Rahasia Suami Lumpuhku

Rahasia Suami Lumpuhku
Bab 106


__ADS_3

"Di mana uang yang aku minta?" tanya Dona begitu dirinya sudah berdiri tepat di depan Arsen.


"Di mana istriku?" tanya Arsen balik, berpura-pura tidak tahu.


Dona tersenyum simpul dan menatap Arsen dengan tatapan sinis.


"Tenang saja, istrimu aman di anak buahku. Kamu serahkan uang yang aku minta dulu, baru aku akan meminta orangku untuk melepaskan istrimu," tutur Dona dengan mata yang melirik ke arah koper besar yang berada tepat di samping Arsen. Bayangan uang seratus milyar sudah menari-nari di pikirannya. Bayangan hal-hal mewah yang biasa dia lakukan dengan uang itu sudah tersusun rapi di kepala wanita itu.


"Apa lagi yang kamu tunggu Arsen? Serahkan uang itu padaku sekarang!" Dona menunjuk ke arah koper besar di samping Arsen.


"Baiklah, aku akan kasih uang ini ke anda," Arsen dengan sengaja memindahkan koper besar itu ke depannya. Sementara Dona melihat perpindahan koper itu dengan mata yang berbinar. Dia melihat koper itu bak seorang penari yang sedang meliuk saat bergerak dari samping ke depan Arsen.


"Tapi, pastikan kalau anda akan melepaskan istriku!" imbuh Arsen lagi.


"Hemm," Dona menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang tetap terfokus ke arah koper.


Arsen berdecih, merasa jijik melihat ekspresi tamak di raut wajah mama tiri istrinya itu.


"Nih, uang yang kamu minta!" Arsen mendorong koper itu dengan kasar ke depan Dona.


"Come to mama, Sayang!" ucap Dona merentangkan keduanya tangannya, seakan koper itu adalah anak yang sangat dia rindukan.


Dona tersenyum bahagia, setelah koper yang dia yakini berisi uang yang dia minta, ada di tangannya.


"Sekarang, kamu hubungi anak buahmu dan minta agar melepaskan istriku!" titah Arsen, masih tetap dengan sandiwaranya.

__ADS_1


"Tunggu dulu dong! Aku lihat uangnya lebih dulu. Aku tidak mau kamu membohongiku," Dona dengan tidak sabar membuka koper itu dengan harapan akan melihat pemandangan indah di dalamnya. Mata wanita itu sontak membesar dan manik matanya berkilat-kilat saat melihat isi koper yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Apa-apaan ini Arsen? Kamu mau main -main denganku ya?" Dona menatap Arsenal dengan tatapan bengis penuh kemarahan.


Arsen tertawa renyah, kemudian tiba-tiba tersenyum sinis. "Bagaimana? Permainannya seru kan? Atau kurang seru, biar kita lanjut lagi permainannya," ucap Arsen, tersenyum misterius.


Dona mengernyitkan keningnya, bingung.


"Permainan? Permainan apa yang kamu maksud? Aku sama sekali tidak sedang bermain di sini. Aozora memang sedang aku sekap, Arsen. Kalau kamu mau bermain-main denganku, aku bisa saja akan meminta orangku untuk mencelakai Aozora!" ancam Dona, masih yakin kalau Aozora masih terikat di gedung tua, tempat dia menyekap wanita itu.


"Kalau begitu, silakan hubungi anak buahmu itu!" sudut bibir Arsen naik ke atas membentuk senyuman meledek.


Melihat sikap tenang, Arsen mau tidak mau membuat perasaan Dona tidak tenang. Namun, dia berjuang untuk tidak terlalu memperlihatkan pada pria tampan itu.


"Baik, aku akan menghubungi orangku. Jangan salahkan aku kalau istri tercintamu itu, dilukai oleh orangku," Dona masih saja bersikap angkuh di depan Arsen.


Dona mulai menghubungi nomor anak buahnya, namun sama sekali tidak ada jawaban. Ia pun kembali mencoba, tapi tetap tidak ada respon sama sekali. Perasaan wanita itu semakin tidak karuan. Detak jantungnya kini sudah tidak beraturan. Getaran di tangannya mulai kentara.


"Ah, aku harus menghubungi Hanum," batin Dona seraya menggeser-geser layar ponselnya untuk mencari nomor Hanum.


