Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Kalau tidak berguna buang saja!


__ADS_3

Tsania kini sudah keluar dari rumah sakit. Sekarang wanita itu untuk sementara tinggal di apartemen milik Aozora yang dulu sering dia tinggali ketika merasa kesal di rumah yang ada papa, mama tirinya dan Tsania. Kenapa tidak di rumah peninggalan mamanya Aozora? selain karena rumah itu sekarang dihuni oleh Samudra, itu juga atas permintaan Tsania sendiri.


"Tapi, benar aku tidak apa-apa tinggal di sini, kak?" tanya Tsania memastikan.


"Tidak masalah sama sekali. Kamu tinggal saja di sini selama yang kamu mau. Toh apartemen ini kosong kan?" senyum Aozora kini sudah tidak terlihat kaku lagi. Senyum wanita itu sudah terlihat lebih tulus. Wanita itu sepertinya sudah bisa menerima kehadiran Tsania yang walau bagaimanapun dirinya tidak bisa menolak kalau wanita yang sedang mengandung itu adalah adiknya, walaupun lahir dari wanita yang sudah menghancurkan kebahagiaan namanya. Kehadiran Tsania tidak pernah salah, yang salah itu dia lahir dari seorang wanita yang memiliki keegoisan yang sangat tinggi.


"Terima kasih, Kak! Akhirnya keinginanku selama ini, bisa sedekat ini dengan Kakak bisa terpenuhi," ucap Tsania dengan tatapan yang berkaca-kaca.


Aozora kembali tersenyum dan mengelus-elus pundak Tsania. "Sudah, sekarang kamu baik-baik saja ya di sini. Jangan terlalu banyak pikiran. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu kasih tahu aku. Aku akan usahakan untuk membantumu," tutur Aozora.


Tsania tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Sekarang, aku pergi dulu ya! Tadi aku sudah meminta orang untuk menyiapkan stok makanan yang bisa kamu olah. Dan katanya semuanya sudah dia masukkan ke dalam kulkas," pungkas Aozora.


"Baik, Ka. Sekali lagi terima kasih ya, Kak!" Aozora menganggukkan kepalanya, kemudian beranjak dari.


"Kak Zora, tunggu!" Aozora yang baru melangkah beberapa langkah sontak menghentikan langkahnya dan kembali berbalik begitu mendengar panggilan Tsania.


"Ada apa?" Aozora mengernyitkan keningnya.


"Emm, aku hanya mau mengingatkan sekali lagi, Ka. Tolong ya, Kak jangan kasih tahu Kak Dimas tentang kehamilanku? Aku benar-benar tidak mau dia tahu Kak," Tsania kembali melontarkan permohonannya yang entah sudah berapi kali selalu wanita itu ingatkan.


"Iya, Nia, iya! Aku akan diam!" Aozora memutar bola matanya merasa jengah dengan pesan Tsania yang dilontarkan berkali-kali.


Tsania terkekeh, merasa lucu melihat kekesalan kakak perempuan yang baru saja berdamai dengannya.


"Ya, sudah! Aku kali ini benar-benar pergi ya! Kalau ada apa-apa kamu hubungin aku. Jangan terlalu lelah dan Jangan banyak pikiran. Pikirkan perkembangan anak yang ada dalam perutmu saja!"


Tsania mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. Wanita itu benar-benar merasa terharu dan seketika merasa kalau masih ada yang memperhatikannya dengan tulus.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Arsen kini sudah kembali ke kantor. Raut wajah pria itu terlihat tidak tenang, seperti ada yang sedang mengganggu pikirannya. Bahkan pria itu berkali-kali menilik ponselnya, lalu berdecak kesal, seraya meletakkan ponselnya kembali.


"Kamu kenapa sih, Sen? Dari mulai datang 10 menit yang lalu kamu tampak gelisah?" Niko, mengernyitkan keningnya, menatap ke arah sahabat sekaligus atasannya itu.


"Aku menunggu pesan dari Aozora, Nik. Dia ini kemana sih? Apa dia masih menemani Tsania di apartemennya, atau sudah pulang ke rumah?"


Niko sontak tersenyum penuh makna begitu mengetahui apa penyebab kegelisahan sahabatnya itu. Karena selama bertahun-tahun berteman dengan pria itu, baru kali ini dia melihat pria dingin di depannya itu uring-uringan hanya karena tidak mendapatkan kabar dari seorang wanita. Bahkan selama berhubungan dengan Hanum dulu, dia tidak pernah melihat sahabatnya sepeduli itu.


