
"M-Mas Arsen!" seru Aozora seraya menutup mulutnya.
"Kalian tunggu apa lagi, hah! Ayo hajar dia!" titah Dona setelah tersadar dari kagetnya.
Tiga pria itu termasuk pria yang terpental tadi, langsung bergerak menyerang Arsen. Arsen yang dari tadi sudah siap untuk menerimanya serangan, dengan sigap langsung menghindar. Seraya menghindar, kaki pria itu juga bekerja dengan memberinya tendangan cepat dan keras ke arah tiga pria itu bergantian.
"Brengsek! Berani juga kamu ya!" teriak pria yang bisa dipastikan adalah pemimpin preman-preman itu. Ia kembali berdiri dan dengan secepat kilat, tendangannya berhasil mengenai Arsen.
"Ahh, kurang ajar kamu!" Aozora yang melihat suaminya terpental, meraih sebuah batu, lalu melempar tepat mengenai kepala pria yang menendang Arsen tadi.
Pria yang terkena lemparan batu oleh Aozora sontak menatap wanita itu dengan tatapan marah, di sela-sela rasa sakit di kepalanya.
"Dasar wanita sialan! Berani kamu melemparku!" pria itu melangkah dengan tatapan penuh amarah menghampiri Aozora.
Di saat bersamaan, Arsen bangkit berdiri dan langsung memberikan tendangan telak ke dada pria itu. Dua pria lainnya, tidak mau berdiam diri. Mereka menghambur bersamaan hendak menyerang Arsen, namun Arsen yang memang pada dasarnya, ahli bela diri, melompat seraya memberikan tendangan, tepat mengenai kepala dua orang itu.
Dengan tatapan membunuh, Arsen menghampiri pimpinan para preman itu, lalu mencengkram kuat pergelangan tangan pria itu.
"Begini tadi kan yang kamu lakukan pada istriku?" ucap Arsen seraya memutar tangan pria itu dengan kencang, hingga membuat pria tadi berteriak kesakitan.
"A-ampun, Tuan!" mohon pimpinan preman itu seraya meringis kesakitan.
"Pergi dari sini, atau kepalamu akan pecah di tanganku!" titah Arsen dengan manik mata yang berkilat-kilat penuh amarah.
Tiga preman berbadan besar itu seketika lari dengan tertatih-tatih, menahan sakit.
Tanpa menurunkan kadar ketajaman tatapannya, Arsen menoleh ke arah Dona dan Tsania yang kini terlihat sangat pucat.
Dengan langkah tegap dan penuh amarah, pria itu melangkah menghampiri ke dua wanita itu. Ia berhenti tepat di samping Dona.
"Bukannya aku sudah pernah memperingatkan kamu, agar tidak mengusik Aozora lagi? Aku sudah mengatakan kalau semua yang akan kamu lakukan pada Aozora, ada di dalam pengamatanku. Apa kamu menganggap ucapanku itu main-main?" bisik Arsen, membuat mata Dona membesar sempurna.
"Ja-jadi yang menghubungiku saat itu adalah ...." Dona menggantung ucapannya, karena kata yang hendak dia ucapkan, terhenti di tenggorokannya.
"Jadi menurut kamu siapa?" Tatapan Arsen semakin tajam. "Sekali lagi aku ingatkan anda, agar tidak berani macam-macam lagi! Dan asal anda tahu, aku juga sudah tahu kesalahan anda di masa lalu! Jadi, jangan macam-macam lagi!"
__ADS_1
Dona dengan susah payah menelan ludahnya, mendengar ucapan Arsenio yang penuh intimidasi. Sementara itu Aozora terlihat bingung, dengan apa yang dibicarakan oleh Arsen, terlebih dengan ekspresi wajah Dona yang begitu pucat seperti tidak dialiri darah sama sekali.
Setelah selesai dengan ucapannya, Arsen berbalik dan melangkah menghampiri Aozora. Tatapan Aozora tentu saja tidak lepas dari setiap langkah Arsen yang terlihat tidak kaku sama sekali, seakan pria itu sudah terbiasa berjalan. Padahal setahu dia, orang-orang yang baru saja bisa sembuh dari kakinya yang lumpuh, pertama kalinya pastilah kaku sewaktu berjalan.
"Apa yang kamu lihat?" Aozora tersentak kaget karena saking fokus mencari jawaban dengan langkah kaki Arsen, dia tidak menyadari kalau suaminya itu sudah berdiri tegak di depannya.
"Eh, M-Mas, kapan kamu di sini?" saking kagetnya, Aozora melontarkan pertanyaan bodoh.
Arsen berdecak, kemudian menyentil jidat Aozora. "Pertanyaan apa itu?" ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ouch, sakit, Mas!" Aozora mengusap-usap jidatnya.
"Makanya, pintar sedikit dalam bertanya!" Arsen mendengkus, kesal.
Kemudian, dia kembali menoleh ke arah dua wanita berbeda usia yang ternyata masih belum beranjak dari tempat mereka berdiri.
