
"Kami sudah berhasil kabur, Tuan!" Dimas yang tadinya merasa was-was, kini mengembuskan napas lega, ketika mendapatkan pesan dari orang-orang suruhannya.
"Bagus! Tapi, kalian tadi tidak sempat memberitahukan kalau kalian suruhanku, kan?" balas Dimas memastikan.
"Tenang, Tuan. Sebelum diinterogasi kami sudah lebih dulu kabur," Dimas semakin lega mendapatkan balasan seperti itu dari anak buahnya.
"Untuk sekarang, aku aman. Semoga nanti Arsen tidak menyadari ada yang hilang di kamarnya. Dan sebelum dia menyadarinya, aku harus bertindak cepat," batin Dimas, dengan sudut bibir tersenyum smirk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini semua yang kalian minta," Hanum menyerahkan map-map yang ada di tangannya ke tangan Dimas.
Dengan mata yang berbinar dan senyum yang merekah, Dimas menerima map-map itu dari tangan Hanum.
"Sini, Papa mau lihat dulu!" Damian terlihat tidak sabar dan langsung merampas map-map itu dari tangan Dimas. Kemudian, pria paruh baya itu membuka dan memeriksa isinya.
"Hahahahaha, akhirnya ini semua akan jadi milik kita. Kita sebentar lagi akan merajai bisnis di negara ini. Papa sudah capek jadi bawahan keponakan sendiri!" sorak Damian dengan tawa puas.
"Papa benar. Sebentar lagi kita akan jadi orang terkaya di negara ini. Aku akan dihormati dan dipandang oleh orang-orang. Semua mulut yang dulu menghinaku, akan kubeli satu-satu!" timpal Dimas.
"Dasar, manusia-manusia tamak!" umpat Hanum yang tentunya hanya berani dia ucapkan dalam hati.
"Tertawalah sepuasnya kalian berdua sekarang! Karena besok-besok belum tentu kalian berdua bisa tertawa lagi!" lagi-lagi Hanum bermonolog dalam hatinya.
"Tugasku sudah selesai. Aku sudah bisa pulang kan?" tanya Hanum, yang sudah tidak betah berlama-lama dengan dua pria tamak di depannya itu.
Tawa Damian dan Dimas sontak berhenti dan secara bersamaan menoleh ke arah Hanum.
"Iya, kamu boleh pulang sekarang! Kamu sudah tidak kami perlukan lagi. Kamu sudah tidak ada gunanya lagi bagi kami! Hush ... Hush sana pergi!" Dimas mengusir Hanum dengan cara mengibaskan-ngibaskan jarinya.
"Brengsek kamu!" umpat Hanum seraya beranjak pergi.
Baru berjalan beberapa langkah, Hanum kembali menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Apa itu berarti kalian tidak akan mengusik papaku lagi? Kalian tidak akan mengungkit-ungkit masalah uang yang dikorupsi papaku kan?" tanya Hanum memastikan.
"Kalau diperlukan kami tentu saja akan mengungkitnya," sahut Dimas, tersenyum sinis.
__ADS_1
"Brengsek kamu! Jangan kira aku akan takut lagi. Sekarang juga aku bisa menghubungi Arsen dan memberitahu semua yang terjadi hari ini," Hanum merogoh ponselnya dai dalam tasnya dan terlihat seperti hendak menghubungi Arsen.
"Berani kamu menghubunginya, aku patahkan lehermu sekarang!" Dimas dengan cepat menghambur ke arah Hanum, hendak merampas ponsel itu dari tangan wanita itu.
Namun, Hanum yang sudah waspada langsung menghindar dengan berlari.
"Jangan kabur kamu wanita sialan! Kamu kira kamu bisa lepas dari kejaranku!" Dimas yang yang tidak mau kehilangan jejak, langsung berlari mengejar Hanum.
Hanum tiba-tiba berhenti dan menoleh. "Stop!" pekik wanita itu dengan napas yang terengah-engah.
Bukannya berhenti Dimas malah melangkah mendekat seraya menyeringai sinis.
"Kamu masih berani melangkah, aku tidak akan segan-segan untuk berteriak. Aku akan mengatakan kalau kami hendak melecehkanku. Kamu tahu kan apa akibatnya kalau orang-orang yang ada di sini mengeroyokmu?" ancam Hanum dengan suara bergetar. Sumpah demi apapun, wanita itu sedang takut sekarang.
Ancaman Hanum barusan sontak membuat Dimas menghentikan langkahnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman, yang ternyata masih lumayan ramai orang, mengingat kalau malam ini adalah malam Minggu.
"Dasar wanita sialan! Sekarang apa mau mu? Aku akan memenuhinya, asal kamu jangan memberitahukan Arsen kejadian hari ini!" pungkas Dimas akhirnya
"Keinginanku hanya satu. Kalian berhenti mengungkit masalah korupsi papaku dulu! Berhenti mengancamku menggunakan masalah korupsi papaku! Bisa kan?" ucap Hanum, dengan lantang.
