Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Dilema Tsania


__ADS_3

Sementara itu, Tsania menepikan mobil yang dia kemudikan di depan rumah mertuanya. Kemudian ia, keluar dan melangkah dengan langkah gontai untuk masuk.


"Mama, aku pulang!" seru Tsania begitu kakinya menapak di lantai ruang tamu.


"Lho, kenapa sudah pulang? Kamu tidak menghabiskan waktu dulu dengan suamimu?" tanya Meta yang kebetulan sedang berbaring di sofa seraya memainkan ponselnya.


Tsania tersenyum miris sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma," sahut wanita itu singkat. Lalu ia mendaratkan tubuhnya duduk di atas sofa.


Meta mengernyitkan keningnya, ketika melihat ekspresi wajah menantunya itu. Wanita paruh baya itu yakin kalau ada yang terjadi di antara anak dan menantunya.


"Kamu kenapa? Apa Dimas menghina masakanmu lagi? Dan di mana rantang yang kamu bawa tadi?" cecar Meta seraya duduk.


"Rantang nya tertinggal di kantor Kak Dimas, Ma. Kak Dimas tidak menghina masakanku karena dia sama sekali tidak memakannya. Yang memakannya justru lantai," sahut Tsania ambigu, membuat kening Meta berkerut.


"Maksud kamu apa? Kenapa bisa jadi lantai?"


"Karena makanan itu semuanya jatuh ke lantai. Kak Dimas mengatakan tidak akan pernah sudi memakan apapun yang aku masak, Ma." terang Tsania, berusaha untuk tersenyum. Namun siapapun bisa melihat kalau di balik senyum wanita itu terselip luka yang amat dalam.


"Dasar anak tidak tahu diri! Kenapa sih dia bisa seperti itu?" Meta terlihat mulai marah. "Kamu tunggu di sini, Mama akan menghubungi dia dan memarahinya!" Meta dengan cepat mencari nomor putranya itu di ponsel miliknya. Kemudian dia bersiap untuk menekan tombol panggil, begitu sudah menemukan yang dia cari.

__ADS_1


"Ma, tidak perlu menghubungi Kak Dimas! Aku tidak apa-apa!" cegah Tsania dengan cepat.


"Kenapa?" sudut alis Meta sedikit naik ke atas. "Dia harus tetap mama marahin, Nia biar tidak bersikap seperti itu ke kamu lain kali," imbuhnya.


"Tidak perlu, Ma. Karena tidak akan ada gunanya. Yang ada akan semakin runyam," sahut Tsania. Wanita itu lagi-lagi berusaha untuk tersenyum, seakan menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja sekarang.


Meta menghela napas dengan sekali hentakan dan memilih untuk mendengarkan menantunya untuk tidak menghubungi Dimas.


"Kamu yang sabar ya, Nia! Mama yakin, kalau kamu tetap berusaha, Dimas akan bisa berubah seperti dulu lagi, dan kembali mencintaimu. Hanya tinggal menunggu waktu saja. Yang penting kamu tetap berusaha untuk semakin lebih baik," ucap Meta dengan bijak.


Tsania memejamkan matanya sekilas kemudian mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan dan berat.


"Maksudmu apa? wanita apa yang kamu maksud? Apa kamu mau mengatakan kalau Dimas selingkuh dengan wanita lain?" suara Meta sedikit meninggi karena dia tidak suka ucapan menantunya yang dia anggap sedang memfitnah putranya.


Tsania menghela napasnya. Dari awal dia sudah yakin kalau akan mendapat respon seperti itu dari mama mertuanya itu.


"Kak Dimas memang selingkuh, Ma dan aku tidak bicara mengada-ngada. Dia selingkuh dengan wanita bernama Bella, yang dua bulan lalu jadi karyawan baru di perusahaan Kak Arsen. Wanita itu cantik, lembut dan tidak jauh berbeda dengan Kak Aozora yang pintar memasak dan juga merupakan istri idaman." Tsania berhenti sejenak untuk mengambil jeda.


"Aku tidak menyalahkan Kak Dimas dalam hal ini, karena yang salah memang aku. Aku tidak bisa menjadi seorang istri yang dia idamkan," lanjut Tsania lagi panjang lebar tanpa jeda.

__ADS_1


Meta berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita paruh baya itu masih sulit untuk percaya dengan ucapan Tsania yang baru saja dia dengarkan. "Mama masih kurang percaya, karena mama tidak yakin kalau Dimas seperti itu. Kamu tidak sedang memfitnah Dimas kan?" sudut alis Meta sedikit naik, menatap Tsania dengan tatapan menyelidik.


Tsania kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Untuk hal seperti ini aku tidak berbohong, Ma. Aku berani bersumpah kalau aku bohong. Tapi, tolong jangan salahkan Kak Dimas akan hal ini. Ini memang murni kesalahanku yang tidak bisa menjadi istri yang baik dari awal!"


Meta menatap mata menantunya itu untuk mencari tahu apakah yang dikatakan menantunya itu benar atau tidak. Wanita paruh baya itu kemudian menghela napasnya dengan berat ketika melihat di manik mata sang menantu tidak memperlihatkan kebohongan sama sekali.


"Ma, sekarang aku sudah memutuskan untuk bercerai dengan Kak Dimas, Mama setuju kan?" celetuk Tsania, tiba-tiba, membuat Meta menarik ke dua alisnya ke atas dan menarik rahang bawahnya ke bawah. Wanita itu benar-benar kaget mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut menantunya.


"Jangan aneh-aneh! Tidak ada namanya perceraian! lagian kenapa kamu jadi mundur? harusnya kamu tidak boleh menyerah dan kamu harus membuktikan pada wanita itu kalau kamu yang lebih berhak atas Dimas karena kamu itu istri sahnya. Jangan pernah menyerah pada wanita yang ingin merebut milikmu, Nia! Kamu harus mempertahankan milikmu!" Meta berbicara dengan sangat tegas.


"Tapi, memang awalnya Kak Dimas bukan milikku, Ma. Aku sekarang menyadari kalau kita mendapatkan sesuatu dari hasil merebut dan cara licik, cepat atau lambat kita akan mendapatkan balasannya. Dan itulah sekarang yang terjadi padaku," ucapan Tsania kali ini benar-benar ambigu pada Meta. Wanita paruh baya itu berusaha mencerna tapi tetap saja dia gagal untuk mencernanya.


"Maksud kamu apa? Siapa yang kamu rebut? Mama rasa kamu tidak merebut siapapun. Kamu bisa menikah dengan Dimas saat itu karena kakakmu Zora yang membatalkan pernikahan tiba-tiba dan memilih menikah dengan keponakanku Arsen. Dia mau menikah dengan Arsen demi harta, sekalipun dia tahu kalau keponakanku itu lumpuh," tutur Meta dengan mata yang menyala-nyala penuh kebencian.


Tsania menggigit bibir bawahnya. Ia melihat kebencian yang amat sangat pada manik mata mama mertuanya itu yang bisa dipastikan ditujukan pada Aozora. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kalau dirinya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tsania bergidik merasa ngeri kalau tatapan kebencian yang tadinya ke Aozora berganti benci kepadanya.


"Aduh, kenapa aku jadi bimbang begini ya untuk menceritakan yang sebenarnya pada mama Meta? Aku tidak akan sanggup kalau Mama Meta membenciku. Sekarang yang aku punya hanya Mama Meta," bisik Tsania pada dirinya sendiri. Wanita itu benar-benar merasa dilema. Padahal, tadi saat di mobil dirinya sudah bertekad untuk memberitahu yang sebenarnya pada mama mertuanya itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2