Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Syarat Dimas


__ADS_3

Sementara itu, Tsania yang sudah membaca postingan mamanya itu, memutuskan untuk tidak pulang ke apartemen milik Aozora. Wanita itu, langsung menuju apartemen Bella yang berdekatan dengan apartemen Dimas. Karena dia yakin, kalau wanita yang sudah jadi temannya itu sekarang pasti sudah kembali ke apartemennya sendiri karena Dimas sudah di penjara. Wanita itu yakin kalau Bella sekarang sedang kacau melihat pemberitaan tentang dirinya.


Begitu tiba di apartemen Bella, wanita yang sedang mengandung itu, langsung menekan bel, lalu menunggu pintu dibukakan.


Karena tida kunjung dibukakan, padahal sudah berkali-kali bel dipencet, Tsania pun menghubungi melalui ponselnya.


"Bel, aku di depan apartemenmu. Tolong bukakan pintunya!" ucap Tsania, begitu panggilannya dibuka.


Tidak perlu menunggu lama, akhirnya pintu apartemen itu pun dibuka. Tampak wajah Bella yang kusut dan mata wanita itu juga tampak sembab. Sepertinya wanita berparas cantik itu, kebanyakan menangis dari tadi, membaca hujan hujatan yang dialamatkan padanya.


"Bel, kami tidak apa-apa?" tanya Tsania tanpa basa-basi dan langsung memeluk wanita itu.


"Bohong kalau aku bilang aku tidak apa-apa. Kata-kata netizen itu sangat menyakitkan, Nia. Sepertinya aku memutuskan untuk cepat-cepat pulang ke Amerika," ucap Bella dengan suara yang lirih dilanjutkan dengan helaan napas yang berat


Tsania berdecak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian wanita itu meraih tangan Bella dan mengelus dengan lembut.


"Kamu tidak boleh pergi begitu saja. Itu sama saja, kamu tetap meninggalkan kesan buruk. Seharusnya sebelum kamu pergi, kamu harus memperbaiki nama baikmu dulu. Kamu tenang saja, aku akan membantumu," ucap Tsania dengan bijak dan tersenyum.


"Tapi bagaimana caranya? Kalau aku klarifikasi, apa akan ada yang percaya? Semua pasti berpikir kalau aku hanya melakukan pembelaan. Kalau nyuruh Dimas menyangkal, juga tidak mungkin. Kalau Kak Arsen dan Kak Aozora yang bantu klarifikasi, semua akan tahu kelakuan Dimas. Padahal kamu tahu sendiri, walaupun Kak Arsen memenjarakan Dimas, dia tetap saja, menjaga nama baik Dimas, dengan tetap menutupi kasus Dimas ke publik. Dia tetap tidak ingin ada yang tahu kalau Dimas dan papanya di penjara," tutur Bella panjang lebar tanpa jeda.


"Kamu tenang saja. Aku sendiri yang akan klarifikasi," ucap Tsania lugas dan penuh keyakinan.


Bella tentu saja kaget mendengar kalimat yang terlontar dari mulut istri Dimas itu. "Kamu mau bantu klarifikasi? Apa kamu yakin klarifikasi kamu akan bekerja? Kenapa aku tidak yakin ya? Mereka pasti nanti akan meminta bukti, apakah kamu dan Dimas benaran baik-baik saja atau tidak untuk mematahkan asumsi yang dibuat mamamu. Jika kamu klarifikasi tanpa memperlihatkan hubunganmu dan Dimas yang masih baik-baik saja, pasti tidak akan ada yang percaya. Kecuali __"


"Aku akan melakukan klarifikasi dengan Dimas," sela Tsania dengan cepat.


"Hah? apa kamu lagi bercanda? Bagaimana caranya kamu dan Dimas bisa bersama melakukan klarifikasi, sementara Dimas ada di penjara? Dan apa kamu yakin Dimas akan mau klarifikasi? Dia kan sekarang dendam padaku?" Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, pesimis.


Tsania kembali tersenyum. " Dia sudah bersedia melakukan klarifikasi, Bel. Tapi dengan satu syarat," ucap Tsania, ambigu.


