Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Ya, Dia Raraku!


__ADS_3

"Masuk!" terdengar suara tegas milik Arsen dari dalam ruangan, ketika Hanum mengetuk pintu.


Hanum membuka pintu secara perlahan, kemudian dia masuk dengan memamerkan senyum termanisnya.


"Tutup pintunya!" titah Arsen dengan suara dingin. Pria itu bahkan tidak melihat ke arah Hanum.


Sikap dingin yang ditunjukkan oleh Arsen membuat perasaan Hanum semakin tidak enak. Pemikiran positif, yang tadi sempat singgah di pikirannya, seketika terhempas berganti dengan rasa tidak nyaman. Sikap dingin pria itu, membuat Hanum merasa aura yang lebih mengerikan dari film horor atau tempat angker sekalipun.


"Emm, ada apa menyuruhku ke sini, Sen?" tanya Hanum. Suara wanita itu sedikit bergetar karena merasa gugup.


"Panggil aku, Pak. Jangan nama saja, karena kita tidak sedekat itu!" ucap Arsen yang kali ini memilih untuk menatap Hanum. Namun, bukan tatapan biasa atau tatapan cinta, melainkan tatapan dingin, bak menyimpan sebuah kemarahan.


"Oh, Ma-maaf! Ada apa memanggilku, Pak?" Hanum mengulangi pertanyaannya.


"Tenang saja, Num! Ini karena di kantor, jadi kamu memang sepatutnya memanggil Pak, untuk menunjukkan keprofesionalan," batin Hanum, masih mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Apa yang kamu katakan pada istriku?" sudut alis Arsen naik ke atas, menatap Hanum dengan tatapan dingin dan menyelidik.


Hanum seketika terkesiap kaget mendengar pertanyaan Arsen yang tiba-tiba. Tenggorokannya seakan tercekat, sehingga untuk menelan ludahnya sendiri, dirinya mengalami kesulitan.


"Ma-maksud kamu apa? Emangnya apa yang aku katakan pada Zora?" Hanum tidak mengucapkan kata istrimu, seakan mulut wanita itu enggan untuk mengucapkan kata itu.


"Jangan berpura-pura tidak tahu. Sekarang jelaskan apa yang kamu katakan pada istriku!" suara Arsen mulai naik.


"Aku tidak mengatakan apapun, Sen! Kamu kenapa sih? dia mengadu yang tidak-tidak padamu?"


"Panggil aku Pak, jangan nama saja! Kamu paham bahasa manusia tidak?" Arsen mulai berbicara sarkas, membuat Hanum seakan tidak mengenal pria di depannya itu sekarang. Karena baru kali ini pria itu berbicara seperti itu padanya.


"Sen, kita hanya berdua di sini. Kenapa harus seformal itu? Biasanya kita kan __"


"Aku bilang, panggil aku Pak, ya Pak! Kamu benar-benar tidak paham bahasa manusia ya?" suara Arsen mulai meninggi, membuat Hanum terjengkit kaget dan sedikit mundur ke belakang.


"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang katakan, apa yang kamu katakan pada istriku?"suara Arsen kembali normal, namun tidak menghilangkan aura dinginnya sama sekali.


"Aku tidak mengatakan apapun, Sen," Hanum masih berusaha untuk menyangkal.

__ADS_1


"Pak Arsen! Kamu dengar gak?" Arsen kembali meninggikan suaranya.


"I-iya, Pak. Aku benar-benar tidak mengatakan apapun. Istrimu pasti mengadu hal yang tidak benar. Dia pasti hanya ingin menyingkirkanku, karena belum terima kamu menerimaku bekerja di sini," ucap Hanum, mulai memprovokasi Arsen.


Brakkkk


Arsen tiba-tiba memukul meja dengan sangat keras, hingga membuat Hanum terjengkit kaget. Tatapan Arsen semakin tajam, wajah pria itu memerah, serta rahangnya mengeras. Bahkan pria itu sudah mengepalkan kedua tinjunya, pertanda kalau pria itu sudah sangat marah.


"Jangan berbohong lagi, Hanum! Katakan, apa yang kamu katakan pada istriku? Cepat!" suara Arsen menggelegar memenuhi ruangan itu.


Wajah Hanum kini terlihat pucat bak tidak dialiri darah sama sekali. Berkali-kali wanita itu menelan ludahnya sendiri, saking takutnya. Ketakutannya semakin bertambah ketika melihat Arsen yang berjalan menghampirinya.


"A-aku tidak bohong, Sen. Aku memang tidak mengatakan apapun pada Zora. Kamu harusnya percaya padaku daripada Zora, karena kamu sudah lebih lama mengenalku dibandingkan wanita itu," Hanum masih berusaha untuk tetap menyangkal.


"Wanita itu, istriku. Ingat, dia istriku!" Arsen menekan kata istri tepat di wajah Hanum. Pria itu sudah tidak terlalu peduli lagi, Hanum yang memanggilnya tanpa embel-embel pak lagi.


"I-iya, istrimu. Aku tidak mengatakan apapun padanya. Dia pasti mengadu yang tidak-tidak, untuk menyingkirkanku," ucap Hanum, merasa terpaksa menyebut kata istrimu pada pria yang dia cintai itu.


Arsen menggeram. Tanpa sadar, pria itu mendorong tubuh Hanum hingga membentur tembok, dan tangan pria itu juga mencengkram dagu wanita itu dengan kuat.


"Sa-sakit, Sen!" desis Hanum, meringis kesakitan.


