
Rumor tentang Bella kini sudah mulai mereda, akibat dari klarifikasi yang dilakukan oleh Tsania dan Dimas. Bella kini sudah bisa bernapas lega.
"Terima kasih ya, Nia. Kamu sudah menjadi Dewi penolongku sekarang," ucap Bella dengan tulus dan mata yang berkaca-kaca.
"Padahal, yang sedang kamu lawan itu mama kamu sendiri. Aku tidak menduga kamu bersedia membantu membersihkan namaku," lanjut Bella lagi.
Tsania tersenyum manis dan memeluk Bella.
"Dia memang mamaku, tapi aku tetap tahu yang mana yang benar. Aku tahu kalau sekarang mamaku pasti akan mendapatkan hujan hujatan dan aku tidak memungkiri kalau aku juga sedih melihatnya, tapi bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkan kejahatan mamaku," tutur Tsania. Raut wajah wanita itu terlihat sangat sendu.
"Maafkan aku! Gara-gara aku kamu harus melawan mamamu sendiri!" Bella menggigit bibirnya, merasa tidak enak hati pada wanita berbadan dua itu.
"Sudahlah! berapa kali aku bilang jangan salahkan dirimu sendiri! Aku benar tidak apa-apa kok," Tsania menepuk-nepuk punggung tangan Bella seraya melemparkan senyum manisnya.
"Tapi kan ...." Bella menggantung ucapannya, karena tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wanita itu, meraih ponselnya dari atas meja untuk mengetahui siapa yang menghubunginya. Mata wanita itu membesar melihat nama 'my Hero' sedang menghubunginya. Siapa lagi orang yang dia sebut pahlawan baginya itu kalau bukan papanya.
"Aduh, Papaku telpon. Ada apa ya kira-kira?" ucap Bella, bertanya pada Tsania.
Tsania mengangkat bahunya, seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak salah bertanya padaku? Ya mana aku tahu. Kalau mau tahu, ya kamu angkat teleponnya. Jangan dianggurin seperti itu!" Bella, menarik napas lebih dulu, lalu mengembuskannya ke udara. Jujur, wanita itu sedikit takut kalau papanya menghubunginya karena berita tentang dirinya.
"Halo, Pa!" sapa Bella, mencoba untuk tetap riang seperti biasa.
Cukup lama Bella berbicara dengan papanya. Dan Tsania sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan antara papa dan anak itu. Tapi, yang jelas Tsania bisa menyimpulkan kalau yang dibahas keduanya ada hubungannya dengan Niko.
Mata Tsania terlihat mulai berembun. Ia berusaha membangun bendungan di matanya, agar air matanya tidak tumpah. Bagaimana tidak, dia merasa iri melihat kedekatan Bella dan papanya yang sangat jarang dia dapatkan. Tidak munafik, kalau Aditya papanya, cukup dekat dengannya dibandingkan dengan Aozora kakaknya, tapi entah kenapa, Tsania tetap merasa ada yang kurang dari kedekatannya dengan sang papa. Khususnya di bagian perhatian. Aditya papanya, hanya memberikan dia uang dan uang tanpa peduli mau digunakan untuk apa uang itu. Papanya juga tidak pernah bertanya dia ada dimana, dan bahkan tidak menyuruh pulang walaupun sudah larut malam dirinya tidak pulang.
"Iya, Pa. Bye Pa!" panggilan akhirnya terputus. Tampak wajah Bella terlihat kesal saat meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Dasar Niko brengsekkkkk!" teriak Bella seraya mere*mas- re*mas bantal sofa.
"Kamu kenapa Bel? emangnya Niko ngelakuin apa?" Tsania mengernyitkan keningnya.
"Tidak boleh jadi ini. Aku harus menghubunginya," bukannya menjawab pertanyaan Tsania, Bella justru meraih kembali ponselnya, lalu bersiap menghubungi pria yang sudah membuatnya kesal itu.
