
"A-Arsen? Ka-kamu?" gumam Dimas, dengan suara bergetar.
Ya, pria yang baru saja datang itu ternyata adalah Arsen. Pria itu terlihat menyeringai, menatap sinis ke arah dua pria di depannya.
"Kenapa? Kalian kaget?" sudut bibir Arsenio melengkung membentuk senyum sinis. Pria itu mengayunkan kakinya melangkah mendekati dua pria yang sudah terlihat pucat itu.
Arsen mendaratkan tubuhnya, duduk dengan menyilangkan kakinya. Tatapan pria itu terlihat sangat tajam dan sama sekali tidak lepas dari paman dan sepupunya itu.
"Segitu inginnya ya kalian menguasai perusahaan dan aset-asetku? Sampai berbuat licik seperti ini?" senyum Arsen kini sudah hilang dari bibirnya. Yang terlihat kini hanya seringaian sinis.
Damian mendengkus dan menatap Arsen dengan tatapan penuh kebencian.
"Sepertinya kami tidak perlu berpura-pura lagi! Sudah ketahuan ini, jadi kami mau mengaku saja. Iya ... Kami memang menginginkan perusahaanmu, karena bagaimanapun itu dulu adalah perusahaan papaku, kakekmu. Jadi, aku merasa kalau aku masih punya hak di dalamnya. Tapi, kamu dengan serakah, menjadikan kami hanya karyawanmu saja. Harusnya, kamu kasih kami saham juga," tutur Damian panjang lebar dan berapi-api.
Arsen kembali tersenyum smirk kemudian disusul dengan decakan kesal dari mulut pria tampan itu.
"Ternyata Paman mengalami amnesia setelah kebangkrutan perusahaan paman itu. Kasihan sekali almarhum Kakek punya anak seperti Paman," sindir Arsen.
"Diam kamu! Jangan bawa-bawa nama almarhum Papaku dengan mulut busukmu itu!" bentak Damian.
"Apa nggak kebalik paman? Bukannya ... maaf ya, tanpa mengurangi kesopanan ... Bukannya mulut Paman yang tidak pantas menyebut nama Kakek? Karena sebagai putranya, Paman sudah mengkhianati usaha Kakek selama hidupnya," Arsen diam untuk beberapa saat untuk mengambil jeda.
"Kakek sudah berusaha untuk bersikap adil pada papaku dan paman dengan membagi perusahaan sama rata, tapi Paman sendiri yang menghancurkan bagian paman kan? Sekarang apa? Apa tadi yang Paman katakan? Paman punya hak di perusahaan yang aku kelola? CK ... Paman sama sekali tidak punya hak. Seharusnya paman bersyukur, aku masih membiarkan paman dan Dimas bekerja di perusahaanku, dan memberikan gaji yang sangat tinggi sangat jauh berbeda dengan karyawan-karyawan lain. Bahkan gaji yang Paman dan Dimas dapatkan hanya beda sedikit dengan Niko," sambung Arsen lagi.
__ADS_1
"Diam kamu! Papa kamu sudah mati, seharusnya perusahaan itu kembali ke tanganku selaku anak kakekmu yang masih hidup. Bukan malah kamu yang menguasainya!" mata Damian terlihat berapi-api penuh amarah saat menatap Arsen.
Arsen kembali berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Paman. Perusahaan itu sudah atas nama papaku dan bagian papaku dari kakek, jadi aku yang merupakan anaknya lah yang patut mewarisinya. Lagian, Paman jangan lupa, perusahaan itu dikembangkan papaku hingga berkembang dengan pesat dan memiliki banyak cabang, Bagaimana bisa Paman punya keberanian mengatakan kalau paman masih punya hak di perusahaan itu?" lanjut Arsen dengan tatapan yang semakin tajam.
"Hei, aku tahu papamu yang mengembangkan perusahaan itu, tapi intinya,itu perusahaan dulu milik kakekmu, jadi begitu papamu mati, harusnya aku satu-satunya anak kakekmu yang hiduplah yang pantas memiliki perusahaan itu. Paham kamu! Lagian, kenapa kamu tidak ikut mati saja sih seperti papamu?"
Arsen menggertakan giginya. Tangannya terkepal kencang, dan napas pria itu terlihat memburu. Bahkan kilatan kemarahan di mata pria itu, terlihat semakin tajam, pertanda amarah pria itu sudah sampai ke ubun-ubun.
"Paman, selama ini aku sudah cukup bersabar, walaupun sebenarnya aku sudah lama tahu maksud dan niat terselubung kalian berdua yang ingin mendapatkan perusahaanku, bagaimanapun caranya. Meskipun itu sampai ingin melenyapkanku. Tapi,aku masih berusaha untuk tidak bertindak, mengingat kalian masih keluarga. Tapi, sepertinya kalian semakin menjadi-jadi. Aku sudah tidak bisa diam lagi, dan harus ambil tindakan tegas," ucap Arsen dengan tegas tanpa mengurangi kadar tatapan tajamnya.