"Beraninya kamu mengatakan hal yang tidak-tidak pada istriku, hah! Kamu __"


"Apa yang aku katakan salah? Aku mengatakan yang sebenarnya kan?" Hanum mulai meninggikan suaranya. Sepertinya wanita itu mulai terkena umpan pancingan Arsen.


"Aku juga mengatakan itu karena dia terlalu menyombongkan statusnya yang jadi istrimu di depanku.Dengan bangganya dia mengatakan kalau kamu dan dia sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Jadi, aku bilang saja, kalau kamu mau melakukan itu dengannya bukan karena cinta, tapi karena merasa sayang saja tidak memanfaatkan status hubungan kalian tanpa melakukan apa-apa," lanjut Hanum lagi.


"Berani sekali kamu mengatakan itu! Tahu apa kamu tentang perasaanku hah?" emosi Arsen kembali naik. Ia kembali mengencangkan cengkramannya di dagu Hanum. Pria itu seolah-olah lupa prinsipnya yang tidak mau berbuat kasar pada seorang wanita.


"S-Sen, sakit! tolong lepaskan tanganmu!" rintih Hanum.


Arsen sontak melepaskan cengkramannya dengan sedikit menyentak, membuat Hanum kembali meringis, karena merasakan sakit.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Hanum. Apa salahnya dia bangga dengan statusnya yang jadi istriku? Bukannya dia benar-benar istriku? Dia sangat -sangat pantas mengatakannya, karena itu lah kenyataannya. Yang tidak pantas itu, kamu yang mengatakan kalau aku mencintaimu, karena kenyataannya tidak seperti itu!" ucap Arsen dengan sinis.

__ADS_1


"Sen, ini benar-benar kamu? Kenapa kamu bisa berbicara setega ini? Kata-katamu benar-benar menyakitkan. Jadi, apa maksudmu yang masih mau membantuku bisa lepas dari Om Damian dan Dimas? bukannya karena kamu masih peduli denganku?" mata Hanum mulai berkaca-kaca.


Arsen berdecak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian tersenyum sinis.


"Aku menolongmu dan peduli padamu, bukan berarti aku mencintaimu. Aku murni hanya ingin membantumu, karena aku tahu kalau selama ini kamu hanya dimanfaatkan oleh mereka berdua. Tapi, ternyata kamu sudah menyalah artikan kebaikanku. Sekali lagi, aku mau menegaskan ke kamu, Hanum, aku sama sekali tidak mencintaimu. Jadi stop berharap!" tegas Arsen dengan nada berapi-api.


Air mata mulai mengalir keluar dari mata Hanum. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tidak percaya.


"Baiklah, kamu memang tidak mencintaiku, tapi apa kamu juga mencintai Zora? Tidak kan? Bukannya kamu masih mencari gadis di masa kecilmu itu? aku sudah mengatakannya pada Zora tadi, kalau dia pasti akan kamu tinggalkan, begitu kamu menemukan gadis masa kecilmu. Aku benar kan?"


"Brengsek kamu! Beraninya kamu mengatakan itu pada istriku!" tangan Arsen tanpa sadar mencekik leher Hanum. Gigi pria itu saling beradu, sakit marahnya.


"To-tolong lepaskan tanganmu, Sen!" ucap Hanum yang mulai merasa sesak untuk bernapas.


Arsen kembali menyentak saat melepaskan tangannya, membuat Hanum terbatuk-batuk.


"Sen, kenapa kamu jadi kasar seperti ini? Bukannya yang aku katakan tadi benar?" suara Hanum terdengar lirih dan tersengal-sengal.


"Kamu tidak tahu apa-apa, Num. Harusnya kamu berpikir kenapa aku bisa menyentuh Zora, bahkan sampai berkali-kali. Kamu tahu sendiri kan bagaimana aku? Kalau kamu bilang, aku hanya memanfaatkan status, kamu salah. Bisa saja dulu aku melakukannya padamu, memanfaatkan dirimu yang sangat mencintaiku. Kalau aku mau,kamu pasti memberikannya tanpa paksaan kan? Tapi aku tidak melakukannya karena aku bukan laki-laki bejat dan tidak mencintaimu." Arsen berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus menghirup oksigen untuk mengisi kembali rongga-rongga paru-parunya yang sudah mulai kosong.


"Kamu sudah mengenalku, seharusnya kamu tahu alasannya kenapa aku sudah mau melakukannya pada Zora," lanjut pria itu lagi.


Mata Hanum membola, rahang bawahnya tertarik ke bawah, ketika wanita itu mulai menyadari sesuatu. "Ja-jangan bilang kalau kamu sudah mencintai Zora, Sen!" tanya Hanum, dengan suara bergetar.


"Menurutmu?" tanya Arsen balik.


"A-aku tidak percaya.Bukannya kamu sangat mencintai gadis di masa kecilmu itu? Atau jangan-jangan ...." Hanum menggantung ucapannya, karena kalimat yang ingin dia katakan, tiba-tiba tercekat di tenggorokan.


"Ya, dia adalah gadis yang aku cari selama ini. Dia adalah Raraku!" pungkas Arsen, membuat Hanum tersungkur dan terduduk ke lantai.


"I-itu berarti aku benar-benar sudah tidak punya kesempatan lagi," gumam Hanum dengan air mata yang kembali membasahi pipinya.


Tbc


Bab ini gak pendek lagi kan guys? 😁

__ADS_1


Mohon untuk vote, like dan Komennya ya!🙏


__ADS_2