
Sepuluh menit sudah Aozora dan Arsenal berada di ruangan tsania, menunggu wanita itu untuk bangun dari pingsannya.
Tidak perlu menunggu lama lagi, terdengar sebuah suara yang mirip sebuah lenguhan dan berasal dari arah ranjang tempat Tsania berbaring.
"Mas, sepertinya Tsania sudah siuman!" ucap Aozora seraya berdiri dari tempat dia duduk.
"Aduh, aku di mana? Kenapa kepalaku pusing sekali?" benar saja Tsania memang sudah siuman. Wanita itu terlihat memijat-mijat kepalanya dan sesekali meringis menahan sakit di kepalanya.
"Tsania kamu sudah bangun? Syukurlah!" ucap Aozora, seraya mengembuskan napas lega.
"Kak Zora? Kak Arsen? Ke-kenapa kalian berdua ada di sini? Dan kenapa aku ada di sini?" Tsania terlihat kaget sekaligus bingung.
"Tadi kami melihat kamu sedang menyebrang dan tiba-tiba kamu pingsan. Kami yang membawamu ke sini. Selamat ya!" terang Aozora. Wanita itu berusaha untuk tersenyum ke arah Tsania, tapi tetap saja masih terlihat sangat kaku. Karena jujur saja, ini adalah pertama kalinya mereka berdua berbicara tanpa adanya raut wajah dan nada sinis.
"Se-selamat untuk apa? Apa kakak mau mengucapkan selamat karena akhirnya aku bisa memutuskan untuk bercerai dengan Kak Dimas?"
Kedua sudut alis Aozora sontak tertarik ke atas dan rahang bawahnya tertarik ke bawah sakit kagetnya mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Tsania.
"Ka-kamu bercerai dengan Dimas?" tanya Aozora memastikan.
"Belum! Tapi aku memutuskan untuk berpisah, Kak. Aku ingin dia bisa mengejar kebahagiaannya dan aku tahu kebahagiaannya itu tidak denganku tapi ada di Bella," sahut Tsania berusaha untuk tersenyum. Namun, selebar apapun senyum wanita itu, tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang terpancar di matanya.
"Oh ya, Kak? Kata dokter apa tadi? Kenapa aku bisa pingsan? Aku tidak kenapa-kenapa kan?" Aozora semakin kaget mendengar pertanyaan Tsania.
"Ja-jangan bilang kamu juga belum tahu kalau kamu hamil?" tanya Aozora, dengan suara bergetar.
"Ha-hamil? Aku hamil, Kak?" suara Tsania juga tidak kalah bergetar.
"Iya, kamu hamil! Dan katanya usia kandunganmu sudah memasuki usia 4 minggu," terang Aozora.
Tanpa bisa ditahan, cairan bening sontak kembali mengalir membasahi pipi Tsania.
__ADS_1
"Kenapa di saat pernikahanku hancur anak ini hadir di rahimku sih? Bukan aku tidak bahagia akan jadi ibu, tapi kenapa harus sekarang?" Tsania terisak.
"Ya Tuhan, apa yang sudah aku perbuat? Kenapa bisa jadi seperti ini? Aku sudah menghancurkan pernikahan mereka." Aozora membatin dengan perasaan bersalah yang besar.
"Aku tidak mengira kalau Tsania akan hamil. Karena setahuku aku pernah mendengar kalau dia selalu mengkonsumsi pil KB karena dia belum ingin punya anak. Apa belakangan ini dia berhenti mengkonsumsinya agar bisa hamil demi mempertahankan pernikahannya dengan Dimas ya?" Aozora kembali membatin.
"Kehamilanmu sepertinya pertanda kalau kalau kamu tidak diizinkan untuk bercerai dengan Dimas, Nia," ucap Aozora dengan sangat hati-hati.
"Tapi keputusanku sudah bulat, Kak. Aku memang tidak ingin melanjutkan pernikahanku lagi karena sudah tidak ada cinta di dalamnya,"
"Tapi, anak kamu butuh seorang ayah. Dia tidak mungkin lahir tanpa seorang ayah, Nia. Sekarang cobalah untuk tidak egois. Kamu harus memikirkan anakmu juga," Aozora berusaha untuk membujuk, berharap Tsania berubah pikiran.
"Ya Tuhan, kenapa aku harus membujuknya agar berpikir ulang? Bukannya dulu ini yang aku inginkan, pernikahan mereka hancur dan bisa merasakan sakit yang kurasakan? Tapi kenapa sekarang aku justru merasa tidak bahagia sama sekali? Aku sudah seperti orang jahat." Aozora membatin. Wanita itu kini benar-benar dirasuki oleh rasa bersalah yang amat besar.
Tsania terlihat diam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Aozora. Namun, detik berikutnya wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak mau melanjutkan pernikahanku lagi. Keputusanku sudah bulat untuk tetap berpisah. Aku akan melahirkan dan merawat anak ini sendiri. Aku yang akan menjadi ibu sekaligus ayah untuknya," pungkas Tsania dengan tegas tanpa ada keraguan sama sekali.
