
"Mas, aku izin mau pergi ke makam mama ya?" ucap Aozora seraya meraih tas dan rantang yang isinya tadi pagi sudah dihabiskan oleh Arsen
"Kamu tunggu aku! Sebentar lagi pekerjaanku akan selesai. Kita pergi bersama," sahut Arsen dengan tatapan yang tatap fokus ke layar laptop di depannya.
"Aku bisa sendiri, Mas. Mas di sini saja!" tolak Aozora, merasa tidak enak sudah merepotkan suaminya itu.
Arsen menghela napas lalu menoleh ke arah Aozora dengan tatapan tajam, seakan menunjukkan kalau ditanya tidak mau dibantah.
"Iya deh, iya. Aku tunggu kamu!" Aozora yang mengerti makna tatapan suaminya itu, segera mendaratkan tubuhnya duduk kembali.
"Bagus," sahut Arsen, singkat kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tidak perlu menunggu lama, Arsen akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia pun langsung menutup laptopnya dan berdiri dari tempat duduknya. Pria itu juga tidak lupa meraih jasnya yang sebelumnya di sampirkan di sandaran kursinya, lalu mengenakannya.
"Ayo kita berangkat, aku sudah selesai!" Arsen kini sudah berdiri tepat di depan Aozora. Tangan pria itu terulur hendak membantu istrinya berdiri.
Aozora tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan sang suami. Sumpah demi apapun, walaupun Arsen selalu menunjukkan sikap baik padanya, tapi Dirinya masih merasa abu-abu dan selalu bertanya bagaimana sebenarnya perasaan pria itu pada dirinya.
Mereka berdua pun kini mengayunkan kaki melangkah keluar.
"Kita ke makam dulu atau kita cari makan siang dulu?" Arsen buka suara, setelah mereka sudah berada di luar ruangan Arsen.
Aozora tidak langsung menjawab. Wanita itu lebih dulu meraih tangan Arsen dan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan suaminya itu.
__ADS_1
"Emm, terserah kamu sajalah, Mas. Kalau kamu sudah lapar, ya udah tidak masalah kita makan dulu," pungkas Aozora
"Baiklah, sepertinya kita harus makan dulu!" Aditya kembali meraih tangan Aozora dan mengajak istrinya beranjak dari tempat itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pasangan suami istri yang tidak lain adalah Arsenio dan Aozora akhirnya sudah di lobby dan siap keluar. Namun, begitu hendak keluar, tiba-tiba terlihat Tsania berjalan hendak masuk. Di tangan wanita itu tampak menentang rantang yang bisa dipastikan kalau isi rantang itu adalah makanan.
"Hai, Kak Zora, Kak Arsen!" sapa wanita itu dengan sangat ramah.
Aozora tidak langsung menjawab, demikian juga dengan Arsen. Pasangan suami istri itu justru saling silang pandang, dan menatap penuh tanya.
"Emm, kalian berdua mau makan siang di luar ya?" Tsania sepertinya tidak peduli maupun sakit hati dengan respon Aozora dan Arsen yang sama sekali tidak membalas sapaannya.
"Kamu kenapa? Apa kepalamu terbentur sesuatu, sampai kamu bertingkah aneh seperti ini?" Aozora memicingkan matanya, menatap curiga pada Tsania.
"Tidak! Kamu tidak baik-baik saja! Sepertinya kamu ini bukan Tsania yang aku kenal. Tapi kamu ini sedang kesurupan arwah seseorang," Aozora menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Emm, terserah deh Kak mau percaya atau tidak. Oh ya, Kak coba lihat ini!" Tsania mengangkat rantang yang ada di tangannya.
"Aku sudah belajar memasak. Aku mau seperti Kakak yang pintar memasak. Dan ini hasil masakanku, mau aku kasih ke Kak Dimas. Tapi, aku nggak tahu, apa Kak Dimas suka atau tidak. Emm ... Oh ya, Kak, lain kali Kakak mau nggak mengajari aku memasak?" tanya Tsania.
"Tidak akan! Kamu belajar saja pada mamamu itu! Aku tidak punya waktu untuk orang seperti kamu!" sahut Aozora dengan ketus.
