Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
bab 108


__ADS_3

Selama lima belas menit Dona terpaksa harus menunggu siapa sebenarnya yang akan didatangkan oleh Arsen. Dan selama lima belas menit itu, Dona berasa seperti berada di tempat yang sangat mengerikan, yang membuat dirinya kesulitan untuk bernapas. Karena tatapan semua orang yang ada di tempat itu tertuju padanya.


Sementara dua orang suruhannya sudah tidak ada lagi bersamanya, karena sudah diusir oleh Arsen.


"Mas Arsen!" Arsen dan yang lainnya sontak mengalihkan tatapan mereka dari Dona, ke arah suara yang baru saja memanggil Arsen. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Aozora.


Arsen yang tadinya berdiri menyender ke tembok dengan tangan bersedekap di dada langsung tersenyum dan melangkah menghampiri sang istri.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Arsen menunjukkan perhatiannya.


Aozora tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, Mas," sahut Aozora, memeluk suaminya


"Aku juga tidak apa-apa, Papa," ucap Aozora, menirukan suara anak kecil sembari mengelus perutnya.


Arsen tersenyum, lalu berjongkok untuk mencium perut sang istri.


"Baik-baik di dalam perut mamamu ya, Nak!" ucap Arsen dengan lembut dan mata berkaca-kaca. Sumpah dia tidak bisa memungkiri sangat bahagia saat mengetahui kalau sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.


Kalau Arsen tersenyum menyambut kedatangan wanita yang dia cintai, beda dengan Dona yang wajahnya semakin pucat bak tidak dialiri oleh darah sama sekali, melihat sosok bidan Desi dan dua orang sepasang suami istri yang baru datang bersama Aozora. Sekarang wanita itu sudah bisa menyimpulkan, kejahatan yang dimaksud oleh Arsen.


Dona terlihat mulai mundur dengan perlahan, memanfaatkan waktu di mana saat ini fokus orang tertuju pada Zora.


"Eh, mau pergi kemana anda, Ibu Dona?" celetuk Hanum yang sengaja mengalihkan tatapannya dari interaksi yang terjadi antara Arsen dan Aozora, karena jujur saja, wanita itu tidak bisa membohongi hatinya, yang masih merasakan sakit melihat kemesraan pasangan suami istri itu.


Mendengar celetukan Hanum, mata semua orang kembali mengarah ke arah Dona.


"Mas, bisa kamu jelaskan, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kamu meminta anak buahmu menjemput bidan itu dan dua orang itu? " tanya Aozora.


Arsen tidak menjawab. Melainkan hanya tersenyum misterius.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan tahu," Pria itu sepertinya tidak berniat untuk menjelaskan pada Aozora, karena sekarang tatapan Arsen sekarang beralih ke arah Dona.


"Anda mau kabur kemana Ibu Dona? kamu mau memanfaatkan kondisi saat mata kamu tidak mengarah ke anda. Anda kira, anda akan tetap bisa kabur? Di luar sana ada anak buahku. Selain itu juga sudah ada polisi di luar,"


Wajah Dona semakin pucat, mendengar kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Arsen.


"A-apa, mau mu?" suara Dona terdengar bergetar.


"Oh, apa anda serius bertanya apa mauku? coba lihat ke arah tiga orang itu? Apa kamu mengingat siapa mereka? Atau apa perlu aku ingatkan lagi?"tanya Arsen, tersenyum tipis.


"A-aku tidak mengenal mereka," sahut Dona, mulai mengelak.


"Oh, baiklah. Sepertinya mungkin karena faktor usia, anda mulai lupa. Baiklah, aku akan mengingatkan kamu lagi," Arsen kemudian menggerakkan jari telunjuknya, memanggil bidan bernama Desi, agar mendekat padanya.


"Oh ya, Pak Aditya silakan anda juga pasang telinga ya! Dan tahan amarah, Karena mungkin yang akan anda dengar ini akan sangat mengejutkan," Arsen menoleh ke arah Aditya.


"Apa anda mengenal wanita itu?" tanya Arsen tanpa basa-basi seraya menunjuk ke arah Dona.


Bidan Desi menganggukkan kepalanya, mengiyakan. "Iya, Tuan. Aku ingat betul wanita itu. Dia yang membayarku dengan bayaran yang sangat besar untuk mengganti bayi laki-laki ibu Sekar dengan bayi yang meninggal saat itu. Lalu memintaku untuk pergi jauh," tutur bidan Desi tanpa gugup sedikitpun.


Semua yang mendengar, kecuali Amber, Niko dan pasangan suami istri yang datang bersama Desi tadi, terkesiap kaget mendengar pengakuan bidan Desi.


"Tunggu, ini maksudnya apa? Bayi Sekar ditukar dengan bayi yang meninggal saat itu? Ini maksudnya apa?" Aditya buka suara.