"Nia, cobalah untuk berpikir rasional. Kamu sekarang sedang emosi jadi mudah untuk mengambil keputusan tanpa memikirkan akibat ke depan," Aozora pantang menyerah. Setidaknya dia berharap dengan dia berhasil membujuk Tsania untuk mengurungkan niatnya bercerai dengan Dimas, membuat rasa sedikit bersalahnya berkurang. Dia bisa meminta Bella untuk berhenti.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau nanti dia tahu , Bella itu adalah orang suruhanku? Apa aku harus jujur sekarang? Tapi bagaimana kalau ternyata dia tidak benar-benar berubah dan dia kasih tahu ke Dimas kebenaran nya? Rencana Arsen kan bisa gagal?" batin Aozora, dilema. Wanita itu menoleh ke Arah Arsen dengan tatapan wajah yang memelas, seakan meminta pendapat.
Menyadari istrinya menatapnya dan tahu makna tatapan itu, Arsen mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan memberikan izin dan meyakinkan kalau Tsania memang sudah benar-benar berubah.
Aozora kemudian kembali menatap ke arah Tsania yang sedang mengelus-elus perutnya.
"Nia, kalau aku mengatakan sebuah kebenaran, apa kamu akan tetap pada keputusanmu?" tanya Aozora dengan sangat hati-hati.
Tsania mengangkat wajahnya, menatap Aozora dengan kening berkerut.
"Kebenaran apa?" tanya wanita hamil itu.
Aozora menarik napas lebih dulu dan mengembuskannya perlahan. Sementara Tsania Masib setia menunggu penjelasan Aozora.
__ADS_1
"Sebenarnya, Bella itu orang suruhanku untuk mendekati Dimas. Bella tidak benar-benar mencintai Dimas, seperti yang kamu pikirkan," akhirnya Aozora memilih untuk berkata jujur.
Tsania bergeming diam seribu bahasa, layaknya sebuah patung. Wanita itu sepertinya masih berusaha mencerna pengakuan Aozora yang baru saja dia dengar.
"Aku minta Maaf. Aku mengakui kalau perbuatanku memang keterlaluan, tapi itu aku lakukan karena ingin membalaskan sakit hatiku, dan aku ingin kamu bisa merasakan bagaimana rasanya dikhianati. Setelah hubungan kalian hancur, aku berencana meminta Bella untuk meninggalkan Dimas juga, agar Dimas bisa merasakan sakit ditinggalkan oleh orang yang dia cintai," lanjut Aozora lagi. "Sekarang kamu bisa memikirkan ulang keputusanmu," pungkas Aozora, mengakhiri pengakuannya.
Cukup lama Tsania terdiam. Jujur dia tidak menyangka kalau kakaknya yang dia kenal baik itu, bisa sampai melakukan hal yang seperti itu.
"Kamu coba pikirkan lagi. Keputusan ada di tanganmu. Sekali lagi aku mau minta maaf! Kami pergi dulu ya! Semua administrasi rumah sakit, sudah kami bayarkan!" Aozora berbalik hendak beranjak pergi.
"Kak Aozora, tunggu!" cegah Tsania, membuat Aozora mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik.
"Keputusanku tetap sama, walaupun aku sudah tahu kebenarannya," tegas Tsania membuat Aozora terkesiap kaget.
"Kakak tidak perlu minta maaf, karena itu bukan murni kesalahanmu, Kak. Aku tahu benar alasan kenapa Kakak melakukan itu. Justru sekarang aku bersyukur karena aku bisa merasakan sakitnya dikhianati seperti Kakak. Secara tidak langsung, Kakak sudah memberikan aku sedikit pelajaran. Dan setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi pada wanita lain." Tsania berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus menghirup oksigen untuk mengisi kembali rongga-rongga paru-parunya yang sudah mulai kosong.
"Alasan kedua kenapa aku tetap pada keputusanku, karena aku menyadari kalau memang dari awal cinta yang kami miliki bukan cinta yang sebenarnya ,tapi hanya nap*su. Kalau Kak Dimas benar-benar mencintaiku, sebesar apapun godaannya dia pasti tidak akan tergoda. Sekarang aku justru berterima kasih kepada Kakak, karena dengan rencana Kakak itu, secara tidak langsung, Kakak sudah menunjukkan bagaimana kelakuan Dimas sebenarnya. Aku tidak bisa menjamin kalau suatu saat ada wanita lain yang lebih menggoda, dia tidak akan tergoda lagi. Aku tidak mau anakku melihat kelakuan papanya nanti yang suka menyakiti wanita kak," lanjut Tsania lagi dengan raut wajah sendu.
Arsen dan Aozora sontak saling silang pandang, tidak menyangka kalau wanita yang mereka tahu manja dan licik itu bisa sebijak itu.
"Aku juga tidak mau kalau nanti anakku mengalami hal yang sama seperti yang Kak Zora alami. Hidup bersama seorang ayah yang tidak mencintai ibunya dan malah mencintai wanita lain. Pasti rasanya sakit kan kak?"
Aozora terdiam dan tanpa dia sadari cairan bening berhasil lolos dari matanya. Dia ingin sekali menjawab, 'iya, rasanya sangat sakit'. Namun Aozora memilih untuk diam.
"Kak, sekarang bolehkah aku meminta satu hal?"
"Apa?" tanya Aozora, singkat.
"Bolehkah sekarang kamu memelukku layaknya seorang Kakak pada adiknya?"
Tbc
__ADS_1