Dimas berdecak kesal lalu menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Biarlah aku mengalah untuk saat ini, yang penting dia tidak bocor ke Arsen. Setelah urusan pemindahan nama aset-aset Arsen selesai, aku akan kembali memanfaatkanmu untuk jadi budakku. Kan sayang, kalau nganggurin tenaga gratis," Dimas berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku tidak bodoh, Dimas. Sebelum mengutamakan keinginanku ini, aku sudah menyediakan surat perjanjian lebih dulu, yang menyatakan Papa tidak punya sangkutan hutang-hutang lagi. Sekarang kamu tanda tangani!" Hanum mengeluarkan selembar kertas dan sebuah pena dari dalam tasnya.
"Cepat tanda tangan! Kalau tidak, aku akan teriak!" desak Hanum lagi, melihat tidak adanya pergerakan dari pria di depannya itu.
"Brengsek! Dasar wanita sialan! Jadi gagal kan dapat budak gratis!" umpat Dimas dalam hati.
Karena tidak ingin wanita di depannya itu berteriak, Dimas akhirnya meraih surat perjanjian itu dari tangan Hanum. Pria itu semakin kesal ketika ternyata wanita itu sudah mempersiapkan semuanya, termasuk materai yang berarti sudah berbadan hukum.
"Ayo cepat tanda tangan! Kenapa masih diam?" Hanum terlihat tidak sabar.
"Ahh,bodo amatlah. Aku tanda tangani saja lah! Toh sebentar lagi aku juga akan jadi konglomerat. Aku akan mudah mencari orang-orang yang bisa aku manfaatkan nanti," akhirnya Dimas pun membubuhkan tandatangannya di atas materai dan di atas mamanya.
"Terima kasih!" Hanum merampas surat yang sudah ditandatangani oleh Dimas itu dengan tersenyum puas. Kemudian, wanita itu berbalik dan berlalu pergi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di kediaman Arsen, tepatnya di kamar pria itu dan Aozora, tampak pasangan suami istri itu sudah berada di ranjang. Mereka berdua sepertinya sudah bersiap-siap hendak tidur.
"Mas, sepertinya sikap Dimas dan Om Damian, tadi sedikit mencurigakan. Apa itu hanya perasaanku saja?" tanya Aozora, menoleh ke arah Arsen yang masih menatap layar ponselnya.
Arsen tidak langsung menjawab. Pria itu terlihat serius mengetik sesuatu di ponselnya.
Aozora berdecak kesal, merasa diabaikan oleh suaminya itu. Kemudian, ia mengangkat kepalanya, berusaha untuk mengintip ponsel suaminya itu.
Wajah Aozora tiba-tiba berubah sendu saat melihat nama seseorang di layar ponsel suaminya itu. Dan sekarang posisinya sang suami sedang mengirimkan pesan padanya.
"Kamu tadi bilang apa, Ra?" tanya Arsen tiba-tiba setelah meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Tidak ada. Kita tidur saja!" Aozora yang sudah kehilangan moodnya langsung berbaring membelakangi suaminya itu.
Arsen mengernyitkan keningnya, bingung dengan perubahan sikap Aozora yang tiba-tiba.
"Kamu kenapa? Apa kamu marah karena tadi aku tidak langsung menanggapi pertanyaanmu? Kalau iya, aku minta maaf!" ucap Arsen, lembut.
"Aku tidak marah. Untuk apa aku marah? Kan memang sudah biasa begitu. Aku hanya ngantuk dan ingin tidur. Selamat malam!" sahut Aozora ketus sembari memejamkan matanya.
Arsen tersenyum dan ikut berbaring. Tangan pria itu kemudian memeluk perut Aozora dari belakang. Dan lagi-lagi pelukan pria itu membuat jantung Aozora bernyanyi.
"Kamu jangan membelakangiku. Benar-benar tidak sopan kalau memunggungi suami!" ucap Arsen seraya mengecup tengkuk leher Aozora.
"Mas, geli!" Aozora bergidik.
"Makanya jangan memunggungiku. Kamu juga belum kasih hadiah apapun padaku kan? Mana hadiah kamu?" tuntut Arsen seraya berusaha membalik tubuh Aozora agar menghadap ke arahnya.
"Kamu sudah punya segalanya. Aku bingung mau kasih kamu apa. Tapi, sebenarnya aku sudah beli kemeja dan dasi untukmu. Tapi ternyata, yang aku beli itu, kamu sudah punya sebelumnya, makanya aku tidak jadi memberikannya padamu," ucap Aozora dengan suara yang sangat pelan.
Arsen tersenyum dan dengan cepat mengecup bibir istrinya itu. "Tidak apa-apa, besok kami kasih aja padaku, dan aku akan memakainya hari Senin ke kantor. Sekarang aku mau hadiah yang lain dari kamu," ucap Arsen, ambigu.
"Apa?" tanya Aozora dengan polosnya.
Arsen tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru langsung menyambar bibir Aozora dan melumatkan dengan lembut. Yang awalnya lembut lama kelamaan berubah menjadi ciuman yang menuntut lebih.
__ADS_1
Karena serangan Arsen, membuat Aozora seketika lupa untuk mengungkapkan kembali kecurigaannya pada sikap Dimas dan Damian papa pria itu.
Tbc