Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Aditya marah


__ADS_3

"Jadi bagaimana ini? Perusahaan benar-benar akan bangkrut kalau begini!" Dona bicara dengan nada tinggi. Wajah wanita paruh baya itu juga terlihat kusut, ditambah rambutnya yang dari tadi dia acak-acak, semakin mendukung penampilannya yang kacau.


"Aku juga tidak tahu. Aku sudah membujuk Aozora, tapi dia tetap keukeh dengan pendiriannya. Aku bahkan sudah memohon, tapi dia tetap tidak peduli," Aditya juga tidak kalah kacaunya dengan Dona istrinya.


"Arghh, bilang saja kami belum maksimal membujuknya. Kamu benar-benar tidak bisa diandalkan Pa. Benar-benar suami tidak berguna!" Dona menatap Aditya dengan tatapan sinis dan merendahkan.


Tangan Aditya terkepal dengan kencang dan menatap Dona dengan tatapan maut. Wajah pria itu juga sudah memerah dan rahang mengeras, pertanda amarah pria itu sudah sampai puncak. Harga diri Aditya benar-benar direndahkan oleh wanita yang dicintainya, sampai-sampai menduakan wanita tulus, yaitu wanita yang melahirkan Aozora.


"Apa kamu bilang? aku tidak berguna?" Aditya tiba-tiba mencengkram kuat dagu Dona, hingga wanita paruh baya itu meringis kesakitan.


"Sa-sakit, Sayang!" ringis Dona.


"Kamu tahu juga rasanya sakit, hah?" Aditya semakin mengencangkan cengkramannya.


"Ini masih fisik kamu yang sakit, belum dengan batinmu. Asal kamu tahu, kalau perasaanku selama ini lebih sakit, karena harus selalu mengikuti kemauanmu, tapi kamu masih selalu merendahkanku. Kamu sama sekali tidak pernah menghargaiku sebagai suami. Aku muak, Dona! Benar-benar muak dengan sikap egois dan ambisimu! Kamu belum puas ya, membuat Sekar depresi hingga meninggal? Kamu belum puas juga, membuatku mengorbankan putriku sendiri, hingga membuat putriku membenciku? BELUM PUAS YA!" suara Aditya menggelegar, hingga membuat Dona memejamkan matanya saking takutnya. Bagaimana tidak, baru kali ini Aditya memperlihatkan kemarahannya.


"Papa!" terdengar teriakan dari arah pintu, yang tidak lain adalah Tsania.


Aditya sontak menoleh ke arah pintu diikuti oleh Dona.


"Pa, lepaskan tangan Papa dari dagu mama!" titah Tania, sembari menarik tangan papanya itu, hingga terlepas dari dagu Dona. Tampak jelas dagu itu memerah bekas cengkraman Aditya.


"Kenapa kalian berdua berantem sih?" Tsania bicara sembari menatap mama dan papanya bergantian meminta penjelasan. Sikap wanita itu sekarang seperti seorang hakim yang sedang menyidang terdakwa.

__ADS_1


"Kamu tidak usah banyak tanya! Sekarang Papa mau tanya, mau apa kamu datang ke sini?" Aditya balik bertanya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Emangnya kenapa kalau aku datang ke sini, Pa? Papa lupa ya, kalau rumah ini juga atas namaku? Jadi aku berhak untuk datang ke sini, kapanpun aku mau," Tsania memperlihatkan ekspresi wajah tidak senang atas pertanyaan papanya itu.


Aditya bergeming, diam seribu bahasa, tidak membantah ucapan anaknya yang memang benar adanya.


"Aku datang ke sini karena kesal di rumah mertuaku, yang memintaku untuk belajar memasak. Mana Kak Dimas banyak menuntutku untuk melayaninya, termasuk menyiapkan segala keperluannya untuk bekerja. Eh, datang ke sini bukanya membuat aku senang, malah semakin membuat aku kesal," lanjut Tsania sembari menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


"Kalian, ibu dan anak sama saja. Sama-sama tidak berguna. Tahunya hanya uang, uang saja, tanpa mau melakukan apapun! Tahunya hanya menuntut! Tentu saja Dimas mau kamu melayaninya dan menyiapkan semua keperluannya untuk bekerja. Kamu itu kan istrinya," Aditya kembali bersuara, setelah beberapa saat terdiam.