Namun, belum sempat terhubung, bel pintu tiba-tiba berbunyi.
"Siapa yang datang?" tanya Tsania dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Bella.
"Coba kamu lihat deh!" titah Tsania.
__ADS_1
Bella pun kembali meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah pintu. Wanita itu lebih dulu mengintip dari lobang di pintu, untuk memastikan siapa yang datang sebelum dirinya membuka pintu. Tampak wajah Arsen, Aozora dan Samudra di depan apartemennya.
"Ternyata mereka," batin Bella seraya membukakan pintu.
"Kenapa lama sekali kamu membuka pintu?" Omel Samudra, sembari melangkah masuk. Sementara Arsen dan Aozora mengekor dari belakang.
"Aku kan harus memastikan dulu kak siapa yang datang?" sahut Bella sembari siap untuk menutup pintu kembali.
"Eh, tunggu! Jangan tutup dulu!" Bella tersentak kaget begitu masuk seorang pria lagi yang tidak lain adalah Niko. Entah dari mana pria itu muncul, Bella tidak tahu.
"Kamu! Siapa yang suruh kamu masuk!" pekik Bella.
Niko sontak berhenti dan berbalik. Pria itu menatap Bella dengan tatapan bingung.
"Aku datang dengan mereka, mereka bisa masuk, ya aku juga masuk lah. Emangnya ada masalah?" tanya Niko.
"Ya adalah. Mereka itu kakak-kakakku. Lah kamu siapa? Kamu itu bukan siapa-siapaku," ucap Bella ketus.
"Bodo amat!" ucap Niko tidak acuh. Pria itu malah makin melenggang masuk ke dalam dan tanpa dipersilakan langsung duduk.
Bella menggeram, dan berjalan menghampiri Niko dengan penuh amarah.
"Bella, sudahlah. Jangan marah-marah lagi!" tegur Samudra, membuat Bella langsung terdiam.
"Kami datang ke sini untuk memastikan keadaanmu, tapi ternyata kamu baik-baik saja," Arsen buka suara.
"Tadinya aku memang baik-baik saja, Kak. Karena bantuan Tsania dan Dimas, sekarang nama baikku sudah pulih. Tapi, masalahnya sekarang aku tidak baik-baik saja, karena video klarifikasi asisten Kak Arsen, ini!" Bella menunjuk ke arah Niko
"Lho kok jadi nyalahin aku? Seharusnya kamu berterima kasih. Aku sudah mau rela mengaku-ngaku jadi pacarmu, untuk membersihkan nama baikmu juga," protes Niko.
"Tapi aku tidak memintamu melakukannya. Asal kamu tahu, papaku jadi salah paham. Dia mengira kalau kamu itu memang benar-benar pacarku,"
"Kan kamu tinggal jawab, kalau itu tidak benar, bagaimana sih? Itu saja kamu ributkan!" Niko masih terlihat tidak peduli. Pria itu malah asik dengan ponselnya.
"Kamu kira semudah itu, hah! Aku sudah membantah, tapi papaku tetap tidak percaya!" Bella terlihat mulai meledak-ledak.
Niko mulai terpancing. Pria itu meletakkan ponselnya begitu saja dan menatap Bella dengan tatapan tajam. Sementara yang lainnya kini terlihat santai, seakan perdebatan antara Bella dan Niko adalah tontonan yang menyenangkan. Awalnya, Aozora ingin berinisiatif menghentikan perdebatan kedua insan itu, namun Arsen menahan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat agar diam saja.
"Kamu kira aku peduli? Yang jelas aku melakukan itu karena permintaan Arsen. Dia yang memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihmu, dan mencoba memperbaiki nama baikmu. Kalau tidak ...aku tidak akan mungkin mau melakukan hal bodoh seperti itu. Jadi, yang pantas kamu salahkan itu ya kakak sepupumu itu!" Niko berbicara seraya menunjuk ke arah Arsen.