"Kenapa kalian masih berdiri di sana, Hah? Cepat pergi dari sini!" titah Arsen dengan tegas.
"Ba-baik!" sahut Dona dengan suara yang terbata-bata.
"Ada apa lagi, Zora?" bisik Arsen, dengan kening berkerut.
"Masih ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Aozora seraya melangkah menghampiri ibu dan anak di depannya itu.
"Kemarin aku masih berbaik hati, memberikan kalian kesempatan untuk tinggal di rumahku selama seminggu karena aku masih punya hati nurani. Tapi, sepertinya kalian tidak layak mendapatkan semua kebaikanku. Jadi, perbuatan kalian hari ini, aku tidak bisa berbaik hati lagi. Aku minta, kalian tinggalkan rumah peninggalan mamaku sekarang juga!" Aozora berbicara dengan sangat tegas, tak terbantahkan.
Mata Dona membesar sempurna, terkesiap kaget dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut anak tirinya itu.
"Kenapa kamu begitu tega? tidak mudah mencari rumah untuk sekarang. Lagian kenapa kamu harus pergi? Bukannya rumah itu nanti akan kosong? Jadi lebih baik aku dan papamu tetap tinggal di sana kan?" ucap Dona, berharap Aozora berubah pikiran.
Aozora berdecih dan tersenyum sinis. "Lebih baik rumah itu kosong, dari pada ditinggali manusia-manusia tidak punya hati seperti kalian. Aku tidak peduli, kalian mau tinggal di mana mulai malam ini, itu bukan urusanku lagi. Yang jelas, kalian harus segera angkat kaki dari rumah itu, dan bawa-bawa barang-barang kalian semua! tapi jangan pernah bawa barang milik mamaku!" Aozora berbalik, lalu beranjak pergi meninggalkan Dona dan Tsania. Dia sama sekali tidak peduli akan teriakan dua wanita itu yang memanggil namanya.
"Wah, kamu hebat juga bisa setegas itu," puji Arsen begitu Aozora sudah berdiri di dekatnya.
"Apa aku tidak terlihat kejam?" tanya Aozora, sembari mengigit bibirnya.
__ADS_1
"Sebenarnya lumayan kejam, tapi balik lagi, kalau dilihat dari apa yang mereka perbuat ke kamu, mereka pantas mendapatkannya," sahut Arsen.
Aozora menarik napas dan mengembuskannya, untuk menenangkan diri sendiri dari pemikirannya.
"Mas, sejak kapan kamu bisa jalan?" tiba-tiba Aozora mengalihkan pembicaraan.
Arsen yang hendak melangkahkan kakinya, sontak menghentikan langkahnya, mendengar pertanyaan Aozora barusan.
"Kenapa pertanyaanmu aneh? Bukannya kamu lihat sendiri, kalau aku baru tadi bisa berjalan?"
"Tapi, aku sama sekali tidak percaya. Karena yang aku lihat, cara kamu berjalan sudah tidak kaku. Terlihat seperti sudah terbiasa berjalan," ujar Aozora, dengan tatapan menyelidik.
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak. Ayo pulang!" Arsen berjalan lebih dulu, untuk menghindari pertanyaan - pertanyaan istrinya yang kemungkinan bisa membuatnya terjebak.
"Mas, kursi roda kamu ketinggalan!" panggil Aozora.
Arsen kembali menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Untuk apa lagi kursi rodanya? Tinggalkan saja!" sahut Arsen.
"Kenapa ditinggal? Kan sayang, Mas. Itu mahal soalnya!" Aozora terlihat masih berat hati meninggalkan kursi roda yang biasa dipakai suaminya.
"Haish, kenapa sih dia sibuk ngurusin kursi roda? Benar-benar menyebalkan!" Arsen menggerutu dalam hati.
"Aku bilang tinggalkan ya tinggalkan saja, Zora! Ayo pulang! Kalau tidak mau, aku tinggalkan kamu di sini!" Arsen kembali berbalik dan melangkah.
"Mas, tunggu!" Aozora akhirnya berlari untuk menyusul Arsen. Namun, tiba-tiba ada seorang wanita yang berjalan tidak melihat jalan karena asyik dengan ponselnya. Hingga akhirnya, tubuh Zora dan wanita itu berbenturan. Dua-duanya pun terjatuh ke tanah. Arsen yang melihat itu, berbalik dan menghambur ke arah Zora.
"Ma-maaf, Mbak! Aku tidak sengaja!" ucap Aozora.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arsen seraya membantu Aozora untuk berdiri. Pria itu sontak menoleh ke arah wanita yang bertabrakan dengan istrinya barusan, hendak memarahi wanita itu. Namun, matanya membesar sempurna, begitu melihat wanita itu mengangkat wajahnya.
"Ha-Hanum!" gumam Arsen yang bisa didengar jelas oleh Aozora.
Tbc
__ADS_1