"Dengan satu syarat? Maksudnya? Jangan bilang dia minta dibebaskan? Kalau iya, mending namaku tetap buruk. Aku yakin, seiring berjalannya waktu, rumor dan pandangan negatif padaku, akan hilang dengan sendirinya," Bella menggeleng-gelengkan kepalanya, keberatan kalau Dimas akan bebas begitu saja. Wanita itu seakan sudah yakin dengan apa yang dia pikirkan.


"Kamu jangan berpikir terlalu jauh. Dia tidak minta dibebaskan. Dia hanya minta ...." Tsania menggantung ucapannya, seakan sulit baginya untuk mengeluarkan kalimat yang sekarang tergantung di tenggorokannya.


"Dia minta apa, Nia?" Bella mengernyitkan keningnya.


Tsania tidak langsung menjawab. Wanita yang sedang mengandung itu menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Nia?" mata Bella semakin memicing.


"Dia hanya mengajukan syarat, agar aku tidak meminta cerai lagi darinya," pungkas Tsania akhirnya.


Flashback


"Aku hamil," Celetuk Tsania, tiba-tiba.


"Ha-hamil?" seru Dimas seraya mengalihkan tatapannya ke arah perut Tsania yang masih rata.


"Kamu hamil, Sayang?" kali ini Meta yang buka suara.


Tsania menganggukkan kepalanya, membenarkan.


Tanpa sadar Dimas memeluk Tsania, kemudian mengelus perut wanita yang masih jadi istrinya itu.


"Kak, lepaskan!" Tsania berusaha melepaskan pelukan Dimas.


"Ingat kak, walaupun aku hamil, tapi setelah anak ini lahir, kita tetap akan bercerai. Karena aku tahu, kalau cintamu tidak ada untukku. Untuk masalah apartemen dan uang yang ada di kartu kamu ini, maaf aku tidak bisa menerimanya," ucap Tsania.


"Tidak ... Tidak Nia! Aku mohon,kita jangan bercerai. Aku minta maaf dengan semua yang aku lakukan padamu. Aku mohon tolong beri aku kesempatan kedua. Aku berjanji akan jadi suami dan papa yang baik buat anak kita. Aku tahu kalau aku egois dengan permintaanku, padahal aku sudah sangat menyakitimu. Tapi, aku mohon tolong berikan aku kesempatan kedua," Tsania tercenung. Baru kali ini dia melihat pria yang biasanya angkuh itu, memohon dengan wajah memelas.


"Aku tahu Ma. Anakku memang butuh figur seorang ayah, tapi, ayah yang bagaimana dulu? figur ayah yang dibutuhkan anakku adalah figur yang bisa menjadi contoh yang baik. Kalau figur ayahnya buruk, lebih baik jangan, Ma. Aku punya cita-cita ingin mengajarkan anakku kelak dengan baik, tidak seperti aku yang diajarkan oleh seorang ibu yang egois. Maaf, aku pamit dulu, Ma!" pungkas Tsania seraya berlalu pergi tanpa membawa kartu yang diberikan oleh Dimas.


Di saat sudah berada di luar dan sedang menunggu taksi online yang dia pesan, Tsania iseng membuka media sosialnya. Alangkah kagetnya dia ketika melihat postingan Dona mamanya sendiri. Wanita itu lebih kaget lagi, ketika melihat semua komentar yang berisi hujan hujatan yang dialamatkan pada temannya itu.


Tsania mencoba berpikir keras apa yang harus dia lakukan. Setelah berpikir beberapa saat wanita itu langsung kembali masuk ke dalam kantor polisi, untuk menemui Dimas dan keluarganya kembali.


"Kak, lihat ini!" Tsania langsung menunjukkan postingan mamanya ke Dimas.


"Emangnya kenapa? Biarkan saja lah!" ucap Dimas tidak acuh.


"Tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun dia sahabatku sekarang. Dia yang menemaniku dan membantuku sewaktu memutuskan pergi dari rumahmu. Jadi, aku harus membantunya," ucap Tsania.


"Jadi, kamu maunya apa? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Dimas.


