dan berniat menghubunginya Aozora. Namun, baru saja dia hendak menekan panggilan ke nomor sang istri tiba-tiba panggilan dari Daren sahabatnya, masuk.


"Hais, di saat perasaanku tidak tenang begini, untuk apa Daren menghubungiku," Arsen menggerutu dalam hati. Namun, walaupun dirinya menggerutu, pria itu tetap tidak ingin mengabaikan panggilan sahabatnya itu.


"Ada apa?" tanya Arsen tanpa basa-basi.


"Sen, sekarang Aozora dalam bahaya. Dia diculik mama tirinya," sama halnya dengan Arsen, Daren juga tidak mau berbasa-basi lebih dulu.


"Kamu kalau bercanda, jangan kelewatan, Daren. Ini sama sekali tidak lucu!" bentak Arsen dengan raut wajah marah bercampur panik.


"Aku sama sekali tidak bercanda. Aku tahu dari Hanum. Sekarang dia sedang mengikuti mobil yang membawa istrimu pergi,"


"Hanum?" Kening Arsen berkerut, merasa ragu ketika mendengar nama wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya selama tujuh tahun itu.


"Iya, Hanum. Tolong kali ini kamu jangan ragu. Aku yakin kalau Aozora memang benar-benar diculik. Tadi katanya dia mau menghubungimu, tapi nomor dia kamu blokir. Dan satu lagi, tadi aku sempat mendengar kalau Aozora sedang hamil, apa kamu sudah mengetahuinya?"


Mata Arsen membesar sempurna. Ada kebahagiaan mendengar kalau Aozora hamil, namun, kebahagiaan itu kini berubah jadi cemas dan panik mengingat ucapan Daren yang mengatakan istrinya diculik.

__ADS_1


"Ka-kamu tidak bohong kan?" tanya Arsen memastikan. Sumpah demi apapun baru kali ini pria itu takut akan kehilangan sesuatu. Ketakutannya melebihi takut akan kehilangan perusahaan.


"Dasar wanita brengsek! Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi! Kalau istri dan calon anakku kenapa-napa, aku tidak akan membiarkanmu hidup!" ucap Arsen dengan mata berapi-api penuh amarah. Pria itu langsung berdiri dan berlari ke luar.


Ketika hendak membuka pintu, Arsen hampir saja berbenturan dengan Niko yang berniat hendak masuk.


"Ada apa, Sen? Kenapa kamu terlihat panik seperti itu?" tanya Niko dengan kening berkerut.


"Aozora diculik mamanya Tsania. Sekarang aku tidak peduli lagi. Kalau kemarin-kemarin aku masih menunda untuk membongkar semua kejahatannya sampai Tsania melahirkan, sekarang aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Sekarang kamu ikut aku!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam mobil yang dikemudikan oleh Niko, Arsen masih menyempatkan diri untuk menghubungi supir sang istri untuk menanyakan kebenarannya dan menanyakan posisi mereka.


"Iya, Tuan?" terdengar suara sang supir dari ujung telepon.


"Istriku ada bersamamu, Pak?" tanya Arsen.


"Non Aozora belum keluar-keluar dari rumah sakit, Tuan. Dari tadi aku menunggunya, Padahal kata Non Aozora dia sudah mau keluar dari tadi," sahut supir itu dengan polosnya.


"Goblok! Istriku sekarang diculik," bentak Arsen dengan suara yang sangat tinggi.


"Tunggu! Apa tadi kamu bilang? rumah sakit?" tanya Arsen lagi di sela-sela kesadarannya yang setengah-setengah.


"I-iya, Tuan, di rumah sakit. Nona Aozora katanya ada urusan mau ke rumah sakit,"


"Oh, Shi*t. Berarti benar kalau istriku hamil. Aozora ke rumah sakit pasti mau periksa," umpat Arsen seraya memutuskan panggilan secara sepihak.


Setelah itu, Arsen menghubungi anak buahnya, mengeluarkan kata makian karena dinilai sudah gagal menjaga sang istri.


Setelah puas memaki-maki para pengawal yang ditugaskan mengawal Aozora, Arsen membuka blokiran nomor Hanum dan langsung menghubungi wanita itu.


"Arsen, syukur kamu sudah membuka blokirannya," terdengar embusan napas lega dari mulut Hanum.


"Hanum, sekarang kamu di mana? Kamu berhasil mengikuti istriku kan? Aku tidak bisa melacaknya. Mungkin ponselnya sengaja dinonaktifkan wanita laknat itu, jadi aku tidak bisa melihat GPSnya," suara Arsen terdengar bergetar saking paniknya.


"Iya, aku berhasil mengikutinya. Mereka berhenti di sebuah gedung tua. Aku akan kirimkan lokasinya padamu. Cepat ke sini, karena Aozora sedang hamil," ucap Hanum, dengan napas yang juga tidak beraturan.


Setelah mendapatkan lokasi yang dikirim oleh Hanum, Arsen kemudian menghubungi Samudra dan juga Amber mamanya.


"Sam, kamu hubungi Pak Aditya, kamu bawa juga dia sekalian. Sepertinya kejahatan Tante Dona sudah saatnya kita bongkar," ucap Arsen saat menghubungi Samudra.

__ADS_1


"Ma, sepertinya sudah saatnya kita membongkar semua kejahatan mama tirinya Aozora. Tolong, bawa polisi ya Ma. Aku akan mengirimkan lokasinya. Mudah-mudahan, kita tidak terlambat, dan Aozora baik-baik saja," ucap Arsen saat menghubungi mamanya.


Tbc


__ADS_2