"Papa, apa-apaan sih? Kenapa bicaranya seperti itu coba? Aku kan babunya. Kalau aku harus melayani semua keperluannya dan memasak untuknya, jadi untuk apa ada pembantu?" Tsania kembali mengerucutkan bibirnya.


"Itu beda Tsania. Arghhh, benar-benr susah menjelaskan pada orang yang sudah salah dari dada. Kamu tahunya hanya minta uang tanpa pernah mau tahu, dari mana uang itu berasal. Aku takut, kalau Dimas tidak akan bertahan lama denganmu karena sikap kamu yang begini.


"Papa tidak mendoakan, tapi itu gambaran yang sudah bisa papa lihat. Kamu kalau dinasehati tidak pernah mau dengar. Itu akibat kamu yang selalu dimanjakan dari dulu. Sekarang Papa mau tanya, apa kamu pernah bekerja, Hah? bahkan kondisi perusahaan yang mungkin sebentar lagi akan bangkrut kamu juga tidak peduli kan?" Aditya bicara dengan nada dingin.


"Apa Papa tidak bisa menyelesaikannya sendiri? Kenapa untuk menangani seorang Aozora saja, Papa tidak mampu sih? Lagian, wanita tidak tahu diri itu kenapa bisa begitu sih? Apa dia mau perusahaan peninggalan mamanya itu bangkrut dan tinggal nama?" Tsania mulai menggerutu.


Aditya berdecak kesal. "Ini yang Papa tidak habis pikir denganmu. Kamu selalu saja menggampangkan semuanya," Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari beranjak pergi.


Baru melangkah beberapa langkah, ponsel pria itu tiba-tiba berbunyi, pertanda ada panggilan masuk. Ia pun merogoh sakunya, lalu mengeluarkan ponselnya.


Tampak di layar ponsel ada nama Aozora sedang menghubunginya. Sepertinya putrinya itu sudah membuka blokirannya.

__ADS_1


"Aozora menghubungiku? kenapa ya? Apa dia berubah pikiran?" ucap Aditya dengan senyum penuh harap.


"Apa, Sayang? Aozora menghubungimu?" Dona yang dari tadi diam saja, langsung menghambur mendekati suaminya. Wanita paruh baya itu seketika merasa lupa akan kejadian tadi, saat Aditya bersikap kasar padanya. Bukan hanya Dona, Tsania juga sontak berdiri dari tempat duduknya dan ikut menghampiri papanya.


"Ayo, jawab Sayang!" titah Dona tidak sabar.


Aditya menganggukkan kepalanya dan tanpa menunggu lama, langsung menekan tombol jawab.


"Halo, Nak!" sapa Aditya, dengan suara lembut.


"Aku mau anda datang menemui saya sekarang di kantor saya, Tuan Aditya! Aku juga mau anda membawa Tsania ikut serta, untuk membicarakan perjanjian mengenai investasi ke perusahaan anda!" sahut Aozora tanpa ingin berbasa-basi, dari ujung sana dengan nada yang sangat formal.


"Nak, kenapa kamu panggil Papa seperti itu? Aku ini papa kamu, jadi tidak seharusnya kamu memanggilku 'Tuan Aditya'," Aditya bicara dengan nada yang dibuat semelas mungkin.


"Tolong jangan bahas masalah panggilan lagi! Aku hanya ingin anda datang ke sini. Kalau anda masih mau, perusahaan suami saya berinvestasi pada perusahaan anda. Ingat, untuk bawa Tsania sekalian!" suara Aozora terdengar sangat dingin.


"Kenapa Tsania harus ikut?" Aditya menautkan kedua alisnya, menyelidik.


"Apa anda lupa, kalau perusahaan itu sekarang atas nama Tsania? Jadi, dia perlu ikut untuk ikut tandatangan perjanjian. Karena aku tidak mau tanda tangannya diwakili oleh orang lain," sahut Aozora, tegas.


"Baiklah, aku akan datang dengan Tsania. Terima kasih sudah mau berbaik hati untuk kembali berinvestasi. Papa yakin kalau kamu tidak mungkin akan Setega itu membiarkan perusahaan peninggalan almarhum mamamu itu, bangkrut begitu saja," Aditya bicara dengan penuh percaya diri.


"Tidak perlu banyak basa-basi lagi! Datang secepatnya sebelum aku berubah pikiran!" Panggilan seketika diputus dari ujung sana secara sepihak, tanpa menunggu Aditya untuk kembali berbicara.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2