__ADS_1
"Tapi kamu kan bis menolaknya. Bilang saja kalau kamu melakukannya dengan senang hati. Iya kan?" tukas Bella, mendelik tajam ke arah Niko.
"Idih, kamu terlalu percaya diri! Aku tidak pernah merasa senang. Aku benar-benar terpaksa. Kalau seandainya aku tahu Tsania dan Dimas akan melakukan klarifikasi, aku pastikan video klarifikasiku tadi, tidak akan muncul!" sanggah Niko.
"Tapi masalahnya, papa kami sudah percaya, Niko," kali ini Samudra buka suara. Pria itu terlihat menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Dan sekarang mungkin papa dan mama kami sudah di bandara. Mereka akan ke sini selain untuk melepaskan rindu dengan negara sendiri, mereka juga ingin bertemu denganmu," lanjut Samudra lagi.
"Hah? papa, mama mau ke sini, Kak!" seru Bella yang sama sekali tidak tahu masalah kedatangan kedua orang tuanya ke Indonesia.
"Iya, Papa sama Mama akan ke sini. Jadi, mau tidak mau kalian berdua harus tetap jadi pasangan kekasih. Kamu tidak mau kan melihat Papa kecewa?"
Bella tidak menjawab sama sekali. Wanita itu terdiam seribu bahasa, karena bingung hendak memberikan jawaban yang pas.
"Tapi, Sam. Itu tidak mungkin terjadi. Aku dan adikmu sama sekali tidak punya hubungan." kali ini Niko yang buka suara. Pria itu terlihat sangat keberatan.
Samudra lagi-lagi tersenyum. Pria yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan tegap itu, menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Masalahnya, kalau kalian mengakui bahwa ucapanmu di video itu hanya sandiwara, atau hanya sekedar ingin membantu memulihkan nama baik Bella, bisa dipastikan papa dan mamaku akan curiga. Mereka jadi tahu, kalau memang benar Bella menjalin hubungan dengan suami wanita lain." terang Samudra dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Jadi, aku harus tetap berpura-pura menjalin hubungan dengan adikmu?" Niko mengusap wajahnya dengan kasar.
Samudra menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Arghhh, apes sekali nasibku," cetus Niko.
Mendengar ucapan Niko barusan yang seakan anti dengan dirinya, membuat Bella merasa tertantang. Entah kenapa wanita itu jadi memiliki niat untuk menaklukkan hati sahabat dari kakak sepupunya itu.
"Hei, kamu berkata seperti itu seakan aku ini musibah untukmu. Tapi, lihat saja, cepat atau lambat, kamu sendiri yang akan tergila-gila padaku. Kamu tidak akan mau jauh-jauh dariku, ingat itu!" tegas Bella, dengan sangat percaya diri.
"Jangan harap!" ucap Niko tidak kalah tegas.
"Kita lihat saja nanti. Intinya sekarang, kamu yang sudah membuat klarifikasi seperti itu, hingga membuat papa dan mamaku percaya. Jadi, mau tidak mau kamu harus mempertanggungjawabkannya!" pungkas Bella, membuat Niko menggusak rambutnya dengan kasar.
"Sayang, sepertinya Bella sudah baik-baik saja. Sebaiknya kita pergi saja dari sini!" celetuk Arsen sembari meraih tangan Aozora.
"Hei, mau kemana kamu? Ini semua karena kamu! Kamu yang harus tanggung jawab!" Niko memekik, mencoba mencegah Arsen pergi.
"Maaf, Nik. Untuk masalah ini, aku tidak mau ikut campur. Masalahnya, orang yang aku segani selain papaku adalah Om ku ini. Aku cuma mau katakan, kamu terima saja nasibmu. Toh, gak buruk-buruk amat kok! Ayo, Sayang! Arsen kembali meraih tangan Aozora dan berlalu pergi.
__ADS_1
Tbc