"Bagaimana kalau sekarang kita merekam klarifikasi kita. Kita bantah semua tuduhan mamaku dan kita tunjukkan kalau hubungan kita baik-baik saja. Tidak ada yang hancur. Kita bisa mengatakan kalau dia itu sahabatku dan photo di mana kamu masuk ke dalam apartemen Bella, itu karena aku ada di dalam dan kamu mau menjemputku, bagaimana?" Tsania memberikan ide.

__ADS_1


"Boleh, tapi dengan satu syarat," ucap Dimas.


"Syarat?" gumam Tsania. "Apa dia akan memintaku untuk memohon pada Kak Arsen agar membebaskannya? Kalau iya, aku tidak mungkin berani memohon pada Kak Arsen," batin Tsania.


"Bagaimana, Nia? Apa kamu mau mendengarkan syaratku?" tanya Dimas.


"Emm, apa syaratnya. Kalau aku bisa memenuhinya akan aku lakukan," pungkas Tsania.


"Aku hanya ingin kamu membatalkan niat kamu untuk menceraikanku. Kita akan sama-sama untuk membesarkan anak kita. Itu saja."


Tsania tersentak kaget mendengar syarat yang dilontarkan oleh suaminya itu. Dia tidak menyangka kalau syarat yang diajukan pria itu tidak sesuai dengan yang ada dipikirannya.


Setelah terdiam beberapa saat dan berpikir matang-matang, akhirnya Tsania pun menyanggupinya.


Akhirnya mereka berdua pun mengambil video klarifikasi. Tapi, sebelumnya Dimas mengganti pakaian tahanannya dengan meminta ke polisi pakaian yang sebelumnya dia pakai ketika dibawa ke kantor polisi tadi.


Flashback end


Bella kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu tidak boleh berkorban seperti ini. Kamu tidak boleh tetap bertahan dengan pria yang menyakitimu, hanya demi membantuku. Lebih baik namaku tetap buruk, kalau demi aku kamu tetap berada di dalam hubungan yang membuat kamu tidak bahagia," tolak Bella, dengan tegas. "Kecuali kalau kamu masih mencintainya," imbuhnya.


"Bohong kalau aku mengatakan aku tidak mencintainya lagi. Tapi keinginanku yang sebelumnya ingin bercerai memang benar-benar sudah aku niatkan. Tapi, aku berpikir setiap orang pantas diberikan kesempatan kedua kan? Dan sepertinya aku akan memberikan kesempatan itu." Tsania berhenti sejenak untuk mengambil jeda sekaligus menghirup oksigen.


"Aku sama sekali tidak terpaksa membatalkan perceraianku dengannya demi kamu, Bel. Kamu jangan terbebani dengan itu. Tadinya aku juga ragu saat dia meminta syarat. Awalnya aku juga mengira kalau dia akan egois dengan meminta dibebaskan. Ternyata tidak sama sekali. Dia justru hanya meminta agar aku tidak menceraikannya, dan mau bersama-sama membesarkan anak kami. Jadi, aku merasa kalau dia sudah mulai berubah," lanjut Tsania lagi.


Bella seketika tercenung. Wanita itu merasa kalau ucapan wanita di depannya itu benar dan masuk akal.


"Mudah-mudahan dia memang benar-benar berubah," pungkas Bella.


"Baiklah, sekarang aku mau up klarifikasiku dan Dimas," Tsania mengeluarkan ponselnya dan membuka media sosialnya. Namun, belum sempat dia mengunggah klarifikasinya, tiba-tiba dia melihat postingan seorang pria yang tidak lain adalah Niko sedang melakukan klarifikasi. Di video klarifikasi itu dengan jelas pria itu mengatakan kalau Bella bukan seperti yang disebutkan oleh Dona mamanya. Dan dengan jelas juga, pria itu mengatakan kalau Bella itu adalah kekasihnya bukan kekasih Dimas.


"Bel, kamu pacaran dengan Niko?" tanya Tsania.


"Tidak! Emangnya kenapa?" Bella mengernyitkan keningnya.


"Coba lihat ini! Dia meminta agar orang-orang berhenti menghujatmu. Dia mengatakan kalau kamu itu kekasihnya," Tsania menunjukkan video klarifikasi yang dibuat oleh Niko.


"Tapi, benaran, dia bukan pacarku," Bella mengangkat dua jarinya seakan sedang bersumpah.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2