
"Kenapa kamu senyum-senyum, Mas?" tegur Aozora dengan kening berkerut, menatap penuh tanya ke arah suaminya yang dari tadi tidak berhenti tersenyum.
"Haish, sejak kapan kamu ada di sini?" bukannya menjawab pertanyaan Aozora, pria itu justru bertanya balik. Tampak dari ekspresi wajah pria itu ada kecemasan. Bagaimana tidak? Ia khawatir kalau istrinya itu mendengar apa yang dibicarakannya dengan orang yang menghubunginya barusan.
"Aku baru saja di sini," sahut Aozora, singkat.
Arsen mengembuskan napas lega, membuat mata Aozora terpicing, curiga.
"Kenapa Mas?" tanya Aozora.
"Apanya yang kenapa?" sekarang giliran mata Arsen yang memicing.
"Ya, itu tadi ... Kamu sepertinya lega, mendengar aku baru saja di sini. Tadi juga wajah kamu terlihat panik dan kaget dengan kehadiranku. Apa ada sesuatu yang kamu tidak ingin aku ketahui?" seperti biasa, bukan Aozora namanya kalau tidak kritis dalam bertanya.
"Itu hanya perasaanmu saja!" sangkal Arsen.
"Apa itu kabar kalau keberadaan Hanum sudah ditemukan, makanya kamu terlihat sangat bahagia?" tanya Aozora lagi dengan raut wajah yang biasa saja. Wanita itu sepertinya sama sekali tidak puas dengan respon suaminya itu. Jujur saja, walaupun ekspresi wajah Aozora terlihat biasa saja sekarang, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, timbul sebuah rasa yang tidak bisa dia deskripsikan, yang jelas rasa itu meninggalkan jejak yang membuat hatinya merasakan sakit. Entah sakit seperti apa, Aozora pun tidak mengerti.
"Jangan berpikir terlalu jauh! Dan jangan banyak bertanya!" Arsen tidak mengiyakan, namun juga tidak membantah. Jawaban pria itu benar-benar sangat ambigu.
"Aku kan hanya __"
"Bukannya aku sudah bilang, jangan banyak bertanya, Zora?" sela Arsen dengan cepat. Tatapan pria itu kini terlihat sangat tajam seakan meminta lawan bicaranya agar berhenti bertanya.
"Mulai sekarang, aku sarankan stop untuk selalu penasaran, karena perasaan seperti itu akan membuat pikiranmu berisik yang ujung-ujungnya membuatmu sakit kepala. Sekali-kali, cobalah untuk bersikap apatis pada sesuatu yang menurutmu tidak penting," sambung Arsen lagi, panjang lebar, tanpa jeda.
Aozora berdecih dan memasang raut wajah malas. "Cih, justru karena menurutku pentinglah makanya aku bertanya. Pelit amat sih untuk kasih tahu." gumam Aozora yang dia kira hanya dirinyalah yang bisa mendengar. Namun, ternyata Arsen juga mendengar apa yang baru saja dia gumamkan.
__ADS_1
"Ehmm, aku mendengarmu," Arsen berdehem dengan ekor mata yang melirik ke arah Aozora.
Aozora sontak cengengesan, menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Jangan cengengesan seperti itu!" tegur Arsen, membuat mata Aozora membola.
"Kenapa, tidak boleh?" Aozora mengerucutkan bibirnya.
"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh!" tegas Arsen dengan tatapan tajam.
"Ya, kamu harus kasih tahu dulu dong, alasannya kenapa tidak boleh!" Aozora to mau kalah.
Arsenio memilih untuk tidak menjawab lagi. Pria itu justru memilih untuk kembali mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Sial,kenapa aku melarangnya ya? Apa karena aku takut kalau aku tidak bisa menahan diri untuk mengatakan kalau sikap dia tadi, menggemaskan?" batin Arsenio.
"Arghh, berisik!" umpatnya tiba-tiba.
"Hah? Siapa yang berisik, Mas? dari tadi aku diam saja?" Aozora mengernyitkan keningnya.
