Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
bab 117


__ADS_3

"Kenapa kalian berdua lama?" tanya Samudra, memicingkan matanya, curiga.


"Apaan sih, Kak? Baru sebentar saja ditinggal sama Kak Dinda, kamu sudah rindu aja," Bella melontarkan candaan yang menurut Samudra, Dinda dan Niko cukup garing. Hanya kedua orang tua Bella yang tertawa mendengar candaan putrinya itu.


"Dia kenapa bisa jadi aneh seperti ini sih? Kenapa tiba-tiba dia panggil kamu Kakak? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" bisik Samudra pada Dinda.


"Aku juga tidak tahu.Kamu jangan menuduhku yang aneh-aneh. Aku tidak melakukan apapun padanya," Dinda balas berbisik.


Di lain sisi hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Samudra dirasakan oleh Niko. Asisten pribadi Arsen itu juga tampak bingung dengan perubahan Bella yang sekarang tampak ramah dengan calon istri Samudra.


"Kepalamu tadi tidak terbentur sesuatu kan?" bisik Niko.


"Maksudnya? Emangnya aku kenapa?" Bella balas berbisik.


"Kenapa kamu tiba-tiba bersikap ramah pada calon kakak iparmu itu? Bukannya tadi kamu menatap dia seakan mau ngajak gelut?" bisik Niko lagi.


"Ka ...."


"Nak Dinda, orang tuamu sudah tahu kan kalau lusa kami akan datang ke rumah untuk melamarmu?" Bella yang tadinya hampir saja ingin mengumpat, langsung mengurungkan niatnya, karena mendengar Ardian papanya buka suara.


"Su-sudah, Om!" sahut Dinda, gugup.


"Kamu tidak perlu gugup, Nak. Kami tidak makan orang," Ardian melemparkan senyumnya untuk membuat calon menantunya itu merasa aman untuk berbicara lagi dengannya.


Dinda sontak tersenyum kikuk, dan tanpa sadar meremas tangan Samudra saking gugupnya.


Ardian kemudian menoleh ke arah Bella.


"Bella, seperti janjimu ... kamu akan secepatnya menyusul dengan Nak Niko kalau Kakakmu Samudra sudah menikah iya kan?" ucap Ardian membuat rahang bawah Niko tertarik ke bawah, saking kagetnya.

__ADS_1


"A-apa nggak terlalu cepat, Om?" tanya Niko.


"Om rasa tidak. Om sudah percaya kalau kamu pasti akan bisa menjadi suami putriku. Lagian kenapa harus ditunda-tunda lagi? Bukannya kalian berdua saling mencintai? Dan bukannya usia kamu juga sudah sangat pantas untuk menikah?" tutur Ardian yang sama sekali tidak pernah menanggalkan senyumnya Dari bibinya.


"Tapi, Om, aku__"


"Iya, Pa. Kak Niko sama aku sebenarnya sudah punya rencana untuk menikah secepatnya daripada harus berlama-lama pacaran. Jadi, setelah kak Samudra menikah, aku dan Kak Niko pun akan menikah. Iya kan, Sayang?" belum sempat Niko menyelesaikan ucapannya, Bella dengan cepat menyela pria itu. Wanita itu dengan sengaja melemparkan senyum termanisnya dan matanya dia kedipkan sebelah, memberikan tanda agar sahabat dari Arsen, kakak sepupunya itu mengiyakan ucapannya.


"Sejak kapan kita punya rencana untuk menikah?" bisik Niko lagi.


"Sejak hari ini. Please iya kan saja. Lagian, aku kan nggak jelek-jelek amat. Aku ini cantik, kenapa kamu keberatan menikah denganku?" protes Bella, yang tentu saja dia sampaikan dengan posisi masih berbisik.


"Cih, kamu terlalu percaya diri menyebut dirimu cantik. Lagian, walaupun kamu cantik, tapi kamu ini cerewet. Bisa-bisa aku mati berdiri kalau kamu ngoceh terus," Niko balik berbisik.