"Iya, Pak. Bayi laki-laki ibu Sekar saat itu sebenarnya sehat, tidak ada masalah kesehatan sama sekali. Tapi, ibu ini memintaku untuk menukarkannya, dengan iming-iming akan memberikan aku uang yang jumlahnya sangat besar. Saat itu, aku memang sudah merasa lelah untuk bekerja di rumah sakit, dan berniat untuk membuka klinik sendiri dengan uang bayaran yang diberikan oleh Ibu Dona," terang bidan itu, membuat Aditya sedikit tersungkur ke belakang. Bukan hanya Aditya yang kaget, Aozora juga tidak kalah kagetnya. Arsen yang dari tadi sudah siaga langsung menjaga sang istri agar tidak tersungkur.


"Jadi kakakku masih hidup? Aku masih punya Kakak?" gumam Aozora antara percaya dan tidak percaya. "Jadi selama ini bunga-bunga yang bertaburan di makam yang aku kira kakakku itu, dari ...." sambung Aozora lagi sembari menatap ke arah pasangan suami istri, orang tua kandung dari anak yang selama ini dia kira kakak kandungnya.


"Hei, diam kamu! Jangan fitnah aku!" pekik Dona.

__ADS_1


"Aku tidak fitnah. Anda memang memintaku untuk menukar bayi ibu Sekar dengan bayi yang mati,punya ibu dan bapak itu kan?" bidan Desi semakin menegaskan sembari menunjuk ke arah pasangan suami istri yang sekarang juga terlihat pucat.


"Aku ingat betul saat itu, anda juga membayar IT rumah sakit untuk menghapuskan semua rekaman CCTV . Karena aku merasa uang yang anda berikan sudah lebih cukup,aku pun memilih untuk resign dari rumah sakit dan pulang kampung untuk merealisasikan Mimpiku yang bisa punya klinik sendiri. Tapi, ternyata klinikku tidak berjalan dengan baik, makanya baku memutuskan untuk kembali ke kota ini. Dengan apa yang terjadi padaku, akhirnya menyadari kalau usaha yang diawali dengan perbuatan yang tidak baik, akan hancur dengan cepat juga . Karena bagaimanapun ada tangisan seorang ibu yang menangisi kematian anak laki-lakinya.," lanjut bidan Desi lagi.


"Iya itu benar. Bayi yang meninggal itu anak kami. Ibu Desi juga membayar kami agar mau menyerahkan jenazah bayi kami pada anda. Saat itu aku dan istriku mau, karena saat itu kami sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit, dan kami juga tidak punya uang untuk biaya pemakaman anak kami," timpal suami dari pasangan suami isteri yang datang bersama bidan Desi tadi.


Wajah Dona semakin pucat, tidak bisa berkutik lagi. " Bagaimana ini? Apa mungkin ini hari terakhir aku bebas? Apa aku akan mendekam di penjara setelah ini?" batin Dona, Ketakutan.


"Jadi putraku masih hidup? Jadi makam yang di samping makam istriku itu bukan makam anakku? Kalau memang dia masih hidup ,dimana dia sekarang? Katakan,Kalian merawatnya dengan baik kan?" desak Aditya seraya menguncang-guncang pundak pasangan suami istri itu.


"Ma-maaf, Pak. Anak itu sama sekali tidak ada pada kami dan kami juga tidak tahu dia dimana. Karena setahu kami bayi itu diambil lagi sama ibu Dona. Dia taruh di mana kami juga tidak tahu," sahut salah satu pasangan suami-istri itu dengan wajah takut.


Aditya mundur dan melangkah mendekati Dona. Tatapan pria itu terlihat berkilat-kilat penuh amarah saat mendekati istrinya itu.


Melihat tatapan Aditya yang sangat tajam bak ingin membunuhnya, Dona menelan ludahnya dengan kasar dan ketakutan.


"Dasar wanita brengsek! Kamu begitu kejam dan licik. Aku menyesal pernah memperjuangkanmu. Sekarang katakan, dimana kamu taruh putraku, brengsek!" bentak Aditya seraya mencengkram kuat dagu Dona.


"Sa-sakit, Mas!"desis Dona.


"Sakit? Kamu bisa merasakan sakit juga tenyata. Sekarang, aku tidak peduli apa yang kamu rasakan. Yang sekarang penting bagiku, di mana putraku kamu buang!" suara Aditya menggelegar penuh amarah.


"A-aku tidak membuangnya, tapi aku menaruhnya di panti asuhan," sahut Dona, di sela-sela rasa sakit di dagunya.


"Panti asuhan? Panti asuhan mana?" desak Aditya.


"Tidak perlu anda cari panti asuhannya lagi, Pak Aditya. Karena sebenarnya sekarang putra anda ada di tempat ini," ucap Arsen membuat Aditya dan Aozora semakin kaget.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2