"Haish, masalah tadi juga belum selesai, ini ada masalah baru lagi. Dia pasti nanti akan bertanya lagi. Sekarang aku mau jawab apa coba? kenyataannya kan memang tidak ada yang berisik. Ternyata pertanyaan-pertanyaan dari mulut wanita ini lebih berat menyelesaikannya daripada soal matematika, dan masalah pekerjaan," Arsen mulai menggerutu, merutuki tindakannya yang impulsif tadi.
"Mas, kamu kenapa sih? Kamu lagi banyak pikiran ya?" kini raut wajah Aozora yang tadinya melukiskan kebingungan, kini berubah khawatir.
"Emm, iya. Aku merasa sudah sangat bosan dengan aktivitasku yang begini-begini saja terus. Hanya diam di rumah dan melakukan pekerjaan kantor," sahut Arsen, seketika merasa lega mendapatkan solusi untuk keluar dari situasi yang hampir membuatnya pusing untuk mencari jawaban.
"Oh, Mas rindu jalan-jalan dan pergi ke kantor ya?" Arsen mengangguk-anggukkan kepala, mengiyakan.
__ADS_1
"Kalau rindu, kenapa Mas tidak lakukan? Kita bisa jalan-jalan sekarang, dan kamu juga besok bisa ke kantor?" Aozora memberikan saran.
"Kamu tidak lihat bagaimana kondisiku sekarang? Aku sekarang hanya bisa duduk di kursi roda. Apa kamu mau aku ditertawakan di luar sana?" Arsenio menatap dingin ke arah Aozora.
Aozora menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian bibirnya melengkung membentuk senyuman manis. "Sebenarnya, yang kamu takutkan itu hanya ada dalam pemikiranmu saja. Belum tentu orang-orang akan menertawakanmu. Buktinya banyak kok di luaran sana, yang seperti kamu di bawa jalan-jalan oleh keluarganya. Dan sikap orang biasa saja," jelas Zora dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.
"Mereka mungkin tidak akan menertawakanku, tapi mereka akan menatapku dengan tatapan iba. Aku sama sekali tidak suka dengan tatapan itu. Kamu paham nggak?" ujar Arsenio dengan wajah memerah. "Aku yang dulu selalu terlihat sempurna, kini hanya bisa berjalan dengan bantuan kursi roda. Coba kamu bayangkan bagaimana menyedihkannya kondisiku," lanjutnya lagi.
Aozora lagi menghela napas dan tersenyum. Kemudian ia berjongkok tepat di depan Arsen dan menatap pria dengan tatapan yang sangat lembut.
"Sial, kenapa dia menatapku seperti itu? Ini lagi, kenapa jantungku berdetak kencang melihat tatapannya?" batin Arsen, merutuki dirinya sendiri.
"Mas, kamu jangan pernah terpengaruh dengan apapun tatapan orang padamu, karena kita tidak bisa memaksa orang-orang untuk menatap kita dengan tatapan biasa saja. Mungkin untuk pertama kali, kamu akan risih dan merasa tidak suka.Tapi, lama-lama akan terbiasa kok. Nanti sore aku akan bawa kamu jalan-jalan keluar ya? Untuk awal-awal kita jalan-jalan di taman dekat rumah kita ini dulu. Kamu mau kan?" nada bicara Aozora yang sangat lembut, membuat Arsen tanpa sadar menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Senyum Aozora sontak merekah, melihat anggukan kepala dari suaminya itu.
"Cantik sekali!" gumam Arsen, terpesona melihat senyum sang istri.
"Kamu bilang apa tadi, Mas?" tanya Aozora dengan alis bertaut.
"E-emangnya aku bilang apa tadi? Aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa," bantah Arsen, seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sial, kenapa mulut ini tidak bisa diajak kerja sama sih?" Arsen merutuki mulutnya.
"Ah, gak mungkin dia tidak bilang apa-apa. Dia tadi, bilang cantik sekali kan? Apa aku yang salah dengar ya?" Aozora membatin, bangun berdiri seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Tbc
__ADS_1