"A-apa maksudmu? Siapa yang ingin mencelakaimu? Aku tidak pernah menyabotase mobilmu saat itu?" ucap Damian tanpa sadar.
Tawa Arsen tiba-tiba pecah dan terdengar sinis. "Padahal aku tidak menyinggung masalah kecelakaan yang aku alami saat itu. Tapi, bagaimana Paman bisa sampai menyinggung kejadian itu. Apa itu berarti paman punya andil di dalam kecelakaan yang menimpaku?" Arsenal menaikkan sudut alisnya, menatap curiga ke arah Damian.
Raut wajah Damian seketika berubah pucat, demikian juga dengan Dimas.
"Kalian diam, berarti benar, kalau kalian berdua punya andil dalam kecelakaanku saat itu. Ternyata kalian sangat ingin aku mati, ya?"
"Kalau iya kenapa? Iya, kami yang menyabotase mobilmu. Kami benar-benar menginginkan kematianmu, Arsenio Raymond! Kamu itu adalah orang yang paling ingin aku singkirkan dari dunia ini. Kedua, mama kamu yang angkuh itu. Aku muak melihat kalian berdua!" pekik Damian dengan suara meninggi. Pria paruh baya itu sepertinya sudah tidak bisa menyimpan rasa kebenciannya lagi pada Amber dan Arsen keponakannya.
"Akhirnya kalian mengakui kejahatan kalian. Sebenarnya aku sudah tahu, tapi aku hanya pura-pura tidak tahu, mengingat kalian adalah keluargaku dan karena kasihan pada Tante Meta yang pasti akan terpukul, kalau suami dan anaknya, ternyata tidak sebaik yang Tante Meta pikirkan. Tapi, seperti yang aku katakan tadi, kesabaranku sudah habis, dan aku harus bertindak!" ucap Arsen panjang lebar dan tegas.
"Arsen, aku tahu kamu hebat, tapi sehebat-hebatnya kamu ... kamu tidak akan mungkin bisa melawan kami sekarang. Lihat, kamu sendiri dan aku punya anak buah. Jadi, sebelum terjadi sesuatu padamu, sebaiknya kamu pergi dari sini!" Dimas yang tadi hanya diam, akhirnya buka suara. Pria itu sekarang tersenyum sinis, merasa kalau posisinya sekarang ada di pihak yang menang sedangkan sepupunya itu, ada di posisi terdesak mengingat sang sepupunya itu kalah jumlah dibandingkan dengan jumlah mereka sekarang.
__ADS_1
Arsen tidak menanggapi sama sekali. Pria itu bersedekap di dada dan tersenyum smirk. Ia sepertinya tidak gentar dengan ancaman Damian.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Kamu meremehkan kami?" bentak Damian, kesal melihat senyum meremehkan di bibir Arsen. Namun, lagi-lagi Arsen tidak menjawab. Pria masih tetap tersenyum dan senyum pria itu terlihat misterius.
Damian sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi. Ia pun menoleh ke arah 4 orang anak buahnya yang masih tetap berdiri di samping istri Danuar yang masih terlihat ketakutan
"Hei, kenapa kalian berempat masih diam di situ? Serang dia!" titah Damian dengan suara menggelegar.
Ke empat anak buahnya itu sama sekali tidak bergerak dari tempat mereka berdiri. Mereka seakan tidak peduli dengan gelegar suara Damian yang tinggi.
"Hei, kalian semua punya telinga nggak? Kenapa masih diam?" kali ini suara Dimas yang terdengar.
" Bukannya tadi aku sudah mengatakan, kalau mereka tidak akan mendengarkan perintah kalian?" celetuk Arsen dengan seringaian tipis di bibirnya.
"Apa kalian berdua mau tau alasannya? itu karena mereka itu sebenarnya anak buahku. Mereka hanya berpura-pura patuh terhadap kalian atas perintahku!" sambung Arsen tanpa menanggalkan seringaiannya.
Wajah Damian dan Dimas sontak berubah pucat mendengar ucapan Arsen barusan.
"A-apa? Jadi kalian semua ...." Damian tidak bisa melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya seperti tercekat, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja,pria itu mengalami kesulitan.
"Kalian semua penghianat! berarti saat itu kalian tidak benar-benar gagal membakar pabrik itu, tapi kalian memang tidak melakukannya!" pekik Damian dengan suara menggelegar.
"Cara licik Paman memang seharusnya dibalas licik, Paman. Kenapa paman selalu gagal menjatuhkanku saat ingin mencelakaiku? Apa paman tidak pernah berpikir alasannya kenapa? Itu karena anak buah yang Paman tempatkan untuk memata-mataiku, adalah orangku. Dia aku minta berpura-pura untuk patuh pada Paman supaya bisa menginformasikan apapun rencana busuk paman dan Dimas, termasuk saat paman ingin mencelakai Aozora dan mamaku saat pernikahan Dimas,"
__ADS_1
Mata Damian dan Dimas membesar sempurna, kaget mendengar kenyataan yang baru saja terlontar dari mulut Arsen.
Tbc