"Kenapa kamu senyum-senyum? Apa ada yang lucu?" bentak Arsen, menatap sengit ke arah Niko.


Niko yang awalnya hanya tersenyum kini terbahak, melihat ekspresi Arsen yang baginya tidak ada seramnya sama sekali. Bagi orang lain mungkin raut wajah pria itu akan membuat nyali orang ciut, tapi bukan untuk Niko.


"Hei, Brengsek! Aku tanya ada yang lucu, kamu malah tertawa. Kamu sudah bosan hidup ya? kalau kamu tidak berhenti tertawa, gaji kamu aku potong 50 persen plus tidak dapat bonus!"


"Haih, kamu gak asik ah. Ancamannya selalu itu," sungut Niko, seraya menampilkan wajah kesalnya.


"Makanya jangan buat aku kesal. Lagian kamu kenapa tadi tertawa? Apa yang lucu?" Arsen mengulang pertanyaannya.


"Emm, aku hanya merasa lucu saja melihat seorang Arsen ternyata bisa uring-uringan hanya karena tidak mendapat kabar dari seorang wanita. Biasanya kamu kan cuek saja. Sepertinya kamu benar-benar sudah sangat mencintai Zora," ujar Niko tanpa menanggalkan senyumnya.


"Jangan sok tahu kamu!" sambar Arsen dengan cepat.


"Bukan sok tahu, tapi __"


"Sekali lagi kamu bicara, aku akan benar-benar potong gaji kamu!" Arsen dengan cepat memotong ucapan Niko.


Niko berdecak kesal dan akhirnya menjadi untuk diam.

__ADS_1


Arsen kembali menilik ponselnya, tapi lagi-lagi tidak ada pesan sama sekali dari Aozora.


"Sialan. Kemana sih dia? Apa untuk kasih kabar aja nggak bisa?" umpat Arsen.


Niko ingin kembali tertawa, tapi pria itu berusaha untuk tetap bersikap biasa, seakan tidak mendengar sungutan Arsen.


Karena sudah tidak bisa menahan diri lagi, akhirnya Arsen memutuskan untuk menghubungi Aozora lebih dulu.


"Halo, Mas?" terdengar suara Aozora dari ujung sana.


"Apa nomormu tidak punya pulsa, atau ponselmu tidak punya tombol memanggil?" tanpa basa-basi, Arsen langsung melontarkan pertanyaan yang ambigu pada Aozora. Bisa dipastikan kalau kening Wanita itu di ujung sana saat ini pasti mengernyit.


"Maksudnya, Mas. Pulsaku banyak kok. Dan sama halnya dengan ponsel orang-orang, ponselku juga tentu saja punya tombol memanggil. Pertanyaanmu kok aneh?" tanya Aozora.


"Jadi, kalau punya pulsa itu gunakan dengan baik sesuai fungsinya. Begitu juga dengan tombol memanggil. Di mana kamu sekarang?" bukannya memberikan jawaban yang diinginkan Aozora, ucapan pria itu semakin membuat bingung.


"Ya, aku di rumah. Ini baru aja sampai," sahut Aozora, yang sepertinya memilih untuk tidak mendebat suaminya itu.


"Ya udah. Lain kali, tanpa aku tanya,kamu harus selalu mengabariku. Nomorku belum ganti," sindir Arsen.


"Astaga, jadi kamu marah-marah tidak jelas seperti ini, karena aku tidak mengabarimu. Emangnya harus ya, Mas?" terdengar bunyi decakan dari mulut Aozora. Wanita itu sekarang pasti sedang menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan sikap Arsen yang menurutnya aneh.


"Sudah, jangan banyak protes! Pokoknya sekali lagi, gunakan ponsel kamu sesuai fungsinya! Kecuali kalau ponselmu memang tidak berguna lagi. Kalau sudah tidak berguna, kamu buang saja!" pungkas Arsen seraya memutuskan panggilan secara sepihak, begitu saja.


"Jangan tertawa!" Arsen mendelik ke arah Niko.


Niko yang awalnya ingin tertawa, sontak mengurungkan niatnya, begitu melihat wajah Arsenio yang sudah memerah.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2