"Arghh, sial! Aku lupa, kalau aku tidak punya nomor wanita itu. Aku kenapa bodoh sekali sih!" Dona merutuki kebodohannya sendiri.


"Bagaimana, Ibu Dona yang terhormat? Apa aku masih harus menunggu lagi?" senyum Arsen terlihat semakin mengerikan bagi Dona.


"Sepertinya tidak perlu lagi, karena aku ingin permainan ini cepat selesai," Arsen bertepuk tangan. Di saat bersamaan, dua orang pria masuk sembari menyeret preman yang dari tadi berusaha dihubungi oleh Dona. Preman itu terlihat sudah babak belur dan lemas tak berdaya.

__ADS_1


Mata Dona sontak membesar sempurna, terkesiap kaget melihat orang suruhannya itu. Tenggorokannya seakan tercekat sehingga dia mengalami kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri.


"Ke-kenapa di- dia ada di sini?" tanya Dona, dengan suara bergetar. Sementara orang suruhan yang datang bersama wanita itu tadi juga sudah ketakutan. Dari pelipisnya juga sudah mulai keluar peluh yang semakin diseka tetap merembes tidak berhenti saking takutnya.


Dona mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang.Siapa lagi yang dia cari kalau bukan Hanum. Karena menurutnya kalau anak buah Arsen berhasil membawa orangnya ke tempat ini, tidak mungkin Hanum kan tidak ikut.


"Anda mencari Hanum? Dia ada bersama istriku sekarang. Asal anda tahu, lokasi anda menyekap istriku aku tahu dari dia. Dia sengaja berpura-pura mau bekerja sama dengan anda hanya untuk mengelabui anda dan agar anda tidak menyakiti istriku. Jadi, anda sudah terjebak di dalam permainan anda sendiri, Ibu Dona," sudut bibir Arsen sedikit naik ke atas saat mengucapkan ucapannya.


"Arghhh dasar wanita tidak tahu diri! Awas aja kamu!" umpat Dona pada sosok Hanum yang wujudnya sama sekali tidak ada di tempat itu.


"Jadi bagaimana? Apa anda masih ingin melanjutkan permainannya? Apa anda tidak lelah? Kalau lelah, biarkan aku sekarang ya g mengontrol permainan yang anda mulai lebih dulu," ucapan Arsen terasa ambigu di telinga Dona, hingga membuat kening wanita paruh baya itu berkerut.


"Awalnya aku masih ingin menunda untuk membongkar semua kejahatan anda di masa lalu, karena memikirkan Tsania yang sekarang sedang hamil."


"Tsania hamil?" gumam Dona.


"Iya. Putri anda sedang hamil. Aku tahu walaupun anda dan Tsania sekarang tidak sejalan, tapi bagaimanapun anda ini wanita yang sudah melahirkannya.Terlepas dari perbuatan anda padanya aku yakin, jauh di lubuk hatinya, pasti dia masih sayang pada anda. Jadi, aku memutuskan menunda untuk membongkar semua kejahatan anda sampai Tsania melahirkan nanti. Itu aku lakukan karena tidak ingin Tsania terguncang, sehingga mempengaruhi kandungannya. Tapi, apa yang anda lakukan hari ini benar-benar membuat mataku terbuka kesabaranku sudah sampai di ambang batas. Kamu sudah mencoba mengusik istriku, jadi aku tidak mau berdiam lagi. Kamu siap-siap saja, ibu Dona. Kesempatanmu untuk menghirup udara bebas akan berakhir hari ini juga," sambung Arsen lagi tanpa menanggalkan senyum smirknya, khasnya.


"Ma-maksudmu apa? Kejahatan apa yang kamu maksud?" Dona mulai terlihat panik.


"Sabar, Ibu Dona! aku tidak mau mengungkapkan kejahatanmu tanpa ada orang lain yang mendengarkan di sini," ucap Arsen.


"Kalian semua keluarlah!" titah Arsen, tegas.


Mata Dona seketika membesar sempurna melihat kehadiran orang-orang yang dia kenal.

__ADS_1


"Papa? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Dona begitu kaget melihat kehadiran Aditya suaminya di tempat itu.


Tbc


__ADS_2