__ADS_1
Raut wajah Tsania yang tadinya berbinar kini tampak berubah sendu. "Kakak masih sangat benci padaku ya? maaf ya,Kak atas perbuatanku selama ini. Aku tahu, akan sulit untuk Kakak bisa memaafkanku, karena perbuatanku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi, bisa nggak sekali ini saja aku memohon pada Kakak, untuk berbaik hati memaafkanku!" suara Tsania terdengar lirih.
Lagi-lagi Aozora tersentak kaget dengan perubahan Tsania. Wanita itu benar-benar sulit untuk percaya dengan apa yang baru saja dia lihat dan dengar.
"Hah, seorang Tsania minta maaf padaku? Kenapa bisa? Bukannya selama ini dia sangat anti untuk meminta maaf padaku?" batin Aozora.
"Kak, jujur saja selama ini aku ingin bisa merasakan seperti orang lain yang bisa dekat dengan kakaknya. Saling bercanda, saling bercerita, baik yang bahagia maupun sedih. Tapi, aku selalu diminta Mama untuk tidak dekat-dekat dengan Kakak. Hampir setiap hari dulu, Mama selalu meracuni pikiranku dengan mengatakan kalau mama kakak sudah merebut papa dari mama dengan cara licik. Mama memintaku untuk bisa membalas sakit hatinya dengan merebut Kak Dimas dari Kakak. Tapi, sekarang aku sudah menyadari kalau ternyata Tante Sekar tidak seperti yang mama katakan. Aku juga sudah menyadari kalau selama ini aku hanya dijadikan alat oleh mama untuk membalaskan sakit hatinya dan untuk memenuhi semua yang dia inginkan. Aku capek, Kak! Aku benar-benar capek! Makanya aku tidak mau lagi menuruti kemauan gila Mama," tutur Tsania panjang lebar tanpa jeda. Sementara Aozora hanya terdiam seribu bahasa, berusaha mencerna ucapan wanita yang bagaimanapun tetap adiknya itu.
"Kak, sekarang aku menyadari juga, segala sesuatu yang kita dapatkan dengan cara yang tidak baik, kebahagiaan itu tidak akan berlangsung lama, dan justru akan menyakitkan untuk kita. Aku sudah mendapatkan karmaku kak. Aku diselingkuhi oleh Kak Dimas. Sekarang aku baru merasakan sakitnya dikhianati oleh orang yang kita cintai. Tapi, aku ikhlas kok Kak menerimanya. Dan aku ingin tetap memperjuangkan pernikahan kami. Aku minta doa dan dukungan Kakak ya! Mudah-mudahan aku masih bisa memperbaiki pernikahan kami yang sudah di ambang kehancuran," sambung Tsania lagi walaupun wanita yang dia panggil Kakak itu tidak memberikan respon sama sekali.
Aozora masih saja tetap tidak memberikan respon. Wanita itu masih diam terpaku. Entah apa yang sekarang ada di pikiran wanita itu.
"Astaga, kenapa aku tiba-tiba tersentuh dan merasa bersalah ya? kenapa aku merasa sudah menjadi wanita yang buruk, sudah membuat pernikahan mereka di ambang kehancuran?" bisik Aozora pada dirinya sendiri.
"Sudah dulu ya, Kak! Aku mau ke ruangan Kak Dimas dulu. Mudah-mudahan dia suka dengan makanan yang aku bawa! Bye Kak Zora, Kak Arsen!" tanpa menunggu jawaban Aozora dan Arsen Tsania langsung melangkahkan kakinya meninggalkan pasangan suami-istri itu.
"Ayo,Zora, kita pergi!" Arsen yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara. Namun tidak ada respon dari Aozora. Sepertinya wanita itu masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
"Zora, kamu dengar aku nggak? Ayo kita berangkat!" ulang Arsen yang kali ini dilakukan dengan bisikan.
"I-iya, Mas. Ayo kita berangkat!" sahut Aozora dengan cepat, setelah tersadar dari lamunannya.
Pasangan suami istri itu akhirnya kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.
__ADS_1
"Mas, apa yang aku lakukan untuk membalas perbuatan Tsania dan Dimas itu keterlaluan ya?" celetuk Aozora tiba-tiba.
tbc