Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aku juga tidak minta dilahirkan


__ADS_3

"Bella kemana sih? Sudah 2 hari ini dia mengabaikanku. Dan ini terjadi ketika si wanita murahan itu datang membawa makanan ke kantor. Apa saat itu Bella tidak benar-benar pergi dan mendengar perdebatan kami, yang aku masih menyentuh Tsania selama ini?" batin Dimas, seraya mondar-mandir di kamarnya.


"Iya, Bella pasti marah dan merasa dipermainkan. Arghhh, ini semua gara-gara wanita tidak tahu diri itu!" Dimas mengacak-acak rambutnya. Pria itu terlihat frustasi..


"Bella, di mana sih kamu, Sayang? Sudah dua hari aku tidak melihat wajahmu dan sudah dua hari juga kamu tidak menjawab panggilan dan pesanku. Please jangan marah!" Dimas mengusap wajahnya dengan kasar.


Dimas kemudian meraih ponselnya kembali. Pria itu kembali mencoba untuk menghubungi Bella, namun seperti biasa yang merespon adalah suara operator.


"Aku kirim pesan aja kali ya? Mungkin nanti saat dia mengaktifkan nomornya dia bisa membaca pesanku," gumam Dimas.


Dimas pun mengangguk-anggukkan kepala, merasa kalau mengirimkan pesan adalah cara satu-satunya.


"Sayang, kamu kemana aja sih? Aku sangat merindukanmu. Oh ya, Sayang, aku punya kabar baik, semua surat-surat kepemilikan perusahaan dan aset-aset perusahaan Arsen sudah kembali kepadaku. Hari Senin aku hanya tinggal menemui pengacara untuk mengalihkan nama atas namaku. Aku juga akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Setelah semua urusan selesai, aku akan melamarmu. Kamu pasti bahagia kan? Kamu tenang saja, aku yakin mamaku pasti akan bisa cepat menerimamu," Dimas pun menekan tombol kirim.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, tepatnya di apartemen Aozora yang kini dihuni oleh Tsania, tampak wanita hamil itu sedang berbincang dengan seorang wanita, yang tidak lain adalah Bella.


Ya, dua wanita itu sekarang tinggal bersama dan sudah akrab. Bella sudah minta maaf, dan Tsania sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Jadi, kamu dan Kak Dimas sudah tidak berkomunikasi lagi?" tanya Tsania setelah mereka sudah menghabiskan beberapa menit bercerita.


Bella tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku sudah buang nomorku yang biasa aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Yang sekarang aku gunakan nomor asliku dan dia sama sekali tidak tahu," sahut Bella. "Dua hari lagi, kemungkinan aku akan kembali dulu ke Amerika untuk sementara," imbuhnya.


"Kasihan Kak Dimas. Dia pasti frustasi nantinya kalau kamu tiba-tiba tidak ada kabar," raut wajah Tsania berubah sendu.


"Untuk apa kasihan pada laki-laki seperti itu. Apa kamu berencana untuk kembali lagi padanya?" Bella memicingkan mata, menyelidik.

__ADS_1


Tsania menggelengkan kepalanya, lemah.


"Aku tidak punya rencana sama sekali untuk kembali padanya. Bahkan setelah urusan perceraianku selesai, aku berniat untuk meninggalkan kota ini dan pindah ke Bali," sahut Tsania seraya tersenyum tipis.


"Seandainya kandungan kamu sudah 4 bulan dan cukup aman untuk bisa terbang, aku tidak keberatan membawa kamu ke Amerika bersamaku,"


Tsania kembali tersenyum mendengar ucapan Bella. "Terima kasih, untuk niat baikmu, Bel. Tapi, sebenarnya aku juga tidak punya niat untuk ke luar negri. Jauh dari kota ini saja sudah cukup,"


Di saat Tsania selesai mengucapkan terima kasihnya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tsania pun meraih ponselnya dan melihat di layar ada nama mamanya yang sedang menghubunginya.


"Ada apa lagi, Ma?" tanya Tsania.


"Kamu di mana hah? Dasar anak durhaka! Kata mbak Meta kamu sudah keluar dari rumah mereka dan kamu mau bercerai. Kamu sudah gila ya?" terdengar bentakan keras dari mamanya di ujung telepon.