"Kalian kenapa bisik-bisik? Apa yang kalian bisikan?" tegur Ardian dengan mata memicing.


"I-iya," ucap Niko tanpa sadar saking kagetnya dengan ucapan yang diberikan oleh Bella.


"Wah, sangat bagus. Tenyata aku bisa menikahkan kedua anakku dengan waktu berdekatan," Ardian bersorak. Manik matanya memancarkan binar bahagia.


"Sayang, sebentar lagi kita akan mendapatkan dua menantu sekaligus," tidak lupa pria paruh baya itu mengabari pada istrinya Belisa yang belum ngerti bahasa Indonesia secara sempurna.


"Wow, Really?" wanita paruh baya keturunan Amerika itu terlihat sangat bersemangat, sama seperti suaminya.


Ardian menganggukkan kepala, mengiyakan lalu merangkul pundak sang istri dengan bahagia.


Setelah tersadar, ingin rasanya Niko menarik kembali ucapannya tadi. Tapi, begitu melihat wajah pasangan suami istri yang terlihat sangat bahagia itu, membuat Niko akhirnya tidak tega dan memilih untuk diam.


"Sejak kapan aku mengatakan, tidak sabar menikahmu? Kenapa kamu harus berbohong?" Niko kembali berbisik ke telinga Bella.

__ADS_1


"Aku tidak sengaja. Sudahlah, sudah terlanjur ini. Lagian, aku bisa pastikan kamu tidak akan rugi menikah denganku. Aku mohon padamu, tolong jangan kecewakan orang tuaku," bisik Bella lagi, membuat Niko mengembuskan napas, pasrah.


Sementara itu, Samudra terlihat mulai gelisah. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru seakan sedang mencari keberadaan seseorang.


Pandangannya berhenti di satu titik saat dia sudah menemukan seseorang yang dia cari. Siapa lagi yang dia cari kalau bukan Tsania, wanita yang merupakan adik perempuannya selain Aozora, walaupun mereka terlahir dari rahim yang berbeda. Dan wanita yang sedang mengandung itu, sampai sekarang belum tahu kalau dia memiliki kakak selain Aozora.


Tampak adiknya itu duduk di satu meja dengan Daren dan Hanum. Samudra melihat kalau sang adik kebanyakan diam dan sepertinya terlihat gelisah juga.


"Aku ke sana dulu ya, kamu mau ikut?" Samudra berdiri dan menatap Dinda, menunggu wanita untuk menjawab.


"Kamu mau kemana, kak?" bukannya Dinda yang bicara melainkan Bella.


"Aku mau menemui Tsania di sana," Samudra menunjuk ke meja Tsania.


"Tsania?" Dinda menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Samudra.


"Bukannya itu, adiknya Aozora dan putri bungsu papa Aditya? Berarti dia adik dari mas Samudra juga," batin Dinda yang sudah tahu tentang cerita itu dari Samudra sendiri.


"Kenapa kamu diam? Kamu mau ikut aku nggak?" tanya Samudra lagi, membuat Bella sedikit tersentak kaget.


"Oh, i-iya. Aku ikut kamu," Dinda sontak berdiri dari tempat dia duduk. Setelah pamit pada kedua orang tua angkat Samudra dan juga pada Niko dan Bella, mereka berdua pun beranjak pergi.


Baru beberapa langkah, Samudra tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan mau tidak mau Dinda juga berhenti.


"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Dinda dengan alis bertaut.


Samudra tidak menjawab sama sekali. Namun pria itu menatap ke arah Tsania yang sedang melangkah pergi. Mata Samudra mengikuti kemana arah adiknya itu melangkah, dan alangkah kagetnya dia melihat Tsania tenyata melangkah ke arah seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sedang berdiri di ambang pintu. Pria itu seakan enggan untuk masuk dan hanya menatap nanar ke arah pelaminan. Pria itu tidak lain adalah Aditya papa mereka.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2