"Maaf, Ma. Aku sudah tidak bisa menjalani pernikahan yang memang sudah rusak dari awal. Aku juga tidak mau dimanfaatkan oleh mama lagi," sahut Tsania tegas.


Tsania menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan, sebelum menanggapi ucapan mamanya.


"Ma, bukan aku yang durhaka. Mama harusnya instrospeksi, kalau mama yang sebenarnya yang durhaka pada anak sendiri," ucap Tsania dengan berani.


"Tsania! Mama tidak durhaka. Mama sudah melahirkanmu, jadi sudah sepantasnya kamu membalasnya dengan berbakti pada mama,"


"Ma, bukan keinginanku untuk dilahirkan. Justru Mama yang menginginkan kelahiranku, agar mama punya alasan supaya papa menikahi mama," sahut Tsania.


"Diam kamu Tsania! Dasar anak kurang ajar. Terserah kamu mau mengatakan apapun tentang mama. Yang jelas mama melakukan semua ini demi kamu!" bentak Dona.


"Demi aku atau demi mama? Mama melakukan itu semua demi ambisi Mama, bukan demi aku,"

__ADS_1


"Diam kamu! Kalau kamu tidak tahu, kamu tidak boleh banyak bicara. Intinya, mama tidak mau tahu, kamu harus tetap sama Dimas. Kalau tidak, Mama tidak akan main-main, semua photo-photo dan Video asusila kamu akan mama sebarkan!" Dona kembali mengancam.


"Terserah, Ma. Aku sudah capek! Mama mau sebarin, aku sudah tidak peduli lagi! Aku tutup teleponnya ya!"


"Tunggu, Tsania, jangan tutup dulu!" mendengar teriakan mamanya, Tsania mengurungkan niatnya untuk memutuskan panggilan.


"Ada apa lagi, Ma?" tanya wanita hamil itu.


"Sekarang kamu di mana? Boleh nggak mama dan papa tinggal bersamamu?" kali ini suara Dona terdengar lembut.


"Kenapa Mama mau tinggal bersamaku?" Tsania mengernyitkan keningnya, walaupun yang dapat melihat kernyitan di keningnya itu hanya Bella.


"Dimas sudah mengusir kami dari apartemen yang dia sewa pada kami, karena katanya kamu sudah meminta cerai. Mama janji tidak akan menyebarkan photo-photo dan video itu, kalau mama dan papa bisa tinggal di tempatmu. Kamu sekarang tinggal bukan di rumah kecil kan? mertuamu itu pasti kasih rumah yang bagus untukmu kan?" nada suara wanita paruh baya di ujung sana terdengar penuh harap.


"Maaf, Ma. Aku sama sekali tidak mendapatkan apa-apa. Karena aku sendiri yang menolak untuk menerima apapun dari keluarga Kak Dimas. Sekarang aku tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil, yang memiliki hanya satu kamar saja. Tidak ada AC atau apapun di sini. Apa Mama masih mau?" Tsania terpaksa berbohong.


"Dasar perempuan bodoh! Kenapa kamu nggak minta rumah sih? Kamu benar-benar tidak berguna. Mama tidak mau tinggal di rumah kecil. Dan pasti posisi rumah kamu itu juga di tempat yang kumuh. Mama gak mau! Kamu benar-benar tidak bisa diharapkan, mama menyesal sudah melahirkanmu!"


"Kalau boleh memilih, aku juga tidak mau dilahirkan wanita seperti Mama. Aku lebih baik memilih dilahirkan oleh almarhum Tante Sekar. Pasti aku bisa menjadi seorang wanita yang baik seperti Kak Zora!" pungkas Tsania seraya memutuskan panggilan secara sepihak.


"Maaf, kamu terpaksa mendengarkan hal memalukan seperti tadi," ucap Tsania pada Bella dengan suara lirih.


"Tidak apa-apa! Justru aku baru tahu ternyata ada seorang ibu yang seperti itu. Maaf, kalau kamu tersinggung!" ucap Bella dengan raut wajah tidak enak.


"Tidak apa-apa, Bel. Kenyataannya memang seperti itu." ucap Tsania dengan air mata yang sudah merembes keluar.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2